a. Latar Belakang Kasus
Sengketa bermulai ketika PT Semen Gresik (Persero) Tbk berencana melakukan investasi di wilayah Kecamatan Sukolilo dan
97
Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati dengan mendirikan Pabrik Semen dengan nilai investasi kurang lebih 5 Triliun rupiah. Rencana ekspansi usaha PT Semen Gresik ini mendapatkan respon positif dari pemerintah Kabupaten Pati dan pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan alasan bahwa hal ini akan memberikan mafaat positif untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Berkaitan dengan rencana tersebut, pendapat masyarakat di wilayah yang akan dijadikan lokasi terbagi menjadi dua. Sebagian berpendapat bahwa kehadiran pabrik semen akan menciptakan lapangan pekerjaan, dan lainnya berpendapat bahwa pabrik semen di wilayah mereka akan berakibat pada kerusakan lingkungan yang berupa hilangnya sumber-sumber mata air yang banyak terdapat di daerah ini. . Selain masalah pendapat masyarakat yang terbagi menjadi dua, permasalahan yang mendasar pada kasus keluarnya izin eksplorasi untuk PT Semen Gresik di Kabupaten Pati adalah tidak disertakannnya dokumen Amdal sebagai syarat penerbitan izin eksplorasi.
Berkaitan dengan pendapat kedua, sebagai gambaran, wilayah Kecamatan Sukolilo berada di wilayah Kabupaten Pati. Wilayah kecamatan Sukolilo sebagian besar terletak di pegunungan kapur (karst) yang membentang dari desa Taban (Kudus) sampai Tuban bernama Pegunungan Kendeng Utara. Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Karst Sukolilo, menetapkan Kawasan Karst
98
Kendeng Utara yang melingkupi Kabupaten Pati hingga Kabupaten Grobogan adalah sebagai kawasan karst. Selain digunakan untuk tempat tinggal warga, pegunungan ini juga memberikan beberapa manfaat lain bagi warga yang hidup di sekitarnya, yaitu: pertama, pegunungan ini memiliki sumber air yang telah mengairi 15.873,9 ha lahan pertanian di sekitarnya. Kedua, lahan di pegunungan ini juga menjadi lahan pekerjaan bagai ribuan peladang yang menanam berbagai palawija di sela-sela pepohonan jati milik Perhutani. Pegunungan Kendeng dengan kekayaannya berupa sumber air dan goa telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sumber air juga bermanfaat untuk mengairi lahan pertanian.
Di Kecamatan Sukolilo, rencananya akan di bangun pabrik semen oleh PT Semen Gresik dengan luas lahan mencapai ± 2000 hektar. Bahan baku industri semen tersebut adalah batu gamping/batu kapur yang berasal dari kawasan perbukitan Kars di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Kegiatan penambangan ini akan mengambil dan mengeruk perbukitan kapur yang berfungsi sebagai penyimpan air alami (reservoir) dari mata air-mata air yang bermunculan di kaki perbukitan kawasan kars tersebut.
Menurut data studi kelayakan yang disosialisasikan oleh PT Semen Gresik pada 16 November 2008, pabrik semen yang akan
99
dibangun akan berproduksi dengan kapasitas 2,5 jut ton semen per tahun atau 8000 ton semen per hari. Hal ini akan memerlukan lahan sekitar 2000 ha. Lahan seluas ini nantinya akan digunakan untuk keperluan penambangan batu kapur seluas 900 ha yang terletak di Desa Tompegunung, Desa Sumbersoko, Desa Kedumulyo dan Desa Gadudero. Lokasi penambangan tanah liat seluas 500 ha terletak di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Baturejo, Desa Kasiyan, dan Desa Sukolilo. Sedangkan lokasi pabrik semen seluas 75 ha terletak di desa Kedumulyo.
Rencana PT Semen Gresik ini kemudian memunculkan berbagai konflik, antara lain antara masyarakat yang mendukung keberadaan pabrik semen dan masyarakat yang menolak keberadaan pabrik semen. Alasan dari pihak yang menolak adalah bahwa keberadaan pabrik semen akan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar dan meningkatkan perekonomian. Sedangkan, dari pihak yang menolak adalah karena keberadaan pabrik semen akan merusak lingkungan hidup. Selain itu, rencana ini juga memunculkan kebijakan yang jauh dari nilai-nilai keadilan dan kebersamaan serta kepentingan masyarakat pada umumnya yaitu Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu No. 540/052/2008 tertanggal 5 Nopember 2008, tentang Ijin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Ir. Muhammad Helmi Yusron Alamat komplek Pondok Jati AM-6 Sidoarjo Jawa Timur
100
bertindak untuk dan atas nama PT. Semen Gresik (Persero) Tbk Di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Tompegunung, Desa Sukolilo, Desa Sumbersoko Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah
b. Gugatan
Penggugat adalah Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Ada 2 pihak yang menjadi tergugat dalam kasus ini, yaitu Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati selaku Tergugat dan PT Semen Gresik (Persero) Tbk selaku Tergugat II Intervensi. Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati merupakan pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan keputusan tata usaha negara berupa Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu No. 540/052/2008 tertanggal 5 Nopember 2008, tentang Ijin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Ir. Muhammad Helmi Yusron Alamat komplek Pondok Jati AM-6 Sidoarjo Jawa Timur bertindak untuk dan atas nama PT. Semen Gresik (Persero) Tbk Di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Tompegunung, Desa Sukolilo, Desa Sumbersoko Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah. PT Semen Gresik (Persero) Tbk merupakan pihak yang memiliki kepentingan dengan izin eksplorasi yang diberikan KPPT Kabupaten Pati. Obyek gugatan adalah Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan terpadu Nomor 540/052/2008 tentang perubahan Atas
101
Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Nomor 540/040/2008 tentang Izin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Ir. Muhammad Helmi Yusron Alamat Komplek Pondok Jati AM-6 Sidoarjo Jawa Timur Bertindak Untuk dan Atas Nama PT Semen Gresik (Persero) Tbk di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Tompegunung, Desa Sukolilo, Desa Sumbersoko Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati tertanggal 5 November 2008.
Alasan gugatan pada pokoknya adalah bahwa keputusan yang berisi Izin Eksplorasi Penambangan Batu Kapur bagi PT Semen Gresik melanggar ketentuan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara di Pasal 53 ayat (2) yang menyebutkan bahwa:
a) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Pada tanggal 1 Desember 2008 terjadi pertemuan pembahasan AMDAL di Kantor Badan Koordinasi Wilayah Kabupaten Pati. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa pembuatan dokumen AMDAL PT Semen Gresik masih dalam tahap pembahasan. Namun Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu sudah
102
mengeluarkan keputusan a quo. Hal ini bertentangan dengan peraturan-peraturan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
b. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
c. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
d. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo
e. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
b) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan Asas-Asas Pemerintahan Yang Baik.
Berdasarkan penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang dimaksud dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik meliputi asas Kepastian Hukum, asas Tertib Penyelenggaraan Negara, asas Kepentingan Umum, asas Keterbukaan, asas Proporsionalitas, asas Profesionalitas, dan
103
sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Berdasarkan penjelasan Pasal 3 UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme serta butir alasan gugatan maka Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan terpadu Nomor 540/052/2008 tentang perubahan Atas Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Nomor 540/040/2008 tentang Izin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Ir. Muhammad Helmi Yusron Alamat Komplek Pondok Jati AM-6 Sidoarjo Jawa Timur Bertindak Untuk dan Atas Nama PT Semen Gresik (Persero) Tbk di Desa Gadudero, Desa Kedumulyo, Desa Tompegunung, Desa Sukolilo, Desa Sumbersoko Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati melanggar asas-asas dalam penyelenggaraan yang baik sebagai berikut:
i. Asas Kepastian Hukum
Yang dimaksud Asas Kepastian Hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. Bahwa Keputusan Tergugat
104
yang memberikan Izin Penambangan Daerah kepada PT. Semen Gresik dibuat oleh Tergugat tanpa memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dengan dikeluarkannya keputusan tersebut menimbulkan kerancuan hukum baru, sebab bertentangan dengan peraturan di atasnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo. ii. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara
Yang dimaksud dengan Asas Tertib Penyelenggaraan Negara adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara. Bahwa Keputusan Tergugat a quo tidak mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo. iii. Asas Kepentingan Umum
Yang dimaksud dengan Asas Kepentingan Umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif. Bahwa Keputusan Tergugat
105
a quo hanya mengakomodasi kepentingan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk sebagai pihak penerima keputusan a quo Tergugat tersebut.
iv. Asas Keterbukaan
Yang dimaksud dengan Asas Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara. Bahwa tidak ada upaya dari Tergugat untuk memberikan informasi langsung kepada masyarakat disaat keputusan Tergugat a quo tersebut dikeluarkan. Bukti konkritnya adalah baru pada tanggal 1 Desember 2008 Penggugat dan masyarakat Pati pada umumnya mengetahui keberadaan dari keputusan Tergugat a quo. Padahal keputusan a quo dikeluarkan pada tanggal 5 November 2008 ;
v. Asas Proporsionalitas
Yang dimaksud dengan Asas Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. Bahwa keberadaan Keputusan Tergugat a quo membuktikan Tergugat tidak proporsional dalam menjalankan kewenangannya, sebab hingga saat gugatan ini didaftarkan pihak PT. Semen Gresik (Persero) Tbk sebagai
106
pihak penerima keputusan Tergugat a quo belum memiliki studi AMDAL sebagai bentuk prasyarat pendirian usaha yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Dengan demikian Keputusan Tergugat a quo jauh dari asas proporsionalitas.
vi. Asas Profesionalitas
Yang dimaksud dengan Asas Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahwa sebagaimana terurai di atas, Keputusan Tergugat a quo dibuat tidak dengan mendasarkan pada peraturan dan perundangan yang berlaku, dengan demikian nyata-nyata Tergugat tidak bertindak profesional dalam membuat Keputusan Tergugat a quo.
vii. Asas Akuntabilitas
Yang dimaksud dengan Asas Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahwa munculnya masyarakat yang menolak rencana pembangunan PT. Semen Gresik merupakan bukti bahwa Keputusan Tergugat a quo belum bisa diterima
107
oleh masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Dalam tuntutan, penggugat memohon agar hakim dapat menetapkan bahwa keputusan yang dijadikan obyek gugatan ditangguhkan atau ditunda pelaksanaannya sampai dengan adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya, menyatakan batal atau tidak sah keputusan tata usaha negara yang dijadikan obyek gugatan, dan mencabut keputusan tata usaha negara tersebut.
Terhadap gugatan tersebut Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang telah mengambil putusan yaitu putusan nomor 04/G/2009/PTUN.SMG tanggal 6 Agustus 2009 yang amar putusannya adalah mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya, dan menyatakan bahwa Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati Nomor 540/052/2008 batal, dan mewajibkan Tergugat untuk mencabut Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati Nomor 540/052/2008, tanggal 5 November 2008.
Putusan ini kemudian dimintakan banding oleh para tergugat ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya. Para Pembanding adalah Tergugat dan Tergugat II Intervensi yaitu Kepala KPPT Kabupaten Pati dan PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Terbanding adalah Penggugat yaitu Yayasan Wahana Lingkungan Hidup
108
Indonesia. Terhadap permohonan banding tersebut majelis hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya dalam putusan nomor 138/G/2009/PT.TUN.SBY tanggal 30 November 2009 memutuskan bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya menerima permohonan banding Tergugat/Pembanding dan Tergugat II Intervensi/Pembanding, membatalkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang Nomor 04/G/2009/PTUN.Smg, tanggal 6 Agustus 2009 yang dimohonkan banding, dan menolak gugatan Penggugat/Terbanding.
Putusan tersebut kemudian dimohonkan kasasi ke Mahkamah Agung oleh penggugat atau terbanding atau dalam tingkatan ini pemohon kasasi. Pemohon Kasasi adalah Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Termohon Kasasi adalah Kepala KPPT Kabupaten Pati dan PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Pemohon Kasasi mengajukan permohonan kasasi dengan alasan-alasan yang disebutkan dalam memori kasasinya sebagai berikut:
1. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya telah salah menafsirkan undang-undang sehingga mengambil kesimpulan bahwa eksplorasi merupakan kegiatan survey atau penelitian awal sehingga belum perlu ada AMDAL. 2. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Surabaya telah salah menafsirkan ketentuan dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang
109
Jenis Rencana Usaha Dan Atau Kegiatan yang Wajib AMDAL hanya terbatas pada penerbitan izin eksploitasi.
3. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya tidak mempertimbangkan alat-alat bukti yang diajukan Para Pemohon secara jelas.
Dalam Putusan Nomor 103K/TUN/2010, Mahkamah Agung mempertimbangkan alasan-alasan di bawah ini dan dengan demikian membenarkan alasan kasasi, yaitu bahwa:
1. Judex Factie Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya telah salah menerapkan hukum ketentuan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 2. Judex Factie Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya telah
salah menerapkan hukum karena membenarkan keputusan tergugat tentang perubahan izin Pertambangan atas nama PT Semen Gresik, padahal permohonan izinnya tidak dilengkapi AMDAL dan tidak memperhatikan aspirasi masyarakat setempat yang keberatan, karena itu keputusan tersebut bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik (asas keterbukaan, asas kebijaksanaan, asas perlindungan).
3. Pertimbangan Judex Factie Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya tentang AMDAL, kurang atau tidak lengkap/tidak cukup (onvoldoende gemotiveerd), sehingga kesimpulannya tidak tepat.
110
Dengan pertimbangan tersebut, Mahkamah Agung memberikan putusan bahwa Majelis Hakim Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi, membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya Nomor 138/B/2009/PTTUN.SBY tanggal 30 November 2009 yang membatalkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang Nomor 04/G/2009/PTUN.SMG. tanggal 6 Agustus 2009, menolak eksepsi Tergugat dan Tergugat II Intervensi untuk seluruhnya, mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya dan menyatakan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati Nomor 540/052/2008, tanggal 5 November 2008 batal, dan mewajibkan Tergugat untuk mencabut Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati Nomor 540/052/2008, tanggal 5November 2008.
c. Peraturan terkait kasus
Dalam perkara ini, peraturan-peraturan yang terkait dengan permasalahan, penulis rangkum sebagai berikut:
a. Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
“Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) untuk memperoleh Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan”;
111
b. Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyebutkan:
(1) Setiap rencana usaha dan atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan;
(2) ketentuan untuk ayat (1) akan diatur dengan peraturan pemerintah“;
c. Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(1) “usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi:
a. Perubahan bentuk lahan dan bentang alam;
b. Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui
maupun yang tak terbaharui;
c. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat
menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya;
d. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan, alam lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya
e. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya;
f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan
jasad renik;
g. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan
non-hayati;
h. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai
potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup;
i. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi, dan/atau
mempengaruhi pertahanan Negara;
(2) “ jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Non Departemen yang terkait” ;
112 (1) “analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang”;
(2) “permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) yang diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab”;
e. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, dalam lampiran G Bidang Perindustrian menyebutkan bahwa industri semen termasuk salah satu jenis usaha dan atau kegiatan yang harus dilengkapi dengan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Alasan ilmiah khususnya menyebutkan bahwa industry semen dengan proses klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan, dimana terdapat proses penyiapan bahan baku (raw mill process); penggilingan batubara (coal mill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (rotary klin and klinker cooler);
f. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, pengembangan kawasan industri PT. Semen Gresik di Wilayah Kecamatan Sukolilo termasuk dalam
113
kategori usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) ;
g. Pasal 19 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Instansi yang bertanggungjawab menerbitkan Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup suatu usaha dan atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
h. Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL
(1) “analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang”;
(2) “permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundangundangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) yang diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab”;
i. Pasal 1 angka (1) Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456/K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars
Yang dimaksud dengan kawasan kars adalah kawasan batuan karbonat (batu gamping dan dolomit) yang memperlihatkan morfologi kars;
114
j. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo
Kawasan Perbukitan Batu Gamping yang terletak di Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Tambakkromo, di Kabupaten Pati dan Kecamatan Brati,
Kecamatan Grobogan, Kecamatan Tawangharjo,
Kecamatan Wirosari, Kecamatan Ngaringan di Kabupaten Grobogan serta Kecamatan Todanan, di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah Sebagai Kawasan Kars Sukolilo;
k. Pasal 51 huruf (e) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Salah satu kawasan lindung nasional adalah kawasan lindung geologi;
l. Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Kawasan Lindung Geologi terdiri atas:
a. Kawasan cagar alam geologi;
b. Kawasan rawan bencana alam geologi; dan
c. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air
tanah;
m. Pasal 53 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Kawasan Cagar Alam Geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (5) huruf a terdiri atas:
a. Kawasan keunikan batuan dan fosil; b. Kawasan keunikan bentang alam; dan c. Kawasan keunikan proses geologi;
n. Pasal 60 angka (2) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
115 Kawasan keunikan bentang alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf b ditetapkan dengan