• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Bernada Ringan Bahasa Tionghoa

Suku kata baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Tionghoa semuanya memiliki ciri-ciri seperti berikut ini

BAHASA TIONGHOA

5) Kata Bernada Ringan Bahasa Tionghoa

Kata bernada ringan dalam bahasa Tionghoa tidak memiliki kaidah ciri-cirinya sendiri, nada ringan ini bergantung nada kata yang ditulis di depannya. Seperti pola kaidah pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4.6 Kaidah perubahan posisi nada kata bernada ringan bila

digabung dengan kata bernada lain

Kata bernada satu + kata bernada ringan Bentuk polanya . 2 (setengah rendah). Contoh: kata jīnde[tintә] 金的

Kata bernada dua + kata bernada ringan  Bentuk polanya • 3 (nada tengah) Contoh: kata hóngde[xuŋtә]红的

Kata bernada tiga + kata bernada ringan Bentuk polanya . 4 (setengah tinggi) Contoh: kata tiěde[t‘iεtә] 铁的

Kata bernada empat + kata bernada ringan Bentuk polanya . 1 (rendah) Contoh: katarède[tә]热的․

Adanya kaidah perubahan posisi ketinggian nada yang kompleks pada kata bernada ringan mengakibatkan siswa sering mengujarkan kurang tepat bagi kata bernada ringan ini. Berdasarkan analisis dengan program Praat oleh penulis terhadap ujaran para siswa Indonesia, ditemukan permasalahan yang muncul dan faktor penyebabnya. Berikut adalah hasil analisis permasalahan dan faktor penyebabnya salah ujar kata bernada ringan pada siswa Indonesia. (1) Nada ringan diujarkan menjadi kata bernada empat.

Oleh karena kata yang ditulis di depan kata bernada ringan ini adalah kata bernada empat, siswa sering kali tetap mengujarkan kata bernada ringan ini sebagai kata bernada empat. Pengujaran yang tepat seharusnya awal ujaran kata bernada ringan ini posisi derajat ketinggiannya diturunkan, kemudian seperti kata di depannya yang bernada empat diujarkan pada posisi derajat ketinggian yang sama. Berikut adalah analisis menurut tampilan gambar Praat.

182

Gambar 4.34 Kata“腐fu”[fu] bernada ringan

suara dosen

Gambar 4.35 Kata“腐fu”[fu] bernada ringan

suara siswa

Dengan membandingkan gambar Praat milik dosen dan milik

siswa dapat ditemukan bahwa bentuk garis nada untuk kata “豆腐

dòufu”dalam kalimat yang berbunyi“炖冻豆腐 dùn dòn dòufu”

awal ujaran posisi derajat ketinggian nada kata “豆 dòu”bernada

empat lebih tinggi daripada awal ujaran kata“腐fu”bernada ringan,

pergerakan arah juga sama yaitu dari posisi tinggi ke rendah. Marilah kita lihat gambar Praat daripada bentuk garis nada berwarna biru milik siswa, posisi awal ujaran daripada kedua kata tadi sama, dan bergerak turun dengan arah yang sama juga. Hal ini mengakibatkan ujaran dari

kata “豆腐 dòufu”siswa terdengar sebagai dua buah kata bernada

empat, bukan sebagai kata bernada empat digabung dengan kata bernada ringan.

dùn dòn dòu fu

[tuәn] [tuŋ] [tou] [fu] 炖 冻 豆 腐

dùn dòn dòu fu

[tuәn] [tuŋ] [tou] [fu] 炖 冻 豆 腐

183

(2) Nada ringan diujarkan sebagai kata bernada satu

Kesalahan jenis ini juga disebabkan karena kata yang di depannya merupakan kata bernada dua yang posisi awal ujaran derajat ketinggian nada terletak pada posisi rendah. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mampu menaikkan ketinggian nadanya lebih tinggi lagi melainkan diujarkan tetap pada posisi rendah. Selanjutnya ketika mengujarkan kata di belakangnya yang bernada ringan, meskipun siswa mampu meninggikan nada tetapi lupa tidak menurunkan derajat ketinggian nadanya, melainkan tetap diujarkan pada posisi tinggi dalam gerakan yang mendatar sebagai kata bernada satu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada analisis berdasarkan gambar Praat berikut ini.

Gambar 4.36 Kata“头tou”[tou] bernada ringan suara dosen

Gambar 4.37 Kata“头tou[tou] bernada ringan suara siswa

Dengan membandingkan kedua gambar Praat milik dosen dan milik siswa dapat ditemukan bahwa ketika dosen mengujarkan kata

“石头 shítou”dalam kalimat yang berbunyi “地上有块石头 shàng yǒu kuài shítou”merupakan gabungan kata bernada dua dan

dì shàn yǒu kuài shí tou

[ti] [aŋ] [jou] [kuai] [฀] [tou] 地 上 有 块 石 头

dì shàng yǒu kuài shí tou

[ti] [aŋ] [jou] [kuai] [฀] [tou] 地 上 有 块 石 头

184

kata bernada ringan. Oleh karena bentuk garis nada kata “石 shí

adalah garis yang bergerak naik, ketika mengujarkan kata “头tou”

bernada ringan di belakangnya, pola nada bergerak ke bawah sedikit.

Sementara gambar milik siswa ketika kata “ 石 shí”bernada dua

seharusnya bentuk garis nada bergerak naik, tetapi dalam gambar

tampak malah bergerak menurun, dan ketika mengujarkan kata“头tou”

bernada ringan malah diujarkan mendatar. Hal ini mengakibatkan terdengar seperti kata bernada satu.

Ketika kata bernada ringan digabung di belakang kata bernada tiga juga menunjukkan kesalahan ujar demikian, yaitu mengujarkan kata bernada ringan menjadi seperti kata bernada satu. Berdasarkan penelitian penulis terhadap siswa Indonesia ditemukan hasil analisis seperti berikut ini.

Gambar 4.38 Kata “里li”bernada ringan

suara dosen

Gambar 4.39 Kata “里li”bernada ringan

suara siswa

zuǐ li de ruǎn shé tou

[tsuei] [li] [tә] [uan] [] [tou] 嘴 里 的 软 舌 头

zuǐ li de ruǎn shé tou

[tsuei] [li] [tә] [uan] [] [tou] 嘴 里 的 软 舌 头

185

Kata “嘴里zuǐli dalam ujaran kalimat yang berbunyi “嘴

里的软舌头zuǐli de ruǎn shétou”merupakan gabungan kata bernada tiga dan kata bernada ringan. Bentuk garis nada yang tepat seperti

dalam gambar Praat dosen yaitu awal ujaran kata “嘴zuǐ ”bernada

tiga memposisikan pada derajat ketinggian yang rendah kemudian bergerak naik terlebih dahulu barulah bergerak menurun lagi. Gambar Praat siswa menunjukkan diawali pada posisi rendah dengan garis yang

panjang barulah bergerak naik, ketika mengujarkan kata “里 li

bernada ringan tidak bergerak menurun melainkan tetap bergerak mendatar pada posisi derajat ketinggian nada yang tinggi, mengakibatkan terdengar sebagai kata bernada satu.

4.2 Cara Mengatasi Permasalahan Pengajaran Pelafalan Bahasa Tionghoa

Selama ini, dalam praktek proses belajar-mengajar bahasa

Tionghoa sebagai bahasa kedua telah terkumpul banyak metode-metode yang konkrit. Sebagai contoh metode-metode pengajaran percakapan bahasa Tionghoa dengan cara melatih lafal siswa. Metode pengajaran percakapan sering diterapkan berdasarkan pelatihan lafal/fonologis. Percakapan merupakan bahasa lisan, tidak peduli pengajaran itu merupakan pelatihan keterampilan pendengaran atau pelatihan percakapan, semuanya berdasarkan ketepatan lafal sebagai prasyarat. Manfaat pelatihan fonologis adalah mendorong siswa menguasai cara pelafalan berdasarkan posisi alat ujar dari fonem bahasa Tionghoa dan cara mengujarkannya, beserta mengeja suku kata dan nadanya, cara demikian ini merupakan cara pengajaran yang lebih cepat dimengerti dan lebih sesuai dengan ciri-ciri pelafalan dari bahasa Tionghoa.

4.2.1 Metode Pengajaran Lafal

(1) Pengajaran bunyi bahasa dengan cara terus-menerus dan diulang-ulang, tidak peduli mengenai lafal konsonan, vokal, nada, dan mengenai cara pengajaran juga harus diulang berkali-kali dengan kesadaran yang penuh. Dengan cara terus menerus dan diulang-ulang, barulah memperkuat daya ingat dari siswa. Sebagai contoh cara mengajarkan perbedaan lafal dari bunyi /in/, /ing/, /en/, /eng/, bila tidak terus-menerus dilatih sulit untuk mampu membedakan bunyi lafal tersebut.

(2) Mengajarkan bunyi bahasa dengan cara memperagakan dan menirukan. Guru memperagakan terlebih dahulu ujaran yang tepat, kemudian siswa menirukan bunyi ujaran dari guru tadi. Bentuk bibir

Dokumen terkait