• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata / ikrun/ dan kata /a - ikru/ yang bermakna pelajaran dan pengajaran

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Kata / ikrun/ dan kata /a - ikru/ yang bermakna pelajaran dan pengajaran

Adapun kata / ikrun/ dan kata /a - ikru/ yang bermakna pelajaran: 6 (enam) dan yang bermakna pengajaran: 4 (empat), yaitu:

a. kata / ikrun/ dankata /a - ikru/ yang bermakna pelajaran, yaitu: 1. Surat Y s n ayat 69:

/Wa m ‘allamn hu asy-syi‘ra wa m yanbag lah in huwa ill ikrun wa qur` nun mub nun/

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah

pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, (Qs. 36: 69).

Menurut Al-Maragi (1993: 50 Jilid XXIII) Al-Qur`an tidak lain adalah pelajaran-pelajaran dari Tuhan kami yang memberi bimbingan kepada hamba-hamba-Nya ke arah jalan yang terdapat pada-hamba-hamba-Nya keuntungan bagi mereka dan petunjuk bagi mereka dalam kehidupan mereka didunia maupun di akhirat, Al-Qur`an turun dari alam yang tinggi dan bukan omongan manusia biasa. Karena Al-Qur`an pernah pula menantang orang-orang yang tidak mau patuh kepada-Nya agar mereka mendatangkan yang seperti Al-Qur`an namun ternyata mereka tidak mampu lalu mereka mengangkat

Pada ayat ini kata / ikrun/ bermakna pelajaran. Makna ini muncul ketika berada dalam konteks ayat yang berhubungan dengan kandungan Al-Qur`an yang berisi pelajaran dan penerangan, pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Al-Qur`an bukan Syair karena tidak layak bagi Nabi Muhammad SAW. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT tidak mengajarkan syair kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur`an bukan omongan manusia tetapi merupakan pelajaran dari Allah SWT, jadi makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

2. Surat A١١ ff t ayat 3:

/Wa aş-ş ff ti şaffan (1) fa az-z jir ti zajran (2) fa at-t liy ti ikran (3)

001. Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, 002. Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya

(dari perbuatan-perbuatan ma`siat),

003. Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran, (Qs. 37: 1-3).

Menurut Al-Maragi (1993: 69 Jilid XXIII ) Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat-Nya yang menyempurnakan ١af-١af mereka dalam kedudukan mereka sebagai hamba Allah dan mencegah manusia dari perbuatan jahat dengan mengilhami mereka dan membacakan ayat Allah kepada para nabi-Nya “ Sesungguhnya sesembahanmu yang wajib kamu beribadah kepada-Nya dengan ikhlas adalah benar-benar esa, tiada duanya dan tiada sekutu bagi-Nya.

Pada ayat ini, terlihat jelas bahwa kata / ikrun/ bermakna pelajaran. Karena berdasarkan konteks ayat tersebut yang menjelaskan bahwa rombongan malaikat yang menurunkan wahyu yang berisi pelajaran. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan tentang rombongan para malaikat yang membacakan Al-Qur`an kepada Nabi Muhammad SAW, jadi makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

3. Surat Al-Qamar ayat 17:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Qs. 54: 17).

4. Surat Al-Qamar ayat 22:

/Wa laqad yassarn al-qur` na li - ikri fahal min muddakirin/

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Qs. 54: 22).

5. Surat Al-Qamar ayat 32:

/Wa laqad yassarn al-qur` na li - ikri fahal min muddakirin/

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Qs. 54: 32).

6. Surat Al-Qamar ayat 40:

/Wa laqad yassarn al-qur` na li - ikri fahal min muddakirin/

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Qs. 54: 40).

Menurut Al-Maragi (1993: 149 Jilid XXVII) Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan lafaz Al-Qur`an dan Kami mudahkan artinya, bahkan Kami penuhi Al-Qur`an itu dengan bermacam-macam pelajaran dan nasehat supaya diambil pelajaran, mana saja yang dikehendaki dan diperhatikan oleh orang yang mau memperhatikan.

Kata /a - ikru/ yang bermakna pelajaran, disebutkan di dalam Al-Qur`an sebanyak 4 kali dalam ayat yang berbeda namun dengan kalimat yang sama, yaitu terdapat dalam Surat Al-Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40.

Pada ayat-ayat mulai dari nomor 3 sampai 6, terlihat bahwasanya kata /a -ikru/ bermakna pelajaran. Kata yang tepat digunakan untuk arti kata /a - ikru/

b. Kata / ikrun/ dan kata /a - ikru/ yang bermakna pengajaran: 4 (empat), yaitu:

1. Surat Yusuf ayat 104:

/Wa m tas`aluhum ‘alaihi min ajrin in huwa ill ikrun lil-‘alam na/

Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (Qs. 12: 104).

Menurut Al-Maragi (1993: 83 Jilid XIII) Risalah yang kamu bawa dari Tuhanmu kepada mereka ini tidak lain merupakan peringatan dan pelajaran untuk memberikan petunjuk kepada seluruh alam, bukan kepada mereka saja. Dengan itulah mereka dapat petunjuk dan itu pula mereka selamat di dunia dan akhirat.

Pada ayat ini, terlihat bahwa kata / ikrun/ bermakna pengajaran. Makna ini muncul karena kata / ikrun/ berada dalam konteks ayat yang berhubungan dengan nabi dalam berdakwah tidak meminta upah, ia hanya memberikan peringatan dan pengajaran bagi seluruh alam. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan dan pengajaran dari Allah SWT bagi semesta alam, jadi makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

2. Surat T h ayat 113:

/ Wa ka lika anzaln hu qur` nan ‘arabiyyan wa şarrafn f hi min al-wa’ di la‘allahum yattaq na au yuhdisu lahum ikran/

Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (Qs. 20: 113).

Menurut Al-Maragi (1993: 268 Jilid XVI) sebagaimana Kami telah menurunkan janji, ancaman dan keadaan hari kiamat dengan segala peristiwanya yang menakutkan, Kami juga menurunkan Al-Qur`an secara keseluruhan dengan susunan kalimat bahasa Arab yang terang agar bangsa Arab yang Al-Qur`an diturunkan kepada mereka, dapat memahaminya dengan mengamalkan isinya yang mengandung kebahagiaan bagi manusia di dunia dan di akhirat. Dan Kami takut-takuti mereka dengan berbagai ancaman yang terkandung didalamnya agar mereka menjauhi syirik dan terhindar dari jatuh ke dalam perbuatan maksiat dan dosa, atau akan melahirkan pengajaran yang menyeru mereka untuk melakukan ketaatan.

Pada ayat ini, terlihat jelas bahwa kata / ikrun/ bermakna pengajaran. Makna ini muncul ketika berada dalam konteks ayat yang menjelaskan turunnya Al-Qur`an dalam bahasa Arab agar jadi pengajaran. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur`an dalam bahasa Arab, jadi makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

3. Surat Al-Anbiy ` ayat 48:

/Wa laqad tain m s wa h r na al-furq na wa diy `an wa ikran lil-muttaq na/

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. 21: 48).

Menurut Al-Maragi (1993: 65 Jilid XVI) Kami (Allah) bersumpah, sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada Musa dan Harun sebuah kitab yang memiliki segala sifat terpuji dan kebanggaan. Ia adalah kitab yang membedakan antara yang hak dan yang batil, penerangan di dalam kegelapan kejagilan dan kesesatan serta pengajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran daripadanya.

Menurut tafsir Al-Qur`an Depag (1995: 289 Jilid VI) dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Nabi Harun. Kitab Taurat tersebut adalah merupakan penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.

kata / ikrun/ pada ayat ini bermakna pengajaran karena berdasarkan konteks ayat yang berhubungan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun yang isinya berupa penerangan dan pengajaran. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang berisi penerangan dan pengajaran, jadi makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

4. Surat Az-Zukhruf ayat : 36

/Wa man ya‘syu ‘an ikri ar-rahm ni nuqayyidlah syait nan fahuwa lah qar nun/

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Qs. 43: 36).

Menurut Al-Maragi (1993: 163 Jilid XXV ) barang siapa membuta terhadap mengingat Allah dan tenggelam ke dalam kelezatan-kelezatan dunia dan syahwat-syahwatnya, maka Kami menguasakan atas dirinya setan-setan dari manusia dan jin yang membuatnya memandang baik untuk bergelimang dalam syahwat-syahwatnya dan dan bergelut dalam kelezatan-kelezatan, sehingga dia tidak tanggung-tanggung lagi dalam melakukan dosa-dosa dan hal-hal yang diharamkan, sebagaimana yang telah menjadi sunnah Kami kepada alam semesta ini, yaitu sebagaimana Kami kuasakan lalat terhadap tubuh-tubuh yang kotor. Maka, demikian pula jiwa-jiwa itu, yang suka menggoda terhadap orang-orang yang lemah. Jiwa-jiwa itu menjerumuskan mereka ke dalam dosa-dosa karena orang-orang lemah itu memang bersedia melakukannya.

Kata / ikrun/ pada ayat ini bermakna pengajaran karena berdasarkan konteks ayat yang berhubungan dengan orang yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah maka setan menjadi temannya. Hal ini berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa karena ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah maka setan menjadi temannya.

/ ikrun/ dan kata / ikrun/ yang bermakna dengan kitab C. Kata

Adapun kata / ikrun/ dan kata / ikrun/ yang bermakna kitab: 2 (dua), yaitu:

1. Surat Al-Anbiy ` ayat 50:

/Wa laqad tain m s wa h r na al-furq na wa diy `an wa ikran lil-muttaq na (48) Al-la na yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa hum min as-s ‘ati muas-syfiq na(49) Wa h ikrun mub rakun anzaln hu afa`antum lah munkir na (50)/

048. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

049. (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.

050. Dan Al Qur'an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (Qs. 21: 48-50).

Menurut tafsir Al-Qur`an Depag. (1995: 290 Jilid VI) pada ayat ini kata

/ ikrun/ bermakna kitab (Al-Qur`an) karena pada ayat sebelumnya Allah menyebutkan Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa maka dalam ayat ini Allah mengalihkan

Pada akhir ayat ini Allah mencela sikap kaum yang masih mengingkari Qur`an, padahal tak ada satu alasan pun bagi mereka untuk mengingkarinya karena Al-Qur`an hanya membawa pelajaran dan tuntunan yang bermanfaat bagi mereka apabila mereka mengikutinya. Lagi pula, kebaikan dan manfaat Al-Qur`an sudah dijelaskan kepada mereka.

Pada ayat ini terlihat bahwasanya kata / ikrun/ bermakna kitab, yaitu yaitu Kitab Al-Qur`an, kitab yang didalamnya mempunyai berkah yang telah diturunkan Allah.

Makna ini muncul ketika berada dalam konteks ayat yang berhubungan dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW yaitu pada ayat sebelumnya Allah telah menjelaskan bahwa Kitab Taurat untuk penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa kemudian Allah mengalihkan pada Al-Qur`an yaitu kitab yang mempunyai berkah yang telah diturunkan Allah. Pada akhir ayat ini diakhiri dengan kalimat

/afa`antum lah munkir na/ “maka mengapakah kamu mengingkarinya?” dengan adanya kalimat ini maka semakin jelaslah bahwa kata / ikrun/ pada ayat ini bermakna dengan kitab. Makna kata / ikrun/

pada ayat ini berkenaan dengan situasi yakni lingkungan panggunaan bahasa, yaitu penjelasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur`an merupakan kitab yang didalamnya mengandung berkah, maka makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

2. Surat A١١ ff t ayat 168:

/Lau anna ‘indan ikran min awwal na (168) lakunn ‘ib dall hi al-mukhlaşna (169) fakafar bihi fasaufa ta‘lam na (170)/

168. "Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu.

169. benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)".

170. Tetapi mereka mengingkarinya (Al Qur'an): maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu). (Qs. 37: 168-170).

Menurut Al-Maragi (1993: 159 Jilid XXIII) sesungguhnya dahulu mereka mengangan-angan sebelum datang rasul kepada mereka, seandainya mereka mempunyai seorang yang memperingatkan dengan perintah Allah dan larangan-Nya serta mendatangkan kepada mereka sebuah kitab dari Sisi Allah, tentu mereka akan memurnikan ibadah kepada Allah semata-mata dan menjadi umat yang lebih mengikuti petunjuk dari pada umat-umat ahli kitab yang mendahului mereka yaitu Yahudi dan Nasrani. Kemudian Allah menerangkan pula bahwa mereka adalah pendusta dan setelah datangnya Nabi Muhammad SAW ternyata mereka tidak seperti yang pernah mereka katakan.

Pada ayat ini, terlihat jelas bahwa kata / ikrun/ bermakna kitab. Karena berdasarkan konteks ayat tersebut yang menceritakan angan-angan orang-orang musyrik sebelum datangnya rasul namun setelah datangnya rasul dengan membawa kitab mereka tidak seperti apa yang pernah mereka katakan dahulu. Makna ini muncul berkenaan dengan situasi lingkungan penggunaan bahasa, yaitu tentang angan-angan oang-orang musyrik ketika Al-Qur`an belum diturunkan kepada mereka, maka kata / ikrun/ pada ayat ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

D. Kata / ikrun/ dan kata / ikrun/ yang bermakna kemuliaan, kehormatan, kebesaran, keagungan dan kebanggaan

Adapunkata / ikrun/ dan kata / ikrun/ yang bermakna kemuliaan: 2 (dua), kehormatan: 1 (satu), kebesaran: 1 (satu), keagungan:1 (satu) dan kebanggaan: 1 (satu).

a. Kata / ikrun/ yang bermakna kemuliaan: 2 (dua) 1. Surat Al-Anbiy ` ayat 10:

/Laqad anzaln ilaikum kit ban f hi ikrukum afal ta‘qil na/

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (Qs. 21: 10).

Menurut Al-Maragi (1993: 15-16 Jilid XVI) Sesungguhnya Kami (Allah) telah mendatangkan kepada kalian sebuah kitab yang berisi pengajaran bagi kalian karena mengandung tuntutan tentang berbagai akhlak mulia dan syari‘at serta hukum yang lurus yang semuanya memberikan kebahagiaan kepada manusia di dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat.

Pada ayat ini kata / ikrun/ bermakna kemuliaan. Makna ini muncul karena berada dalam konteks ayat yang berhubungan dengan kitab yang diturunkan Allah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kata / ikrun/ pada ayat ini bermakna dengan kemuliaan karena pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah menurunkan kitab yaitu Al-Qur`an yang didalamnya berisi pengajaran, tuntutan tentang berbagai akhlak mulia, syariat-syariat serta hukum-hukum yang menjadikan menjadikan mereka mulia jika mereka mau beriman dan melaksanakan ajaran-ajaran yang ada didalamnya. Makna kata / ikrun/ pada ayat ini berkenaan dengan situasi yakni lingkungan penggunaan bahasa, yaitu penjelasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur`an diturunkan merupakan kemulian, maka makna ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

2. Surat Az-Zukhruf ayat 44

/Wa innahu la ikrun laka wa liqaunika wa saufa tus`al na/

Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Qs. 43: 44)

Menurut tafsir Al-Qur`an Depag. (1995: 123 Jilid IX) Kemudian diterangkan bahwa Al-Qur`an merupakan kemuliaan bagimu dan kaummu karena ia diturunkan kepadamu, salah seorang bangsa Arab dan menggunakan bahasa Arab; tentulah kaummu yang paling mudah memahami isinya dibandingkan dengan kaum yang lain, karena itu, hendaknya engkau dan kaum engkau berusaha menjadi orang yang paling banyak mengamalkan isi Al-Qur`an dibandingkan dengan kaum yang lain.

Pada ayat ini, terlihat bahwa kata / ikrun/ bermakna kemulian besar. Makna ini muncul ketika kata / ikrun/ berada dalam konteks ayat yang menjelaskan bahwa Al-Qur`an benar-benar merupakan kemulian besar bagi Nabi Muhammad SAW dan

/ ikrun/ yang bermakna dengan kehormatan

b. Kata

1. Surat ٠ d ayat 49:

/Wa kur ism ‘ la wa al-yasa‘a wa alkifli wa kullun min al-akhy ri (48)

H ikrun wa inna lil-muttaq na lahusna ma` bin (49)/

048. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.

049. Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (Qs. 38: 48-49).

Menurut tafsir Al-Qur`an Depag. (1995: 407 Jilid VII) pada ayat ini kata

/ ikrun/ bermakna dengan kehormatan karena setelah Allah SWT pada ayat-ayat yang lalu mengisahkan beberapa nabi terpilih yang patut menjadi tauladan bagi para pengikut rasul maka dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa sebagai pahala bagi mereka, Allah SWT menyediakan tempat kembali yang baik yaitu surga yang penuh kenikmatan yang tak pernah putus-putusnya.

Allah SWT menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menceritakan kemuliaan para nabi dan kebahagian mereka di akhirat adalah kehormatan bagi mereka untuk selalu diingat oleh manusia. Di samping mereka di dunia memperoleh kemulian di akhirat pun mereka akan disediakan tempat kembali yang baik. Dalam ayat ini para nabi disifati dengan orang-orang yang bertaqwa, agar orang-orang yang memperhatikan seruan Rasulullah pada saat mendengar firman Allah ini menjadi sadar, bahwa mereka mau mencontoh dan meneladani perjuangan rasul itu, tentu akan memperoleh kehormatan di dunia dan di akhirat.

Pada ayat ini kata / ikrun/ bermakna kehormatan, karena pada ayat sebelumnya Allah mengisahkan kemulian beberapa nabi terpilih yang patut menjadi

c. Kata / ikrun/ yang bermakna dengan kebesaran

1. Surat Al-Kahfi ayat 101:

/Al-la na k nat a‘yunuhum f git `in ‘an ikr wa k n l yastat ‘ na sam‘an/

Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar. (Qs.18: 101).

Al-Maragi (1993: 33 Jilid XVI) mengatakan bahwa mereka tidak sanggup mendengar peringatan Allah yang diingatkan kepada mereka dan penjelasan-Nya lalu mereka berpura-pura lengah, buta dan tuli dari menerima petunjuk dan mengikuti kebenaran.

Pada ayat ini kata / ikrun/ bermakna kebesaran. Makna ini muncul karena kata / ikrun/ berada dalam konteks ayat yang berhubungan dengan orang-orang yang matanya tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Makna kata / ikrun/

pada ayat ini berkenaan dengan situasi yakni lingkungan penggunaan bahasa, yaitu penjelasan dari Allah SWT bahwa orang yang sudah tertutup mata hatinya tidak akan

c. Kata /a - ikru/ yang bermakna dengan keagungan

1. Surat ٠ d ayat 1:

d. Wa al-qur` ni a - ikri/

٠ d, demi Al Qur'an yang mempunyai keagungan.” (Qs. 38: 1).

Menurut Maragi (1993: 171 Jilid XXIII) Allah SWT bersumpah dengan Al-Qur`an yang mempunyai kemuliaan yang tinggi, bahwa Al-Al-Qur`an benar-benar mukjizat dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang benar tentang kenabian yang dia dakwahkan dan dia diutus dari sisi Tuhannya kepada bangsa yang berkulit hitam maupun berkulit merah dan bahwa kitabnya benar-benar diturunkan dari sisi Allah.

Pada ayat ini kata /a - ikru/ bermakna keagungan, karenaayat ini dimulai dengan d/ yang hanya Allah yang mengetahui artinya kemudian diiringi

/wa al-qur` ni/ “demi Al-Qur`an”, Allah bersumpah dengan Al-Qur`an yang merupakan kalam Allah yang mulia dan agung. Berdasarkan konteks ayat ini kata /a - ikru/

bermakna dengan keagungan. Makna ini muncul berkenaan dengan situasi yaitu lingkungan penggunaan bahasa, Allah SWT sebagai pemilik Al-Qur`an boleh menggunakan kata-kata sumpah diawal ucapan-Nya, jadi makna kata /a - ikru

pada ayat ini tergolong ke dalam makna kontekstual.

/ ikrun/ yang bermakna dengan kebanggaan

d. Kata

1. Surat Al-Mumin n‘ ayat 71:

/Wa lawit-taba‘a al-haqqu ahw `ahum lafasadati as-sam w ti wa al-ardu wa man f hinna bal ain hum bi ikrihim fahum ‘an ikrihim mu‘rid na/

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Qs. 23: 71).

Menurut Al-Maragi (1993: 77 Jilid XVI) bahkan Kami datangkan kepada mereka Al-Qur`an yang mengandung kebanggaan dan kemuliaan mereka tetapi mereka berpaling darinya, mundur ke belakang, menjelek-jelekkan dan menjadikannya bahan perolokan, padahal adalah suatu kebaikan jika mereka tidak melakukan hal itu.

Pada ayat ini, terlihat jelas bahwa kata / ikrun/ bermakna kebanggaan,

karena berdasarkan konteks ayat tersebut yang menyatakan bahwa Allah telah mendatangkan Al-Qur`an yang didalamnya terdapat kebanggaan bagi mereka. Pada ayat ini terdapat 2 kata / ikrun/ yang bermakna sama yaitu kebanggaan. Makna kata

/ ikrun/ pada ayat ini berkenaan dengan situasi yakni lingkungan penggunaan bahasa,

Dokumen terkait