• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA – KATA DAN MAKNA

Dalam dokumen MATA KULIAH : SEMIOTIKA (DAMJ3222) (Halaman 47-51)

1. Memahami Kata

Pada mulanya ada kata . dan semuanya adalah kata. Seperti kata Umar Janus (1981:149) “boleh dikata memungkinkan kebudayaan (manusia)” bahakan sebuah robotpun bisa berseru dengan kata-kata: “Hublug ! Blekubleg! Hublug!” sementara robot yang lainnya menjawab dengan kata “Bleg”

Anda mengerti dengan kata-kata tersebut ? mungkin ya mungkin juga tidak. Yang jelas arti kata dalam komunikasi pergaulan sosial ditentukan oleh hasil dari tawar menawar yang tanpa henti. Kata pada dasarnya satuan bentuk kebahasan yang telah mengandung satuan makan tertentu dalam hal ini dibedakan antara lain autosemantis yaitu kata yang telah memiliki satuan makna secara penuh tanpa harus diletakan dalam bentuk lain.

Sedangkan kata sinsematis yaitu kata yang tidak memilik satuan maka secara mandiri karena satuan maknanya dibentuk oleh kata atau bentuk yang lain. Terlepas dari itu kini kita berhadapan dalam apa yang disebut Mochtar Lubis (1983:285-286) “Erosi makna kata” erosi makna kata dari maknanya yang asli dapat dilihat pada reaksi semantik seseorang terhadap suatu kata. Sebuah kata adalah juga sebuah simbol sebab keduanya sama-sama menghadirkan sesuatu yang lain. Setiap kata pada dasarnya bersifat konvensional dan tidak membawa maknanya sendiri secara langsung bagi para pembaca dan pendengar (kecuali kata-kata anomatopoik)

Wittgenstein (1983:43) menegaskan bahwa arti suatu kata tergantung pada penggunaannya dalam kalimat, sedangkan arti suatu kalimat tergantung pada penggunaannya dalam bahasa. Jadi, ketidakpastian ataupun kekaburan makna suatu kata dapat dikurangi dengan jalan melihat cara pemakaian kata itu. Misalnya kata jatuh dalam kalimat “Ia jatuh dari pohon” berbeda dengan “Ia jatuh cinta” karena semua simbol linguistik bebas diberi makna, kita perlu mencari makna tidak saja dari kata melainkan pada orang yang mengomunkasikannya.

48 2. Teori – Teori Makna

Para ahli mengakui istilah makna (meaning) memang merupakan of meaning Ognen dan Richards (1972:186-187) telah mengimpulkan ttidak kurang dari 22 batasan mengenai makna. Bentuk makna diperhitungkan sebagai istilah sebab bentuk ini mempunyai konsep dalam ilmu tertentu. Yakni dalam biddang linguistik. Ada tiga yang dicoba jelakan oleh para filusuf mengenai makna :

1. Menjelaskan makna secara alamiah 2. Mendeskripsikan secara alamiah

3. Menjelaskan makna dalam proses komunikasi.

Brown mendefinisikan makna sebagai kecenderungan total untuk menggunkan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Untuk memahami apa yang disebut makna kita perlu menoleh kembali kepada teori yang di kemukakan oleh Ferdinand de Saussure bapak linguistik modern asal Perancis.

Makna dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Makna ada dalam diri manusia: makna tidak terletak pada kata-kata melainkan pada manusia. Kita menggunakan kata-kata untuk mendekati makna yang ingin kita komunikasikan. Tetapi kata-kata ini tidak secara sempurna dan llengkap menggambarkan makna yang hendak kita maksudkan

2. Makna Berubah: kata –kata relatif statis banyak dari kata-kata yang kita gunakan 200 atau 300 tahun yang lalu

3. Makna membutuhkan acuan: walaupun tidak semua komunikasi mengacu pada dunia nyata. Komunikasi akan masuk akal bila komunikasi tersebut mempunyai kaitan dengan dunia atau lingkungan eksternal

4. Penyingkatan yang berlebihan akan mengubah makna: berkaitan erat dengan gagasan bahwa makna membutuhkan acuan adalah masalah komunikasi yang timbul akibat penyingkatan berlebihan tanpa mengaitkannya dengan acuan yang kongkret dan dapat dimati.

5. Makna tidak terbatas jumlahnya: pada suatu saat tertentu jumlah kata dalam suatu bahasa terbatas, tetapi maknanya tidak terbatas.

49

6. Makna diskomunikasi hanya sebagian: makna yang diperoleh dari suatu kejadian bersifat multi aspek dan sangat kompleks, tetapi hanya sebagian saja dari makna-makna ini yang benar-benar dapat dijelaskan

Pada tahun1866, masyarakat linguistik Perancis melarang mendiskusikan asal muasal bahasa. Sebab menurut mereka itu hanya spekulasi yang tiada arti. Berikut ini adalah teori-teori tentang bahasa.

Teori Yo-he-ho: atau Konvensionalis Theory ini menyimpulkan bahwa bahasa pertama kali lahir dalam satu kegiatan sosial. Sekelompok orang primitif dahulu bekerja sama.

Sekarang pun, kita mengalami kerja serupa. Contohnya ketika mengangkat kayu besar kita spontan mengangkatnya bersama-sama mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu, karena terdorong gerakan otot. Demikian juga orang primitive dahulu, sewaktu bekerja tadi, pita suara mereka bergetar, lantas mengeluarkan ucapan-ucapan khusus untuk setiap tindakan.

Ucapan-ucapan tadi kemudian menjadi nama untuk pekerjaan itu secara heave (angkat), rest (diam), dsb.

Teori Bow-wow : atau disebut juga onomatopoetic atau Echoic Theory. Menurut teori ini kata-kata yang pertama kali ada adalah tiruan terhadap guntur, hujan, angin, ombak dan sebagainya. Max Muller secara sarkastis mengomentarinya bahwa teori ini hanya berlaku bagi kokok ayam dan bunyi itik, padahal kegiatan bahasa lebih banyak terjadi di luar kandang ternak.

Setuju atau tidak dengan teori “bow-bow” atau komentar Muller tersebut, namun dalam kosa kata bahasa kita, bahasa Indonesia kita mengenal kata-kata seperti : berkokok, mencicit, menggelegar, bergetar, berdesir, dsb.

3. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang bisa kita temukan dalam kamus.

Denotasi adalah hubungan yang digunakan dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting didalam ujaran. Sedangkan konotatif adalah

50

sebuah makna subjektif. Dann kata konotatif melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan emosional (Berger, 200a:15)

Arthur Asa Berger mencoba membandingkan antara konotasi dan denotasi sebagai berikut

Konotasi Denotasi

Pemakain Figur Literatur

Petanda Penanda

Kesimpulan Jelas

Memeberi kesan tentang makna Menjabarkan

Dunia mitos Dunia keberadaan/eksistensi

Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna denotasiona, makana kognitif, makna konseptual, makna ideasional. Makna konotatif atau disebut juga makna konotasional, makna emotif, makna evaluatif.

Soal – Soal :

1. Bagaimana memahami makana kata dalam kajian semiotika komunikasi ?

2. Jelaskan model proses makan Wendell Johnsosn dalam De Vito bagi komunikasi antarmanusia !

3. Jelaskan dan berikan contoh 3 teori makna menurut Alston ?

4. Bagaimana yang dimaksud dengan makna denotatif, berikan contoh ! 5. Bagaimana yang dimaksud dengan makna konotatif, berikan contoh !

Daftar Referensi :

1. Dadan Rusmana.,2005.,Tokoh dan Pemikiran Semiotika.,Tazkiya Press.,Jakarta.

2. Danesi, Marcel,2011.,Pesan, Tanda dan Makna.,Yogyakarta.,Jalasutra.

3. Littlejohn Stephen E.,Karen A Foss.,2009.,Theories of Human Communication.,Nine Edition.,Slemba Humanika.

4. Nawiroh Vera.,MSi.,2014.,Semiotika Dalam Riset Komunikasi.,Ghalia Indonesia.

5. Sobur Alex.,Drs,MSi.,2009., Semiotika Komunikasi., PT. Remaja Rosdakarya.,Bandung.

51 Pertemuan ke – 11

Dalam dokumen MATA KULIAH : SEMIOTIKA (DAMJ3222) (Halaman 47-51)