• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

B. Kategori Individu yang Diangkat pada Halaman

Metode yang digunakan adalah observasi sistemik, yaitu dengan adanya pemilahan jenis-jenis persoalan yang diangkat majalah Tempo sebagai Halaman Muka. Pemilahan ini dilakukan dengan melakukan pengkategorian yang telah ditentukan.

4. Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya dapat diduga. Pada penelitian ini, populasinya adalah halaman muka majalah Tempo dalam dua periode. Periode I No. 12 Tahun XXIII – 22Mei 1993 - No. 17 Tahun XXIV – 25 Juni 1994 edisi-edisi ini dianggap sebagai representasi dari sebuah produk komunikasi massa yang mengalami pengekangan pada kebebasan

commit to user

persnya. Periode ini berakhir dengan pembreidelan majalah Tempo pada bulan Juni 1994. periode II Edisi 3824/3-9 Agustus 2009 hingga Edisi 3918/28 Juni- 4 Juli 2010, edisi-edisi ini dianggap sebagai edisi terbaru dari majalah Tempo yang terbit setelah pesta demokrasi (pemilihan umum) sehingga merepresentasikan kondisi normal dari masyarakat. Kondisi normal dari masyarakat inilah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi pemberitaan majalah Tempo. Periode kedua ini diakhiri dengan kontroversi pada edisi 3918/28 Juni- 4 Juli 2010 yang berjudul Rekening Gendut Perwira Polisi dimana menyebabkan Tempo edisi ini ditarik dari peredaran. Hal-hal inilah setidaknya yang menjadi alasan pengambilan populasi dalam penelitian ini.

Adapun mengenai jumlah sampel yang diambil Arikunto berpendapat bahwa kebanyakan peneliti beranggapan semakin banyak sampel, atau semakin besar prosentase sampel dari populasi, hasil penelitian akan semakin baik. Anggapan ini benar, tetapi tidak selalu demikian (Arikunto, 1987: 108)

Selanjutnya, Kripendorff mengutip pendapat Stempel (1952) mengenai jumlah sampel dalam bukunya Content Analysis.

Stempel (1952) compared samples of 6, 12, 18, 24, and 48 issues of a newspaper with the issues of an entire year and found, using the average proportion of subject matter as a measure, that increaseing the sample size beyond 12 did not produce significantly more accurate results. (Stempel membandingkan sampel berjumlah 6, 12, 18, 24 dan 48 isu dalam surat kabar dengan isu-isu dalam satu tahun dan menemukan, menggunakan proporsi rata-rata sebagai ukuran dimana menambah ukuran sampel diatas 12 tidak menambah hasil yang lebih akurat).

commit to user

Berangkat dari pernyataan di atas maka peneliti memutuskan mengambil sampel sebesar 50% dari jumlah populasi, sehingga kalau dirinci akan menjadi seperti berikut:

a. Populasi majalah Tempo periode I adalah 48 edisi. Besar sampelnya adalah 50% dari 48 edisi sehingga didapat hasil sebanyak 24 edisi.

b. Populasi majalah Tempo periode II adalah 48 edisi. Besar sampelnya adalah 50% dari 48 edisi sehingga didapat hasil sebanyak 24 edisi.

Dalam pengambilan anggota sampel pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik random sampling yakni secara acak mengambil sampel dari populasi yang ada. To determine which unit is then to be included in the sample, the plan may call for the use of dice, a roulette wheel, a random number table, or

of any other device that assigns equal probabilities to each unit. Untuk

menentukan unit kedalam sebuah sampel, dapat menggunakan dadu, roda roulet, angka random ataupun alat-alat lain yang menyediakan kemungkinan yang sama pada tiap unit. (Krippendorff, 1989: 66)

5. Kerangka Berpikir

Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Elisabeth Schillinger dan Catherine Porter yang berjudul Glasnot and The Transformation

commit to user

masa yang memiliki karakteristik pemerintahan yang sangat berbeda, yaitu tahun 1982 dan tahun 1989 di Uni Soviet. Masa diantara kedua tahun tersebut terjadi perubahan bernama Glasnot yang menyebabkan semacam krisis sama halnya dengan yang terjadi di Indonesia ketika reformasi dikibarkan. Masa sebelum Glasnot merupakan sebuah masa yang totalitarian (dikuasai oleh kelompok atau partai politik tertentu) dan masa setelahnya merupakan sebuah masa Democratia yang kental akan sifat demokratis. (Schillinger dan Porter, 1999: 125-149).

Fenomena yang ditelili pada jurnal Schillinger dan Porter adalah sebuah penelitian tentang fenomena komunikasi yang terjadi pada dua masa pemerintahan yang memiliki karakteristik sistem politik berbeda. Secara lebih sederhana dapat dibuat sebuah matrik desain penelitian seperti dibawah ini.

Matrik Penelitian A A Keterangan: A : Media X : Isi Pesan W1: Periode 1 W2: eriode II

Gambar 3: Matrik Penelitian (Schillinger dan Porter, 1999: 125-149)

W1 W2

X X

commit to user

Fenomena semacam ini mempunyai kemiripan dengan apa yang terjadi di Indonesia, dan bahkan mungkin Indonesia terinspirasi oleh karenanya. Perbedaannya mungkin hanya terdapat pada sifat otoritarian (dikuasai oleh individu tertentu) yang kental pada masa sebelum reformasi menggantikan totalitarian yang terjadi di Uni Soviet pada masa itu. Berangkat dari penelitian yang dilakukan oleh jurnal Schillinger dan Porter tersebut, penelitian mengenai halaman muka majalah Tempo ini memilih dua periode yang memiliki karakteristik sistem politik yang berbeda pula. Masa periode I merupakan periode yang dikuasai pemerintahan orde baru sedangkan pada masa periode II, merupakan masa dimana pemerintahan telah mengalami sebuah proses perubahan menyeluruh disegala bidang atau yang sering disebut sebagai reformasi.

6. Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai objek penelitian. Unit analisis merupakan bagian terpenting dalam analisis isi. Unit analisis dari penelitian ini adalah frekuensi, yang dimaksud frekuensi disini adalah intensitas sebuah persoalan menjadi sorotan utama majalah Tempo. Pemilahan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana majalah Tempo memilih dan menyajikan persoalan-persoalan penting.

commit to user

7. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode analisis isi. Kemudian data yang telah dikoding, diproses untuk mendapatkan frekuensi, prosentasi dan tabulasi. Kemudian dilakukan interpretasi atas data dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

P = F x 100% N

Dimana:

P = angka prosentase

F = frekuensi yang sedang dicari prosentasenya

N = Number of cases (jumlah frekuensi atau banyak sumber informasi)

8. Reliabilitas dan Validitas

Untuk mengetahui dan menjamin keakuratan serta validitas dari data yang telah dikoding dan diinterpretasikan, digunakan rumus reliabilitas. Uji reliabilitas penelitian ini menggunakan rumus Holsti (Holsti, 1963 : 49-50):

R = 2 (C1,2) . C1+C2

Dimana:

R = koefisien reliabilitas

C1,2 = jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua orang pengkoding C1 + C2 = jumlah pernyataan yang diberikan kode oleh pengkoding

commit to user

Selanjutnya, untuk membuktikan valid tidaknya perhitungan penelitian terhadap populasi penelitian, peneliti menggunakan sampel penelitian yang dikerjakan orang lain (pengkoding I: Lukman Nusa dan pengkoding II: Rian Erpatriatmoko) dimana keduanya adalah sama-sama mahasiswa komunikasi angkatan 2006 yang juga mengetahui tentang pengkodingan.

Dari hasil pengkodingan I kemudian dilakukan uji reliabilitas terhadap pengkodingan sampel yang dilakukan pengkoding II. Uji reliabilitas dalam statistik digunakan untuk mengetahui kesalahan dalam pengukuran. Tujuan digunakannya pengkoding I dan pengkoding II adalah untuk memperoleh kesepakatan atau tujuan bersama sehingga diharapkan input reliabilitasnya tinggi. Tentang patokan tingkat persetujuan bersama dikatakan Lasswell sebagai pemberi angka yang menunjukkan kesamaan sebanyak 70% sampai 80% antara atau di antara pelaksana koding atau analisis adalah dapat diterima sebagai kendala yang dapat memadai (Fluorney, 1989: 33).

Karena rumus reliability tidak memperhitungkan tingkat persetujuan antar pengkoding (interkoder) akibat peluangnya yang terjadi, maka selanjutnya digunakan rumus Scott:

Pi= Persetujuan yang nyata –Persetujuan yang diharapkan

1- Persetujuan yang diharapkan

Dimana:

Pi adalah Probability of Index (persetujuan intercoder) % persetujuan yang nyata = nilai R

commit to user

BAB II

DESKRIPSI LOKASI

Majalah merupakan jenis media massa yang paling unik diantara media lainnya. Rhenald Kasali (1992:112-113) berpendapat bahwa media cetak memiliki kekuatan dibanding dengan media lainnya, yakni kemampuannya menjangkau segmentasi pasar tertentu yang terspesialisasi sehingga majalah memiliki komunitas sendiri. Majalah juga memilki sifat long life span, dimana usia edar majalah lebih panjang dari seluruh media yang ada dan pada umunya majalah juga dapat disimpan hingga bertahun-tahun sebagai referensi

Selanjutnya Kurniawan Junaedhi (1996: xiii) memberikan tiga batasan definisi majalah. Batasan pertama adalah media cetak yang terbit secara berkala, tetapi bukan yang terbit setiap hari, kedua media cetak itu bersampul, setidaknya punya wajah, dan dirancang secara khusus, dan yang terakhir media cetak itu dijilid atau setidaknya memiliki sejumlah halaman tertentu.

Majalah seperti media cetak lainnya, pada dasarnya merupakan alat komunikasi massa yang tugasnya menyampaikan pesan dari sumber, dalam hal ini redaksi kepada pembacanya dengan menggunakan lambang-lambang yang dicetak. Lambang-lambang ini dapat berwujud huruf-huruf cetak maupun gambar. Tetapi yang menjadi permasalahan disini adalah bagaimana mengemas lambang- lambang ini menjadi menarik bagi khalayak. Dalam bab ini akan dijelaskan hal- hal terkait majalah Tempo.

commit to user

A.Sejarah Majalah Tempo

Tempo dilahirkan dari sebuah gagasan yang muncul dari para wartawan muda, pasca kejatuhan Presiden Soekarno, yaitu Goenawan Mohamad, wartawan sekaligus penyair. Lalu, Fikri Jufri, seorang mahasiswa, yang bekerja di harian

Pedoman. (www.kopigrafika.com)

Ia mencetuskan ide untuk membuat majalah mingguan berita model Time dan Newsweek (yang beredar di Amerika). Setelah melalui serentetan perundingan yang melelahkan, disepakati menerbikan majalah jenis baru itu, berupa majalah mingguan bergambar bernama Ekspres. Goenawan ditunjuk sebagai pemimpin Redaksi, dan Fikri Jufri sebagai wakilnya (Junaedhie, 1996 : 135-136).

Gagasan yang awalnya hanya sebuah impian itu mulai terealisasi setelah Goenawan dan kawan-kawan, menerbitkan majalah Ekspres yang dibiayai B.M Diah, pemilik harian Merdeka yang pernah jadi duta besar Indonesia. (www.kopigrafika.com)

Pada bulan April 1969, nomor perdana majalah itu beredar. Tebalnya 34 halaman dicetak 20 ribu eksemplar. Kecuali gambar sampul, isi halaman dalamnya dicetak hitam putih. Ekspres menggunakan Surat Ijin Terbit (SIT) No. 0933/SK/Dir PP/SIT/1970 dan Surat Ijin Cetak (SIC) No. Kep. 040/PC/IV/1970. Rubrik-rubrik yang ditampilkan adalah Laporan Utama, Agama, Ekonomi, Film, Hiburan, Hukum dan Kriminalitas, Ilustrasi, Internasional, Kota dan Desa, Olah Raga, Pendidikan, Pers, Pokok dan Tokoh, Seni dan Ilmu, dan lain-lain. Dengan demikian, seperti gambaram Goenawan sebelumnya, pola redaksional maupun

commit to user

tata muka majalah ini memang menghampiri pola Time atau Newsweek (Junaedhie, 1996: 136).

Baru enam bulan berjalan, pada bulan Oktober, Goenawan dan Fikri Jufri diberhentikan oleh pemilik modal dari Ekspres. Alasannya karena ada konflik internal dan perbedaan pendapat mengenai kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Beberapa wartawan lain yang solider juga ikut keluar. Berita eksodusnya Goenawan dan kawan-kawan dari Ekspres menjadi berita yang ramai. Kabar itu sampai juga ke telinga Ir. Ciputra, Ketua Yayasan Jaya Raya, penerbit Majalah Djaja yang kemudian mengundang Goenawan ke kantornya. Disitu Ciputra membeberkan rancananya men-swasta-kan Djaja sekaligus menjaga kemungkinan untuk menggabungnya dengan majalah baru yang direncanakannya berdasarkan konsep Goenawan (Junaedhie, 1996: 137)

Pertemuan Ciputra dengan Goenawan Mohamad tidak terlepas dari peran serta Harjoko Trisnadi dari majalah Djaja yang bertindak sebagai penghubung diantara keduanya. Disamping Harjoko terdapat nama Bur Rasuanto yang sebelumnya bekerja di harian Indonesia Raya, ikut terlibat dalam usaha penerbitan majalah baru tersebut. Untuk masalah perijinan penerbitan majalah baru, Bur harus menmendapatkan ijin dari pemerintah dan PWI. Bertolak belakang dari perijinan dari pemerintah yang dengan mudah didapatkan perijinannya, Bur mengalami kesulitan mengantongi perijinan dari PWI Jakarta yang pada saat itu diketuai oleh Marzuki Arifin. (www.kopigrafika.com)

Mendengar nama Goenawan, Arifin langsung menolak. Tapi Bur tak kehilangan akal. Ada pernyataan tertulis bahwa surat rekomendasi ternyata sah

commit to user

jika ditandatangani oleh salah satu jajaran ketua PWI. Kepada seorang temannya yang berasal dari Medan, dan kebetulan menjadi salah satu wakil ketua PWI Jaya, Bur dengan mudah memperoleh izin tersebut. Setelah semua beres, akhirnya disepakati membentuk majalah baru yang diberi nama Tempo. Dengan demikian, Tempo merupakan gabungan dari orang-orang majalah Djaja dengan mantan personel Ekspres. (www.kopigrafika.com)

Majalah baru ini dimodali Yayasan Jaya Raya sebesar Rp 20 Juta. Orang yayasan yang ditugaskan mengelola Tempo adalah Eric Samola, waktu itu pejabat bagian humas PT Pembangunan Jaya. Goenawan Mohamad sebagai ketua dewan redaksi, Bur Rasuanto sebagai wakil ketua, dan Usamah sebagai redaktur pelaksana. Christianto Wibisono, Fikri Jufri, Toeti Kakiailatu, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Syu'bah Asa, Zen Umar Purba, Putu Wijaya, dan Isma Sawitri duduk sebagai anggota dewan redaksi. (www.kopigrafika.com)

Akhir Desember 1970, dengan rekomendasi Menlu Adam Malik, menpen Budiardjo mengeluarkan SIT Tempo. Menyusul 12 Januari 1971, keluar SIC-nya. Pada Januari 1971 nomer perkenalan Tempo terbit dengan 18 halaman dan dibagikan gratis. Dalam perwajahan, Tempo meniru Time, sesuatu yang tidak disebutkan pengelola Tempo bahwa mereka terpengaruh oleh majalah Amerika. Bahkan kata Tempo dan Time berarti waktu, dan penggunaan kata waktu yang dengan segala variasinya lazim digunakan oleh banyak penerbitan. Persamaan Tempo dan Time, terutama ketika Tempo menggunakan “bingkai merah” yang telah menjadi trademark Time, membuat Time menggugat Tempo pada tahun 1973 (Steele, 2007: 60).

commit to user

Majalah Tempo Edisi 1 yang terbit setebal 52 halaman itu dijual Rp. 80 per eksemplar. Diluar dugaan, majalah yang dicetak 10 ribu eksemplar oleh PT Dian Rakyat itu langsung ludes di pasaran. Dalam edisi 27 Maret 1977 Tempo berhasil mengungkapkan utang Pertamina sebesar 10 Milyar Dollar US. Prestasi ini mendapat pujian dari surat kabar The Asian Street Journal, edisi 25 Mei 1977. Menurut koran itu Tempo memiliki penciuman berita yang tajam (Junaedhie, 1996 : 141).

B.Pembreidelan Tempo

Perjalanan Tempo di tubuhnya sendiri bukannya tanpa badai.Terhitung 12 April 1982, SIT Tempo dibekukan oleh Menteri Penerangan berdasarkan SK Menpen No. 76/Kep/Menpen/1982. Hal itu dikarenakan Departemen Penerangan menilai pemberitaan Tempo pada Edisi 27 Maret 1982 (perihal pengacauan di Lapangan Banteng), 3 April 1982 (perihal insiden kampanye di Solo dan Jogja), dan 10 April 1982 (perihal pemogokan di UI) secara sengaja atau tidak telah melanggar konsensus bersama antara pemerintah dan pers nasional. Atas dukungan dari berbagai pihak, semisal Persatuan Advokad Indonesia, Wakil Presiden Adam Malik, dan Persatuan Wartawan Indonesia, pada tanggal 29 Mei 1982, menpen Ali Murtopo menyatakan SIT Tempo dicairkan. Pada tanggal 9 Juni 1982 Tempo beredar kembali di kalangan pembacanya (Junaedhie, 1996 : 143).

Permasalahan internalpun menjadi sebuah batu kerikil yang harus dilewati Tempo. Kebijakan perusahaan, antara pendiri Tempo, Goenawan Mohamad dan

commit to user

Bur Rasuanto memunculkan terjadinya ekspansi besar-besaran para wartawan Tempo, di tahun 90-an. Bur mendirikan Majalah berita mingguan Editor, dan 40 wartawan ikut Bur. Kedua majalah tersebut bersaing sengit meraih hati masyarakat dengan berita-beritanya yang seringkali menghebohkan dan membuat merah telinga para pengambil kebijakan negeri.(www.kopigrafika.com)

Tak ayal, sampailah pada sebuah momentum yang tepat bagi pemerintah orde baru untuk menutup keduanya, saat munculnya pemberitaan mengenai pembelian Kapal eks Jerman Timur. Keduanya pun di breidel di tahun 1994. Kondisi pembreidelan, ibarat titik balik yang ikut menyurutkan kejayaan percetakan Temprint, saat sang induk dikubur pemerintah. Percetakan Temprint dilanda kelesuan luar biasa. Benar-benar mengandalkan ongkos-ongkos cetak. Hal yang sama dialami para wartawan Tempo. Tak semuanya mampu bertahan dalam kondisi yang berat tersebut. Sebagian besar wartawan Tempo memilih membentuk majalah baru. Setiawan, Mahtoem, Harjoko Trisnadi, Herry Komar, Basri mendirikan majalah Gatra yang dibiayai oleh Bob Hasan, seorang pengusaha besar dan salah seorang kepercayaan Soeharto. (www.kopigrafika.com)

Bukan hanya itu, Gatra pun mendapatkan kucuran modal untuk memiliki percetakan sendiri yang diberi nama PT Enka Parahyangan. Hal ini juga, menarik minat bagi banyak karyawan percetakan PT Temprint, untuk ekspansi besar-besaran pindah ke PT Enka Parahyangan, setelah pembreidelan majalah Tempo. (www.kopigrafika.com)

commit to user

Pada tanggal 7 September 1994 Goenawan Mohamad dan 43 wartawan eks-Tempo mempertanyakan legalitas Menteri Penerangan Harmoko membreidel SIUPP. Tempo menggugat Departemen Penerangan di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, karena keputusan Menteri mencabut izin terbit Tempo melanggar Undang-Undang Pokok Pers. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, sebuah media yang dibreidel menggugat Departemen Penerangan (Steele, 2007: 236).

Pada 3 Mei 1995, hal yang mengejutkan pemerhati media terjadi, Pengadilan Negeri Jakarta memenangkan gugatan Goenawan Mohamad eks- karyawan Tempo. Departemen Penerangan mengajukan banding ke Mahkamah Agung (MA). Namun, pada 13 Juni 1996 MA mementahkan semua, dan Tempo tetap dibredel. Kalangan pers Indonesia menyadari politik bermain dalam mempengaruhi putusan hukum tersebut (Steele, 2007: 238).

C.Kembalinya Tempo

Penderitaan Tempo karena dibreidel, berakhir seiring kejatuhan Soeharto. Setelah presiden BJ. Habibie membuka perizinan bagi pers lebih demokratis, pasca reformasi digaungkan. Tapi, ternyata, untuk menerbitkan kembali majalah Tempo, bukan perkara mudah. Tak semua setuju dengan rencana wartawan senior Tempo, tersebut, dan tak semua berminat. Mengingat PT Grafiti Pers, penerbit majalah Tempo, sejak 1996 sudah menerbitkan majalah D&R. Mingguan itu digarap oleh gabungan awak Tempo lama dan wartawan muda. Lalu, banyak para wartawan-wartawan hebat Tempo yang telah bekerja di tempat lain. kebanyakan

commit to user

dari mereka berada di Gatra, Majalah Forum, dan Tabloid Kontan. Di tempat baru, mereka menduduki posisi-posisi strategis. (www.kopigrafika.com)

Mengetahui kemungkinan Tempo yang bisa terbit kembali, pada detik- detik terakhir pengurusan penerbitannya, Goenawan Mohamad bertemu dengan Yunus Yosfiah, Menteri penerangan pada saat itu, dan secara resmi menyatakan bahwa Tempo bisa terbit kembali. Maka, rapat demi rapat pun digelar. Satu rapat yang banyak dikenang adalah pertemuan alumni di Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur. Dari sanalah dicari kesepakatan apakah akan menerbitkan kembali Tempo atau tidak. (Tempo, no 3735/20-26 Oktober 2008, hal 6-7)

Zulkifli Lubis, mantan Direktur Keuangan SDM-Umum dan sekarang menjabat sebagai Komisaris Tempo, menerangkan bahwa walaupun akhirnya disepakati bahwa Tempo akan terbit kembali, terdapat dua kubu yang sama kuat dalam pertemuan Utan Kayu pada saat itu. Kelompok pertama ingin majalah Tempo kembali. Alasan mereka, ada cita-cita yang harus diteruskan. Banyak kelompok masyarakat yang protes, marah, dan berdemo ketika majalah ini dibreidel. Yang tidak setuju juga mempunyai alasan yang bagus. Mereka takut nama majalah ini tidak akan sebagus sebelum dibreidel – bila terbit lagi. Nama Tempo sudah harus, sudah menjadi legenda, tak perlu dihidupkan lagi. (Tempo, no 3735/20-26 Oktober 2008, hal 7)

Keputusan pertemuan Utan Kayu dengan radikal mengubah ritme hidup sebuah ruko pucat berlantai empat, dengan cat sudah mengelupas, di Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat. Bangunan itu akan menjadi kantor majalah Tempo baru. Ruang-ruang masih separuh kosong, tapi seluruh gedung seperti dipenuhi

commit to user

aliran darah baru untuk merealisasikan penerbitan Tempo pada Selasa, 6 Oktober 1998. (Tempo, no 3735/20-26 Oktober 2008, hal 7)

Maka tibalah hari itu, 6 Oktober 1998. Tempo terbit kembali dengan laporan utama “Pemerkosaan, Cerita dan Fakta”. Majalah ini tampil dengan desain halaman muka yang simbolis, mata yang menitikkan air. Kerja keras redaksi yang sudah dimulai sejak tanggal 4 September 1998 dengan mengumpulkan bahan ternyata berbuah hasil yang memuaskan. Edisi perdana yang dicetak 180 ribu eksemplar itu langsung ludes. (Tempo, no 3735/20-26 Oktober 2008, hal 16)

Sejak pertama kali terbit kembali satu dasawarsa silam, jurnalisme Tempo adalah jurnalisme investigasi. Menyajikan kabar di balik warta, dengan mengintip dan membongkar apa yang selama ini disembunyikan dari mata publik, sejak awal sudah ditakdirkan menjadi nilai lebih media ini. Takdir semacam inilah yang membuat penerbitan majalah ini penuh dengan kontroversi. Tapi itulah Tempo dengan segala kehebohan yang muncul, suka atau tidak, telah menciptakan warna tersendiri bagi perkembangan dan kedewasaan politik bagi perjalanan negara ini

D. Visi dan Misi

I. Visi

Visi dari Tempo adalah menjadi acuan dalam meningkatkan kebebasan rakyat untuk berpikir dan mengutarakan pendapat serta membangun suatu masyarakat yang menghargai kecerdasan dan perbedaan pendapat.

commit to user

II. Misi

Visi tersebut diterjemahkan dalam beberapa misi sebagai berikut:

a. Menyumbangkan kepada masyarakat suatu produk multimedia yang menampung dan menyalurkan secara adil suara yang berbeda-beda, Sebuah produk multimedia yang mandiri, bebas dari tekanan kekuasaan modal dan politik.

b. Meningkatkan apresiasi terhadap ide-ide baru, bahasa, dan tampilan visual yang secara baik dan terus menerus.

c. Menciptakan karya yang bermutu tinggi dan berpegang pada kode etik.

d. Menjadikan tempat kerja mencerminkan Indonesia yang beragam sesuai kemajuan jaman.

e. Menerapkan suatu proses kerja yang menghargai kemitraan dari semua sektor.

f. Menjadi lahan subur bagi kegiatan-kegiatan untuk memperkaya khasanah artistik dan intelektual. (Litbang Tempo)

E. Karakteristik Majalah Tempo

a. Reguler

Majalah Tempo terbit setiap hari senin. Jumlah halaman majalah ini berubah-ubah tiap waktu, rata-rata lebih dari 110 halaman pada periode I dan mengalami peningkatan menjadi lebih dari 130 halaman pada periode II. Secara Isi didalamnya terbagi menjadi tiga bagian besar yaitu

commit to user

rubrik berita, rubrik non berita, dan iklan. Rubrik-rubrik Tempo bervariasi, tercatat tetap setiap minggunya pada periode II adalah rubrik Prelude (Album, Etalase, Inovasi, Kartun,), Indonesiana (artikel yang berisi tentang kejadian-kejadian yang terjadi di tengah masyarakat), buku (resensi buku terbaru, pengarang, dsb), ekonomi (kebijakan dan peristiwa ekonomi yang terjadi di masyarakat). Hukum (kasus hukum, kriminalitas, dan hal-hal yang menyangkut Undang-Undang), Kesehatan (berisi tentang informasi seputar kesehatan yang menyangkut obat-obatan dan penyakit), Ilmu dan Teknologi (artikel yang mengulas tentang inovasi dan perkembangan di bidang IPTEK), Opini (Opini, Bahasa, Kolom), Lingkungan (berita mengenai lingkungan hidup, alam, dsb), Musik ( artikel mengenai perkembangan musik dan teknologi serta perkembangannya), Olahraga (mengupas kejuaraan, pelatihan, dsb) Etalase (memaparkan inovasi baru dalam IPTEK dan kesehatan), Inovasi (artikel yang berisi tentang penemuan baru disegala bidang) dan Tokoh (Obituari, Wawancara, Pokok & Tokoh).

b. Edisi Khusus

Selain edisi reguler Tempo juga sering mengeluarkan edisi khusus.

Dokumen terkait