BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS
A. Paparan Data dan Analisis
2. Kategori Program Bantuan Hukum LKBH IKADIN Jember
84
63 Nanang Tri Budiman, S.H., M.H. Paralegal 64 Siti Nur Maulidatun Nafisah, S.H. Paralegal 65 Solehati Nofita Sari, S.H. Paralegal
66 Sudaryati, S.H., M.H. Paralegal
67 Suphia, S.H., M.Hum. Paralegal
68 Tioma Roniuli Hariandja, S.H., M.H. Paralegal
69 Wildan Riansyah, S.H. Paralegal
70 Yuli Winiari W.s, S.H., M.H. Paralegal
85
Untuk program bantuan hukum akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Litigasi
Litigasi adalah penyelesaian sengketa melalui pengadilan, menurut Dr. Sri Lestari Poernomo49 litigasi adalah persiapan dan persentasi dari setiap kasus, termasuk juga memberikan informasi secara menyeluruh sebagaimana proses dan kerjasama untuk mengidentifikasi permasalahan yang tak terduga dan bentuk penyelesaian masalah hukum melalui jalur pengadilan. Sedangkan menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa pasal 6 menyebutkan litigasi adalah sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternative penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. Jenis bantuan hukum litigasi sendiri terdiri atas :
1) Pidana
Menurut C.S.T. Kansil50 mendefinisikan hukum pidana sebagai “hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, sebagaimana perbuatan-perbuatan tersebut diancam dengan hukuman yang
49 Sri Lestari Poernomo, Hukum Dagang (Tasikmalaya: Edu Publisher, 2021), 230.
50 C.S.T. Kansil , Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 257.
86
merupakan suatu penderitaan atau siksaan”. Hukum pidana Indonesia tunduk pada ketentuan dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Ada dua macam pidana yang dianut oleh KUHP yaitu pelanggaran dan kejahatan. Contoh perbuatan yang dikategorikan sebagai pelanggaran misalnya orang yang mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm. Sedangkan contoh dari kejahatan adalah membunuh dan mencuri.
Menurut Ibu Siti Nur Maulidatun Nafisah51 selaku Advokat, pemberian bantuan hukum dalam ranah pidana dimulai dari kepolisian karena merupakan pintu utama bagi para pencari keadilan. Tahap kedua yaitu kejaksanaan sebagaimana kejaksaan menjadi suatu badan yang berorientasi pada pencapaian tujuan hukum. Tugas dan kewenangan jaksa dalam perkara pidana adalah sebagai penuntut umum dan pelaksana (eksekutor) putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Tahap ketiga dalam memberikan bantuan hukum ialah di Pengadilan sebagaimana undang-undang kekuasaan kehakiman yang mengatur tentang hak bagi setiap orang yang tersangkut urusan perkara untuk memperoleh bantuan hukum.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada intinya hukum pidana merupakan ketentuan yang mengatur tindakan apa yang tidak boleh dilakukan. Kemudian, saat tindakan yang tidak
51 Siti Nur Maulidatun Nafisah, wawancara, Jember, 19 September 2022
87
diperbolehkan tersebut dilakukan, terdapat sanksi bagi pelakunya.
Sedangkan untuk memperoleh bantuan hukum dapat terjadi baik itu di kepolisian, kejaksanaan dan pengadilan.
2) Perdata
Menurut Subekti52, perdata memiliki arti luas yaitu “meliputi semua hukum privat materiil, sebagaimana segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan”. Hukum perdata adalah hukum yang bertujuan untuk mengatur hubungan antara sesama anggota masyarakat. Hukum perdata Indonesia menurut Bambang Sugeng dan Sujayadi53 adalah sebagai berikut :
i. Her Herziene Indonesisch Reglement (HIR) atau Reglemen Indonesia diperbarui, S.1848 No. 16 Jo.S.1941 No. 44, Peraturan ini khusus untuk daerah Jawa dan Madura
ii. Rechtsreglement Buitengewesten (RBg) atau Reglement daerah seberang, S.1927 No. 227. Peraturan ini untuk daerah luar Jawa dan Madura
iii. Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) 1847 No.
52 Jo. S. 1849 No. 63. Peraturan ini sebenarnya berlaku untuk pengadilan Raad Van Justitie yang dikhususkan bagi golongan eropa, sehingga saat ini sebenarnya sudah tidak berlaku lagi. Namun, dalam beberapa hal tetap dijadikan pedoman dalam praktik apabila ketentuan dalam HIR/RBg tidak mengatur
iv. Kitab undang-undang hukum perdata (KUHPer) atau Burgerlijk Wetboek (BW)
v. Undang-undang nomor 2 tahun 1986 tentang peradilan umum beserta perubahannya
52 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Penerbit PT Intermasa, 2003), 9.
53 Bambang Sugeng dan Sujayadi, Hukum Acara Perdata dan Contoh Dokumen Litigasi Perkara Perdata, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012), 2-3.
88
vi. Yurisprudensi tentang hukum acara perdata, dan vii. Doktrin yang dikemukakan oleh para sarjana.
3) Pengadilan Tata Usaha Negara
Peradilan tata usaha negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan, sebagaimana sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hukum tata Negara bertujuan untuk mengatur organisasi dan hubungan antar lembaga-lembaga Negara. Dasar dari pengaturan system ketatanegaraan tentu saja adalah konstitusi UUD 1945, antara lain:
i. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ii. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
iii. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) iv. Lembaga Kepresidenan
v. Mahkamah Agung (MA) vi. Mahkamah Konstitusi (MK) vii. Komisi Yudisial (KY)
89
viii. Bank Indonesia (BI)
ix. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) x. Pemerintah Daerah (Pemda)
b. Non litigasi
Nonlitigasi adalah penyelesaian sengketa diluar pengadilan.
Menurut Dr. Sri Lestari Poernomo54 nonlitigasi adalah penyelesaian sengketa yang dilakukan melalui perdamaian. Landasan penyelesaian sengketanya adalah hukum, namun konstruksi penyelesaiannya disesuaikan dengan kehendak para pihak dengan tujuan agar para pihak merasa puas dengan cara penyelesaian sengketa tersebut. Berdasarkan undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman pasal 58 menyebutkan nonlitigasi adalah upaya penyelesaian sengketa perdata dapat dilakukan di luar pengadilan negeri melalui arbitrase atau alternative penyelesaian sengketa. Kedua, terdapat dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa pasal 1 angka 10 yang menyebutkan nonlitigasi adalah alternative penyelesaian perkara (alternative Dispute Resolution) adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat
melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, atau penilaian para ahli.
54 Sri Lestari Poernomo, 2021: 231
90
Berdasarkan hasil wawancara dengan Paralegal Bapak Wildan Riansyah55 mengatakan bahwa pemberi bantuan hukum secara nonlitigasi dapat dilakukan oleh advokat, paralegal, dosen, dan mahasiswa fakultas hukum. Jenis bantuan hukum nonlitigasi meliputi sebagai berikut:
a) Penyuluhan Hukum
Penyuluhan hukum diberikan kepada kelompok orang miskin yang berisikan tentang diskusi, ceramah dan/atau simulasi. Untuk menyelenggarakan penyuluhan hukum, pemohon bantuan hukum harus mengisi formulir. Permohonan tersebut diajukan oleh perwakilan kelompok yang diketahui dan ditandatangani oleh Lurah, Kepala Desa, atau pejabat yang setingkat ditempat tinggal pemohon.
Penyelenggaraan penyuluhan hukum harus memenuhi syarat sebagai berikut:
i. Peserta penyuluhan hukum berjumlah paling sedikit 15 (lima belas) orang
ii. Pelaksanaan penyuluhan hukum dilakukan dalam waktu singkat 2 (dua) jam
iii. Penyuluhan hukum dilaksanakan ditempat kelompok orang miskin berada, dan
iv. Materi yang disampaikan terkait dengan upaya membangun kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat.
55 Wildan Riansyah, wawancara, Jember, 10 Oktober 2022
91
Menurut pearturan pemerintah, kegiatan penyuluhan hukum dapat dilaksanakan tanpa permohonan jika telah berkoordinasi dengan Lurah, Kepala Desa, atau nama lainnya yang menyatakan bahwa peserta penyuluhan hukum dilokasi pelaksanaan penyuluhan hukum merupakan kelompok orang miskin. Format permohonan disajikan pada gambar 1
b) Konsultasi Hukum
Konsultasi hukum dilakukan dalam rangka mencari solusi penyelesaian masalah yang dihadapi penerima bantuan hukum. Untuk mendapatkan konsultasi hukum secara cuma-cuma, penerima bantuan hukum cukup membawa surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang dikeluarkan oleh desa atau kelurahan sesuai domisili penerima bantuan hukum apabila penerima bantuan hukum kesusahan untuk menunjukkan SKTM maka cukup melampirkan kartu Indonesia sehat (KIS) yang disertai dengan KTP, dan pokok permasalahan yang dihadapinya. Hasil konsultasi hukum dibuat secara tertulis dengan mengisi formulir konsultasi. Format formulir konsultasi hukum berdasarkan lampiran Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 10 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara
92
Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum.
Format permohonan disajikan pada gambar 2 c) Investigasi Kasus
Kegiatan ini dilakukan dengan mengumpulkan, menyeleksi, dan mendata informasi dan/atau dokumen yang berkaitan dengan kasus hukum yang dihadapi oleh penerima bantuan hukum. Hasil investigasi kasus dituangkan dalam bentuk laporan sesuai dengan formulir investigasi. Disajikan pada gambar 3
d) Penelitian Hukum
Penelitian hukum dilakukan terhadap permasalahan bantuan hukum yang terjadi di wilayah pemberi bantuan hukum yang bersangkutan.
Penelitian hukum dapat dilaksanakan setelah proposal penelitian mendapat persetujuan dari kepala kantor wilayah atau pejabat yang ditunjuk. Penelitian hukum dilakukan oleh panitia yang dibentuk oleh pemberi bantuan hukum. Panitia tersebut terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota yang terdiri atas unsur advokat, paralegal, dosen, dan/atau mahasiswa fakultas hukum.
Format proposal penelitian hukum disajikan pada gambar 4 e) Mediasi
Mediasi merupakan proses penyelesaian sengketa melalui cara mediasi oleh pihak ketiga juga turut dalam proses perundingan untuk menyelesaikan sengketa, tetapi pengambilan keputusan tentang
93
penyelesaian sengketa berada dalam pihakpara pihak. Disajikan pada gambar 5
f) Negosiasi
Negosiasi dilakukan berdasarkan permohonan penerima bantuan hukum kepada pemberi bantuan hukum. Negosiasi dilakukan paling banyak 4 (empat) kali pertemuan. Pertemuan negosiasi harus dibuat dalam berita acara negosiasi yang ditandatangani oleh pemberi bantuan hukum dan penerima bantuan hukum. Dalam hal telah tercapai kesepakatan dalam pertemuan negosiasi, pemberi bantuan hukum wajib membuat laporan pelaksanaan kegiatan negosiasi dalam bentuk tertulis. Format laporan pelaksanaan kegiatan negosiasi disajikan pada gambar 6
g) Pemberdayaan Hukum
Pemberdayaan masyarakat dilakukan guna meningkatkan pengetahuan atau keterampilan hukum penerima bantuan hukum untuk penanganan atau pemantauan kasus, penyusunan permohonan atau gugatan, dan/atau pelaporan kasus atau pendaftaran kasus. Jumlah peserta kegiatan pemberdayaan masyarakat paling sedikit berjumlah 10 (sepuluh) orang. Pemberi bantuan hukum wajib membuat laporan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk tertulis yang melampirkan daftar hadir, foto kegiatan, dan notula hasil
94
kegiatan. Format laporan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat disajikan pada gambar 7
h) Pendampingan di luar Pengadilan
Pendampingan diluar pengadilan dilakukan dalam bentuk advokasi kepada saksi dan/atau korban tindak pidana ke instansi atau lembaga pemerintah yang terkait. Kegiatan pendampingan di luar pengadilan dilakukan paling banyak 4 (empat) kali dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan untuk satu kasus. Kegiatan pendampingan di luar pengadilan tidak boleh mengabaikan proses hukum yang sedang berjalan. Setiap kegiatan pendampinga di luar pengadilan harus dibuat dalam berita acara yang ditandatangani oleh pemberi bantuan hukum dan penerima bantuan hukum. Format laporan kegiatan pendampingan di luar pengadilan disajikan pada gambar 8
i) Drafting Dokumen
Drafting dokumen diberikan dalam bentuk penyusunan dokumen
hukum berupa surat perjanjian, surat pernyataan, surat hibah, kontrak kerja, wasiat, dan/atau dokumen hukum lainnya yang disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Format laporan pelaksanaan kegiatan legal drafting disajikan pada gambar 9
95
3. Kedudukan LKBH IKADIN Jember dalam pemenuhan Undang-undang