BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.5. Kategorisasi Data Penelitian
4.5.2. Kategorisasi Bullying
Kategorisasi variabel bullying dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.
Berdasarkan mean hipotetik bullying adalah 48 dengan standar deviasi 8 sehingga kategorisasi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Tabel 4.19
Kategorisasi Skor Bullying
Rentang Nilai Kategori Bullying Interpretasi Jumlah (N) Persentase (%)
X < 40 Rendah Tidak Pernah 48 39 %
40 ≤ X < 56 Sedang Jarang 64 51 %
X > 56 Tinggi Sering 12 10 %
Jumlah 124 100%
Berdasarkan tabel 4.18, subjek penelitian mayoritas digolongkan ke dalam kategori sedang pada skor bullying. Sekitar 51% subjek termasuk ke dalam kategori sedang. Artinya sebanyak 64 subjek jarang melakukan bullying. Sedangkan, sekitar 39% subjek termasuk ke dalam kategori rendah. Artinya sebanyak 48 subjek tidak pernah melakukan bullying. Dan sekitar 10% subjek termasuk ke dalam kategori tinggi. Artinya sebanyak 12 subjek sering melakukan bullying.
4.6. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis regresi dari kedua variabel penelitian, yaitu keharmonisan keluarga terhadap bullying diperoleh persamaan garis regresi Y=
74.537 + (-0.508). Berdasarkan garis persamaan regresi bila nilai keharmonisan keluarga bertambah satu satuan, maka nilai pada bullying mengalami penurunan sebesar 0.508. Koefisien bernilai negatif artinya ada pengaruh negatif keharmonisan keluarga terhadap bullying, semakin tinggi keharmonisan keluarga maka semakin rendah bullying pada kanak-kanak, maupun sebaliknya semakin rendah keharmonisan keluarga maka semakin tinggi bullying pada kanak-kanak. Dari hasil analisis penelitian tersebut maka hipotesa penelitian dapat diterima. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Coloroso (2003), faktor sosial seperti yang diungkapkan Urie Bronfenbrenner yaitu “pengaruh lingkungan”, mempengaruhi bullying seperti lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat dan budaya yang termasuk media sosial.
Interaksi antar anggota keluarga yang dapat menentukan keadaan harmonis atau tidaknya sebuah keluarga juga berpengaruh terhadap pribadi-pribadi yang ada di dalam keluarga, dimana keadaan yang tidak harmonis pada keluarga akan ditandai dengan munculnya ketegangan, kekecewaan, dan ketidakpuasan terhadap keberadaan diri seseorang (Gunarsa, 2001). Keadaan inilah yang akan menciptakan respon negatif pada anak, sehingga tercipta bullying seperti mengejek, mengucapkan kata yang kasar, memukul, menendang, melakukan penghindaran terhadap seseorang, dan lainnya.
Nilai koefisien determinasi (R-Square) yang diperoleh sebesar 0.538 atau sama dengan 53,8%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel keharmonisan keluarga dapat mencapai 53,8% dari variasi variabel bullying. Artinya, variabel keharmonisan keluarga dapat menjelaskan variasi dari variabel bullying sebesar 53,8%, dan terdapat 42,6% variasi variabel bullying yang dijelaskan oleh faktor lain. Menurut Coloroso (2003), faktor-faktor lain tersebut dapat berupa lingkungan sekolah, masyarakat, dan budaya yang termasuk media sosial. Masa kanak-kanak akhir ditandai dengan anak tidak lagi menuruti perintah orang tua dan banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya. Oleh karena itu, teman sebaya dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku anak. Selain itu, media sosial juga berpengaruh karena menontonkan dan mencontohkan perilaku negatif yang tidak patut dicontoh oleh anak. Beberapa faktor tersebut yang memungkinkan menjadi 46,2% faktor lain penyebab terjadinya bullying pada kanak-kanak.
Deskripsi data penelitian keharmonisan keluarga berdasarkan nilai rata-rata menunjukkan bahwa sebanyak 39 orang atau sekitar 31% subjek termasuk ke dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan sebanyak 39 orang memiliki keluarga yang harmonis, dimana telah terjadi keselarasan antar anggota keluarga sehingga tercipta kebahagiaan bagi masing-masing anggota keluarga. Keadaan tersebut dapat dilihat dari adanya kasih sayang, pengertian, komunikasi, dan kerjasama antar anggota keluarga. Deskripsi data penelitian bullying berdasarkan nilai rata-rata menunjukkan bahwa sekitar 51% subjek termasuk ke dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan sebanyak 64 subjek jarang melakukan bullying kepada temannya.
Pada penelitian ini, subjek yang dipilih ialah usia kanak-kanak akhir. Menurut Hurlock (1980), ciri-ciri masa kanak-kanak sebagai usia berkelompok yaitu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebagai sebagai anggota kelompok. Selain itu, masa kanak-kanak akhir sebagai usia penyesuaian diri, yaitu masa dimana anak ingin menyesuaikan diri dengan standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku. Hal ini dapat menjadi pemicu anak untuk melakukan bullying, apabila anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman kelompoknya. Selain itu, subjek yang dipilih ialah subjek yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Subjek yang tinggal bersama orang tua lebih dapat merasakan interaksi antar anggota keluarga, sehingga subjek dapat lebih mengetahui keadaan keluarganya.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, bahwa sebanyak 39 subjek memiliki keluarga harmonis dan 64 subjek jarang melakukan bullying kepada temannya. Ini menunjukkan dengan adanya keluarga yang harmonis menciptakan pola perilaku anak yang baik. Hubungan keluarga sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan kepribadian anak. Peran yang dimainkan di rumah menentukan pola perilaku anak di luar rumah, karena peran yang dilakukan di rumah membentuk dasar bagi hubungannya dengan teman-teman di luar rumah. Selanjutnya, hal ini mempengaruhi pola perilaku anak terhadap teman-teman mereka. Pandangan anak tentang diri mereka sendiri merupakan cerminan langsung dari perilaku yang dinilai atas cara mereka diperlakukan oleh anggota-anggota keluarga (Hurlock, 1980).
Penelitian ini juga tidak terlepas dari kelemahan. Kelemahan yang ada pada penelitian ini diantaranya ialah peneliti kurang mengantisipasi penggunaan istilah
dalam skala yang kurang dimengerti oleh subjek penelitian. Selanjutnya, peneliti kurang mengontrol kondisi eksternal dari lingkungan subjek penelitian saat melakukan pengisian skala, sehingga terdapat beberapa siswa yang telihat kurang serius mengerjakannya. Kemudian, populasi penelitian yang hanya berada di dua kecamatan dengan jumlah tiga sekolah dan tidak mencakup kawasan yang luas, sehingga membuat data penelitian yang terkumpul kurang optimal. Selain itu, blue print yang telah disusun peneliti memiliki bobot yang tumpang tindih satu sama
lainnya, sehingga membuat aitem-aitem yang ada dalam skala penelitian kurang efektif.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran sehubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian. Pada bagian pertama akan berisi rangkuman hasil penelitian yang dibuat berdasarkan analisa, interpretasi dan pembahasan. Pada bagian akhir akan dikemukakan saran-saran yang mungkin dapat berguna bagi penelitian yang akan datang dengan tema serupa.
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisa data penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Terdapat pengaruh negatif keharmonisan keluarga terhadap bullying pada kanak-kanak. Artinya, semakin tinggi keharmonisan keluarga maka semakin rendah bullying pada kanak-kanak. Atau sebaliknya, jika semakin rendah keharmonisan keluarga maka semakin tinggi bullying kanak-kanak.
2. Keharmonisan keluarga memiliki nilai koefisien determinasi (R-Square) yang diperoleh sebesar 0.538 atau sama dengan 53,8%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel keharmonisan keluarga dapat mencapai 53,8% dari variasi variabel bullying. Artinya, variabel keharmonisan keluarga dapat menjelaskan variasi dari variabel bullying sebesar 53,8%, dan terdapat 42,6% variasi variabel bullying yang dijelaskan oleh faktor lain, seperti lingkungan sekolah, masyarakat, dan budaya yang termasuk media sosial.
3. Kategorisasi variabel keharmonisan keluarga berdasarkan nilai rata-rata yaitu, sekitar 29% subjek termasuk ke dalam kategori rendah, artinya sebanyak 36 orang memiliki keluarga yang disharmonis. Kemudian, sekitar 31% subjek
termasuk ke dalam kategori tinggi, artinya sebanyak 39 orang memiliki keluarga yang harmonis. Kategorisasi tidak terklasifikasi disebabkan oleh eror dalam pengukuran, sehingga sangat dimungkinkan orang-orang yang memiliki skor dalam rentang 50-70 adalah orang-orang yang memiliki keluarga harmonis ataupun keluarga yang disharmonis.
4. Kategorisasi variabel bullying, berdasarkan nilai rata-rata yaitu sekitar 51%
subjek termasuk ke dalam kategori sedang, artinya sebanyak 64 subjek jarang melakukan bullying. Sedangkan, sekitar 39% subjek termasuk ke dalam kategori rendah, artinya sebanyak 48 subjek tidak pernah melakukan bullying.
Dan sekitar 10% subjek termasuk ke dalam kategori tinggi, artinya sebanyak 12 subjek sering melakukan bullying.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa saran. Saran-saran ini diharapkan dapat berguna untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan keharmonisan keluarga ataupun perilaku bullying pada kanak-kanak.