• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Komponen Mesin Pendingin

9. Katup ekspansi jenis blok

Gambar 9. Katup ekspansi

9. Katup ekspansi jenis Blok

Ruangan di atas membran diisi dengan cairan khusus yang sensitif terhadap perubahan temperatur pada evaporator. Bila temperatur evaporator rendah, tekanan cairan di atas membran tidak mampu melawan tekanan pegas, katup jarum menutup saluran masuk ke evaporator, penguapan zat pendingin terhenti dan temperatur evaporator naik kembali. Sebaliknya pada saat temperatur

evaporator naik, tekanan cairan di atas membran akan naik pula, sampai melebihi tekanan pegas, katup terdorong ke bawah, saluran terbuka. Suhu evaporator turun kembali, demikian seterusnya.

Gambar 10. Katup ekspansi jenis blok

10. Bahan Pendingin (Refrigerant)

Refrigerant adalah zat yang mudah diubah wujudnya dari gas menjadi cair, ataupun sebaliknya. Jenis bahan pendingin sangat beragam. Setiap jenis bahan pendingin memiliki karakteristik yang berbeda.

Gambar 11. Refrigerant

11. Fan motor

Fan motor atau kipas angin berguna untuk menghembuskan angin.Pada mesin pendingin kulkas ada dua jenis fan :

 Fan motor evaporator Berfungsi menghembuskan udara dingin dari evaporator keseluruh bagian rak ( rak es , sayur ,dan buah ).

 fan motor kondensor kipas angin ini diletakkan pada bagian bawah kulkas yang memiliki kondensor yang berukuran kecil yang berfungsi mengisap atau mendorong udara melalui kondensor dan kompresor . selain itu berfungsi mendinginkan kompresor.

Gambar 12. Fan motor

12. Defrost Heater

Untuk menghancurkan salju yang ada dalam mesin pendingin.

Hampir keseluruan kulkas nofrost dan sebagian kecil kulkas defrost dilengkapi dengan pemanas ( heater ). Pemanas berfungsi mencairkan bunga es yang terdapat di evapurator. Selain itu pemanas dapat mencegah terjadinya penimbunan bunga es pada bagian rak es dan rak penyimpan buah di bawah rak es.

Gambar 13. Defrost Heater

2.2.4 Prinsip Kerja Mesin Pendingin

Dalam menjalani tujuan hidupnya untuk mendinginkan barang-barang yang berada di dalam dirinya, memiliki 2 prinsip (sistem) kerja yang utama, yaitu:

a. Kerja mendinginkan (cooling).

b. Kerja mencairkan es di evaporator (defrost).

Kedua jenis kerja tersebut (cooling dan defrost) harus bekerja baik secara bergantian agar proses pendinginan berjalan optimal sebagaimana mestinya. Bila salah satu atau kedua jenis kerja tersebut terganggu, maka performa akan menurun .

 Kerja mendinginkan

Proses pendinginan dalam mesin ini sama dengan proses pendinginan air conditioner. Kita mulai dari hisapan kompresor. Dengan adanya aliran listrik maka motor kompresor akan bekerja mengisap gas refrigeran yang bersuhu dan bertekanan

rendah dari saluran hisap (dan evaporator).

Kompresor kemudian memampatkan gas refrigeran sehingga menjadi uap/gas bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi, gas tersebut ditekan keluar oleh kompresor memasuki kondensor yang dingin. Gas

refrigeran yang panas dan bertekanan tinggi tersebut di dalam kondensor akan didinginkan oleh udara di luar kulkas (panasnya berpindah dari kondensor ke udara sekelilingnya) sehingga suhunya turun (menjadi dingin) mencapai suhu kondensasi (berkondensasi atau mengembun) dan wujudnya berubah menjadi cair tetapi tekanannya tetap tinggi. Refrigeran cair yang bertekanan tinggi (tetapi suhunya telah rendah) ini selanjutnya mengalir kedalam penyaring (strainer dan drier). Refrigeran cair kemudian memasuki pipa kapiler yang berdiameter kecil dan panjang sehingga tekanannya turun drastis. Dari pipa kapiler, refrigeran cair

yang tekanannya sudah sangat rendah ini

kemudian memasuki ruang evaporator yang memiliki tekanan yang rendah hingga vakum sehingga titik didihnya yang memang ditakdirkan sudah rendah semakin bertambah rendah pula, oleh sebab itu dia segera berubah wujud menjadi gas (menguap). Ketika berubah wujud dari cair menjadi gas di dalam pipa evaporator yang panjang dan berkelok-kelok itu, oleh sebab zat refrigeran memiliki kalor laten penguapan yang besar (lagi-lagi karakteristik refrigeran memainkan perannya yang penting!) maka dia memerlukan kalor laten yang besar pula dan kalor (panas) ini diambilnya dari sekeliling evaporator. Kerja ini diperkuat oleh adanya daya hisap kompresor yang menyebabkan molekul-molekul gas refrigeran mendapat percepatan sehingga bergerak melesat di sepanjang lorong panjang evaporator sambil mengambil panas dari sekeliling evaporator dengan efek resultantenya adalah menjadi dingin.

Kemudian gas refrigeran memasuki akumulator. kadang-kadang ada juga refrigeran yang masih berwujud cairan atau belum berubah menjadi gas. Akumulator akan memisahkan refrigeran antara yang berbentuk gas dan yang masih berbentuk cairan. Hanya refrigeran

yang berwujud gas saja yang diperkenankan memasuki saluran hisap kemudian kembali ke kompresor. Di dalam kompresor, refrigeran berbentuk gas akan dimampatkan dan dipompakan lagi ke kondensor,begitu seterusnya proses ini berulang-ulang.

 Kerja mencairkan es (defrost)

Kalau kerja mendinginkan (cooling) merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan lemari pendingin, maka kerja mencairkan es (defrost) merupakan kerja pendukung yang sangat diperlukan agar berfungsi sebagaimana mestinya. Bila defrost tidak bekerja maka bunga es akan semakin banyak bertumpuk di luar pipa evaporator sehingga akhirnya daya mendinginkan jauh berkurang dan tidak bisa mendinginkan lagi.

Kerja defrost ada 2 jenis yaitu manual dan otomatis. Defrost manual banyak diterapkan pada lemari es model lama dan sederhana, sedangkan defrost otomatis banyak diterapkan pada lemari es masa kini. Kerja mencairkan es di evaporator dikerjakan oleh defrost heater (pemanas listrik) yang dibantu oleh alat-alat listrik yang kecil-kecil yang membentuk rangkaian listrik dengan berbagai variasi rangkaian (tergantung merek kulkas) tetapi prinsip kerjanya sama yaitu mengatur waktu (saat) pendinginan dan pencairan es secara bergantian agar tercapai pendinginan yang optimal di dalam lemari es.

Sirkuit listrik defrost cycles bersama motor kompresor merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan system kelistrikan pada sebuah Mesin Pendingin. System kelistrikan mesin pendingin merupakan bagian yang cukup rumit dan paling sering mengalami gangguan/kerusakan yang menyebabkan mesin pendingin tidak berfungsi, tetapi kita dapat mudah memahami bila kita telah mempelajarinya dengan seksama.

Ketika steker mesin pendingin dicolok pada stop kontak sumber listrik (tegangan PLN), maka arus listrik segera mengalir ke control thermo (ceritanya ini mesin pendingin baru sehingga suhu mesin pendingin masih panas dan kontak control thermo sedang terhubung) lalu menuju defrost timer (kebetulan pula terminal C dan B sedang terhubung) dan menyetrum kompresor. Arus listrik PLN mengalir melalui kumparan utama kompresor, overload motor protector, kembali ke sumbernya (PLN). Arus listrik PLN juga mengaliri starter capacitor, kaki-kaki starter relay, kumparan pembantu kompresor, overload motor protector, dan kembali ke sumbernya.

Kumparan pembantu membantu memberikan putaran awal pada kompresor. Segera kompresor mulai bekerja dan sayup-sayup terdengarlah desir getaran rotornya yang sedang berputar.

Kipas di dalam mesin pendingin juga berputar. Body kompresor semakin panas pertanda dia bekerja baik, body bagian belakang mesin pendingin bila diraba juga terasa hangat pertanda kondensor bekerja baik.

Bila proses pendinginan evaporator berjalan baik, mesin semakin bertambah dingin. Bila beban besar karena isinya banyak maka kompresor semakin lama berputar. Apabila telah dingin dan suhu cut-off pengatur suhu telah tercapai maka kontaknya membuka dan arus listrik terputus (off) sehingga kompresor berhenti (beristirahat), juga kipas dan timer motor berhenti. Bila suhu cut-on control thermo tercapai maka kontaknya menutup dan kompresor, kipas dan timer motor bekerja kembali.

Oleh kerja timer motor, maka pada suatu saat kontak C-B terbuka dan kontak C-D terhubung sehingga kompresor dan kipas berhenti bekerja dan defrost heater (pemanas listrik) mendapat aliran listrik dan mulai panas, memanaskan evaporator sehingga bunga es

di evaporator mencair, airnya dialirkan ke bagian pembuangan di bagian belakang bawah . Timer motor dapat tetap bekerja karena mendapat arus listrik dari sumbernya (tegangan PLN) melalui control thermo (sedang cut-on), C-A, thermo fuse dan kembali ke sumber listrik PLN.

Setelah bunga-bunga es di evaporator mencair seluruhnya menjadi air, perlahan-lahan temperatur di evaporator naik, bila temperaturnya sudah mencapai 5o C maka bimetal yang berada di dalam defrost thermostat mengalami perubahan bentuk sehingga kontaknya membuka, akibatnya aliran listrik ke defrost heater terputus dan defrost heater berhenti bekerja dengan akibat lebih jauh adalah terhentinya proses mencairkan es di evaporator.

Pada saat ini kompresor belum bekerja karena timer motor (Tm) masih harus menuntaskan kerjanya hingga + 15-30 menit (waktu yang dibutuhkan untuk kontak C dan D berhubungan). Masih ada sisa waktu beberapa menit menjelang kompresor bekerja kembali, sisa waktu ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengalirkan seluruh air ke tempat pembuangannya di bagian belakang. Setelah itu kontak C-D membuka dan kontak C-B berhubungan kembali sehingga motor kompresor mendapat arus listrik, terdengar suara "klik" disusul suara berdesir yang berasal dari kompresor tanda kompresor telah 'hidup' dan kipas juga hidup kembali. Proses pendinginan (cooling cycles) dimulai kembali.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan diagram alir pada Gambar dibawah ini:

Gambar 14. Diagram alir Studi Literatur

Mulai

Perumusan Masalah

Penetapan Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Studi Pustaka Studi Lapangan

Penentuan Nilai Efisien Mesin Setelah Implementasi

Kesimpulan dan Saran

3.2 Studi Literatur

Studi literatur dilaksanakan untuk mengumpulkan teori – teori yang dapat menunjang serta mendukung terhadap tugas akhir. Semua teori yang didapat dijadikan referensi dalam menyusun tugas akhir. Teori yang dicari untuk mendukung penelitian tugas akhir ini adalah teori Perancangan dan Pengembangan Produk. Teori tersebut akan mendukung penelitian dan membantu dalam perancangan produk yang akan dilakukan.

3.3 Perumusan Masalah

Setelah melakukan studi literatur dan mendapatkan teori yang sesuai maka disusun perumusan masalah. Perumusan masalah atau identifikasi masalah merupakan tindak lanjut dari observasi yang telah dilakukan.

Penelitian yang dilakukan berupa penelitian deskriptif yang kemudian akan dijadikan rujukan atau usulan kepada pihak Universitas Wijaya Putra dalam merancang mesin pengubah udara menjadi air minum.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarakat adalah pada saat musim kemarau yang semakin tidak menentu sehingga air yang diperoleh dari sumber mata air semakin berkurang.Banyaknya daerah – daerah yang masih kekurangan air bersih akibat kondisi wilayah yang terbatas akan sumber mata air.Perlunya kebutuhan air bersih yang mudah di dapat dan tetap tersedia suatu saat. Dengan adanya penelitian atau perancangan tentang mesin pengubah udara menjadi air minum, diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam memperoleh air bersih.

3.4 Studi Pustaka

Pada tahap ini dilakukan studi pustaka dengan tujuan untuk mendapatkan konsep serta metode yang berhubungan dengan masalah dan tujuan penelitian yang akan dicapai.

3.5 Studi Lapangan

Melakukan studi pada masyarakat dilakukan dengan pengamatan dan orientasi di suatu daerah, untuk melihat kondisi nyata sumber mata air yang diperoleh untuk kebutuhan sehari-hari.

3.6 Penetapan Tujuan Penelitian

Untuk dapat menyelesaikan permasalahan maka ditetapkan tujuan penelitian ini adalah :

1. Masyarakat dapat mengolah air sendiri tanpa harus membeli dengan harga mahal.

2. Mudahnya mendapatkan air bersih.

3. Efisiensi waktu dan tenaga dalam hal pemenuhan kebutuhan air minum.

3.7 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Dapat digunakan sebagai informasi tambahan bagi peneliti lain atau mahasiswa Universitas Wijaya Putra yang melakukan penelitian serupa.

2. Produk yang diciptakan dapat bermanfaat bagi konsumen/masyarakat.

3. Menumbuhkan jiwa yang inovatif akan adanya produk-produk baru.

4. Dapat dijadikan dasar pembuatan kebijakan pengembangan produk-produk baru.

3.8 Pengumpulan Data

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi yang berhubungan dengan proses pembuatan mesin pengubah udara menjadi air, jumlah kebutuhan air minum yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan kemudahan dalam memperoleh air bersih. Pengumpulan informasi dilakukan dengan melihat langsung kondisi sebenarnya dan penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

3.9 Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan proses utama dalam sebuah penelitian.

Pada tahap ini dilakukan pengukuran terhadap berapa suhu yang dihasilkan pada mesin pendingin, berapa liter air yang dihasilkan selama satu jam, ukuran ph air yang terkandung di dalam air yang dihasilkan pada saat proses pengembunan dilakukan.

3.10 Penentuan Nilai Efisien Mesin Setelah Implementasi

Setelah tahap implementasi tersebut selesai dilakukan, maka wujud dari tahap implementasi yang dapat dilihat yaitu berupa nilai efisiensi mesin.

Dimana nantinya jika nilai efisiensi mesin setelah implementasi mengalami peningkatan maka implementasi dari alternatif perbaikan yang dipilih tersebut telah berhasil.

3.11 Cara kerja Mesin pengubah udara menjadi air.

Sistem kerja dimulai dari bagian kompresor sebagai jantungnya yang berfungsi sebagai tenaga penggerak. Pada saat dialiri listrik, motor kompresor akan berputar dan memberikan tekanan pada bahan pendingin.

Bahan pendingin yang berwujud gas apabila diberi tekanan akan menjadi gas yang bertekanan dan bersuhu tinggi.

Dengan wujud seperti itu, memungkinkan refrigerant mengalir menuju kondensor.Dan disaring oleh Dryer / Filter. Pada titik kondensasi, gas tersebut akan mengembun dan kembali menjadi wujud cair, Refrigerant cair bertekanan tinggi akan terdorong menuju pipa kapiler. Dengan begitu refrigerant akan naik ke evaporator akibat tekanan kapilaritas yang dimiliki oleh pipa kapiler.

Saat berada di dalam evaporator, refrigerant cair akan menguap dan wujudnya akan kembali menjadi gas yang memiliki tekanan dan suhu yang sangat rendah. Akibat dari proses tersebut, udara yang berada di sekitar evaporator akan menjadi bersuhu rendah dan akhirnya terkondensasi menjadi wujud cair. Pada kondisi yang berulang akan memungkinkan udara tersebut akan menjadi butiran-butiran air.

Gambar 15. (Rangkaian Mesin Pendingin)

3.12 Waktu pelaksanaan

Pembuatan produk yang kami beri nama “Alat pengubah udara menjadi air”dengan menggunakan waktu kurang lebih 1 bulan, dengan rincian sebagai berikut:

- Diagram Tabel 3.1 pengerjaan Alat pengubah udara menjadi air

Data diolah oleh penulis

No Item

3.13 Proses produksi

 Bahan Yang Digunakan :

Dalam pembuatan produk yang berjudul “Alat pengubah udara menjadi air” kami membutuhkan alat dan bahan sebagai berikut:

1. Bahan Kayu :

- Triplek 3 mm ukuran 240 x 120 : 2 Lembar

2. Lem kuning : 1/4Kg

3. Alminium : 20 meter

4. Scrup : 1 Dus

- paku ripet : 1 Dus

5. Sterefom ukuran 120 x120 : 1 Lembar

6. Bahan Finishing :

- Cat : 1 kg

- Cutting/Stiker : 1 Lembar

3.14 Desain Produk

1. Gambar 16. bentuk dari mesin

2. Gambar 17. rangkah mesin

3. Gambar 18. tank mesin

3.15 Proses Produksi

Langkah-Langkah Pembuatan cassing alat pengubah udara menjadi air 1. Potong Alminium sesuai ukuran yang telah ada.

2. Potong triplek sesuai ukuran yang di inginkan.

3. Bor bagian yang ingin disambungkan.

4. Lalu sambungkan alminium yang sudah dipotong sesuai ukuran.

5. Pasang triplek pada bagian atas samping bawah sesuai design.

6. Setelah itu pasang komponen-komponen pada tempat yang telah di atur.

Langkah-langkah finishing

- Setelah semua bagian sudah terbentuk proses selanjutnya yaitu

finishing disini yaitu pengecatan bagian depan cassing dan pemasangan cutting/stiker beserta aksesorisnya.

- Setelah semua selesai tahap yang paling terakhir yakni pegecekan pengoperasian setiap item bagian apakah berfungsi sesuai dengan standart yang di inginkan dan siap di pasarkan.

3.16 Rincian Biaya

 Biaya Operasional

Dalam pembuatan produk yang bernama “Alat Pengubah Udara Menjadi Air” ini memerlukan biaya operasional dengan rincian sebagai berikut:

Total biaya per unit Rp 2.935.000,-

Data diolah o

Data diolah oleh penulis

 Harga Jual

Dengan mempertimbangkan memperhatikan biaya operasionalnya yang dikeluarkan untuk membuat produk “Alat Pengubah Udara Menjadi Air” ini, maka kami berencana untuk menjual barang hasil produksi kami dengan harga Rp. 2.935.000,-

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengujian Alat Pengubah Udara Menjadi Air

4.1.1 Hasil Design

Hasil Design Alat pengubah Udara Menjadi Air ini memiliki ukuran yang sangat ideal dan mudah ditempatkan dimana saja, dari sebelumnya kami membuat design ini dengan ukuran:

Panjang : 40cm Lebar : 40cm Tinggi : 120cm

Dibawah ini yaitu pengerjaan dan hasil dari bentuk Asli dari design sebelumnya.

Gambar 19. bentuk alat Gambar 20. memasang kondensor

Gambar 21.pemasangan tank air ke cran Gambar 22. fan ke evaporator

Gambar 23. jadi Alat pengubah udara menjadi air

4.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data disini dilakukan dengan penelitian survey. Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi tersebut. Data diperoleh dari survey dan wawancara langsung kepada Masyarakat dan melalui penyebaran kuesioner.

Sebelum masuk pada tahap pengumpulan data identifikasi kebutuhan pelanggan, maka perlu dilakukan proses perencanaan produk yang output utama dari fase perencanaan ini adalah berupa pernyataan misi proyek yang nantinya akan digunakan sebagai input yang dibutuhkan untuk memulai tahapan pengembangan produk.

4.2.1 Pernyataan Misi

Adapun visi dan misi dari perencanaan dan pengembangan alat ini adalah sebagai berikut:

Visi:

”Perencaan dan pengembangan alat produksi yang berkualitas berdasarkan pada kebutuhan pelanggan”.

Uraian misi:

Tabel 4.1. Pernyataan Misi

Pernyataan Misi: Alat pengubah udara menjadi air mempunyai nilai ergonomis dan estetis serta produk berkualitas.

Uraian Produk Mesin Pengubah udara menjadi air, portabel hemat listrik yang mudah dioperasikan,minim perawatan dengan desain yang lebih ergonomis, serta kualitas produk yang baik

Sasaran Bisnis Utama

Masyarakat sekitar.

Mampu bersaing dengan produk di pasaran

Ramah lingkungan

Pangsa Pasar  Masyarakat surabaya barat dan sekitarnya

Distributor alat produksi

Asumsi dan Batasan  Peningkatan pengembangan produk yang telah ada

Tepat guna,minim perawatan,mudah digunakan dan harga terjangkau

Stake holder  Konsumen (pembeli dan pemakai)

Distributor

Pembuat (operasional manufaktur)

4.2.2 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan

Jika pernyataan misi sudah didapatkan, maka tahap yang harus dilakukan selanjutnya adalah tahap pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara dan kuesioner kepada para responden, data yang didapat nantinya akan digunakan untuk mendukung perumusan masalah pada studi pendahuluan dengan metode

observasi, wawancara langsung, dan pengisian kuesioner. Cara ini dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa yang mereka inginkan dari sebuah produk mesin Pengubah udara menjadi air, baik kekurangan maupun kelebihan produk yang sudah ada maupun usulan perbaikan untuk produk yang akan dibuat.

Kuesioner dilakukan dengan kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka.

Pada kuesioner tertutup responden diminta untuk menjawab pertanyaan yang merupakan atribut kebutuhan dengan jawaban berdasarkan tingkat kepentingan responden terhadap produk alat. Sedangkan kuesioner terbuka responden disajikan dengan konsep produk mesin Pengubah udara menjadi air yang akan dikembangkan serta beberapa produk kompetitor. Responden diminta untuk memberikan pendapat serta penilaian berdasarkan pengetahuan, pengalaman atau asumsi mereka terhadap produk mesin tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mencakup beberapa dimensi kualitas pada produk seperti performance, price, serviceability, durability, conformace, dan feature. Dimensi kualitas ini kemudian diterjemahkan dalam sebuah pertanyaan yang merupakan kebutuhan responden terhadap obyek atau produk yang akan dirancang. Skala Likert digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan dari kebutuhan tersebut. Dari yang sangat tidak penting (skala 1) sampai dengan sangat penting (skala 5).

Penyebaran kuesioner dilakukan secara acak pada 40 responden yang terdiri dari Mahasiswa, Dosen dan masyarakat di surabaya barat.. Setelah kuesioner dibagikan kepada para responden, kuesioner yang telah terisi dikumpulkan kembali guna mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi perhatian penting dalam melakukan tahap pengembangan produk ini. Setelah dikumpulkan,

jawaban para responden dirangkum menjadi satu dan diinteprestasikan sebagai kebutuhan pelanggan. Disini perlu diorganisasikan kebutuhan menjadi hierarki.

Hasil dari intepretasi kebutuhan pelanggan sebagai berikut:

Tabel 4.2. Intepretasi kebutuhan pelanggan

4.2.3 Menentukan Kepentingan Relatif Setiap Kebutuhan

Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa hal-hal yang penting dalam produk mesin ini. Daftar hierarki saja tidak dapat memberikan informasi mengenai tingkat kepentingan relatif yang dirasakan pelanggan berbeda-beda. Setelah hasil intepretasi kebutuhan tersebut didapatkan, maka selanjutnya menyusun tingkat kepentingan berdasarkan skala likert.

Berikut hasil perhitungan kuesioner:

Primer Sekunder Tersier

Performance Otomatis

Hemat Listrik

Price Harga Terjangkau

Serviceability Harga Terjangkau

Perawatan & Perbaikan Mudah Durability Tidak Mudah Rusak

Conformance Hasil baik, serta racangan lebih rata.

Features

Desain sederhana dan mudah dipakai.

Hemat listrik

Dilengkapi dengan power control Bisa dioperasikan secara outomatis

Tabel 4.3. Hasil pengukuran tingkat kepentingan

No Kebutuhan Tingkat kepentingan N

Rata-rata

Tabel 4.4 menjelaskan kedudukan setiap item kebutuhan konsumen berdasarkan perhitungan derajat kepentingan dari hasil perhitungan rata-rata kuesioner, rata-rata terbesar akan mendapat ranking 1, hasilnya diurutkan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Rangking item kebutuhan

No Kebutuhan Ranking

1 Hemat Listrik 1

Berikut adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner:

Tabel 4.5. Data kuesioner tertutup

Tabel 4.5. di atas merupakan data hasil jawaban kuesioner dari 40 reponden (baris 1 sampai 40) terhadap pertanyaan (kolom 1 sampai 9) dengan skala 1 sampai 5.

4.2.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Selanjutnya dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas data hasil kuesioner. Pengujian dilakukan dengan SPSS dengan n=40 dan α=5%. Dengan memasukkan daftar atribut variabel ke dalam variabel view SPSS.

Tabel 4.6. Daftar atribut dalam variable view SPSS

No Kebutuhan konsumen Nama variable

1 Otomatis Atribut 1

Kesimpulan hasil pengujian adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7. Hasil uji validitas data

No Korelasi antara Nilai r hitung Nilai r tabel n=40 α=5%

Keterangan Kesimpulan

1 Atribut 1 dengan total 0,502

0,312

r positif, r hitung> r tabel Valid 2 Atribut 2 dengan total 0,453 r positif, r hitung> r tabel Valid

Dari tabel 4.7. terlihat bahwa nilai r hitung lebih besar dari pada r tabel yang didapat untuk n=40 dan α=5%. Maka semua data bisa dinyatakan lolos uji validitas.

Tabel 4.8. Hasil uji reliabilitas data dengan SPSS 21

Reliability Statistics reliabilitas keseluruhan item adalah 0,704 lebih besar dari 0,6 maka bisa dinyatakan

Reliability Statistics reliabilitas keseluruhan item adalah 0,704 lebih besar dari 0,6 maka bisa dinyatakan

Dokumen terkait