Bagian Lima
DAFTAR PUSTAKA
2. Kawasan Budidaya Non Hutan
Tersebar di Wilayah/ Kecamatan 2.1 Hutan Rakyat 171.173,20 2.2 Pertanian Tanaman Pangan 76.216
Momunu, Bokat, Karamat, Lakea, Bukall, Tiloan, Paleleh, Biau, Gadung, Bunobogu
Holtikultura 9.196
Momunu, Bokat, Karamat, Lakea, Bukall, Tiloan, Paleleh, Biau, Paleleh Barat
Perkebunan 85.832 Seluruh Kecamatan Kab.
Buol 2.3 Perikanan
Perikanan Tangkap
Desa Lokodidi (Kec. Gadung), Bokat, Lakea, Biau, Bunobogu, Body, Paleleh
Perikanan Budidaya
Lakea, Biau, Bokat, Bunobogu, Gadung, Karamat, Paleleh
2.4 Pertambangan
Pertambangan Mineral
Momunu, Bokat, Karamat, Lakea, Bukall, Tiloan, Paleleh, Paleleh Barat, Gadung, Bunobogu Pertambangan Mineral
bukan Logam dan Batuan
Seluruh Kecamatan Kab. Buol
2.5 Industri
Industri Besar Desa Bokat (Bokat)
Industri Sedang Desa Lokodidi (Gadung)
Industri Rumah Tangga Seluruh Kecamatan Kab.
Buol 2.6 Pariwisata
Pariwisata Budaya Momunu, Karamat
Pariwisata Alam Paleleh, Karamat, Bokat,
Paleleh Barat, Lakea 2.7 Permukiman
Permukiman Perkotaan Biau
Permukiman Perdesaan
Momunu, Bokat, Bukall, Gadung, Bunobogu, Paleleh, Lakea, Karamat, Tiloan, Paleleh Barat
2.8 Peruntukan Lainnya
Peruntukan Pertahanan dan Keamanan
Bunobogu
Tabel 7. Lahan Sawit di Kabupaten Bulungan (2012)
Keterangan: HGU (hak guna usaha); TBM (tanaman belum menghasilkan); TM (tanaman menghasilkan).
METODOLOGI
TIM peneliti Sawit Watch mengerjakan tiga riset di Sulawesi Tengah dan Kaliman- tan Utara selama Agustus – September 2014. Tim mewawancari sejumlah nara- sumber, baik di kalangan pemerintah daerah maupun individu-individu di kalangan masyarakat sipil terkait fokus penelitian, serta para pegiat sosial yang mendalami isu sawit dan lingkungan. Sebagai bahan penguat dan memperkaya konteks tulisan, kami mempelajari sejumlah literatur dari pelbagai sumber termasuk dokumen pemerintah, serta studi pustaka dan pemberitaan media.
Di Sulawesi Tengah, kami meneliti tiga kabupaten. Buol untuk riset kawasan hutan dan non-hutan terkait pengembangan perkebunan sawit. Banggai untuk isu korupsi dari sektor sawit. Dan Donggala untuk riset pendapatan asli daerah dari bisnis pen- gusahaan kebun sawit.
Di Kalimantan Utara, provinsi baru bentukan tahun 2012 dari pecahan Kalimantan Timur, ketiga riset itu difokuskan pada Kabupaten Bulungan, daerah dengan luasan perkebunan sawit paling cepat di provinsi itu.
Untuk riset kawasan hutan yang terancam mengikis akibat perkembangan laju perke- bunan sawit di kedua provinsi itu, kami menerapkan sejumlah tahapan. Analisisnya berupaya mengombinasikan perhitungan kemampuan suatu lahan untuk mengem- bangkan kelapa sawit, kebijakan pemerintah daerah tentang kawasan hutan, dan rencana tataruang wilayah kabupaten yang mengarahkan lokasi penanaman kebun sawit.
Metode menghitung kemampuan lahan untuk penanaman kelapa sawit mengacu bio-isik (iklim, tanah, dan topograi). Dalam riset ini, pendekatannya masih sebatas skala tinjau/ arahan, yang hasilnya bisa menunjukkan jenis kemampuan lahan sesuai (S) dan tidak sesuai (N). Biasanya, penyusunan tataruang di suatu daerah memakai analisa ini selain menakar fungsi dan letak geograis lain.
Kebijakan kawasan hutan merupakan salah satu elemen utama menentukan sebuah kebijakan penataan ruang dan kawasan maupun izin untuk perkebunan sawit. Bi- asanya perkebunan sawit diarahkan untuk dikembangkan di luar kawasan hutan. Tetapi banyak juga pemerintah daerah memberi konsesi hutan untuk ditanami kebun sawit, yang pengaturannya melalui mekanisme izin alihfungsi pelepasan kawasan hutan kepada kementerian terkait, selain mengusulkan perubahan status menjadi ka- wasan non-hutan melalui kebijakan penataan ruang. Dalam banyak kasus, praktik
alihfungsi hutan ini biasanya berkait penyuapan maupun hubungan patronase antara pengusaha dan pejabat.
Kebijakan penataan ruang, biasa disebut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di satu kabupaten, merupakan pola (kepengaturan) ruang yang mengarahkan misalnya lokasi-lokasi pengembangan perkebunan. Betapapun tak menyebutkan secara spesi- ik, hampir dipastikan lokasi perkebunan itu kebanyakan untuk kebun sawit. Selain dapat memperlihatkan gambaran struktur ruang, dari sini tim peneliti memetakan lokasi pabrik maupun pelabuhan bagi matarantai industri sawit. Struktur ruang men- jadi penyokong perencanaan pola ruang, atau seringpula bahkan keluar dari rencana semestinya.
Ketiganya lantas dipadukan dengan pelbagai izin yang telah diterbitkan oleh satu pemerintah daerah untuk perkebunan sawit. Kemudian, irisannya disandingkan den- gan kawasan tutupan hutan. Dengan demikian, dari perhitungan ini, muncul potensi mengikisnya tutupan hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.
Riset ini memanfaatkan sejumlah data dan dokumen primer maupun sekunder meli- puti data tutupan hutan, penunjukkan penetapan kawasan hutan, perizinan perkebu- nan sawit, perda dan peta RTRW di kabupaten dan provinsi terkait, cetakbiru proyek MP3EI, usulan atau revisi perubahan kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan, hingga menaksir jenis tanah, iklim, ketinggian, dan kelerangan di satu wilayah untuk menilai cocok/tidaknya ditanam kebun sawit (Lampiran, Tabel 3). Dari data-data itu, kami kemudian membuat sejumlah analisis dan diperdalam lewat riset lapangan maupun dan wawancara beberapa pihak terkait (Lampiran, Tabel 4).
Sementara untuk riset korupsi dari sektor sawit, ketika mengumpulkan data di la- pangan, ada sejumlah kesulitan terutama ketika mewawancarai para pejabat dan mendapatkan sumber dokumen pemerintah. Sebagai gambaran, di Kabupatan Bang- gai, permintaan wawancara ditolak oleh pejabat dan legislator daerah. Biro Hukum Kabupaten Banggai misalnya, mengklaim “tidak memiliki dokumen” rencana ta- taruang wilayah ketika kami memintanya. Kesulitan ini juga kami hadapi di Kali- mantan Utara. Dengan alasan “sebagai provinsi baru”, para pejabat di sana berdalih “masih tahap penataan” saat kami meminta wawancara dan merujuk sejumlah doku- men terkait mekanisme dan proses pemerintah lokal dalam mengakomodasi izin- izin perkebunan sawit.
Proil Sawit Watch
Sawit Watch adalah organisasi nonpemerintah berbasis di Bogor, Jawa Barat, meli- puti sejumlah individu yang memiliki perhatian utama pada dampak-dampak negatif dari sistem perkebunan sawit skala besar.
Sejak 1998, Sawit Watch telah menjalin lebih dari 50 mitra lokal yang menangani langsung lebih dari 40.000 kepala keluarga yang terpapar dampak perkebunan sawit di seluruh Indonesia. Hingga 2011 anggota Sawit Watch berjumlah 135 orang, me- liputi pekebun, buruh kebun, masyarakat adat, pegiat sosial, wakil rakyat, guru, dan akademisi di perguruan tinggi.
Sejumlah kegiatan Sawit Watch, di antara yang lain, melakukan kajian terhadap ke- bijakan dan hukum mengenai pengelolaan perkebunan sawit skala besar dan dam- paknya terhadap petani, buruh dan masyarakat adat; serta memantau praktik-praktik perkebunan sawit dan aktivitas perusahaan perkebunan dan lembaga keuangan pem- beri kredit.
Sawit Watch dibentuk dengan tujuan mewujudkan perubahan sosial bagi petani, bu- ruh, dan masyarakat hukum adat maupun masyarakat sipil menuju keadilan ekologis. Lebih lengkap, sila kunjungi: www.sawitwatch.or.id