BAB V Hasil dan Pembahasan
2.3 Kawasan Peri-urban
Istilah peri-urban merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Istilah peri merupakan kata sifat yang bermakna pinggiran atau sekitar dari suatu objek tertentu. Sementara istilah urban merupakan istilah yang berarti sifat kekotaan atau sesuatu yang berkenaan dengan kota. Penggabungan dari kedua istilah tersebut yaitu peri dan urban akan membentuk kata sifat baru yang secara harfiah berarti sifat kekotaan dan sekitar, sehingga apabila ditambah dengan kata region, maka kata peri-urban region mempunyai makna sebagai suatu wilayah yang berada disekitar perkotaan.
Kawasan peri-urban merupakan kawasan yang berdimensi multi, hal ini dikarenakan pengkaburan makna sekitar perkotaan, yang berarti memiliki makna sifat kekotaan dan sifat kedesaan. Pengidentifikasian kawasan peri-urban sangat sulit jika dilihat dari dimensi non-fisikal, oleh karena itu pada tahap pengenalan kawasan peri-urban hanya didasarkan pada istilah kedesaan maupun kekotaan dari segi fisik morfologi yang diindikasikan oleh bentuk pemanfaatan lahan non-agraris versus penggunaan lahan agraris. Dari sisi ini wilayah perkotaan merupakan suatu wilayah yang didominasi oleh bentuk pemanfaatan lahan non-agraris, sedangkan wilayah kedesaan adalah wilayah yang didominasi oleh bentuk pemanfaatan lahan agraris.
Dalam Wilayah Peri-urban(WPU) secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan nonfisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifikasi wilayah. Untuk memudahkan identifikasi wilayahnya, Wilayah Peri-urban dapat dikenali dari batas terluar lahan terbangun suatu kota yang kompak dengan lahan kekotaan utama dan ditandai oleh 100% kenampakan kekotaan/bentuk pemanfaatan lahan non-agraris sampai ke wilayah yang 100% ditandai oleh bentuk pemanfaatan lahan agraris. Diantara the real urban land dan the real rural land inilah wilayah peri-urban berada dimana di dalamnya terdapat percampuran bentuk pemanfaatan lahan kekotaan di satu sisi dan bentuk pemanfaatan lahan non-agraris di sisi lain.
Keberadaan bentuk pemanfaatan lahan non-agraris mengisyaratkan adanya penjalaran lahan kekotaan ke arah luar dan makin dekat jarak ke lahan kekotaan terbangun utama, maka makin intensif perkembangan kenampakan fisikal kekotaannya dan demikian pula sebaliknya, makin jauh akan makin berkurang intensitas kenampakan fisikal kekotaannya.
Proses urban Sprawl ini mengakibatkan bertambah luasnya lahan kekotaan terbangun (urban built-up land) dan dari sinilah kawasan peri-urban dikenali.
Menurut Andreas (1942) pengertian kawasan peri-urban adalah suatu zona yang didalamnya terdapat percampuran antara struktur lahan kedesaan dan lahan kekotaan (the intermingling zone of characteristically urban land use structure).
Sedangkan Pryor merumuskan definisinya tentang pencitraan kawasan peri-urban
adalah sebagai zona peralihan pemanfaatan lahan, peralihan karakteristik sosialdan peralihan karakteristik demografis yang terletak antara:
1. Wilayah kekotaan terbangun yang menyatu dengan permukiman kekotaan utamanya dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pusat kota, dan
2. Daerah buriloka (hinterland) kedesaannya yang dicirikhasi oleh nyaris langkanya tempat tinggal penduduk bukan petani, mata pencaharian bukan kedesaan dan pemanfaatan lahan bukan kedesaan.
Dalam definisi tersebut secara eksplisit hanya dikemukakan 3 atribut utama yang mencirikhasi WPU yaitu :
1. Kondisi pemanfaatan lahan 2. Kondisi sosial
3. Kondisi demografis
Melihat dari beberapa definisi diatas, maka batasan fisikal dari kawasan peri-urban masih kabur, namun menekankan pada performa pemanfaatan lahan, maka batasan dari segi ini tidak jauh pergeserannya dari batasan kawasan peri-urban dari segi ekonomi.
2.3.1 Teori Land Use Triangle: Continuum (Hadi Sabari Yunus)
Wilayah Peri-urban (WPU) adalah wilayah yang ditandai oleh percampuran kenampakan fisikal kekotaan dan kedesaan. Dalam wilayah ini terdapat variasi
percampuran dengan kisaran < dari 100% kenampakan kedesaan dan maupun <100%
kenampakan kekotaan. Secara kontinum, makin ke arah lahan kekotaan terbangun utama, makin besar proporsi lahan kekotaan dan makin jauh dari lahan terbangun utama makin besar proporsi lahan kedesaannya. Penelitian Hadi Sabari Yunus dilakukan di Kota Yogyakarta dengan menemukan 4 zona, yaitu : zona bingkai kota;
zona bingkai kota desa; zona bingkai desa kota; dan zona bingkai desa. Zonasi yang dibuat merupakan pembaruan dari teori land use triangle oleh Robin Pryor. Hal ini dilakukan karena teori Pryor kurang dapat diterapkan untuk WPU yang didalamnya terdapat peralihan yang bersifat gradual antara kenampakan kekotaan dan kenampakan kedesaan. Pembaruan oleh Yunus adalah terletak pada ditemukannya rurban frame zone dan urral frame zone yang sangat berbeda dengan deskripsi subzona yang pernah dikemukakan oleh Pryor (Gambar 2.1).
Gambar 2.1 Model Zonifikasi WPU Negara Berkembang atas dasar Bentuk Pemanfaatan Lahan
Sumber: Hadi Sabari Yunus (2008)
2.3.1.1 Zona Bingkai kota (Zobikot)
Zona ini merupakan zona yang paling dekat dan berbatasan langsung dengan lahan perkotaan terbangun utama dan beberapa tempat bahkan menyatu dengannya dengan intensitas bangunan yang lebih rendah. Oleh karena Zobikot berbatasan langsung dengan lahan terbangun kota, maka pengaruh kota terlihat maksimal atas bentuk pemanfaatan lahannya dalam artian bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian menunjukkan intensitas paling tinggi dibandingkan dengan wilayah peri-urban yang lain. Pada zona ini kenampakan kekotaan terlihat ≥ 75% atau kurang dari 25% proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaaan. Pada zona ini kenampakan kekotaan betul-betul dominan walaupun disana sini masih terlihat bentuk pemanfaatan lahan agraris. Beberapa pakar mengemukakan bahwa sudah banyak lahan yang dimiliki oleh orang kota walaupun bentuk pemanfaatan lahannya masih bersifat agraris. Pemanfaatan lahan agraris pada umumnya dilaksanakan oleh pemilik lama atau penduduk sekitar lahan tersebut yang masih berprofesi sebagai petani. Pada zona ini terdapat dua gejala yang tidak sejalan dengan dimensi de facto dan de jure, yaitu terdapatnya persil-persil lahan yang secara de jure merupakan masih bentuk pemanfaatan lahan non-pertanian, dan gejala kedua adalah terdapatnya persil-persil lahan yang secara de facto masih merupakan bentuk pemanfaatan lahan agraris, namun secara de jure sudah berubah fungsi menjadi lahan non-agraris.
2.3.1.2 Zona Bingkai Kota-Desa (Zobikodes)
Kota didahulukan dengan maksud untuk menunjukkan bahwa antara kenampakan perkotaan masih lebih banyak dibandingkan dengan kenampakan kedesaan. Pada zona ini proporsi kenampakan perkotaan dan kedesaan relative seimbang dengan selisih yang tidak begitu substansial sebagaimana dalam zobikot.
Kenampakan kekotaan yang di tunjukkan oleh bentuk pemanfaatan lahan non-agraris berada dalam kisaran sama atau lebih dari 50% namun sama atau kurang dari 75%.
Sementara kenampakan kedesaan berkisar antara sama atau lebih dari 25% namun sama atau kurang dari 50%.
2.3.1.3 Zona Bingkai Desa-Kota (Zobidekot)
Dalam zona ini juga menunjukan perimbangan proporsi antara bentuk pemanfaatan lahan agraris dan non-agraris yang nyaris sama. Jika dalam zobikodes proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan non-agraris lebih banyak, maka dalam zona ini proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris lebih banyak walaupun perbedaannya tidak mencolok sebagaimana zona diluarnya nanti yang disebut zobides. Proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris berkisar antara lebih dari 50% sampai kurang dari 75% sedangkan untuk kenampakan bentuk pemanfaatan lahan perkotaan lebih dari 25% sampai kurang dari 50%.
2.3.1.4 Zona Bingkai Desa (Zobides)
Zona ini adalah zona yang berbatasan langsung dengan zona kedesaan. Batas terluar dari zona ini ditandai oleh 100% kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris. Sementara itu rentang proporsi bentuk kenampakan lahannya adalah sama atau lebih 75% lahan agraris sampai dengan sama atau kurang dari 25% bentuk pemnfaatan lahan non-agraris. Dalam zona ini kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris betul-betul mendominasi secara mencolok.
Berdasarkan keempat zona tersebut diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa perumahan di kawasan penelitian Kecamatan Namorambe termasuk kedalam zona bingkai kota(zobikot). Hal ini dikarenakan pada kawasan penelitian kenampakan kekotaan terlihat ≥ 75% atau kurang dari 25% proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaaan. Pada kawasan ini kenampakan kekotaan masih terlihat dominan walaupun disana sini terlihat bentuk pemanfaatan lahan agraris.
2.4 Pengaruh Status Sosial Masyarakat dalam Memilih Hunian Perumahan