DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kayu Jabon ( Anthocephalus cadamba Miq.)
Kayu jabon memiliki banyak nama daerah yang beragam, diantaranya jabun, hanja, kelampeyan, kelampaian (Jawa), galupai, galupai bengkal, harapean, johan, kalampaian, kelampai, kelempi, kiuna, lampaian, pelapaian, selapaian, serebunak (Sumatera), ilan, kelampayan, taloh, tawa telan, tuak, tuneh, tuwak (Kalimantan), bance, pute, loeraa, pontua, suge mania, sugi mania, pekaung, toa (Sulawesi), gumpayan, kelapan, mugawe, sencari (NTB), aparabire, masarambi (Irian Jaya) (Martawijaya et al. 1989). Sedangkan di beberapa negara jabon dikenal dengan nama bangkal, kaatoan bangkal (Brunei), labula (Papua Nugini),
thkoow (Kamboja), koo-somz, sako (Laos), krathum (Thailand), mau-lettan-she, maukadon, yemau (Burma), c[aa]y g[as]o, c[af] tom, g[as]o tr[aws]ng (Vietnam) (Soerianegara & Lemmens 1994). Menurut Mansur dan Tuheteru (2010) berdasarkan taksonominya, jabon digolongkan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Dicotyledoneae (magnoliopsida) Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales Familia : Rubiaceae Genus : Anthocephalus
Spesies : Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.
Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan salah satu jenis pohon yang ketinggiannya dapat mencapai 45 m, berdiameter hingga 160 cm, berbatang lurus dan silindris, bertajuk tinggi dengan cabang mendatar dan berbanir hingga ketinggian 1,50 m (Martawijaya et al. 1989). Jabon merupakan jenis tanaman yang sedang dikembangkan karena jenis ini termasuk jenis cepat tumbuh dengan daur yang relatif singkat dengan riap tahunan yang relatif tinggi sebesar 7 cm/tahun sampai tanaman berumur 6-8 tahun dan akan menurun menjadi 3 cm/tahun sampai tanaman berumur 20 tahun. Rata-rata riap volume/tahun adalah 10-26 m³/tahun (Pratiwi 2003).
Kayu jabon memiliki warna kayu teras berwarna putih sampai kekuning-kuningan, batas teras dengan gubal tidak jelas terlihat dengan corak kayu polos. Tekstur kayu agak halus dan rata, arah serat lurus dan kadang-kadang berpadu. Kayu jabon memiliki permukaan agak mengkilap hingga mengkilap, permukaan pun agak licin hingga licin dengan kekerasan kayu yang agak lunak hingga agak keras (Prosea 1997).
Kayu jabon memiliki pori baur yang hampir seluruhnya berganda radial yang terdiri atas 2-3 pori, kadang-kadang lebih atau bergerombol dengan diameter agak kecil. Frekuensi pori jarang hingga agak banyak dan bidang perforasi sederhana. Parenkima bertipe apotrakea kelompok baur berupa garis-garis tangensial pendek di antara jari-jari. Jari-jarinya sendiri sempit dan agak lebar
dengan jumlah banyak dan ukurannya agak tinggi (Prosea 1997). Dimensi serat kayu jabon dapat dilihat di Tabel 2.
Tabel 2 Dimensi serat kayu jabon (Anthocephalus cadamba Miq.)
Dimensi Nilai (μ)
Panjang serat 1979
Diameter serat 54
Diameter lumen 47,6 Tebal dinding serat 3,2
Sumber : Martawijaya et al. (1989)
Menurut Martawijaya et al. (1989), kayu jabon memiliki berat jenis 0,42 (0,29-0,56) dan masuk ke dalam kelas kuat III-IV. Kayu jabon dimasukkan ke dalam kelas awet V. Selain itu, komposisi kimia kayu jabon dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Komposisi kimia kayu jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) Komponen kimia Nilai (%)
Selulosa 52,4 Lignin 25,4 Pentosan 16,2 Abu 0,8 Silika 0,1 Kelarutan : a. Alkohol-benzena 4,7 b. Air dingin 1,6 c. Air panas 3,1 d. NaOH 18,4
Sumber : Martawijaya et al. (1989)
Dari segi ekologi, jabon merupakan salah satu jenis tumbuhan pionir dan sering dijumpai pada secondary forest dan beberapa juga ditemukan pada primary forest. Kondisi yang sangat penting untuk pertumbuhan jabon adalah kebutuhan
akan cahaya dan tidak toleran terhadap naungan. Asal dan penyebaran geografis jabon secara alami dari Sri Lanka, India, Nepal dan Bangladesh bagian timur melewati Malesia hingga New Guinea (Soerianegara & Lemmens 1994).
Kayu jabon biasanya digunakan sebagai bahan bangunan sementara, daun jendela, langit-langit, kotak, peti teh, pembungkus, kelom, barang kerajinan (termasuk mainan anak), korek api dan sumpit makan (Prosea 1997). Kayunya mudah dibuat vinir tanpa perlakuan pendahuluan dengan sudut kupas 92º untuk tebal 1,5 mm. Perekatan vinir kayu jabon dengan urea formaldehida menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, Jepang dan Jerman (Martawijaya et al. 2005).
2.3 Kayu Sungkai (Peronema canescens Jack.)
Kayu sungkai memiliki nama lain diantaranya sekai, sungkih (Sumatera), longkai, lurus, jati sabrang, sungke (Jawa) (Martawijaya et al. 1981). Di beberapa negara sungkai dikenal dengan nama sukai, cherek (Malaysia, Peninsular),
sangkae (Thailand, Surat Thani) (Soerianegara & Lemmens 1994). Taksonomi sungkai adalah (Welly 2009):
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Dicotyledoneae (berkeping dua/dikotil) Ordo : Lamiales
Familia : Verbenaceae
Genus : Peronema
Spesies : Peronema canescens Jack.
Kayu sungkai merupakan jenis kayu yang warna teras dan gubalnya sulit dibedakan. Kayu berwarna krem kuning kecoklatan atau coklat muda sampai kemerahan, empulur berbentuk segi empat dan berwarna putih. Kayu sungkai memiliki corak riap tumbuh yang jelas pada bidang melintang, berbentuk seperti lingkaran-lingkaran yang memusat, pada bidang radial berupa garis-garis sejajar, pada bidang tangensial tampak seperti parabola-parabola (Prosea 1997).
Kayu sungkai memiliki pori yang tersusun dalam tata lingkar dengan batas kayu awal dan kayu akhir yang tampak jelas. Bentuk pori bundar, jarang berbentuk lonjong, hampir seluruhnya soliter dan sebagian kecil berpasangan. Parenkim pada umumnya paratrakeal berbentuk selubung lengkap atau tidak lengkap dan pada batas lingkaran tumbuh terdapat parenkim terminal (Martawijaya et al.1981). Menurut Prosea (1997), jari-jari kayu sungkai agak sempit terdiri atas 2-3 seri, jumlahnya sekitar 4-8 per mm arah tangensial, tingginya sekitar 200-800 mikron dengan komposisi selnya heteroseluler. Dimensi serat kayu sungkai dapat dilihat di Tabel 4.
Tabel 4 Dimensi serat kayu sungkai (Peronema canescens Jack.) Dimensi Nilai (μ)
Panjang serat 1093
Diameter serat 19
Diameter lumen 12
Tebal dinding serat 3,5
Sumber : Martawijaya et al. (1981)
Kayu sungkai merupakan kayu yang agak berat dengan berat jenis rata-rata 0,63 (0,52-0,73), kelas awet III dan kelas kuat II-III (Prosea 1997). Komposisi kimia kayu sungkai dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Komposisi kimia kayu sungkai (Peronema canescens Jack.) Komponen kimia Nilai (%)
Selulosa 48,6 Pentosan 16,5 Abu 1,6 Silika 0,4 Kelarutan : a. Alkohol-benzena 4,0 b. Air dingin 1,1 c. Air panas 5,3 d. NaOH 11,3
Sumber : Martawijaya et al. (1981)
Kayu sungkai biasanya tumbuh di daerah Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat dan seluruh Kalimantan. Sungkai merupakan monotypic genus dan berasal dari Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan Kalimantan (khususnya bagian tengah) (Soerianegara & Lemmens 1994).
Menurut Prosea (1997), kayu sungkai biasanya digunakan untuk perabot rumah tangga, vinir indah, dinding dekoratif dan cabinet, rangka pintu dan jendela.
2.4 Kayu Mangium (Acacia mangium Willd.)
Kayu mangium memiliki nama lain yaitu kasia, kihia (Sunda), akasia (berlaku umum) (Pandit & Kurniawan 2008). Menurut Mul (2008) taksonomi mangium adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Dicotyledoneae (magnoliopsida) Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Familia : Fabaceae (suku polong-polongan) Genus : Acacia
Spesies : Acacia mangium Willd.
Kayu mangium memiliki kayu teras berwarna coklat pucat sampai coklat tua, ada pula coklat zaitun sampai coklat kelabu dan memiliki batas yang tegas antara gubal yang berwarna kuning pucat sampai kuning jerami (Prosea 1997). Menurut Ginoga (1997) dalam Malik et al. (2000), kayu mangium termasuk jenis kayu cepat tumbuh (fast growing spesies) yang mempunyai batas lingkaran tumbuh yang jelas pada bagian terasnya dengan lebar 1-2 cm.
Kayu mangium memiliki corak kayu yang polos atau berjalur-jalur berwarna gelap dan terang bergantian pada bidang radial dan tekstur kayu yang halus hingga agak kasar merata. Arah serat kayu mangium biasanya lurus dan berpadu dengan permukaan agak mengkilap dan kekerasan kayu yang agak keras hingga keras (Pandit & Kurniawan 2008). Ciri utama dari kayu mangium antara lain berwarna coklat, pori soliter dan berganda radial, terdiri atas 2-3 pori, parenkima selubung, kadang berbentuk sayap pada pori berukuran kecil, jari-jari sempit, pendek dan agak jarang (Prosea 1997).
Sifat dasar kayu mangium memiliki berat jenis rata-rata 0,61 (0,43-0,66), kelas awet III dan kelas kuat II-III. Biasa digunakan sebagai bahan konstruksi ringan sampai berat, rangka pintu dan jendela, perabot rumah tangga, lantai, papan dinding, tiang, tiang pancang, gerobak dan rodanya, pemeras minyak, gagang alat, alat pertanian, kotak dan batang korek api, papan partikel, papan serat, vinir dan kayu lapis, pulp dan kertas, dan baik juga untuk kayu bakar dan arang (Prosea 1997). Dimensi serat kayu mangium dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Dimensi serat kayu mangium (Acacia mangium Willd.)
Dimensi Serat
Asal Kayu
Hutan alam Hutan tanaman
Panjang, μ 950,00 934,10
Diameter, μ 16,36 16,00
Tebal dinding, μ 3,20 2,30
Lebar lumen, μ 9,92 11,41
Sumber : Pasaribu dan Roliadi (1990) dalam Malik et al. (2000)
Menurut klasifikasi komponen kimia kayu Indonesia (Deptan 1976) dalam Malik et al. (2000), kayu mangium termasuk kelompok sedang (40-44%) dalam hal kandungan selulosa, kadar lignin sedang (18-32%), kadar pentosan, silika dan abu termasuk rendah dan zat ekstraktif yang termasuk tinggi. Komposisi kimia dalam kayu mangium dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Komposisi kimia kayu mangium (Acacia mangium Willd.)
Komponen kimia (%) Asal Kayu
Hutan alam Hutan tanaman
Lignin 24.00 24,89 Selulosa 46,39 43,85 Silika 0,24 0,99 Pentosan 16,83 17,87 Abu 0,99 0,25 Kelarutan dalam : a. Air dingin 3,65 5,75 b. Air panas 7,64 7,28 c. NaOH 1% 24,59 20,17
Sumber : Pasaribu dan Roliadi (1990) dalam Malik et al.(2000)
Menurut Lemmens et al. (1995), kayu mangium (Acacia mangium Willd.) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Kepulauan Sula, Kepulauan Aru, Irian Jaya, Provinsi bagian barat Papua Nugini dan timur laut Queensland. Di
Indonesia sendiri, mangium telah dipilih sebagai salah satu jenis favorit untuk ditanam di areal HTI sejak tahun 1984. Pemanfaatan kayu mangium saat ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. Pemanfaatan ini berhubungan dengan teknologi yang makin berkembang tentang penelitian mangium.
2.5 Kayu Karet
Nama lain dari kayu karet adalah balam perak (Palembang), para rubber
(Belanda) (Heyne 1987). Adapula yang menyebutnya kayu getah dan poko getah para. Kayu karet memiliki pori baur, soliter dan berganda radial yang terdiri atas 2-4 pori, kadang-kadang 5-8 pori, beberapa bergerombol, memiliki bidang perforasi sederhana dan tilosis yang jarang hingga banyak (Prosea 1997). Menurut Tim Penulis PS (2006) dalam Andaeni (2011) klasifikasi tanaman karet adalah :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis
Kayu karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) memiliki ciri umum yaitu kayu teras berwarna putih kekuning-kuningan pucat, terkadang warna merah jambu jika masih segar, lambat laun berubah menjadi kuning jerami atau coklat pucat, tidak tegas batasnya dengan gubal. Kayu karet juga memiliki corak kayu yang polos dengan tekstur yang agak kasar tetapi rata. Arah serat lurus sampai berpadu dan permukaannya agak kusam sering tampak adanya garis kehitaman akibat adanya lapisan tipis kulit yang tersisip (Prosea 1997). Kayu karet memiliki berat jenis 0,61 (0,55-0,70), kelas awet V dan kelas kuat II-III.
Analisis kimia kayu karet menunjukkan kadar pentosan yang tinggi (20%), sedangkan kadar lignin relatif rendah jika dibandingkan dengan kayu-kayu tropis lainnya. Komposisi kimia kayu karet dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Komposisi kimia kayu karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Jenis Analisis Kadar (%)
Selulosa total 60-66 Selulosa alpha 39-45 Pentosan 19-22 Lignin 19-24 Ekstrak alkohol-benzena 1,2-5,0 Air panas 2,6-7,7 Air dingin 1,6-4,9 1% NaOH 14,7-22 Abu 0,65-1,33
Sumber: Alaudin et al. (1973)
Menurut Lemmens et al. (1995), asal dan persebaran tanaman karet secara alami berasal dari Brazil hingga Venezuela dan dari Columbia hingga Peru dan Bolivia. Produk penting yang dihasilkan oleh tanaman karet adalah lateks yang diproduksi dari kulit kayu dan dibuat menjadi karet alami. Kayu karet sendiri diperoleh dari produk ikutan (by-product) dari penanaman karet yang biasanya digunakan untuk memproduksi arang atau sebagai kayu bakar. Di Malaysia, hasil tebangan dan limbah kayu karet lainnya berhasil digunakan untuk memproduksi papan partikel, papan semen dan MDF. Menurut Pandit dan Kurniawan (2008), kayu karet biasanya dibuat perabot rumah tangga, panel dinding, bingkai gambar atau lukisan, lantai parket, inti papan blok, palet, peti wadah, peti jenazah, vinir, kayu lamina untuk rumah tangga, kerangka pintu dan jendela.
2.6 Rayap
Rayap merupakan serangga sosial yang hidup dalam suatu komunitas yang disebut koloni. Rayap tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama bila tidak berada dalam koloninya. Komunitas tersebut bertambah efisien dengan adanya spesialisasi (kasta) dimana masing-masing kasta mempunyai bentuk dan peran yang berbeda dalam kehidupannya (Nandika et al. 2003). Rayap temasuk dalam ordo Isopter adalah serangga yang berukuran kecil sampai sedang, hidup
dalam kelompok-kelompok sosial dengan sistem kasta yang telah berkembang Borror dan De Long (1945) dalam Nandika (1986).
Di dalam setiap koloni rayap terdapat tiga kasta yang memiliki bentuk yang berbeda sesuai fungsinya masing-masing, yaitu kasta prajurit, kasta pekerja dan kasta reproduktif. Kasta prajurit mudah dikenali dari bentuk kepalanya yang besar dan mengalami penebalan yang nyata. Peranan kasta prajurit adalah melindungi koloni terhadap gangguan dari luar, khususnya semut dan vertebrata predator. Kasta pekerja merupakan anggota yang memiliki populasi terbanyak dalam koloni rayap tidak kurang dari 80-90%. Kasta pekerja umumnya berwarna putih pucat dengan kutikula hanya sedikit mengalami penebalan. Kasta pekerja bertugas memberi makan dan memelihara ratu, mencari sumber makan, memelihara telur dan rayap muda, membuat serambi sarang, liang-liang kembara, merawat sarang dan memperbaikinya bila terjadi kerusakan. Kasta reproduktif terdiri atas individu-individu seksual yaitu betina (ratu) yang tugasnya bertelur dan jantan (raja) yang bertugas membuahi betina (Nandika et al. 2003).
Menurut Yusuf dan Utomo (2006), secara umum rayap tanah dapat memakan kayu kira-kira sebanyak 2-3% dari berat badannya setiap hari. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsinya adalah keadaan lingkungan, ukuran badan dan besar-kecilnya koloni. Menurut Nandika et al. (2003), dalam keadaan yang luar biasa, rayap juga besifat kanibal di dalam koloninya, tetapi rayap bukan predator. Sumber makanan rayap dibedakan ke dalam dua tipe yaitu sumber makanan mentah dan sumber makanan yang berasal dari kasta pekerja. Sumber makanan mentah berupa tanaman dan pohon hidup, kayu atau tanaman yang sudah mati dan bahan makanan lain. Sumber makanan untuk kasta lain selain kasta pekerja diperoleh dari kasta pekerja. Sumber makanan tersebut berupa makanan yang diberikan kasta pekerja melalui mulut (stomodeal feeding) atau melalui anus (proctodeal feeding).
Menurut Nandika et al. (2003), perilaku trofalaksis merupakan ciri khas individu-individu rayap dalam koloni rayap, masing-masing individu sekali-kali mengadakan hubungan dalam bentuk menjilat, mencium dan menggosokkan anggota tubuhnya satu dengan yang lain. Sifat ini diinterpretasikan sebagai cara untuk menyampaikan makanan dari kasta pekerja ke anggota koloni lainnya dan
protozoa flagelata bagi individu yang baru saja ganti kulit (eksidis). Trofalaksis dapat berlangsung bila ada pihak pemberi (donor) dan pihak penerima (solicitor).
Rayap tanah Coptotermes curvignathus dikenal sebagai hama tanaman yang utama. Beberapa jenis tanaman perkebunan dan kehutanan diserang hama tersebut. Seperti rayap lainnya, Coptotermes curvignathus juga tidak suka cahaya. Untuk menghindar dari cahaya, rayap membuat lubang kembara agar bebas dari cahaya (Nandika et al.2003). Menurut Yusuf dan Utomo (2006), pada umumnya arsip, buku dan dokumen lainnya dapat diserang oleh rayap. Beberapa jenis rayap perusak tersebut antara lain Coptotermes curvignathus, Coptotermes gestroi dan
Microtermes inspiratus.
2.7 Keawetan Alami Kayu
Keawetan alami kayu merupakan ketahanan alami yang dimiliki kayu terhadap serangan organisme perusak yang berasal dari luar, seperti jamur, serangga, marine borer dan lain-lain. Karena sifat kayu yang sangat beragam, ketahanan alami kayu pun beragam pula. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat ketahanan kayu dari serangan faktor perusak yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar berkaitan dengan kondisi lingkungan dimana kayu tersebut digunakan, sedangkan faktor dalam adalah pengaruh komponen kimia dari kayu yang bersangkutan (Syafii 1996).
Pada kondisi lingkungan yang menguntungkan organisme tertentu akan cepat berkembang di dalam kayu. Menurut Syafii (1996), peranan komponen kimia kayu juga merupakan faktor yang sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap ketahanan kayu dari serangan organisme. Komponen kimia yaitu zat ekstraktif dan lignin.
Zat ekstraktif dapat bersifat racun bagi organisme, oleh karena itu zat ekstraktif inilah yang dapat dikaitkan dengan keawetan alami kayu. Menurut Hawley (1966) dalam Syafii (1996), daya racun zat ekstraktif dari kayu teras lebih tinggi dibandingkan daya racun zat ekstraktif kayu gubal pada jenis kayu yang sama, keawetan kayu teras akan turun secara drastis apabila kayu tersebut diekstraksi dengan air panas, pelarut organik atau keduanya dan penurunan keawetan tersebut tergantung jenis kayu dan jenis komponen kimia yang
dikandungnya, daya racun zat ekstraktif yang diperoleh dari kayu teras berbagai jenis tersebut sangat berkaitan erat dengan keawetan alami jenis kayu yang bersangkutan.
Menurut Syafii (1996), lignin juga merupakan salah satu komponen dinding sel kayu, diperkirakan berpengaruh terhadap ketahanan alami kayu. Perkiraan ini didasarkan dari pengetahuan bahwa proses lignifikasi pada dinding sel tanaman berfungsi untuk melindungi tanaman tersebut terhadap serangan jamur. Oleh karena itu, lignin dipercaya merupakan faktor yang bersifat nontoxic
atau physical barrier yang memberikan kontribusi terhadap ketahanan kayu dari serangan organisme perusak kayu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan April 2011, bertempat di Laboratorium Biomaterial dan Biodeteorasi Kayu, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Kimia Hasil Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain timbangan elektrik, oven, desikator, bejana, jampot/botol kaca, aluminum foil, paralon putih (diameter 8 cm dan tinggi 6 cm), jaring plastik, penjepit, kaliper, gelas ukur, kapas, gergaji, plastik pembungkus dan alat tulis.
Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain papan partikel berkerapatan sedang dengan target kerapatan 0,6 g/cm3 dan 0,8 g/cm3. Bahan baku pembuatan papan partikel untuk contoh uji ini adalah kayu jabon (Anthocephalus cadamba), kayu sungkai (Peronema canescens), kayu mangium (Acacia mangium) dan papan partikel campuran dari ketiga jenis dengan menggunakan perekat Urea Formaldehida (UF) 12% dan tambahan parafin 2%.
Bahan lain yang digunakan yaitu kayu solid jabon berumur 5-10 tahun yang diperoleh dari Fakultas Kehutanan IPB, kayu solid sungkai berumur 5-15 tahun yang diperoleh dari Litbang Kehutanan, kayu solid mangium berumur 10-15 tahun yang diperoleh dari Fakultas Kehutanan IPB, rayap tanah (Coptotermes curvignathus), pasir steril, dental cement, alkohol dan air mineral.
Dalam pengujian ini juga menggunakan kayu solid karet (Hevea brasiliensis) berumur 5-10 tahun yang diperoleh dari Fakultas Kehutanan IPB. Kayu solid karet dalam pengujian ini digunakan sebagai kayu kontrol dalam pengujian yang dilakukan, hal ini sesuai dengan metode yang telah dilakukan sebelumnya dalam penelitian Simamora (2010) yang menggunakan kayu karet sebagai kayu kontrol dalam pengujian dengan metode berdasarkan SNI 01.
7207-2006. Untuk metode JIS K 1571-2004 yang juga digunakan dalam penelitian ini digunakan pendekatan kayu karet sebagai kontrol untuk menggantikan kayu sugi.
3.3. Metode
Pengujian keawetan kayu dilakukan dengan menggunakan dua metode berdasarkan SNI 01. 7207-2006 dan metode berdasarkan JIS K 1571-2004.
3.3.1. Metode SNI 01. 7207-2006
Contoh uji kayu solid (jabon, sungkai, mangium dan karet) dipilih secara acak tanpa memperhatikan perbedaan gubal dan teras masing-masing berukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 0,5 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali. Contoh uji papan partikel juga dipilih secara acak dari masing-masing jenis dan kerapatan, berukuran 2,5 cm x 2,5 cm x 1,0 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali. Contoh uji dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2°C untuk mendapatkan nilai berat kayu sebelum pengujian (W1), serta dilakukan sterilisasi pada botol uji dan pasir yang akan digunakan.
Contoh uji dimasukkan ke dalam botol uji kaca dengan posisi berdiri dan disandarkan sehingga salah satu bidang terlebar menyentuh dinding botol uji. Ke dalam botol uji dimasukkan 200 gram pasir dan ditambahkan air sebanyak 50 ml. Selanjutnya ke dalam contoh uji dimasukkan 200 ekor rayap tanah (Coptotermes curvignathus) dari kasta pekerja, kemudian botol uji ditutup dengan aluminum foil
dan diletakkan di tempat gelap selama 4 minggu.
Setiap minggu aktivitas rayap dalam botol uji diamati. Setelah 4 minggu pengujian, dilakukan pembongkaran botol uji. Contoh uji kayu dicuci dan dibersihkan dengan menggunakan sikat halus dan dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2°C dan ditimbang (W2). Hasil pengujian merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan contoh uji dan dinyatakan berdasarkan penurunan berat dan dihitung dengan menggunakan persamaan:
W % = (W1-W2)
W1
×100
Dengan keterangan :
W = Kehilangan berat contoh uji kayu / weight loss (%)
W1 = Berat kering oven contoh uji kayu sebelum pengujian (gram) W2 = Berat kering oven contoh uji kayu setelah pengujian (gram)
Selanjutnya, penentuan ketahanan kayu berdasarkan tabel klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat seperti di bawah ini.
Tabel 9 Klasifikasi ketahanan kayu terhadap rayap tanah berdasarkan penurunan berat SNI 01. 7202-2006
Kelas Ketahanan Penurunan Berat (%)
I Sangat Tahan < 3,52 II Tahan 3,52 – 7,50 III Sedang 7,50 – 10,96 IV Buruk 10,96 – 18,94 V Sangat Buruk 18,94 – 31,89 3.3.2. Metode JIS K 1571-2004
Contoh uji kayu solid (jabon, sungkai, mangium dan karet) dipilih secara acak tanpa memperhatikan perbedaan gubal dan teras masing-masing berukuran 2,0 cm x 2,0 cm x 1,0 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali. Contoh uji papan partikel juga dipilih secara acak dari masing-masing jenis dan kerapatan
berukuran 2,0 cm x 2,0 cm x 1,0 cm dengan ulangan pengujian sebanyak 3 kali. Contoh uji dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2°C untuk mendapatkan nilai berat kayu sebelum pengujian (W1).
Botol uji dibuat menggunakan paralon dengan dasar berupa dental cement
dan disterilisasi dengan mengunakan alkohol. Contoh uji dimasukkan ke dalam botol uji diatas permukaan dental cement yang telah diberi jaring plastik.
Gambar 2 Botol uji metode JIS.
Sebanyak 150 ekor rayap tanah dari kasta pekerja dan 15 ekor rayap kasta prajurit ditambahkan ke dalam botol uji. Selanjutnya botol uji ditutup dengan menggunakan aluminum foil, diletakkan dalam wadah yang telah diberi kapas basah dan ditempatkan di ruangan gelap selama 3 minggu. Selama pengujian diusahakan agar kelembaban botol uji tetap terjaga dan rayap yang mati dikeluarkan dari botol uji. Setelah 3 minggu botol uji dibongkar, dilakukan penghitungan rayap yang masih hidup untuk mengetahui nilai mortalitas rayap uji. Contoh uji kayu dicuci, dioven selama 48 jam dengan suhu 60 ± 2°C dan ditimbang (W2).
Hasil pengujian merupakan nilai rata-rata dari keseluruhan contoh uji dan dinyatakan berdasarkan penurunan berat dan dihitung dengan menggunakan persamaan:
W % =(W1-W2)
Dengan keterangan :
W = Kehilangan berat contoh uji kayu / weight loss (%)
W1 = Berat kering oven contoh uji kayu sebelum pengujian (gram)