• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

2. Kayu pada hutan rakyat :

a. Sengon : ... b. Mahoni : ... c. Durian : ... d. Petai : ... e. Mangga : ...

f. Jenis lainnya, sebutkan : ...

Pendapatan dari penjualan kayu pada hutan rakyat

... (perbulan/pertahun)*

Kayu yang dijual dalam bentuk : (kayu bakar / pohon utuh / sortimen)* / lainnya, sebutkan ...

3. Tanaman pertanian / palawija dari hutan rakyat :

b. Singkong : Rp...(perbulan/pertahun)* c. Kacang tanah : Rp...(perbulan/pertahun)* d. Buah-buahan : Rp...(perbulan/pertahun)* e. Tanaman pertanian/palawija lainnya jika ada (sebut jenis dan jumlah) ...(Rp/bulan atau Rp/tahun) Hasil pertanian/palawija dijual: (per kg/ per karung)*

Jumlah hasil tanaman pertanian/palawija yang dijual per tahun ... 4. Peternakan :

a. Sapi : ... ekor b. Kerbau : ... ekor c. Kambing : ... ekor d. Bebek : ... ekor e. Lainnya, sebutkan : ... ekor

Pendapatan dari usaha peternakan : Rp ...(perbulan/pertahun)* Jumlah dan jenis ternak yang dijual pertahun ...

5. Perdagangan

Jenis usaha : ...

Pendapatan : Rp ...(perbulan / pertahun)* 6. Lain – lain (upah / gaji dari sumber lain)

KUISIONER 3 ( PENGELUARAN RUMAH TANGGA )

Nama Responden :

1. Pangan (makanan dan belanja rumah tangga) :

Rp ... (perbulan/pertahun)* Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

2. Sandang (pakaian, sepatu, dan lain-lain) :

Rp ... (perbulan/pertahun)* Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

3. Kesehatan (biaya obat/dokter)

Rp ... (perbulan/pertahun)* Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

4. Pendidikan :

Jumlah anak yang dibiayai sekolah : ... orang Biaya SPP/anak : Rp ... /semester Biaya buku, dll/anak : Rp .../semester Sumber pemenuhan kebutuhan : ...

(Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

5. Biaya insidental (biaya yang dikeluarkan sekali namun dalam jumlah besar) : a. Biaya naik haji : Rp... (dikeluarkan tahun...) b. Biaya menikahkan anak : Rp... (dikeluarkan tahun...) c. Pajak : Rp... (dikeluarkan tahun...) d. Biaya lain, sebutkan : Rp...(dikeluarkan tahun...) Sumber pemenuhan kebutuhan : ...

(Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

6. Sarana rumah tangga (biaya listrik, air, dll)

Rp...(perbulan/p ertahun)*

Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

7. Tabungan

Rp...(perbulan/ pertahun)*

Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

8. Biaya lain-lain (transportasi, hiburan, dan lain-lain, sebutkan)*

Rp...(perbulan/ pertahun)*

Sumber pemenuhan kebutuhan : ... (Jual kayu / tanaman pertanian / tanaman palawija / dagang / gaji, dan lain-lain sebutkan)*

9. Menurut Bapak/Ibu apakah keberadaan hutan rakyat di Desa Bangunjaya ini memberikan manfaat terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga Bapak/Ibu ?

(Ya/Tidak)* alasan...

Perhitungan Persamaan Regresi Dengan Minitab 14 Luas Lahan Terhadap Pendapatan

————— 04/07/2011 9:25:38 ————————————————————

Regression Analysis: Total Pendapatan versus Pertanian; Hutan

The regression equation is

Total Pendapatan = 5439752 + 8460 Pertanian + 4742 Hutan

Predictor Coef SE Coef T P Constant 5439752 37181686 0,15 0,884 Pertanian 8460 2855 2,96 0,005 Hutan 4742 1916 2,48 0,017 S = 116739421 R-Sq = 25,9% R-Sq(adj) = 22,4% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 2 1,99940E+17 9,99698E+16 7,34 0,002 Residual Error 42 5,72380E+17 1,36281E+16

Total 44 7,72319E+17 Source DF Seq SS Pertanian 1 1,16432E+17 Hutan 1 8,35078E+16 Unusual Observations Total

Obs Pertanian Pendapatan Fit SE Fit Residual St Resid 12 0 43200000 242554690 73304599 -199354690 -2,19RX 32 10000 711750000 184887953 23205203 526862047 4,61R 40 30000 244640000 306669418 69539259 -62029418 -0,66 X

R denotes an observation with a large standardized residual. X denotes an observation whose X value gives it large influence.

Komposisi Tanaman Terhadap Pendapatan Agroforestri

————— 05/07/2011 15:05:21 ————————————————————

Regression Analysis: Pendapatan Hutan versus Durian; Petai; ...

The regression equation is

Pendapatan Hutan = 30697815 + 2146465 Durian + 1275582 Petai - 703227 Mangga + 555439 Jengkol + 2728499 Cengkeh + 44581 Pisang - 2683110 Manggis - 53759 Kopi + 7817736 Dukuh - 40 Rambutan + 862721 Nangka +

1612608 Kelapa

Predictor Coef SE Coef T P Constant 30697815 16116816 1,90 0,066

Durian 2146465 932287 2,30 0,028 Petai 1275582 2199849 0,58 0,566 Mangga -703227 707758 -0,99 0,328 Jengkol 555439 1236659 0,45 0,656 Cengkeh 2728499 2403996 1,13 0,265 Pisang 44581 28020 1,59 0,121 Manggis -2683110 2467752 -1,09 0,285 Kopi -53759 52416 -1,03 0,313 Dukuh 7817736 3687669 2,12 0,042 Rambutan -40 249329 -0,00 1,000 Nangka 862721 382615 2,25 0,031 Kelapa 1612608 2992059 0,54 0,594 S = 73453554 R-Sq = 77,3% R-Sq(adj) = 68,8% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 12 5,88480E+17 4,90400E+16 9,09 0,000 Residual Error 32 1,72654E+17 5,39542E+15

Total 44 7,61133E+17 Source DF Seq SS Durian 1 4,69438E+17 Petai 1 4,79861E+14 Mangga 1 2,45185E+16 Jengkol 1 3,35181E+13 Cengkeh 1 2,48074E+15 Pisang 1 4,22517E+16 Manggis 1 3,87702E+15 Kopi 1 2,24161E+15 Dukuh 1 1,43518E+16 Rambutan 1 2,05834E+14 Nangka 1 2,70335E+16 Kelapa 1 1,56727E+15 Unusual Observations Pendapatan

Obs Durian Hutan Fit SE Fit Residual St Resid 1 50 178000000 107424877 70192129 70575123 3,26RX 18 0 7500000 30685850 72994947 -23185850 -2,83RX 21 40 137500000 130272929 70016426 7227071 0,33 X 34 12 113340000 113340000 73453554 0 * X 35 30 342000000 165691072 21948694 176308928 2,52R 40 11 242840000 82564635 15270938 160275365 2,23R 45 96 190500000 368259412 48306639 -177759412 -3,21R

R denotes an observation with a large standardized residual. X denotes an observation whose X value gives it large influence.

Komposisi Tanaman Agroforestri Terhadap Total Pendapatan

Regression Analysis: Total Pendap versus Pendapatan P; Durian; ...

The regression equation is

Total Pendapatan = 21557487 + 2,09 Padi Palawija + 2255950 Durian + 924492 Petai - 575500 Mangga + 765148 Jengkol + 2493154 Cengkeh + 48737 Pisang - 2362376 Manggis - 44859 Kopi + 7892347 Dukuh + 8260 Rambutan +

802322 Nangka + 267312 Kelapa

Constant 21557487 19628401 1,10 0,281 Padi Palawija 2,086 1,317 1,58 0,123 Durian 2255950 946349 2,38 0,023 Petai 924492 2251571 0,41 0,684 Mangga -575500 727999 -0,79 0,435 Jengkol 765148 1268651 0,60 0,551 Cengkeh 2493154 2432917 1,02 0,313 Pisang 48737 28608 1,70 0,098 Manggis -2362376 2510513 -0,94 0,354 Kopi -44859 53775 -0,83 0,411 Dukuh 7892347 3707363 2,13 0,041 Rambutan 8260 250788 0,03 0,974 Nangka 802322 391460 2,05 0,049 Kelapa 267312 3421283 0,08 0,938 S = 73823830 R-Sq = 78,1% R-Sq(adj) = 69,0% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 13 6,03371E+17 4,64131E+16 8,52 0,000 Residual Error 31 1,68949E+17 5,44996E+15

Total 44 7,72319E+17

Source DF Seq SS Pendapatan Pertanian 1 1,33810E+16 Durian 1 4,75934E+17 Petai 1 5,15712E+14 Mangga 1 1,99528E+16 Jengkol 1 1,94254E+14 Cengkeh 1 2,25934E+15 Pisang 1 4,61001E+16 Manggis 1 4,74906E+15 Kopi 1 8,18645E+14 Dukuh 1 1,61305E+16 Rambutan 1 2,95899E+14 Nangka 1 2,30064E+16 Kelapa 1 3,32699E+13 Unusual Observations Pendapatan Total

Obs Pertanian Pendapatan Fit SE Fit Residual St Resid 1 0 178000000 109557504 70593367 68442496 3,17R 18 5200000 12700000 34881210 73373029 -22181210 -2,72RX 34 39300000 152640000 152640000 73823830 0 * X 35 10200000 352200000 179807617 22564989 172392383 2,45R 40 1800000 244640000 79651548 16377869 164988452 2,29R 45 6000000 196500000 375840362 48588001 -179340362 -3,23R

R denotes an observation with a large standardized residual. X denotes an observation whose X value gives it large influence.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hutan rakyat merupakan hutan yang dibangun, dikelola, dan dimanfaatkan oleh rakyat di atas tanah milik atau tanah yang dibebani hak atas tanah. Dewasa ini, hutan rakyat mampu memberikan kontribusi khususnya pada sektor ekonomi di Indonesia. Dalam kesulitan yang terjadi dewasa ini terkait berkurangnya luas kawasan hutan Indonesia, hutan rakyat seolah tumbuh mengatasi permasalahan yang terjadi. Dalam beberapa tahun belakangan ini, khususnya di Pulau Jawa, hutan rakyat mulai banyak dipelajari dan didukung oleh pemerintah.

Hutan rakyat di lapangan tidak berwujud murni, tetapi dalam bentuk kebun campuran pepohonan dengan tanaman pertanian, buah-buahan dan pangan lainnya, yang dikenal atau disebut sebagai agroforestri. Agroforestri merupakan sistem pengunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu (kadang-kadang dengan hewan) yang tumbuh bersamaan atau bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai produk dan jasa (services) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen tanaman (Huxley, 1999).

Perkiraan potensi dan luas hutan rakyat yang berwujud agroforestri yang dihimpun dari instansi kehutanan di seluruh Indonesia mencapai 39.416.557 m³ dengan luas 1.568.415,64 ha, sedangkan data potensi berdasarkan sensus pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa potensi agroforestri mencapai 39.564.003 m3 dengan luas 1.560.229 ha. Jumlah pohon yang ada mencapai 226.080.019, dengan jumlah pohon siap tebang sebanyak 78.485.993 batang.

Pengusahaan agroforestri sejauh ini hanya sebatas masyarakat pedesaan, sehingga kontribusinya hanya berdampak pada tingkat ekonomi pedesaan. Menurut Darusman dan Hardjanto (2006), manfaat ekonomi hutan rakyat secara langsung dapat dirasakan masing-masing rumah tangga para pelakunya dan secara tidak langsung berpengaruh pada perekonomian desa.

Berdiri di atas wilayah seluas 11,62 km² dan dihuni 8.246 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 710 jiwa/km² (BPS, 2009), Desa Bangunjaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu desa yang menjadikan agroforestri sebagai sumber ekonominya. Walaupun dikelola secara tradisional, kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan primer hingga tersier sangat dirasakan oleh petani. Petani memilih jenis tanaman yang cepat tumbuh atau minimal mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Darusman dan Hardjanto (2006), walaupun hutan rakyat mempunyai potensi dan peranan yang cukup besar, namun hutan rakyat di Pulau Jawa pada umumnya hanya sedikit yang memenuhi luasan minimal sesuai dengan definisi hutan, dimana minimal seluas 0,25 hektar. Dengan sempitnya pemilikan lahan setiap keluarga, mendorong pemiliknya untuk memanfaatkan seoptimal mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada umumnya pemilik berusaha memanfaatkan lahan dengan membudidayakan tanaman-tanaman yang bernilai tinggi dan cepat menghasilkan.

Secara khusus di Desa Bangunjaya, jenis-jenis yang menjadi andalan bagi petani setempat adalah jenis buah-buahan. Buah-buahan menjadi komoditas yang memberikan pemasukan cukup besar bagi rumah tangga petani dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya. Hal tersebut sangat menarik untuk didalami dimana hutan rakyat umumnya mengandalkan komoditas kayu dari jenis yang cepat tumbuh sebagai pemasukan bagi rumah tangga.

1.2. Perumusan Masalah

Pemanfaatan lahan dengan sistem agroforestri di Desa Bangunjaya memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani setempat. Keberadaannya ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sumber pendapatan, baik sumber pendapatan utama maupun sumber pendapatan tambahan.

Hasil dari pengelolaan agroforestri tersebut dapat berupa kayu, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya. Ada kenyataan menarik yang ditemukan di desa ini, buah-buahan menjadi hasil agroforestri yang sangat diandalkan dimana pada umumnya petani mengandalkan hasil kayu dari jenis tanaman yang cepat tumbuh.

Kajian mengenai kontribusi sistem agroforestri tersebut terhadap pendapatan rumah tangga petani serta pola/sistem bertanam pada hutan rakyat yang diterapkan oleh petani setempat menjadi dibutuhkan guna mengetahui seberapa besar keberadaan hutan rakyat tersebut memberikan kontribusinya terhadap rumah tangga petani. Dengan semakin besar kontribusinya akan menjadi pendorong minat dan usaha masyarakat untuk terus mengembangkan hutan rakyat atau agroforestri.

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Berapa besar kontribusi agroforestri di Desa Bangunjaya terhadap ekonomi rumah tangga petani setempat ?

2. Pola/sistem agroforestri seperti apa yang diterapkan petani setempat ?

1.3. Kerangka Pemikiran

Dalam menghadapi masalah alih fungsi lahan dan menurunnya ketersediaan lahan akibat berbagai macam kebutuhan, maka sistem agroforestri lahir sebagai jawaban atas permasalahan tersebut. Banyak penelitian dan kajian yang dilakukan mengenai pola agroforestri di setiap daerah yang dikonversi menjadi sebuah kebijakan untuk memanfaatkan ketersediaan lahan yang semakin harinya semakin sempit.

Berdasarkan informasi awal yang diterima, petani di Desa Bangunjaya merupakan salah satu yang memanfaatkan lahan dengan sistem agroforestri. Secara khusus, daerah ini memiliki keunikan yang menarik untuk lebih didalami, komoditas buah-buahan menjadi hasil agroforestri andalan dan sangat berpengaruh besar terhadap pendapatan rumah tangga.

Studi mengenai kontribusi agroforestri terhadap pendapatan perlu dilakukan guna mengetahui lebih jauh mengenai kegiatan pengelolaan hutan rakyat sebagai alat pemenuhan kebutuhan dan kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga petani di Desa Bangunjaya. Selain itu menjadi penting untuk mengetahui pola/sistem agroforestri yang diterapkan oleh petani setempat. Hal ini bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai kontribusi agroforestri terhadap

pendapatan rumah tangga petani setempat. Kerangka pemikiran ini disajikan dalam diagram alir pada Gambar 1, sebagai berikut :

Gambar 1 Diagram alir kerangka pemikiran.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui kontribusi agroforestri di Desa Bangunjaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat terhadap pendapatan rumah tangga petani setempat.

2. Mengetahui pola pengelolaan agroforestri yang diterapkan oleh petani di Desa Bangunjaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai kontribusi agroforestri terhadap rumah tangga petani dan informasi pola pengelolaan agroforestri yang diterapkan oleh petani setempat dalam usaha pemenuhan kebutuhan sesuai dengan keberadaan dan prinsip kelestarian hutan.

Agroforestri Sederhana Agroforestri Kompleks

Hasil Agroforestri Sistem Agroforestri

Agroforestri Sederhana Agroforestri Kompleks

Hasil Agroforestri

Rumah Tangga Petani Desa Bangunjaya Penerapan

Sistem?

Besarnya Kontribusi?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hutan Rakyat 2.1.1. Pengertian

Dalam UU No. 41 tahun 1999, hutan rakyat merupakan jenis hutan yang dikelompokkan ke dalam hutan hak. Hutan hak merupakan hutan yang berada di atas tanah yang dibebani hak atas tanah, demikian halnya dengan hutan rakyat yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik dan tidak diusahakan pada tanah negara.

Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah milik dengan luas minimal 0,25 ha, penutupan tajuk didominasi oleh tanaman perkayuan (lebih dari 50%), dan atau tanaman tahun pertama minimal 500 batang. (SK Menteri Kehutanan Nomor 49/KPTS-II/1997).

Menurut Peraturan Menteri Kehutanan P.03/MENHUT-V/2004, hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik maupun hak lainnya dengan ketentuan luas minimun 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu- kayuan dan tanaman lainnya lebih dari 50 %.

Kamus Kehutanan (1990) dalam Awang (2001), hutan rakyat adalah hutan yang terdapat pada lahan milik rakyat atau milik adat (ulayat) yang secara terus- menerus diusahakan untuk usaha perhutanan, yaitu: jenis kayu-kayuan, baik tumbuh secara alami maupun hasil tanaman.

2.1.2. Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani

Sayogyo (1982) dalam Kusumaningtyas (2003), menyatakan bahwa pendapatan rumah tangga dapat dibagi menjadi tiga kelompok, sebagai berikut:

1. Pendapatan dari usaha bertani.

2. Pendapatan yang mencakup usaha bertanam padi, palawija, dan kegiatan pertanian lainnya.

3. Pendapatan yang diperoleh dari seluruh kegiatan termasuk sumber-sumber mata pencaharian di luar pertanian.

Menurut Mubyarto (1998) pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh oleh seluruh anggota keluarga, baik suami, istri, maupun anak.

Pengeluaran rumah tangga adalah konsumsi rumah tangga dari semua nilai barang jasa yang diperoleh, dipakai atau dibayar oleh rumah tangga tetapi tidak untuk keperluan usaha dan tidak untuk menambah kekayaan atau investasi. Secara umum kebutuhan konsumsi rumah tangga berupa kebutuhan pangan dan non pangan, dimana kebutuhan keduanya berbeda. Pada kondisi pendapatan yang terbatas lebih dahulu mementingkan kebutuhan konsumsi pangan, sehingga dapat dilihat pada kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun demikian seiring pergeseran peningkatan pendapatan, proporsi pola pengeluaran untuk pangan akan menurun dan meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan nonpangan (Sugiarto 2008).

Hernanto (1991) mengemukakan bahwa salah satu cara menentukan ukuran pendapatan petani adalah jumlah penerimaan dari penjualan hasil ditambah penerimaan yang diperhitungkan dengan kenaikan nilai inventaris, dikurangi dengan pengeluaran tunai dan pengeluaran yang diperhitungkan termasuk bunga modal. Pendapatan rumah tangga petani dapat berasal dari pendapatan usaha tani dan pendapatan non-usaha tani.

2.2. Agroforestri

2.2.1. Pengertian Agroforestri

Menurut Huxley (1999) agroforestri adalah sistem pengunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu (kadang- kadang dengan hewan) yang tumbuh bersamaan atau bergiliran pada suatu lahan, untuk memperoleh berbagai produk dan jasa (services) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar komponen tanaman.

Lundgren dan Raintree (1982) mendefinisikan agroforestri sebagai istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu, dan lain-lain) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang

bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada.

2.2.2. Pemanfaatan Lahan Dengan Sistem Agroforestri

Dalam praktiknya, pemanfaatan luas lahan yang terbatas memberikan inovasi-inovasi pola yang secara bebas memberikan ruang pilihan kepada petani. Pola agroforestri-tumpangsari menggunakan jenis-jenis yang mempunyai prospek pasar yang menjanjikan (Sabarnurdin et al. 2011) petani memiliki tujuan menanam, yaitu: petani memperoleh manfaat sosial dari tumpangsari tanaman semusim seperti jagung, singkong, pisang, serta rumput gajah bagi petani yang memelihara ternak; manfaat ekonomi berupa hasil kayu untuk industri dengan pemasaran lokal maupun ekspor.

Terkait relasinya dengan hutan, sebaiknya agroforestri tidak diposisikan

sebagai alat penyelesaian “adhoc” karena sesuai dengan kondisi yang dihadapi,

pola tanam ini seharusnya terintegrasi dengan sistem pengelolaan hutan, karena memang eksistensi kehutanan di mata penduduk sekitarnya ditentukan oleh tindakan mewujudkan fungsi hutan sebagai penghasil multiple product bagi kehidupan manusia. Terkait dengan hal tersebut, pemilihan jenis yang tepat disesuaikan dengan karakteristik jenis inti serta pengaturan daur menjadi hal yang penting (Sabarnurdin et al. 2011).

Agroforestri bisa saja menjadi alternatif yang lebih baik dan menguntungkan jika dibandingkan dengan kondisi yang ada. Menurut Suharjito (2000), hutan rakyat atau agroforestri hanya merupakan pendapatan sampingan dan bersifat insidentil dengan kisaran tidak lebih dari 10% dari total pendapatan. Kebijakan yang baik untuk memfasilitasi kontribusi keberadaan agroforestri menjadi sangat penting agar agroforestri terus memberikan tren yang positif.

2.2.3. Manfaat Agroforestri

Beberapa keunggulan agroforestri dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan lainnya menurut Hairiah et al.(2003) yaitu :

1. Produktivitas (Productivity): Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa produk total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada

monokultur. Hal tersebut disebabkan bukan saja keluaran (output) dari satu bidang lahan yang beragam, akan tetapi juga dapat merata sepanjang tahun. Adanya tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen/jenis tanaman lainnya.

2. Diversitas (Diversity): Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada budidaya tunggal (monokultur).

3. Kemandirian (Self-regulation): Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produkproduk luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak memerlukan banyak input dari luar (antara lain: pupuk dan pestisida), dengan diversitas yang lebih tinggi daripada sistem monokultur.

4. Stabilitas (Stability): Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan kesinambungan) pendapatan petani.

Ketika tanah langka atau ketika tanah memiliki kesuburan rendah atau sensitif terhadap erosi, teknik wanatani (agroforestri) menawarkan manfaat yang cukup besar untuk jangka panjang pertanian yang keberlanjutan. Pohon dan semak memiliki peran ekologi dan ekonomi penting dalam sistem pertanian. Agroforestri berguna dalam cara berikut menurut The Organic Organization:

1. Tanah

a. Melindungi tanah dari erosi.

b. Meningkatkan nutrisi dalam tanah yang miskin.

c. Memperbaiki struktur tanah sehingga memegang lebih banyak air. 2. Pasokan energi

b. Memproduksi kualitas yang lebih baik kayu bakar tergantung pada spesies ditanam.

3. Tempat tinggal dan struktur

a. Menyediakan bahan bangunan murah.

b. Melindungi hewan, tanaman dan manusia dari angin dan matahari. c. Menyediakan pagar untuk melindungi tanaman dari hewan ternak dan

hewan liar.

4. Tanaman sumber daya / keanekaragaman hayati a. Memperbaiki kondisi lingkungan lokal alami tanaman

tumbuh.

b. Mempertahankan dan meningkatkan jumlah spesies tanaman. 5. Kas dan pendapatan

a. Menyediakan lapangan kerja tambahan atau off-musim. b. Mengaktifkan penjualan produk-produk pohon.

c. Menyediakan investasi seperti kebun, produk-produk pohon, agro- bisnis dan pasokan bahan jangka panjang untuk produksi kerajinan 2.2.4 Jenis Agroforestri

Dalam perkembangan pengelolaan lahan di beberapa daerah, penduduk mempunyai preferensi tertentu dalam menggunakan lahannya yang terbatas, yang diwujudkan dengan beberapa tahap pola agroforestri. Pola-pola tersebut sebenarnya bisa merupakan continuum yang berakhir pada pola agroforest (talun, kebun pohon) yang kemudian diintervensi oleh penduduk setempat menjadi sebuah pola yang ingin mereka pertahankan. (Sabarnurdin et al. 2011)

Menurut De Foresta dan Michon (1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.

1. Agroforestri Sederhana

Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara tumpangsari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.

Jenis-jenis pohon yang ditanam sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi (kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao, nangka, melinjo, petai, jati, mahoni) atau bernilai ekonomi rendah (dadap, lamtoro, kaliandra). Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan (padi gogo, jagung, kedelai, kacang- kacangan, ubi kayu), sayuran, rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.

Menurut Bratamihardja (1991) dalam Hairiah et al. (2003), bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dijumpai di Pulau Jawa adalah tumpangsari atau

taungya yang dikembangkan dalam rangka program perhutanan sosial oleh Perum Perhutani. Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga merupakan campuran dari beberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman semusim. Kebun kopi biasanya disisipi dengan tanaman dadap (Erythrina) atau kelorwono/gamal (Gliricidia) sebagai tanaman naungan dan penyubur tanah. 2. Agroforestri Kompleks

Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis pepohonan (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem yang menyerupai hutan. Dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Penciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai agroforest.

Berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal, sistem agroforestri kompleks ini dibedakan menjadi dua, yaitu: kebun atau pekarangan berbasis pohon (home garden) yang letaknya di sekitar tempat tinggal dan agroforest, yang biasanya disebut hutan yang letaknya jauh dari tempat tinggal (De Foresta et al.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Bangunjaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada bulan April - Mei 2011.

Gambar 2 Peta lokasi penelitian.

3.2. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kuisioner

2. Data-data sekunder 3. Microsoft Excel 2007 4. Minitab 14

5. Kamera digital

3.3. Batasan Operasional Penelitian

Guna memberikan pengertian dan persepsi yang seragam mengenai penelitian yang dilakukan, maka diberikan batasan-batasan sebagai berikut :

1. Hutan rakyat adalah hutan yang berada di atas tanah yang dibebani hak atas tanah dan ditanami dengan tanaman berkayu baik secara monokultur maupun dicampur dengan tanaman pertanian maupun palawija.

2. Agroforestri umumnya terdiri dari berbagai macam tanaman setahun (sayuran dan pangan) yang diselingi oleh bambu atau pohon-pohonan dan lokasi biasanya agak jauh dari rumah.

3. Petani hutan rakyat adalah petani yang memiliki dan menggarap lahan hutan rakyat atau agroforestri.

4. Pendapatan total merupakan seluruh pendapatan yang diperoleh petani dari semua komoditas yang dihasilkan dari lahan hutan rakyatnya tersebut per

Dokumen terkait