• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

G. Keabsahan data

Ketepatan data merupakan pendukung hasil terakhir penelitian, karna itu dibutuhkan cara dalam pemeriksaan keabsahan data. Keabsahan data pada penelitian ini diperiksa mengunakan teknik triangulasi. Triangulasi artinya melakukan pengecekan atas kebenaran data yang didapatkan pada sumber data.

Triangulasi pada pengujian krebilitas diartikan mengecek data dari beberapa cara dan berbagi waktu. sehingga terdapat triangualsi tempat, triangulasi cara penyimpulan data dan waktu (Sugiyono, 2013).

a. Informasi tempat

Merupakan penguji kebenaran data dengan teknik mencari data yang telah didapatkan melalui berbagai tempat.

b. Proses informasi

Merupakan penguji kebenaran digunakan dengan teknik mencari data pada tempat dengan cara berbeda. Sehingga dapat dibandingkan data yang didapat dari informan lain.

c. Informasi waktu

Waktu dapat berpengaruh terhadap kebenaran data. Data didapatkan saat cara wawawcara diawal hari terhadap informan masih baru, masih kurang masalah, dapat memberikan informasi yang lebih jelas sehingga lebih kredibel.

34 BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Sejarah Pemerintahan Daerah Kabupaten Bulukumba

Sejarah penamaan "Bulukumba", katanya berasal dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu "Bulu’ku" dan "Mupa" pada bahasa Indonesia berarti" masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya". konon pertama kali muncul pada abad ke–

17 Masehi saat terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama "Tana Kongkong", di saat itu utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, kedua kerajaan melakukan musyawarah secara damai dan menentukan perbatasan daerah sesuai pengaruh kerajaan sendiri. Bangkeng Buki' (kaki bukit) yang bermakna barisan pinggir bukit di Gunung Lompobattang yang dianggap pihak Kerajaan Gowa merupakan batas daerah kekuatannya diawali dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Tetapi Kerajaan Bone bersikukuh mempertahankan Bangkeng Buki' menjadi daerah kekuatannya dari barat sampai ke selatan.

Awal kejadian tersebut menetapkan kata pada bahasa Bugis "Bulu'kumupa"

yang menjadi pada persamaan bahasa khusus terjadi perubahan kata yang jadinya

"Bulukumba". Katanya pada saat itu penyebutan Bulukumba berawal hadir sampai sekarang ini resmi menjadi sebuah nama daerah di Sulawesi selatan. Resminya menjadi sebuah kabupaten Bulukumba diawali dari dikeluarkan Undang–Undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang terbentuknya Daerah–daerah Tingkat II di Sulawesi

selatan yang di proses dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 5 Tahun 1978, terkait Lambang Daerah.

Pada setelah terlaksanya seminar sehari sebelum tanggal 28 Maret 1994 dengan tokoh Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan budaya), maka diresmikan hari jadi Kabupaten Bulukumba, yakni tanggal 4 Februari 1960 dalam Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994. Secara peraturan resmi Kabupaten Bulukumba resmi menjadi wilayah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 Februari 1960 lalu dilakukan pelantikan bupati pertama, yakni Andi Patarai pada tanggal 12 Februari 1960.

2. Profil Daerah Pemilihan 1

a. Kecamatan Ujung Bulu

Kecamatan Ujung Bulu merupakan salah satu Kecamatan dari sepuluh Kecamatan di Kabupaten Bulukumba. Luas Kecamatan Ujung Bulu hanya empat belas koma empat puluh empat kilo meter persegi atau satu koma dua lima persen dari luas Kabupaten Bulukumba (BPS, 2013:6). Dengan luas empat belas koma empat puluh empat kilo meter persegi, ini menjadikan Kecamatan Ujung Bulu sebagai Kecamatan relatif kecil di antara Kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bulukumba. Meskipun menjadi Kecamatan relatif kecil, tetapi Ibu Kota dari Kabupaten adalah keistimewaan dari Kecamatan ini, menjadi sentra dari segala kegiatan masyarakat Bulukumba mulai dari kegiatan pemerintahan, kegiatan sektor swasta dan lain-lain.

Kecamatan Ujung Bulu menjadi Kecamatan dengan tingkat kesibukan penduduk yang relatif tinggi di Kabupaten Bulukumba, ini dikarenakan jumlah penduduk yang mencapai 48.816 jiwa dimana jumlah penduduk laki-laki 23.456 jiwa dan perempuan 25.360 jiwa (BPS, 2013:51) ditambah dengan jumlah penduduk dari wilayah lain yang setiap harinya melakukan kegiatan di dalam Kecamatan Ujung Bulu. Secara geografis Kecamatan Ujung Bulu terletak pada koordinat antara 5°30” sampai 5°32” Lintang Selatan dan 120°12” sampai 120°30” Bujur Timur serta berada pada ketinggian 0-25 di atas permukaan laut (BPS, 2013:7). Dari luas 14,44 km², Kecamatan Ujung Bulu terbagi dalam 9 Kelurahan, 29 lingkungan, 80 RW serta 168 RT (BPS, 2103:17), dimana Ibu Kota dari kecamatan Ujung Bulu sendiri adalah Kelurahan Terang-terang.

b. Kecamatan Ujung Loe

Ujung Loe merupakan kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan Ujung Loe merupakan salah satu dari sepuluh kecamatan di Kabupaten Bulukumba. Di kecamatan ini terdapat dua belas desa/kelurahan, yaitu Balleanging, Balong, Bijawang, Dannuang, Garanta, Lonrong, Manjalling, Manyampa, Padang loang, Salemba, Seppang, dan Tamatto. Masih banyak rumah yang berupa rumah kayu yang berdiri di kecamatan ini. Pohon- pohn masih banyak yang menjulang tinggi. Terdapat jembatan yang menghubungkan kelurahan dannuang dengan kelurahan manjalling. Apotek, lapangan sepak bola, puskesmas, kios, bengkel, toko - toko, itu semua ada di kecamatan ini.

c. Kecamatan Bontobahari

Bontobahari merupakan kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan Bontobahari berjarak sekitar dua piluh empat kilo meter dari ibu kota Kabupaten Bulukumba. Ibu kota kecamatan ini berada di Tanahberu. Wilayahnya terletak paling selatan yang dikelilingi Laut Flores, termasuk dua pulaunya yaitu Pulau Liukanglu dan Pulau Sarontang. Serta terdapat sebuah Taman hutan raya.

Bonto Bahari berarti "tanah laut". Tanah wilayah ini katanya tidak cocok untuk mendukung pertanian karan leboih banyak wilayah perairan di bandingkan daratan. Beberapa jumlah tambak yang dimiliki nelayan setempat. Bontobahari dikenal dengan suku Konjo-nya serta di Kecamatan Kajang, Hero Lange-Lange, dan Bontotiro. Pada tahun 1987, penduduk desa membuat Hai Marge dan di bulan Desember tahun itu juga, 13 orang dari Makassar berlayar ke Australia Utara.

Perjalanan itu berhasil dan sekarang, perahu yang membawa mereka ada di Museum Darwin.

2. Affirmasi Politik Perempuan di Bulukumba pada Dua periode Terakhir Afirmasi perempuan di Pemilihan legislative tahun 2014 malah lahirkan paradoks partisipasi. Kemunduran kuantitas hasil pemilihan legislative tahun 2014 di Kabupaten Bulukumba berupa berkurangnya perolehan kursi oleh calon legislatif perempuan. Meskipun Undang-Undang No. 8 tahun 2012 tentang pemilihan legislative tahun 2014 dan sejumlah Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) lebih membuka pencalonan perempuan sehingga meningkat, perempuan hanya memperoleh 7 kursi. Sangat berpeluang kuatnya dominasi fraksi terhadap

otonomi anggota, tak terkecuali perempuan. Penyebab utamanya, pola basis rekrutmen yang mengandalkan kekuatan finansial dan kekerabatan untuk mendukung elektabilitas.

Selain itu, kecenderungan semakin kuatnya dominasi fraksi atas anggota legislatif ditunjukkan pula oleh berimbangnya jumlah inkumben terpilih dan anggota baru terpilih. Sebagian inkumben yang tidak terpilih dapat diidentifikasi sebagai anggota yang kritis terhadap posisi dan kebijakan partai/fraksi. Terjadi mekanisme rekrutmen calon legislatif di partai cenderung bersifat instans dan diwarnai nepotisme. Menjadi pengetahuan bersama bakal calon legislati. Dalam keadaan ini, calon legislatif perempuan hanyalah kamuflase.

Bagi pemilih, kesetaraan untuk keadilan yang hendak dicapai melalui afirmasi perempuan belum bisa diterima luas. Partisipasi perempuan di Pemilu dan pemerintahan terhambat masyarakat patriarki dan konservatisme agama. Tak terjadi relevansi karena keadaannya menggambarkan suplai calon legislative perempuan yang meningkat tak terhubung dengan (pemahaman) permintaan pemilih.

Perempuan difasilitasi kuota pada keanggotaan partai, daerah pemilihan dan surat suara sebagai peserta pemilu. Pertanyaannya, bagaimana capaian akses itu (yang ternyata hasilnya tak membaik di kuantitas dan kualitas) akan dihadapkan pada Pemilu serentak di tahun 2019. Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan penggabungan Pemilu presiden dan Pemilu legislatif di dalam satu hari pemungutan suara pada tahun 2019 yang terjadi di Kabupaten Bulukumba

hasil pemilihan legislative mengalami penigkatan dengan perolehan kursi 8 untuk perempuan.

Dalam studi kepemiluan, penggabungan pelaksanaan Pemilu parlemen dan Pemilu presiden dalam satu hari H pemungutan suara bertujuan menciptakan pemerintahan kongruen. Pemerintahan terbelah (divided government) dihindari dengan perwujudan jumlah kursi mayoritas parlemen dimiliki partai atau koalisi partai yang mengusung presiden terpilih.

B. Persepsi Masyarakat Terhadap Perempuan di Ranah Politik Lokal

Dokumen terkait