• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Keabsahan Data

Kridibilitas data sangat mendukung hasil penelitian,oleh karna itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Wiliam (Dalam Sugiyono 2011) triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada data sumber lain yang telah diperoleh sebelumnya.

b. Triangulasi metode

Triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan atau ketidak akuratannya.

c. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu yang dilakukan disini dengan menguji kredibilitas data yang dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lainnya dalam waktu dan situasi yang berbeda.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Obyek Penelitian 1. Letak Geografis

Kondisi alam terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah dengan curah hujan rata-rata 5 bulan pertahun. Kondisi ini berdampak pada pola mata pencaharian hidup karena kegiatan ekonomi masyarakat sebagian besar adalah petani dan ternak. Untuk mencapai Desa Salassae dapat dicapai lewat jalan raya yang menghubungkan kota kecamatan dengan pusat desa dengan jarak tempuh kurang lebih 10 km.

2. Luas Wilayah Desa Salassae

Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas bahwa Desa Salassae merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba dengan luas wilayah 11 km, yang terdiri dari 98 ha lokasi persawahan dan 102 ha lokasi perkebunan. Sedangkan jumlah dusun yang terdapat di Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba sebanyak 5 dusun. Untuk lebih jelasnya tentang nama-nama Dusun dan luas wilayah yang terdapat di Desa Salassae Kecamatan Bululumpa Kabupaten Bulukumba dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 02.

Nama-Nama Dusun di Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba

No Nama Dusun Luas Wilayah

1. Dusun Ma’remme 2,3 Km 2. Dusun Bonto Tangnga 2,5 Km 3. Dusun Batu Tujua 1,8 Km 4. Dusun Bolongnge 1,6 Km 5. Dusun Batu Hulang 2,8 Km

Sumber : Kantor Desa Salassae, Dikutip tanggal 13 Oktober 2015

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa di Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba dari 5 dusun dengan luas 11 Km, dari luas wilayah tersebut tercatat bahwa Dusun Batu Hulang memiliki wilayah terluas yaitu 2,8 Km, terluas kedua adalah Dusun Bonto Tangnga dengan luas wilayah 2,5 Km, sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Dusun Bolongnge yaitu 1,6 Km.

3. Keadaan Penduduk dan Jumlah Penduduk

Penduduk Desa Salassae dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan baik yang di sebabkan oleh kelahiran, kematian, kedatangan dan perpindahan. Berdasarkan hasil pencatatan dokumentasi peneliti bahwa pada tahun 2014, jumlah penduduk di Desa Salassae mencapai 3.368 jiwa. Untuk lebih jelasnya tentang jumlah penduduk berdasarkan masing-masing dusun yang ada di Desa Salassae dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 03.

Jumlah Penduduk dan Jenis Kelamin yang ada di Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba

No Nama Dusun L P Jumlah

1. Ma’remme 379 348 727 2. Bonto Tangnga 364 380 744 3. Batu Tujua 332 329 661 4. Bolongnge 205 223 428 5. Batu Hulang 393 413 806 Jumlah 1.673 1.693 3.366

Sumber : Kantor Desa Salassae, Dikutip tanggal 13 Oktober 2015

Berdasarkan dari data di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk terbanyak berada pada Dusun Batu Hulang yaitu sebanyak 806 jiwa atau yang terdiri dari 396 jiwa laki-laki dan 413 jiwa perempuan. Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit berada pada Dusun Bolongnge yaitu sebanyak 428 jiwa yang terdiri dari 205 jiwa laki-laki dan 223 jiwa perempuan. Keseluruhan jumlah penduduk yang ada pada lingkungan Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba pada tahun 2014 sebesar 3.366 jiwa. Yang tergolong ke dalam 1.673 jiwa penduduk laki-laki dan 1.693 jiwa penduduk perempuan.

4. Tingkat Pendidikan Masyarakat

Pendidikan masyarakat Desa Salassae cukup maju, ini dapat dilihat dari hasil penjajakan bahwa kebanyakan anak yang sudah tamat SD melanjutkan

pendidikannya ke tingkat SLTP, dan hanya sebagian kecil saja yang putus sekolah, dan jumlah kategori pendidikan masyarakat Desa Salassae dapat di lihat pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 04.

Data Pendidikan Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba

No Jenjang Pendidikan Jumlah

1. Belum Sekolah 247 2. SD 1.066 3. SLTP 797 4. SLTA 637 5. Strata 1 (S.1) 285 6. Strata 2 (S.2) 8 Total 2.795

Sumber: Kantor Desa Salassae, Dikutip Tanggal 13 Oktober 2015

Dengan melihat tabel 4 di atas jumlah penduduk berdasarkan jenjang pendidikan mulai dari yang belum sekolah sampai dengan yang tamat diperguruan tinggi, dapat disimpulkan bahwa taraf pendidikan warga masyarakat Desa Salassae cukup maju, dari 3.366 jiwa penduduk Desa Salassae, 1.066 jiwa yang manamatkan sekolahnya sampai pada tingkat dasar ,SLTP dengan jumlah 797 jiwa, SLTA dengan jumlah 637 jiwa. Kemudian yang belum sekolah 247 jiwa sedangkan yang mampu menyelelesaikan

sampai pada perguruan tinggi S.1 sebanyak 285 jiwa dan yang mampu menyelesaikan sampai S.2 8 jiwa dari jumlah penduduk Desa Salassae.

5. Profil Organisasi Komunitas Swabina Pedesaan Salassae

Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) merupakan sebuah organisasi tani yang bergerak di bidang pertanian organik. Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) terletak di sebuah desa dengan jarak yang jauh dari kota Kabupaten Bulukumba (± 30 Km), letaknya (± 10 Km) dari kota Kecamatan Bulukumpa. Pendiri komunitas ini adalah salah satu masyarakat desa Salassae yang telah lama bekerja di FO Bina Desa yang berada di Jakarta. Organisasi ini didirikan sebagai wadah petani dalam menghimpun aspirasi petani dalam pengelolaan dan pemanfaatan pertanian organik di Desa Salassae.

a. Visi

1. Terwujudnya kehidupan masyarakat yang sehat, sejahtera, mandiri dan berdaulat

2. Terwujudnya lingkungan yang sehat, karena terhindar dari pestisida kimia sintesis.

3. Terwujudnya keseimbangan alam, karena dalam pertanian organik tidak ada yang dimatikan (pemutusan rantai makanan).

b. Misi

1. Menciptakan kehidupan masyarakat yang sehat, sejahtera, mandiri dan berdaulat atas pangan yang dihasilkan.

2. Menciptakan lingkungan sekitar menjadi sehat, sehingga lingkungan menjadi aman untuk pertanian.

3. Menciptakan keseimbangan alam yang harmonis terhadap seluruh makhluk hidup.

6. Struktur Organisasi Komunitas Swabina Pedesaan Salassae Tabel 06.

Struktur Organisasi Komunitas Swabina Pedesaan Salassae

Tugas Pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS)

1. Mengevaluasi kinerja dari pemimpin organisasi.

2. Merumuskan program kerja organisasi bersama dengan pimpinan organisasi. Pembina Ketua KSPS Sekretaris Bendahara KT. Ma’remme KT. Bonto Tangnga KT. Batu Tujua KT. Bolongnge KT. Batu Hulang

3. Melakukan audit kegiatan dan keuangan organisasi.

Tugas Ketua Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS)

1. Menentukan kebijakan organisasi.

2. Mengkomunikasikan kegiatan organisasi dengan lembaga-lembaga lain, baik lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah.

3. Mengevaluasi abministrasi organisasi.

Tugas Sekretaris Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS)

1. Menangani administrasi organisasi.

2. Mendistribusikan kegiatan-kegiatan kepada setiap kelompok tani.

3. Mengkomunikasikan setiap kegiatan-kegiatan organisasi kepada lembaga-lembaga yang lain.

Tugas Bendahara Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS)

B. Peran Pemerintah Daerah Dalam Membantu Komunitas Swabina Pedesaan Salassae Untuk Pengelolaan Pertanian Organik di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba

Pelaksanaan tugas dan fungsi seorang pemerintah daerah dalam bidang pemerintahan merupakan salah satu bentuk kegiatan aparat pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk memberikan deskripsi mengenai pelaksanaan fungsi tersebut. Pemerintah daerah mempunyai peranan yang lebih penting terhadap kemajuan dan perkembangan wilayah yang dipimpinnya yaitu melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat dalam meningkatkan peran serta mereka terhadap pengembangan pembangunan khususnya dibidang pertanian. Konsep strategi pembangunan berimbang (balanced growth), yaitu pembangunan disektor pertanian dan sektor industri secara bersamaan merupakan tujuan pembangunan yang paling ideal. Pada kenyataannya konsep strategi pembangunan berimbang tidak dapat dilakukan oleh negara berkembang, hal ini disebabkan karena sumber daya manusia yang tidak memadai untuk melakukan pembangunan dibidang pertanian dan bidang industri sekaligus.

Dalam menerapkan program pertanian organik di desa salassae komunitas swabina pedesaan salassae awalnya mengalami kesulitan untuk mengajak para petani untuk bergabung melaksanakan usaha tani padi mereka secara organik. Para petani konvensional beranggapan apabila ia melakukan budidaya secara organik ada banyak kesulitan yang akan dihadapi. Salah satu kesulitan terbesar, para petani konvensional mempunyai kekhawatiran akan

mengalami kesulitan dalam memperoleh pupuk organik. Para petani belum melihat potensi lokal yang ada berupa limbah pertanian yang tersedia melimpah yang dapat dikelola menjadi pupuk organik. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengembangkan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, pertanian organik menjadi salah satu pilihan yang dapat diambil.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat di deskripsikan tentang peran pemerintah daerah dalam membantu Komunitas Swabina Pedesaan Salassae untuk pengelolaan pertanian organik yang secara garis besar mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Peran Pemerintah Sebagai Dinamisator a. Sosialisasi

Sosialisasi merupakan upaya mengkomunikasikan kegiatan untuk menciptakan dialog dengan masyarakat. Komunitas Swabina Pedesaan Salassae dalam melaksanakan sosialisasi terhadap masyarakat di Kecamatan Bulukumpa di bantu oleh pemerintah daerah yaitu dengan cara melakukan pertemuan dengan para petani membahas tentang masalah apa yang dihadapi petani untuk memberikan pengarahan dan membantu petani menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi di lapangan.

Berikut hasil wawancara dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba terkait indikator tentang peran pemerintah dalam melakukan sosialisasi sebagai berikut:

“...Kami dari Dinas Pertanian membantu anggota Komunitas Swabina Pedesaan Salassae dalam memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada para petani yang ada di Kecamatan Bulukumpa tentang apa manfaat dalam menerapkan sistem pertanian organik di bandingkan bertani sacara konvensional. Dengan adanya program pertanian organik yang dijalankan oleh KSPS memberikan dampak yang positif bagi daerah yang lain utuk menerapkan sistem yang sama.” (Wawancara Penulis, HN 15 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bulukumpa, yang menyatakan sebagai berikut:

“...Dengan adanya pertemuan seperti itu dapat membantu para petani yang ada di Kecamatan Bulukumpa untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan dalam mengelolah pertaniannya. Dan masih banyaknya para petani yang belum mengetahui cara-cara bertani sacara-cara organik membuat kami dari tim penyuluh serta anggota KSPS lebih sering melakukan pertemuan kepada para petani agar mereka lebih memahami dalam mengelolah pertaniannya.” (Wawancara Penulis, ND 14 Oktober 2015).

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintah daerah telah bertemu langsung kepada para petani membahas tentang manfaat dan pentingnya sistem pertanian organik serta membantu petani memberikan pemahaman serta pengetahuan dalam mengelolah pertaniannya.

Sedangkan dari hasil wawancara penulis lakukan dengan Ketua Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, yang menyatakan bahwa:

“...Dengan adanya bantuan dari pemerintah daerah serta tim penyuluh dalam memberikan sosialisasi kepada para petani membuat kami dari anggota KSPS merasa mudah dalam menjalankan program pertanian organik ini. Karena kalau dilihat sebelumnya belum ada dari Kecamatan ataupun daerah-daerah lainnya yang ada di Kabupaten Bulukumba yang menerapkan program pertanian organik ini.” (Wawancara Penulis, PN 13 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh salah satu informan, yang menyatakan sebagai berikut:

“...Dengan adanya pertemuan yang dilakukan oleh KSPS dan dibantu oleh pemerintah serta menghadirkan tim penyuluh dari Kecamatan membuat kami para petani sangat terbantu, karena dengan adanya pertemuan itu kami bisa menyampaikan setiap masalah atau keluhan yang kami hadapi dalam pertanian organik ini. Disamping itu dengan pengetahuan yang di berikan kepada kami membuat kami mengerti tentang pentingnya pangan yang sehat bagi diri.” (Wawancara Penulis, SA 08 Oktober 2015). Dari hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa dengan adanya pertemuan yang dilakukan oleh Komunitas Swabina Pedesaan Salassae di bantu oleh pemerintah daerah serta di dampingi oleh tim penyuluh sangat membantu para petani dalam mendapatkan informasi seputar masalah pertaniannya. Setiap pemahaman yang diberikan kepada para petani akan mempermudah dalam mengelolah hasil pertaniannya.

b. Praktik Lapangan

Komunitas Swabina Pedesaan Salassae di bantu oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba dan Balai Penyuluhan pertanian Kecamatan Bulukumpa melakukan praktik lapangan kepada para petani yang ada di Kecamatan Bulukumpa. Kurangnya tenaga tim penyuluh yang di kerahkan oleh pemerintah daerah membuat anggota dari Komunitas Swabina Pedesaan Salassae membantu tim penyuluh yang memberikan pelatihan.

Sebagaimana dari hasil wawancara penulis lakukan dengan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Bulukumpa, yang menyatakan bahwa:

“...Dengan melakukan praktik lapangan kepada para petani merupakan salah satu cara yang tepat untuk membantu petani dalam meningkatkan hasil pertaniannya. Disini dari tim penyuluh bersama dengan anggota KSPS memberikan contoh tentang cara pembuatan kompos organik, serta cara-cara pengolahan tanah yang baik serta mengenali jenis penyakit atau hama yang menyerang pertaniannya.” (Wawancara Penulis, ND 14 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh Ketua Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, yang menyatakan bahwa:

“...Tim penyuluh bersama dengan anggota KSPS memberikan praktik lapangan berupa contoh-contoh kepada para petani berupa cara pembuatan pupuk kompos alami, agar para petani tidak bergantung terus dengan KSPS yang biasa memberikan langsung kompos alami siap pakai kepada para petani. Dengan adanya pelatihan ini membuat para petani bisa lebih mandiri dalam membuat kompos organik sendiri nantinya.” (Wawancara Penulis, PN 13 Oktober 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya praktik lapangan atau pelatihan yang di lakukan oleh anggota KSPS bersama dengan Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Bulukumpa akan sangat membantu para petani terutama dalam memberi contoh cara membuat pupuk kompos organik serta dapat membuat petani lebih mandiri.

Sedangkan dari hasil wawancara penulis lakukan dengan Pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae terkait indikator praktik lapangan atau pelatihan, yang menyatakan sebagai berikut:

“... Dengan adanya pelatihan yang dilakukan oleh KSPS bersama dari tim penyuluh Kecamatan, akan sangat membantu para petani dalam menggarap pertaniannya, walaupun menurut saya kurangnya tenaga tim penyuluh juga mempengaruhi para petani yang merasa masih kekurangan dalam mendapatkan informasi yang lebih banyak.” (Wawancara Penulis, PN 13 Oktober 2015).

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu petani, yang menyatakan bahwa:

“... Iya sudah ada, tapi kurangnya tim penyuluh yang ada untuk di Kecamatan Bulukumpa membuat kami masih membutuhkan pengetahuan serta contoh-contoh yang lain. Mengingat sudah banyak petani di Kecamatan ini yang beralih bertani secara organik, jadi saya selaku petani di sini juga sangat berharap agar kedepannya tim penyuluh bisa di tambah jumlahnya.” (Wawancara Penulis, UM 08 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh salah satu informan, yang menyatakan bahwa:

“...Iya, memang sudah ada tim penyuluh yang mendampingi kami para petani disini namun masih kurang. Karena perlahan-lahan sudah banyak petani yang beralih ke pertanian organik. Jadi seharusnya tenaga tim penyuluh dari Kecamatan harus di tambah lagi agar informasi seputar pertanian organik bisa kami dapatkan dengan cepat.” (Wawancara Penulis, UD 09 Oktober 2015).

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah mengutus tim penyuluh di Kecamatan Bulukumpa bersama dengan anggota KSPS untuk memberikan pelatihan atau praktik lapangan kepada para petani. Namun para petani masih membutuhkan tambahan tenaga tim penyuluh agar semua para petani dapat dengan mudah mendapatkan informasi tentang usaha taninya.

c. Pengawasan

Pengawasan hasil kegiatan ini dilakukan secara mendalam pada semua tahapan pengelolaan pertanian organik agar prosesnya berjalan sesuai dengan tujuannya. Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bulukumpa bersama Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Bulukumpa serta pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae

melakukan pengawasan terhadap jalannya program pengelolaan pertanian organik yang ada di Kecamatan Bulukumpa.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bulukumba terkait indikator pengawasan, yang menyatakan sebagai berikut:

“...Pengawasan yang dilakukan disini untuk melihat sejauh mana pemahaman para petani dalam memahami setiap teori maupun contoh-contoh yang kami berikan saat melakukan praktik lapangan atau pelatihan. Sehingga demikian hasil pertaniannya dapat meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.” (Wawancara Penulis, HN 15 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh Pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, yang menyatakan bahwa:

“...Pengawasan yang kami lakukan disini di dampingi oleh Dinas Pertanian maupun dari tim penyuluh melihat sejauh mana tingkat keberhasilan para petani dalam menerapkan setiap informasi yang diberikan dalam upaya meningkatkan hasil usaha taninya.” (Wawancara Penulis, AS 10 Oktober 2015).

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Dinas Pertanian bersama tim penyuluh serta pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae melakukan pengawasan kepada para petani untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan para petani dalam menerima setiap informasi yang diberikan dalam upaya meningkatkan hasil usaha taninya.

Sebagaimana hasil wawancara yang penulis lakukan dengan salah satu petani, yang menyatakan bahwa:

“...Iya pemerintah bersama dari pihak KSPS memantau hasil pertanian kami dengan melakukan pengawasan. Setiap masalah yang kami hadapi mudah teratasi dengan baik karena bantuan baik dari tim penyuluh maupun dari KSPS sendiri.” (Wawancara Penulis, SA 08 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh salah satu informan, yang menyatakan bahwa:

“...Iya baik pihak dari pemerintah, tim penyuluh serta dari Komunitas Swabina Pedesaan Salassae sendiri turun langsung memantau serta mengawasi pertanian kami. Mereka melihat sejauh mana tingkat pemahaman para petani dalam menerima informasi baik berupa teori maupun contoh-contoh yang telah di berikan dari tim penyuluh, sehingga hasil pertanian kami dapat meningkat di bandingkan tahun sebelumnya.” (Wawancara Penulis, UM 08 Oktober 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa peran pemerintah, tim penyuluh serta dari Komunitas Swabina Pedesaan Salassae sangat penting dalam melakukan pengawasan, hal ini terlihat dari setiap maslah yang dihadapi petani akan dengan mudah teratasi berkat bantuan dari tim penyuluh serta KSPS sendiri. Dengan melakukan pengawasan pemerintah bisa melihat sejauh mana tingkat keberhasilan para petani dalam menerapkan program pertanian organik sehingga hasil pertanian para petani dapat meningkat.

2. Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator

Peran pemerintah sebagai fasilitator adalah pemerintah yang berusaha menciptakan suasana yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan. Pemerintah daerah dalm hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura harusnya memberikan sarana dan prasarana untuk menunjang program pertanian organik yang ada di Kecamatan Bulukumpa.

Peran pemerintah dalam pengelolaan pertanian organik dengan cara memberikan fasilitas tersebut merupakan langkah dan tindakan yang baik dari pemerintah. Dengan adanya suntikan dana dari pemerintah daerah akan sangat

membantu para petani yang ada di Kecamatan Bulukumpa untuk lebih mudah dalam mengkonversi usaha taninya. Namun sampai pada saat ini belum ada bantuan dana maupun sarana dan prasarana yang diberikan untuk para petani khususnya pertanian organik.

Berikut hasil wawancara yang penulis lakukan dengan Pembina Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, yang menyatakan sebagai berikut:

“...Tidak adanya bantuan berupa dana maupun sarana dan prasarana dari pemerintah daerah menjadi salah satu hal yang harus di perhatikan untuk meningkatkan hasil pertanian organik yang ada di Kecamatan Bulukumpa.” (Wawancara Penulis, AS 10 Oktober 2015).

Hal senada juga di sampaikan oleh Ketua Komunitas Swabina Pedesaan Salassae, yang menyatakan bahwa:

“...Iya, sampai sekarang belum ada bantuan berupa dana yang diberikan oleh pemerintah daerah, padahal kami dari pihak KSPS membutuhkan bantuan dana untuk alat-alat pertanian para petani. Seharusnya pemerintah peka terhadap kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani yang ada di Kabupaten Bulukumba khususnya untuk meningkatkan program pengelolaan pertanian organik, sehingga kedepannya program ini bukan hanya di terapkan di Kecamatan Bulukumpa tetapi juga akan menyeluruh di Kabupaten Bulukumba.” (Wawancara Penulis, PN 13 Oktober 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah sebagai fasilitator berupa memberikan bantuan berupa dana maupun sarana dan prasarana belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari tidak adanya bantuan dana yang di berikan pemerintah daerah kepada para petani yang ada di Komunitas Swabina Pedesaan Salassae khususnya di

bidang pertanian organik. Seharusnya dengan adanya bantuan dana yang di berikan akan mempermudah para petani dalam mengelolah pertaniannya. 3. Peran Pemerintah Sebagai Regulator

Peran pemerintah sebagai regulator yakni peran pemerintah menyiapkan arah untuk menyeimbangkan penyelenggaraan peraturan-peraturan (menerbitkan peraturan-peraturan-peraturan-peraturan dalam rangka efektifitas dan tertib administrasi). Peran pemerintah dalam pengelolaan pertanian organik dituntut untuk menerbitkan dan mengeluarkan peraturan-peraturan yang pro rakyat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi khususnya dalam hal pengembangan pengelolaan pertanian organik yang ada di Kabupaten Bulukumba.

Pemerintah belum mengeluarkan peraturan daerah tentang pengelolaan pertanian organik tetapi baru mengeluarkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang baru disahkan menjadi Peraturan daerah.

Berikut kutipan wawancara dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba terkait indikator tentang peran pemerintah sebagai regulator atau peran pemerintah dalam mengeluarkan atau menerbitkan peraturan-peraturan sebagai berikut:

“...Pemerintah belum mengeluarkan peraturan daerah tentang pengelolaan pertanian organik sampai pada saat ini, pada bulan Desember tahun 2015 kemarin, ada 4 ranperda yang di sahkan oleh

Dokumen terkait