• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Keadaan Demografi

Bagan Struktur Organisasi Kelurahan Kahu

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Kelurahan Kahu a. Jumlah Penduduk

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Kahu tercatat bahwa jumlah penduduk Kelurahan Kahu pada tahun 2015 sebanyak 2.624 jiwa, yang terdiri dari 1.281 jiwa laki – laki dan 1.343 jiwa perempuan, dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 659 KK dari 4 Lingkungan.

Jumlah penduduk menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur di Kelurahan Kahu Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone Tahun 2015

Sumber : Data Kantor Kelurahan Kahu 2015

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan suatu upaya membentuk manusia terampil dan produktif, sehingga pada waktunya dapat mempersepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk menggambarkan tingkat pendidikan masyarakat di Kelurahan Kahu Kecamatan Bontocani dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan Kahu Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone Tahun 2015

NO Tingkat Pendidikan Jumlah Presntase (%)

1 Tidak Tamat SD 811 30,91

Sumber : Data Kantor Kelurahan Kahu 2015

c. Jenis Pekerjaan

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari, jenis pekerjaan di Kelurahan Kahu Kecamatan Bontocani dapat dilihat pada tabel 4.3 yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.3

Jenis Pekerjaan Masyarakat di Kelurahan Kahu Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone Tahun 2015

NO Pekerjaan Jumlah Presentase (%)

1 Petani 785 29,92

2 Buruh Tani 103 3,93

3 Pegawai Negeri 19 0,72

4 Pengrajin 16 0,61

5 Pedagang 26 0,99

6 Peternak 25 0,95

7 Tidak Bekerja 1950 62,88

Jumlah 2.264 100

Sumber : Data Kantor Kelurahan Kahu 2015

d. Kebudayaan Dan Agama

Penduduk Kelurahan Kahu pada umumnya menganut agama Islam. Sarana pribadatan terdiri dari 3 Masjid masing – masing berada disetiap Lingkungan terdapat 1 Masjid. Adat istiadat adalah budaya dan adat istiadat yang berkembang dari suku Bugis.

3. Dinas Kehutanan Kabupaten Bone Visi

“Terwujudnya penyelenggaraan Kehutanan untuk menjamin kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat”.

Misi

Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional mengoptimalkan aneka fungsi hutan dan ekosistem perairan yang meliputi fungsi konservasi lindung dan produksi kayu, non kayu dan jasa lingkungan untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial budaya dan ekonomi yang seimbang dan lestari. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai ( DAS ) dan mendorong peran serta masyarakat. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan memantapkan koordinasi antara pusat dan daerah.

Tabel 4.4

Struktur Organisasi Dinas Kehutanan Kabupaten Bone

NO BIDANG NAMA JABATAN

1

DINAS

KEHUTANAN Ir. ABDUL KADIR, MP KEPALA DINAS

KEHUTAN

2 SEKRETARIAT

MUHAMMAD KILAT, SE SEKRETARIS DINAS

KEHUTANAN

MUHAMMAD SUKRI, S. Sos KABID PRODUKSI SABRI LAHUMU, S. Hut KASI PERDARAN

HASIL HUTAN

BAHARUDDIN KASI BUDAYA

4

BIDANG PEMBINAAN HUTAN DAN LAHAN

SUKRI, SP, M. Si KASI REHABILITASI

HAUDEC HERWAN. B, S. Hut, MP

KASI KEHUTANAN RAKYAT

Drs. M. AKRAM ANAS KASI PEMBINAAN

5.

BIDANG

PENGAMANAN KONSERVASI ALAM

H. BAHARUDDIN, S.Sos KABID PENGAMANAN

KONSERVASI ALAM

TAMSIL, S. Hut, M. Si

KASI PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN

Drs. M. IRWAN MAKMUR KASI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM

AMINUH KASI PEMANTAPAN

KAWASAN Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Bone, 2015

STRATEGI

Faktor internal kekuatan eksistensi dinas kehutanan sebagai penyelenggaraan pengelolaan hutan lestari. Dukungan peraturan perundang – undangan dibidang kehutanan SDM dan pemberdayaan hutan yang tersedia hasil – hasil pembangunan kehutanan yang selama ini telah dilaksanakan dapat dijadikan modal pembangunan selanjutnya. Kelemahan pemanfaatan SDM kehutanan untuk pengelolaan hutan tidak optimal peraturan perundangan bidang kehutanan belum sepenuhnya dapat diterapkan IPTEK belum selaras dengan pengelolaan hutan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan pembangunan kehutanan.

Faktor eksternal peluang komitmen dalam negeri dalam menyelenggarakan kehutanan potensi pemanfaatan sumbu, daya hutan besar, permintaan pasar terhadap hasil sumber daya hutan tinggi ketergantungan terhadap sumber daya hutan tinggi. Ancaman pencurian dan perdagangan sumber daya hutan ilegal masih terjadi penduduk didalam dan disekitar hutan miskin kebutuhan lahan untuk berbagai kepentingan sangat tinggi meningkatnya kebutuhan atas usaha kehutanan. Strategi – strategi ( SO ) penyusunan dan penyempurnaan rencana – rencana kehutanan membangun dan mempertahankan keberadaan kawasan hutan peningkatan pemanfaatan aneka fungsi aneka fungsi hutan strategi ( WO ) perlindungan dan pemanfaatan SDA bersama masyarakat Pembangunan Hutan Rakyat optimalisasi keberadaan kawasan hutan peningkatan profesionalisme SDM Kehutanan Strategi ( ST ) penegakan Hukum dalam perlindungan hutan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan. Strategi ( WT ) sinkronisasi penyelenggaraan kehutanan pusat dan daerah mendorong pengembangan ekonomi didalam dan disekitar hutan.

4. Luas Wilayah Hutan Lindung

Kabupaten Bone belum memiliki peraturan yang mengatur langsung tentang pengelolaan hutan lindung dikarenakan pemerintah daerah belum mengijinkan segala bentuk pemanfaatan hutan lindung kecuali pemanfaatan hasil hutan ikutan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Alasan lain yang muncul karena pemerintah masih takut salah langkah dalam mengambil keputusan sehingga pemerintah beranggapan bahwa hutan lindung yang ada diwilayah Kabupaten Bone khususnya di Kelurahan Kahu lebih baik tidak di apa – apa

terlebih dahulu. Selain itu, penetapan areal luas hutan lindung juga hanya mengacuh pada peraturan daerah nomor 4 tahun 2012 tentang rencana tataruang wilayah Kabupaten Bone.

Kawasan hutan Kabupaten Bone berdasarkan peraturan daerah Kabuparen Bone No. 4 tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bone tahun 2011-2031 adalah 74.945 hektar dapat di bedakan atas kawasan hutan lindung seluas 51,266 hektar, hutan produksi seluas 16.913 hektar, kawasan hutan bakau seluas 343 hektar serta kawasan hutan rakyat seluas 5.923 hektar. Berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Bone No. 4 tahun 2012 tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bone saat ini adalah 51.266 hektar. Ditetapkan disebagian wilayah Kecamatan Bontocani dengan luasan kurang lebih 19.399,05 hektar sebagian wilayah kecamatan Bontocani dengan luasan kurang lebih 1.645,64 hektar, sebagai wilayah Kabupaten Bone dengan luasan kurang lebih 6.961,92 hektar,sebagai wilayah kecamatan Mallusetasi dengan luasan 16.087,27 hektar.sebagian wilayah Kecamatan Soppeng Riaja dengan luasan kurang lebih 1.522,60 hektar, sebagai wilayah kecamatan Tanete Riaja dengan luasan kurang lebih 3.491,21 hektar,dan sebagian wilayah Kecamatan Tanete Rilau dengan luasan kurang lebih 2.158,30 hektar. Dari 19.399,05 hektar luas hutan lindung yang ada di Kecamatan Bontocani, sekitar 7.264 hektar berada di Kelurahan Kahu dan selebihnya tersebar di Kelurahan lain yang ada di Kecamatan Bontocani.

Penutupan vegetasi disetiap wilayah Kabupaten Bone yang memiliki kawasan hutan belum diatur secara spesifik sehingga dalam penetapan tutupan dan vegetasi serta pengelolaan hutan lindung hanya mengacu pada peraturan

daerah sehingga dalam penetapannya dilakukan dalam skala daerah. Wilayah Kabupaten Bone yang masih berpenutupan vegetasi berupa hutan ( berhutan ) adalah seluas 16.377,00 ha yang bukan merupakan hutan ( non hutan ) adalah seluas 100.648,00 ha ( terdapat 1.867,00 ha tertutup awan. Kawasan hutan di Kabupaten bone telah ditata batas 100 % pada tahun 1997/1998 dengan panjang batas luar sebesar 554,12 km. tata batas fungsi hutan lindung / hutan produksi terbatas tahun 2000 dengan panjang tata batas 31,23 km. pola tata guna hutan di kawasan hutan ini selain selain terdiri dari kawasan hutan lindung, dan kawasan hutan produksi terbatas juga terdapat kawasan budidaya, yang terdiri dari sawah dan lahan kering.

B. Bentuk Kemitraan Pemerintah Daerah dengan Masyarakat Terhadap Pengelolaan Hutan Lindung di Kelurahan Kahu Kabupaten Bone

Kemitraan pemerintah daerah dengan masyarakat terhadap pengelolaan hutan lindung di Kelurahan Kahu, kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut Natoatmodjo ( 2003 ), kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu – individu, kelompok – kelompok atau organisasi – organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu.

Selanjutnya secara nasional telah diatur pula dalam pasal 17 ayat ( 1 ) undang – undang 41 tahun 1999 tentang pengelolaan hutan,diperlikan pembentukan wilayah pengelolaan hutan dilaksanakan untuk tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota serta Unit pengelolaan. Pengelolaan hutan pada dasarnya menjadi

kewenangan pemerintah dan atau pemerintah daerah. Mengingat berbagai kekhasan daerah serta kondisi sosial dan lingkungan yang sangat berkait dengan kelestarian hutan dan kepentingan masyarakat luas.

Adapun masing-masing jawaban informan pada setiap indikator dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dokumen terkait