A. Deskripsi Data
3. Keadaan Demografi Masyarakat Desa Babakanmulya
Desa Babakanmulya yang memiliki luas wilayah 292,255 Ha. Terdiri dari 4 Rukun Warga dan 16 Rukun Tetangga. Jumlah keseluruhan penduduk Desa Babakanmulya ialah 3.838 orang, 1.316 Kepala Keluarga.
Dengan perincian pada Tabel 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4. 1 Jumlah Penduduk Desa Babakanmulya
No Jenis Data Jumlah
1 Kepala Keluarga 1.316 KK
2 Laki-Laki 1.904 Orang
3 Perempuan 1.934 Orang
4 Warga Keseluruhan 3.838 Orang
a. Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan yang berada di Desa Babakanmulya belum lengkap karena hanya tersedia hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama saja. Di Desa Babakanmulya ini juga hanya memiliki 1 perpustakaan desa saja. Sehingga dalam sarana pendidikan di Desa Babakanmulya ini masih sangat kurang. Berikut ini merupakan sarana
47
dan prasarana pendidikan yang ada di Desa Babakanmulya yang tertera dalam Tabel 4.2 :
Tabel 4. 2 Sarana dan Prasarana Pendidikan Desa Babakanmulya No Sarana dan Prasarana
Pendidikan
Jumlah
1. Perpustakaan Desa 1
2. Gedung Sekolah TK 1
3. Gedung Sekolah SD 2
4. Gedung Sekolah SMP 1
Tabel 4. 3 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Babakanmulya
No Jenjang Pendidikan Jumlah
1. Tamat D1/Sederajat 17
2. Tamat D3/Sederajat 5
3. Tamat S1/Sederajat 45
4. Tamat S2/Sederajat 10
5. Tamat S3/Sederajat 2
6. Tamat SLB B 1
Dari data tingkat pendidikan yang diperoleh bahwa Desa Babakanmulya banyak yang sudah tamat S1.
48 b. Mata Pecaharian Penduduk
Menurut data monografi, jumlah penduduk Desa Babakanmulya ialah 3.838 orang, dengan jumlah 1.316 Kepala Keluarga. Terdiri dari penduduk laki-laki berjumlah 1.904 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 1.934 jiwa yang berstatus warga Negara Indonesia. Mata pencaharian masyarakat Desa Babakanmulya adalah PNS, TNI/Polri, Swasta, Pedagang, Petani, Buruh Tani, Pensiunan, Peternak, Jasa, Pengrajin. Berikut merupakan tabel sumber penghidupan di Desa Babakanmulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan yang tersaji dalam Tabel 4.4 sebagai berikut :
Tabel 4. 4 Mata Pencaharian Masyarakat Desa Babakanmulya No Jenis Mata Pencaharian Jumlah
1. Petani 450
2. Buruh Tani 560
3. Pegawai Negeri Sipil 55
4. TNI/Polri 11
5. Swasta 59
6. Wiraswasta/Pedagang 57
7. Tukang 45
8. Pensiunan 25
9. Peternak 31
10. Jasa 10
11. Pengrajin 2
49
12. Lainnya 150
13. Tidak Bekerja/Pengangguran 350
c. Agama dan Etnis
Agama yang dianut oleh masyarakat Desa Babakanmulya hanya terdapat dua agama yaitu Islam dan Kristen Katolik. Dari data yang diperoleh bahwa mayoritas penduduk Desa Babakanmulya beragama Islam dengan jumlah 3.833 dan untuk Kristen Katolik hanya 5 orang.
Tersaji dalam Tabel 4.5 sebagai berikut :
Tabel 4. 5 Agama yang dianut Oleh Mayarakat Desa Babakanmulya
No Agama Jumlah
1. Islam 3.833
2. Kristen Katolik 5
Tabel 4. 6 Etnis yang menempati Desa Babakanmulya
No Etnis Laki-Laki Perempuan
1. Sunda 1.903 1.933
2. Madura 1 1
JUMLAH 1904 1934
Terlihat dalam tabel 4.6 di atas bahwa Desa Babakanmulya di dominasi oleh masyarakat Sunda dan hanya ada 2 orang saja
50
masyarakat yang berasal dari Madura yang berada di Desa Babakanmulya.
d. Sarana Ibadah
Desa Babakanmulya ini memiliki sarana ibadah untuk umat islam saja dikarenakan Desa Babakanmulya masyarakatnya mayoritas memeluk agama Islam, dari data yang diperoleh bahwa Desa Babakanmulya hanya memiliki 2 masjid dan 15 mushola. Masjid dan mushola ini biasanya berfungsi sebagai sarana ibadah setiap hari untuk laki-laki maupun perempuan.
e. Sarana Kesehatan
Dalam hal sarana kesehatan Desa Babakanmulya ini tidak memiliki sarana kesehatan yang cukup memadai karena di Desa Babakanmulya hanya memiliki 1 puskesmas saja dengan jumlah penduduk yang begitu banyak.
f. Prasarana Umum
Desa Babakanmulya memiliki berbagai sarana umum seperti tempat olahraga, tempat kesenian/budaya, dan ada banyak sumur di Desa Babakanmulya ini. Karena Desa Babakanmulya ini merupakan Desa yang mempunyai mata air yang berada di Balong Dalem Tirtayatra. Tersaji dalam Tabel 4.7 sebagai berikut :
Tabel 4. 7 Sarana Umum Desa Babakanmulya
No Tempat Jumlah
1. Olahraga 2
2. Kesenian/Budaya 2
3. Sumur Desa 750
51 4. Karakteristik Responden
Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 7 (Tujuh) orang yang merupakan masyarakat Desa Babakanmulya yang mengetahui mengenai Tradisi Upacara Adat Kawin Cai. 6 responden dari pihak panitia yang menyelenggarakan Tradisi Upacara Adat Kawin Cai dan 1 responden dari pihak masyarakat yang mengikuti Tradisi Upacara Adat Kawin Cai.
Berikut karakteristik responden yang diteliti :
Tabel 4. 8 Responden yang terlibat dalam tradisi upacara adat Kawin Cai
Nama Usia Status
Sahudin 53 Tahun Ketua Adat Desa Babakanmulya (Sebagai Sekertaris 1 dalam panitia penyelenggaraan Tradisi Upacara Adat Kawin Cai)
Jaja 56 Tahun Kuncen (Sebagai Ketua dalam panitian penyelenggaraan Tradisi Upacara Adat Kawin Cai)
Madna 68 Tahun Sesepuh
Suhada 60 Tahun Kuncen (Sebagai Penjaga Sumur 7 di Desa Manis Kidul)
Sardim 55 Tahun Pemuka Agama
Oyo Sunaryo 49 Tahun Buruh Tani( masyarakat setempat) Eyang Suhada 60 Tahun Kuncen Desa Manis Kidul
52 B. Hasil Interpretasi Data
Dalam penyusunan skripsi ini pengumpulan datanya menggunakan observasi dan diperkuat oleh hasil wawancara, yaitu untuk memperoleh data dan informasi mengenai makna tradisi upacara adat kawin cai di Desa Babakanmulya Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan. Selain wawancara dan observasi penulis juga menggunakan dokumentasi.
Observasi dilakukan kepada tokoh masyarakat dan masyarakat di Desa Babakanmulya untuk mengetahui tatacara pelaksanaan tradisi upacara adat kawin cai dan juga mengetahui makna dari tradisi upacara adat kawin cai.
Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak yang dapat memperkuat hasil observasi antara lain : Ketua Adat, Kuncen, Pemuka Agama, dan Sesepuh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tatacara serta makna dari tradisi upacara adat kawin cai dan 2 orang masyarakat Desa Babakanmulya dengan mengajukan pertanyaan mengenai partisipasi dan pengetahuan masyarakat tentang tradisi upacara adat kawin cai. Adapun dokumentasi dilakukan ketika penulis tidak mendapatkan data melalui wawancara dan observasi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data melalui data-data yang lebih akurat.
Teknik pengolahan data yang digunakan adalah dengan menganalisa data yang diperoleh dari hasil wawancara yang telah dibuatkan transkrip, kemudian akan direduksi oleh peneliti setelah itu dilakukan reduksi data maka peneliti akan menyajikan data atau menyimpulkan data. Data akan disajikan dengan membuat point-point berdasarkan pertanyaan wawancara. Kemudian peneliti membuat kesimpulan secara deskriptif peneliti akan menyimpulkan juga apakah penelitian ini dapat menjawab rumusan masalah atau tidak.
Sesuai dengan hasil observasi bahwa tatacara pelaksanaan dan makna tradisi upacara adat kawin cai. Berikut data yang diperoleh dari wawancara yang dianalisa dan di interpretasikan untuk memperkuat hasil observasi sebagai berikut :
53
1. Sejarah Tradisi Upacara Adat Kawin Cai di Desa Babakanmulya Tradisi dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan yang sudah ada sejak lama dalam masyarakat yang merupakan warisan dari masa lalunya.
Sehingga sebuah tradisi pasti memiliki sejarah. Kaitannya dengan sejarah upacara adat kawin cai yang masih dilaksanakan di Desa Babakanmulya, Bapak Jaja Abdurahman sebagai kuncen di Desa Babakanmulya menuturkan bahwa :
“Sejarah kawin cai yang Saya tau itu ya sejak ada Saya disini ya awal awalnya si bukan kawin cai tapi mapag cai itu, jadi tradisi itu adalah suatu adat istiadat masyarakat disini yang udah kebiasaan ratusan tahun secara turun temurun dari jaman dulunya juga sampai sekarang.
Dulu masyarakat desa tidak begitu paham yang namanya menulis atau mengenal sejarah gitu yah, jadi hanya cerita-cerita orangtua saja gitu yang sampai ke generasi saya hanya cerita-cerita hanya saja. Ceritanya hanya menceritakan jadi di Balong Dalem itu disetiap tanggal malam Jumat Kliwon di bulan Oktober itu ada istilahnya upacara adat yang dulunya dinamakan mapag cai terus kalau gak salah pada tahun 2000 an diganti namanya kawin cai itu atas inisiatif Kepala Dinas Kebudayaan dalam rangka tujuannya satu untuk meningkatkan pariwisata di Kuningan dengan nama yang aneh itu bisa meningkatkan adat kebudayaan yang aneh disini sehingga pariwisata atau para peneliti-peneliti akan datang dengan tujuan pertama pariwisata atau seperti kayak ginilah istilahnya dengan kayak gitu akan menaikkan pendapatan masyarakat.”5
Bapak Sardim sebagai Pemuka Agama juga mengungkapkan mengenai sejarah tradisi upacara adat kawin cai :
5 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
54
“Mulai dari tahun 2000 itu dilaksanakan ada upacara adat kawin cai sebelumnya itu tidak ada kalaupun ada namanya mapag cai jadi syukurannya itu mapag cai dimulai dari tahun 2000 sampai sekarang itu disahkan oleh Bupati dari Dinas DISPABUD itu adalah harus diangkat budaya nya. Ya walaupun sampai sekarang udah 3 tahun tidak dilaksanakan lagi dengan budaya nya tapi syukurannya tetap dilaksanakan.”6
Begitu juga dengan yang dituturkan oleh Bapak Sahudin bahwa sejarah tradisi upacara adat Kawin Cai :
“ Pelaksanaan adat Kawin Cai kan dulunya bukan upacara adat Kawin Cai tapi dulunya namanya mapag cai dan itu sudah Saya sampaikan kegiatan ini sudah dilaksanakan setiap tahun secara turun-temurun dari para Sesepuh kami dan tertua kami, dilaksanakannya itu sejak jaman dahulu sekali pada jaman kerajaan-kerajaan jadi sudah lama sekali dan umpamanya pada tahun berapa-berapanya kami kurang mengetahuinya, yang jelas pada saat berdirinya kerajaan jadinya Negara Kesatuan Republik ini. Kita masuknya kedalam kerajaan ke Cirebonan yah disana masuknya ke Kesepuhan dan Keraton Kanoman.
Waktu upacara adat Kawin Cai dilaksanakan sekitar tahun 2000 an.
Pada saat itu kebetulan untuk mendongkrak kepariwisataan di Kabupaten Kuningan, khususnya objek wisata di Balong Dalem kami.
Para tertua dan sesepuh upacara Kawin Cai bekerjasama dengan Dinas Kepariwisataan Kabupaten Kuningan, jadi dikemas Neng yang tadinya acara mapag cai jadi upacara adat Kawin Cai.”7
Bapak Madna juga mengungkapkan sejarah adanya upacara adat Kawin Cai ini :
6 Wawancara dengan Bapak Sardim, tanggal 12 Desember 2020
7 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
55
“Ayana Kawin Cai Saemut ti taun 2000 an, mung ari kapungkurmah sareng ayeunamah banten kapungkurmah sanes upacara adat Kawin Cai janten upami namina mapag cai.”8
Eyang Suhada selaku Kuncen dari Desa Maniskidul juga mengungkapkan sejarah dari adanya tradisi upacara adat Kawin Cai ini :
“Disini di Keraton Manis ini punya anak namanya Bujangan. Jaman mengawinkan anak Raja gitu. Jadi disitulah sejarahnya Kawin Cai.
Kalau di Desa Manis Kidul di setiap malam Jum‟at Kliwon dari dulu sampai sekarang ini ada sesajen dan ada doa. Singkat cerita mah supaya airnya tetap subur tetap menyelamatkan manusia kan gitu.”9 Dari arsip dokumentasi yang didapat dari Desa Babakanmulya bahwa sejarah tradisi upacara adat kawin cai diceritakan bahwa ada seorang petapa di Talaga Tirta Yatra (Balong Dalem) yang bernama Begawan Resi Makandria yang berasal dari Cibulan (Desa Manis Kidul) yang disebut juga Sang Kebo Wulan atau Sang Tari Wulan. Pada waktu itu Resi Makandria bertapa di Talaga Tirta Yatra Balong Dalem, terdapat sepasang burung bernama si Naragati dan Si Uwur-Uwur yang bersarang ditempat tersebut. Sepasang burung tersebut memiliki anak yang dimakan oleh si jantan. Melihat anaknya dimakan si betina marah “Hina kita bila tidak mempunyai anak, lihatlah Begawan Resi Makandria. Ia bertapa karena
8 Wawancara dengan Bapak Madna, tanggal 12 Desember 2020
9 Wawancara dengan Eyang Suhada, tanggal 12 Desember 2020
56
merasa hina dirinya tidak memiliki keturunan.” Kata si betina pada burung jantan.
Merasa malu, Begawan Resi Makandria pergi menghadap Sang Resi Guru Manikmaya di Kendan, apa yang dikatakan burung betina diceritakan semuanya pada Resi Manikmaya dan Resi Makandria meminta calon istri pada Resi Manikmaya agar ia memiliki keturunan. Begawan Resi Makandria disuruh kembali ke pertapaannya dan Sang Resi Guru berjanji akan memberikan calon istri, yaitu Putrinya sendiri yang bernama Pwah Aksari Jabung. Atas perintah Sang Resi Guru Manikmaya, Pwah Aksari Jabung pergi menemui Begawan Resi Makandria, namun karena Pwah Aksari Jabung cantik bagaikan bidadari, Begawan Resi Makandria tidak mau menerima sebagai calon istrinya. Sebagai jalan keluarnya Pwah Aksari Jabung menjelma sebagai seekor Kidang (Kijang) betina dan Resi Makandria menjelma menjadi seekor Kerbau Bule. Pada waktu kejar-kejaran Kidang (Kijang) betina meloncat diatas batu kawin yang sampai sekarang ada bekas kakinya kemudian mereka bersenggama.
Dengan kepandaian dan keluhuran ilmunya Sang Resi Guru Manikmaya mengetahui segala permasalahan yang dialami oleh Putri dan Menantunya, maka Sang Resi Guru Manikmaya mengutus adiknya Pwah Aksara Jabung yaitu Pwah Sanghiang Sri untuk menemui kakaknya dan menitis menjadi bayi dalam kandungan (Rahim) Pwah Aksari Jabung.
Kemudian lahirlah seorang bayi yang diberi nama Bungkak Mangalengale. Setelah dewasa Pwah Bungatak Mangalengale dipersunting oleh Sang Wreti Kandayun yang mendirikan Kerajaan Galuh (cerita ini diambil dari cerita parahyangan).
Masyarakat melaksanakan upacara adat kawin cai ini merupakan peringatan atas peristiwa diatas, dimana peristiwa tersebut terjadi di Telaga Tirta Yatra Balong Dalem, yang merupakan sumber mata air yang
57
airnya mengalir dan mengairi lahan pertanian masyarakat Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, dan sekitarnya desa tetangga.
Desa Babakanmulya hingga saat ini masih melakukan tradisi upacara adat kawin cai, Bapak Sahudin sebagai Ketua Adat Desa Babakanmulya mengungkapkan :
“Masih, karena kegiatan upacara adat kawin cai kegiatan yang dilaksanakan oleh Masyarakat Kabupaten Kuningan pada umumnya Desa Babakanmulya dan sekitarnya yang dilaksanakan secara turun temurun Neng.”10
Alasan masih dilaksanakan tradisi upacara adat kawin cai di Desa Babakanmulya, menurut Bapak Sahudin mengungkapkan :
“Karena upacara adat kawin cai merupakan warisan budaya leluhur Para Tertua kami dan keberadaan upacara adat kawin cai memang masih dibutuhkan oleh masyarakat. Manfaat yang pertama melaksanakan tradisi dan budaya yang kedua untuk meningkatkan kepariwisataan di Kabupaten Kuningan umumnya dan di Kecamatan Jalaksana.”11
Upacara adat kawin cai ini merupakan suatu tradisi yang sudah lama dilaksanakan oleh masyarakat Desa Babakanmulya, Bapak Sardim sebagai Pemuka Agama mengungkapkan :
“Kalau mapag cai mah ya dari dulu ya dari nenek moyang, dari tahun 2000 yang dibudayakan sebelumnya mah dari 10 sampai 20 tahun kebelakang itu sudah dilaksanakan upacara nya ya agak sedikit berbeda. Kalau dulu mah ya pemotongan kambing atau ayam itu kan kepalanya di kubur atau dilempar itu kan yang diajarkan Hindu-Budha. Tetapi dirubah ya karena itu mubazir. Padahal mah bisa
10 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
11 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
58
dimanfaatkan oleh manusia ya dimasak dan dimakan oleh masyarakat.”12
Bapak Sahudin sebagai Ketua Adat juga mengungkapkan bahwa :
“Pelaksanaan adat kawin cai kan dulunya namanya bukan upacara adat kawin cai dulunya namanya mapag cai dan itu sudah Saya sampaikan kegiatan ini sudah dilaksanakan setiap tahun secara turun temurun dari para sesepuh kami dan ketua kami dan dilaksanakannya itu sejak jaman dahulu sekali pada jaman kerajaan-kerajaan jadi sudah lama sekali dan umpamanya pada tahun berapa-berapanya kami kurang mengetahuinya yang jelas pada saat berdirinya Kerajaan jadinya Negara Kesatuan Republik ini. Kita masuknya kedalam Kerajaan Kecirebonan yah disana masuknya ke Kesepuhan dan Keraton Kanoman.” 13
Setiap tradisi yang ada di Masyarakat pasti ada tokoh yang pertamakali mengajarkan tradisi tersebut. Karena tradisi itu merupakan suatu kebiasaan yang telah terjadi secara turun-temurun oleh masyarakat.
Bapak Sahudin mengungkapkan bahwa tokoh yang pertamakali menerapkan tradisi upacara adat Kawin Cai ini :
“Saya salah satunya yang menjadi pelaku dalam upacara adat Kawin Cai. Yang lainnya itu termasuk yang akan di wawancarai masuk kedalamnya seperti Pak Haji Madna, Pak Jaja Abdurahman termasuk Pak Kesra di dalamnya. Cuma Saya kebetulan kan dulu Saya di Desa sebagai wakil kepala Kuwu Balong jadi Pak Sekdes dulu Almarhum Pak Emansari dia sebagai Ketua Kuwu Balong dan Saya sebagai Wakilnya kan itu ada SK nya dari Keraton Kasepuhan.”14
12 Wawancara dengan Bapak Sardim, tanggal 12 Desember 2020
13 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
14 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
59
Berbeda dengan Bapak Jaja Abdurahman yang mengungkapkan bahwa Tokoh yang pertamakali menerapkan tradisi upacara adat Kawin Cai :
“Kalau yang Saya tau digenerasi Say amah pertamakan Desa pemekaran, dulunya Desa Jalaksana oleh para Sesepuh di Jalaksana ya waktu pemekaran kan otomatis yang pertamakali sekali menjabat disini pasti melaksanakan kegiatan ini.”15
Bapak Sardim juga mengungkapkan bahwa tokoh yang pertamakali menerapkan tradisi upacara adat Kawin Cai :
“Orang-orang yang dulu sudah meninggal yaitu Bapak Emansari, Bapak Jasma, Bapak Sasuteju ya banyak si diantara Desa Jalaksana dan ditempati Desa Babakanmulya.”16
Dari pemaparan di atas bahwa tradisi upacara adat Kawin Cai ini dulunya dikenal dengan istilah Mapag Cai. Kemudian pada tahun 2000 an diganti namanya menjadi Kawin Cai. Pergantian nama dari Mapag Cai menjadi Kawin Cai ini atas inisiatif dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Kuningan yang bertujuan untuk meningkatkan pariwisata yang ada di Kuningan. Dengan digantinya nama menjadi Kawin Cai dimana namanya sangat aneh dan unik yang jarang didengar oleh seluruh Masyarakat terutama di Indonesia bisa meningkatkan adat dan kebudayaan yang ada di Desa Babakanmulya. Sehingga banyak para wisatawan dan para peneliti datang yang penasaran ingin melihat bagaimana tradisi upacara adat Kawin Cai ini. Dengan banyaknya wisatawan dan para peneliti yang datang diharapkan dapat menaikkan pendapatan.
15 Wawancara dengan Bapak Jaja Abdurahman, tanggal 12 Desember 2020
16 Wawancara dengan Bapak Sardim, tanggal 12 Desember 2020.
60
2. Prosesi Pelaksanaan Tradisi Upacara Adat Kawin Cai
Tatacara pelaksanaan upacara adat Kawin Cai yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Babakanmulya seperti yang diungkapkan oleh Bapak Sahudin :
“Jadi upacara adat Kawin Cai intinya itu adalah mencampurkan mata air yang ada di Balong Dalem Tirtayatra dengan mata air yang ada di Cikembulan Desa Manis Kidul. Pelaksanaannya setahun sekali setiap bulan Oktober Kamis malam Jum‟at Kliwon. Pertama-tama kita mengambil air dari mata air Balong Dalem Tirtayatra dibawa ke Cibulan Desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana. Nanti disana dicampurkan mata air Balong Dalem Tirtayatra kemudian dimasukkan ke mata air Cikembulan nanti kita ngambil dari sana kemudian dicampurkan di Balong Dalem Tirtayatra.”17
Bapak Jaja juga mengungkapkan lebih jelas mengenai tahapan-tahapan dalam pelaksanaan upacara adat Kawin Cai :
“Kalau awal-awalnya si pelaksanaan Kawin Cai itu malam Jum‟at Kliwon yah pada hari Kamis pagi jam 7 kita mulai acaranya dengan pemotongan dua ekor Kambing bertempat disitus di Karangmangu setelah pemotongan Kambing, kalau dulu mah diolahnya dibuatnya disitu dimasak oleh masyarakat ya sekarang mah barangakali repot yang digelontorkan ya sekarang dimasak di masyarakat sini.
Kemudian sekitar jam 12 an itu sesepuh disini tuh wawar tuh para Sesepuh tuh udah ada yang kumpul di Balong Dalem nanti berangkat ke Cibulan ngambil air Cibulan nanti balik lagi kesini nah udah balik lagi kesini lalu mencampurkan ke mata air Balong Dalem nah gitu.
Untuk bacaan-bacaannya tergantung keyakinan masing-masing atau dulu mah kan animism mereka memakai misalnya pake bahasa
17 Wawancara dengan Bapak Sahudin, tanggal 12 Desember 2020
61
kitamah Jangjewokan karena sekarang sudah masuk Islam jadi pakai sesepuh juga pake agama Islam. Hal-hal yang harus disiapkan pertamakali itu biasalah kita mengikuti karuhun, sesajen itu ya berupa kembang setaman, ada sate kambing, ada ikan papendek, ya semacam itulah ya Saya lupa pokoknya mah ini sesajen. Yang kedua ya Kami itu dari dulu mah gak absen setiap ada acara itu pasti motong kambing.
Terus ada benda-benda yang sudah menjadi tradisi yaitu kris, totohok, semacam bakul nasi yang gede, kendi, kembang terus gayung nah itu yang harus dipersiapkan. Pokoknya mah banyak penjabarannya. Terus kalau kita mapag cai ke Cibulan pakai 9 ekor kuda kalau dulu mah pakai kuda 9 ekor tapi ya sekarang mah udah modern jadi sekarang mah pakai ya sekarang mah pakai apa adanya lah. Entah itu pakai motor atau pakai mobil ya kalau waktu dulu mah pakai kuda kesananya.”18
Bapak Sardim juga menjelaskan tahapan-tahapan dalam tradisi upacara adat Kawin Cai :
“Tatacaranya yang dilaksanakan disediaan peralatan ya apapun itu, perlu persyaratan yang diperlukan seperti kendi, kris, terus kursi, alat transportasi untuk ke Cibulan delman atau dokar ataupun apa tuh kalau bahasa Indonesia ya dokar pokoknya lah andong kalau bahasa indonesianya soalnya di setiap daerah beda-beda untuk penyambutan mapag cai ke Cibulan terus selain itu kalau dibudayakan secara besar-besaran itu para dayang seni puhun tidak menggunakan drumband dan lain sebagainya tetapi seni-seni budaya yang tradisional gitu itu biasanya disemarakan itu kan membutuhkan biaya yang besar bahkan kami hampir 31 sampai 37 juta bahkan paling sedikit 18 juta. itu habis dalam waktu dua hari jadi kalau sekarang mah mengingat atau
18 Wawancara dengan Bapak Jaja Abdurahman, tanggal 12 Desember 2020
62
menimbang situasi yang ekonomis yang semakin sulit untuk mendapatkan biaya jadi itu dikurangi baik delman dan lainnya itupun dikurangi sehingga bisa seirit mungkin. Jadi tiga tahun sekaramg ini yang dilaksanakan hanya syukurannya saja. Awal mulanya yaitu penyembelihan hewan Kambing itu dimasak oleh ibu-ibu kader dan di
menimbang situasi yang ekonomis yang semakin sulit untuk mendapatkan biaya jadi itu dikurangi baik delman dan lainnya itupun dikurangi sehingga bisa seirit mungkin. Jadi tiga tahun sekaramg ini yang dilaksanakan hanya syukurannya saja. Awal mulanya yaitu penyembelihan hewan Kambing itu dimasak oleh ibu-ibu kader dan di