BAB III METODE PENELITIAN
B. Keadaan Geografis Propinsi Sulawesi Selatan
Propinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar terletak antara 0012’-80 Lintang Selatan dan 1160 48’ – 1220 36’ Bujur Timur, yang berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Barat di Sebelah Utara dan Teluk Bone serta Propinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Timur. Batas sebelah Barat dan Timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores.
43
Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar 67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang dan, Pinrang. Panjang sungai tersebut masing-masing 150 km.
Di Sulawesi Selatan terdapat empat danau yaitu Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta danau Matana dan Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu Timur. Adapun jumlah gunung tercatat sebanyak 7 gunung, dengan gunung tertinggi adalah Gunung Rantemario dengan ketinggian 3.470 m diatas permukaan air Laut. Gunung ini berdiri tegak di perbatasan Kabupaten Enrekang dan Luwu.
Luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan tercatat 46.083,94 km persegi yang meliputi 21 Kabupaten dan 3 Kota. Kabupaten luwu utara Kabupaten terluas dengan luas 7.365,51 km persegi atau luas Kabupaten tersebutmerupakan 15,98 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan
Pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah digambarkan oleh persentase perubahan PDRB atas dasar harga konstan dari tahun ke tahun. Jika perubahannya positif, maka terjadi pertumbuhan dan jika perubahannya negatif, maka terjadi penurunan (kontraksi) dari dari tahun sebelumnya.
Dengan menggunakan PDRB atas dasar harga konstan maka pengaruh perubahan harga dapat dieliminasi, sehingga perubahan besaran PDRB benar-benar merupakan pertumbuhan ekonomi yang riil, tidak terpengaruh oleh faktor inflasi. Pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun regional, sama-sama dihitung dengan menggunakan PDB/PDRB harga konstan dengan tahun 2000 sebagai tahun dasar sehingga nilai pertumbuhan ekonomi lebih mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dibandingkan dengan sekedar cermin peningkatan PDRB atas dasar harga berlaku. Gambaran mengenai pertumbuhan eknomi di Sulawesi Selatan dapat dilihat pada tabel 4.1.
46
Tabel 4.1
Data pertumbuhan ekonomi di Sulawesi selatan Tahun
Sumber : Data BPS(Badan Pusat Statistik) Sulawesi Selatan
Berdasarkan pada table 4.1 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada 2013, memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, yaitu sebesar 7,65 walaupun sedikit melambat dari tahun sebelumnya. Cara untuk menghitung pertumbuhan ekonomi dengan rumus sebagai berikut:
PDB = PDBt – PDBt-1
PDBt-1
Dimana :
PDBt = Nilai PDB tahun t
PDBt-1= nilai PDB tahun sebelumnya
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 :
PDB tahun 2010 =PDB tahun 2010 – PDB tahun 2009 PDB tahun 2009
= 8,19%
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011:
PDB tahun 2011 = PDB tahun 2011 – PDB tahun 2010 PDB tahun 2010
= 55.093.74 – 51.199.90 51.199.90
= 7,61%
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 :
PDB tahun 2012 = PDB tahun 2012 – PDB tahun 2011 PDB tahun 2011
=59.718.50 – 55.093.74
55.093.74
= 8.39%
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 :
PDB tahun 2013 = PDB tahun 2013 – PDB tahun 2012 PDB tahun 2012
= 64.284.43 – 59.718.50 59.718.50
= 7,65%
Dalam jangka waktu lima tahun terakhir ini, perekonomian Sulawesi Selatan relative stabil dengan perkembangan yang berfluktuasi setiap tahunnya, dan memiliki rata-rata pertumbuhan sebesar 7,61 persen pertahun. Setelah krisis ekonomi pada tahun 1998, kinerja ekonomi Sulawesi Selatan terus mengalami perbaikan sejak tahun 2001. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang semakin meningkat, hingga pada tahun 2009 tumbuh mencapai 6,23 persen, kemudian tumbuh menjadi 8,19 persen pada tahun 2010.
x 100%
Pada tahun 2011 tumbuh melambat 7,61 persen dan di tahun 2012 perekonomian Sulawesi Selatan tumbuh meningkat cukup besar 8,39 persen atau tertinggi dalam lima tahun terakhir dan tumbuh melambat kembali pada tahun 2013 menjadi 7,65 persen.
Selama periode 2009-2013, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan relative selalu lebih tinggi bila dibandingkan dengan perekonomian nasional. Pada tahun 2009 misalnya, ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh cukup baik yakni sekitar 6,23 persen sedangkan pada level nasional hanya tumbuh sekitar 4,63 persen, dan pada tahun 2013 pertumbuhan Sulawesi Selatan meningkat lagi menjadi 7,65 persen sedangkan level nasional hanya tumbuh 5,78 persen. Selain pertumbuhan ekonomi yang lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi nasional, perkembangan nilai PDRB juga lebih baik jika dibandingkan dengan nasional. Pada tahun 2009, perkembangan nilai PDRB Sulawesi Selatan mencapai 17,40 persen sedangkan nasional hanya sebesar 13,29 persen. Begitupun yang tertinggi pada tahun 2013, perkembangan PDRB Sulawesi Selatan sebesar 15,59 persen sedangkan nasional hanya mencapai 10,38 persen.
2. Perkembangan Kredit Perbankan di Sulawesi Selatan.
Pertumbuhan perbankan Sulawesi selatan dari tahun 2009 sampai 2013, tidak terlalu signifikan, dan sifatnya hamper statis ( tetap ) saja. Perkembangan perkreditan perbankan semakin meningkat dari tahun ke tahun, seperti table berikut ini.
Tabel 4.2
Data Kredit Perbankan Se Sulawesi Selatan Tahun Kredit Perbankan
(Juta RP)
Lan
2009 35.773.636 7.55
2010 40.508.032 7.60
2011 56.139.272 7.74
2012 70.714.333 7.84
2013 81.443.125 7.91
Rata-rata Peningkatan 7.73
Sumber: Data Laporan Keuangan Daerah Sulawesi Selatan Bank Indonesia Berdasarkan pada tabel 4.2. memperlihatkan data kredit perbankan Sulawesi selatan selama periode 2009-2013mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 jumlah kredit perbankan sebesar Rp 35.773.636 dan meningkat pada tahun 2010 mencapai Rp 40.508.032. Pada tahun 2011 jumlah kredit perbankan sebesar Rp 56.139.272, kemudian meningkat lagi pada tahun 2012 sebesar Rp 70.714.333.
Demikian juga pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar Rp 81.443.125.
Rata-rata peningkatan yang dimiliki kredit perbankan di Sulawesi selatan selama periode 2009-2013 sebesar 7.73 %.
Tabel 4.3
Data Kredit Perbankan dalam Bentuk Modal Kerja Tahun Modal Kerja (Rp) Lan
2009 6.373.965 6.80
2010 8.300.667 6.91
2011 11.012.898 7.04
2012 28.351.097 7.45
2013 29.347.802 7.46
Rata-rata Peningkatan 7.14
Sumber: Data Laporan Keuangan Daerah Sulawesi Selatan Bank Indonesia Melihat tabel diatas menunjukkan perbankan mengeluarkan modal kerja dari tahun ketahun terjadi peningkatan sebesar 7.14 %. Ini menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan ekonomi masyarakat Sulawesi selatan yang cukup baik.
Tabel: 4.4
Data Kredit Perbankan dalam Bentuk Investasi
Tahun Investasi (Rp) Lan
2009 15.139.229 7.18
2010 16.804.129 7.22
2011 24.047.177 7.38
2012 11.933.608 7.07
2013 17.111.757 7.23
Rata-rata Peningkatan 7.22
Sumber: Data Laporan Keuangan Daerah Sulawesi Selatan Bank Indonesia
Melihat tabel diatas menunjukkan terjadi pertumbuhan investasi ekonomi di Sulawesi selatan. Ini memberikan pengertian bahwa salah satu faktor pendukung, baik dalam bentuk penanaman modal dalam negeri ( PMDN ) maupun penanaman modal asing ( PMA ).
Tabel: 4.5
Data Kredit Perbankan dalam Bentuk Konsumsi
Tahun Konsumsi (Rp) Lan
2009 21.972.487 7.34
2010 22.139.187 7.35
2011 32.044.969 7.50
2012 30.429.628 7.48
2013 34.983.565 7.54
Rata-rata Peningkatan 7.45
Sumber: Data Laporan Keuangan Daerah Sulawesi Selatan Bank Indonesia Melihat tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat Sulawesi selatan dari tahun 2009 sampai 2013, mengalami peningkatan yang cukup besar rata-rata 7.45 %. Konsumsi masyarakat untuk setiapkebutuhan hidupnya, merupakan hal yang sangat penting.
3. Perkembangan Investasi Di Sulawesi Selatan
Sumber : Data BPS(Badan Pusat Statistik) Sulawesi Selatan
Data table 4.6 tersebut menyatakan bahwa data pemasukan investasi yang dilakukan dalam sektor PMA dan PMDN yang membantu salah satu yang mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan pada periode 2009-2013. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang di iringi dengan adanya penyusutan investasi pada tahun 2013 yang menunjukkan tingkat investasi di Sulawesi Selatan menurun.
Tabel 4.7
Sumber: Data BPS (Badan Pusat Statistik ) di Sulawesi Selatan
Data tabel 5.2 menunjukkan nilai tukar uang dalam negeri mengalami penurunan dan peningkatan yang bisa berpengaruh dalam nilai tukar dalam sektor PMA yang akan memberikan nilai tingkat investasi dalam nilai tukar uang yang besar kecilnya sesuai dengan nilai tukar uang pada tahun tersebut. Nilai tukar uang pada tahun 2013 merupakan tingkat tertinggi dari tahun 2009-2013.
Tabel 4.8
Data investasi dari hasil perubahan nilai mata uang dollar ke rupiah Tahun PMA ($) Nilai Tukar
(Rp) PMA (Rp) Lan
2009 109.172.533 9.400 1.026.221.810.200 12,01
2010 25.251.000 8.991 227.031.741.000 11,35
2011 89.559.254 8.991 805.227.252.714 11,90
2012 582.579.410 9.400 5.476.246.454.000 12,73
2013 462.776 10.800 4.997.980.800 9,69
Sumber: Data BPS (Badan Pusat Statistik ) di Sulawesi Selatan
Data tabel ini menunjukkan nilai PMA yang telah mengalami nilai tukar uang dalam bentuk rupiah dalam sektor investasi yang di logaritmakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat investasi yang terdapat pada sektor PMA yang berperan pada pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. Tingkat nilai tetinggi pada PMA berada pada 29.33 yang menunjukkan PMA berada pada puncak investasi dari periode 2012 yang membantu proses tenaga investasi di Sulawesi Selatan.
Table 4.9
Data Investasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri)
Tahun PMDN (RP) Lan
2009 4.506.424.727 9,65
2010 3.878.822.321 9,59
2011 3.986.302.703 9,60
2012 2.318.863.400 9,36
2013 921.017 5,96
Sumber : Data BPS Propinsi Sulawesi selatan, Diolah Dari Berbagai Tahun
Berdasarkan data pada table 5.4 sektor PMDN mengalami naik turun yang di iringi dari nilai tukar yang berganti dalam periode per tahun.
Table 4.10
Jumlah data investasi PMDN dan PMA di Sulawesi Selatan
Tahun PMDN PMA Jumlah
2009 9,65 12,01 21,66
2010 9,59 11,35 20,94
2011 9,60 11,90 21,50
2012 9,36 12,73 22,09
2013 5,96 9,69 15,65
Rata-rata 8,83 11,53 20,36
Sumber: Data BPS ( Badan Pusat Statistik ) di Sulawesi Selatan
B. Pembahasan 1. Analisis Regresi
Table. 4.11
Rangkuman Hasil Analisis Variabel
Variabel Koefisien Sig Beta Colinearity statistics
Tolerance VIF
X1 0,315 0,020 0,895 0,659 1,158
X2 0,003 0,363 0,149 0,659 1,158
Konstanta = 4,371 F(sig) = 0,021
R = 0,989 , R Square = 0,979 Durbin Waston = 2,591
F tabel = 19,00 , T tabel = 4,302 Sumber : Hasil Olahan SPSS 16.0
Berdasarkan pada tabel 4.11 hasil rangkuman analisis, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 4,371 + 0,315X1 + 0,003X2 Persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Konstanta sebesar 4,371 artinya jika kredit perbankan dan investasi nilainya berada pada titik 0, maka nilai pertumbuhan ekonomi akan berada pada level 4,371.
b) Koefisien regresi variabel kredit perbankan (X1) yaitu sebesar 0,315 artinya bahwa setiap peningkatan jumlah kredit perbankan sebesar satu persen, maka akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan meningkat sebesar 0,315 persen , ceteris paribus.
c) Koefisien regresi variabel investasi (X2) yaitu sebesar 0,003 artinya bahwa setiap peningkatan investasi sebesar satu persen, maka akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan meningkat sebesar 0,003 persen , ceteris paribus.
2. Koefisien Determinasi
Besarnya nilai R square (R2) adalah 0.979 diperoleh dari tabel model summary, angka tersebut mempunyai makna bahwa besarnya pengaruh variabel independent yaitu kredit perbankan dan investasi terhadap variabel dependent yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 97,9%. Sedangkan sisanya sebesar 2,1%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independent yaitu kredit perbankan dan investasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent yaitu pertumbuhan ekonomi. Untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel bebas atau tidak, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tingkat signifikan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
α
= 5%.Signifikan 5% atau 0,05 merupakan ukuran standar yang sering digunakan dalam penelitian. Berdasarkan tabel anova F-hitung diperoleh sebesar 45,719. F-tabel dapat ditentukan dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95%,
α
= 5%, df 1 (jumlah variabel 2) = 2 dan df 2 (n-k-1) atau 5-2-1 = 2(n adalah jumlah kasus, dan k adalah jumlah variabel independent), hasil F-tabel dapat dihitung pada Ms Excel dengan cara ketik =finv(0,05;2;2) pada cell kosong lalu enter. Hasil F-tabel yang diperoleh adalah sebesar 19,00.
Nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel masing-masing dengan nilai sebesar 45,719>19,00 artinya secara simultan ada pengaruh signifikan antara kredit perbankan dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan .
4. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji t)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independent yaitu kredit perbankan dan investasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependent yaitu pertumbuhan ekonomi .
a) Uji koefisien regresi variabel kredit perbankan (X1)
Tingkat signifikan yang digunakan adalah
α
= 5% (0,05). Berdasarkan pada tabel koefisien diperoleh t-hitung sebesar 7,020 dan t-tabel dapat dicari padaα =
5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 atau 5-2-1= 2 (n adalah jumlah kasus dan k adalah jumlah variabel independent).
Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) hasil diperoleh untuk t-tabel sebesar 4,302 dapat dicari dengan cara ketik =tinv(0,05;2) pada cell kosong lalu enter.
Nilai t hitung > t tabel ( 7,020> 4,302 ) artinya secara parsial kredit perbankan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
b) Uji koefisien regresi variabel investasi (X2)
Tingkat signifikan yang digunakan adalah
α
= 5% (0,05). Berdasarkan pada tabel koefisien diperoleh t-hitung sebesar 1,169 dan t-tabel dapat dicari padaα =
5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-k-1 atau 5-2-1= 2 (n adalah jumlah kasus dan k adalah jumlah variabel independent).
Dengan pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025) hasil diperoleh untuk t-tabel sebesar 4,302 dapat dicari dengan cara ketik =tinv(0,05;2) pada cell kosong lalu enter.
Nilai t hitung < t tabel ( 1,169 < 4,302 ) artinya secara parsial investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pengamatan penelitian hasil perhitungan uji t, pada tingkat signifikan 5 %, variable kredit perbankan memiliki pengaruh positif dan signifikan sedangkan investasi memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi selama tahun pengamatan, dimana variable kredit perbankan dan investasi memiliki pengaruh terkait dengan variable independent (kredit perbankan dan investasi) dengan variable dependent (pertumbuhan ekonomi), maka variable-variable independent tersebut memiliki keeratan hubungan yang cukup kuat dan secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini diajukkan oleh nilai R=0,979 yan dan juga hasil uji F dimana nilai F dihitung sebesar 45,719 jauh lebih besar bila dibandingkan dengan nilai F pada tingkat signifikannsi 5% dengan df=(2) dan (2).
Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh pula nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,979 yang berarti bahwa 97,9% variable-variable bebas yang ada dalam model menentukan naik turunnya laju pertumbuhan ekonomi, sedangkan sisinya sebesar 2,1% lainnya ditentukan oleh faktor-faktor lainnya di luar model.
59
B. Saran
1. Pemerintahdalam hal ini sebagai pengambil kebijakan utamanya pengeluaran pemerintah yang diajukan untuk membangun sarana fisik dan infrastruktur lainnya, tidal lain merupakan kegiatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah yang dapat mendorong bagi perkembangan kegiatan investasi masyarakat. Dengan demikian melalui pengeluaran pembangunan maka secara langsung akan mendorong kegiatan investasidalam perekonomian yang juga melibatkan kegiatan investasi tersebut.
2. Dalam hal kredit perbankan investasi, bebagai kebijakan dapat dilakukan di Sulawesi Selatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di antaranya dari sisi investasi dalam negeri dan luar negeri. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik, maka peranan baik swasta (luar) sangat dibutuhkan. Peran pihak swasta tersebut dapat diwujudkan melalui pengerahan dana lewat perbankan baik untuk kegiatan investasi swasta maupun kegiatan pendukung dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan efesiensi dan efek tivitas lembaga keuanganini perlu pemerintah memberikan kebijakan keringanan dalam proses kegiatan kredit perbankan agar dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Sulawesi Selatan Dalam Angka,Berbagai Tahun Terbitan:Badan Pusat Statistik ProvinsiSulawesi Selatan.
.Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Selatan, Berbagai Tahun Terbitan:
Badan Pusat Statistik ProvinsiSulawesi Selatan.
Eduardus, Tandelin. Potofolio Dan Investasi Teori Dan Aplikasi, Edisi Pertama.
Yogyakarta: Kanisius 2010
Gujarati, Domar. 2003. Basic ekonometrika, jilid ke-3. McGraw Hill International Editions.
H. RaharjoAdisasmita. Pembangunan Ekonomi Perkotaan. Edisi Pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu. 2005.
http://philipus-k-s-fisip.web.unair.ac.id/artikel detail - 68323 - Umum - Pengukuran dan Indikator Pembangunan.htmI, Indikator Ekonomi GDP dan GNP.Diakses pada tanggal 12 mei 2013.
Herman Darmawi. Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2006
http://sulsel.bps.go.id/brs/10/pertumbuhan -ekonomi. Diakses pada tanggal 12 mei 2013.
Iskandar, Samsul. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.In Media. 2010
Kasmir.Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (Edisi Revisi). Jakarta: Rajawali Pers.
2010
M. Suparmoko,”Pengantar Ekonomi Makro”,BPFE Yogyakarta, 1998
Moelyono, Mauled. Menggerakan Ekonomi Kreatif antar tuntutan dan kebutuhan.
Jakarta: Rajawali Pers. 2010
Michael P. Todaro dan Stephen C Smith. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga, Edisi Kedelapan,Jilid I. Jakarta: PT Gelora AksaraPratama. 2003
Melayu S.PHasibuan. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara. 2001
Nopirin, Ph. D. Ekonomi Moneter Buku 1 Edisi Ke 4. Yogyakarta: BPFE. 1992
61
Noor, Faisal, Investasi, Pengololaan Keuangan Bisnis dan Pengembangan Ekonomi Maasyarakat. Jakarta Barat: Indeks. 2009
Sukino, Sadono. Makro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. 2012
Soegiarto K, Eddy. Pengantar Teori Ekonomi. Tangerang Selatan: Mahkota Ilmu. 2011
Tambunan, Tulus TahiHamonangan. Pembangunan Ekonomi Dan Utung Luar Negeri.
Jakarta: Rajawali Pers. 2008
Regression
Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
Y 6.7400 .05385 5
X1 7.7280 .15320 5
X2 20.3680 2.66940 5
Correlations
Y X1 X2
Pearson Correlation Y 1.000 .982 -.672
X1 .982 1.000 -.584
X2 -.672 -.584 1.000
Sig. (1-tailed) Y . .001 .107
X1 .001 . .151
X2 .107 .151 .
N Y 5 5 5
X1 5 5 5
X2 5 5 5
Variables Entered/Removedb
Model Variables Entered Variables Removed Method
1 X2, X1a . Enter
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Y
1 .989a .979 .957 .01114 2.591 a. Predictors: (Constant), X2, X1
b. Dependent Variable: Y
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression .011 2 .006 45.719 .021a
Residual .000 2 .000
B Std Error Beta Tolerance VIF
1 ( constant )
1 1 2.990 1.000 .00 .00 .00
2 .010 17.307 .00 .00 .59
3 9.405E-5 178.301 1.00 1.00 .41
a. Dependent Variable: Y
Residuals Statisticsa
Minimum Maximum Mean Std. Deviation N
Predicted Value 6.6801 6.8114 6.7400 .05327 5
Residual -.01013 .01198 .00000 .00788 5
Std. Predicted Value -1.124 1.341 .000 1.000 5
Std. Residual -.909 1.075 .000 .707 5
a. Dependent Variable: Y