SANITARIAN AHLI 10 Menyusun karya tulis Kurang termotivasinya dalam
A. KEADAAN/SITUASI PELAKSANAAN PELATIHAN YANG TERINDIKASI BELUM OPTIMAL Sesuai dengan data yang ditemukan keadaan/situasi saat pelaksanaan pelatihan yang
terindikasi sebagai penyebab langsung maupun tidak langsung belum optimalnya pencapaian tujuan pelatihan yang dilihat dari aspek penerapan kemampuan di tempat tugas pasca pelatihan dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Kesesuaian kriteria dan kwalifikasi peserta pelatihan
Walaupun sewaktu penentuan sample sasaran evaluasi sudah diperhitungkan sedemikian juga agar responden tepat sasaran, tetapi pada kenyataannya masih ditemukan bahwa kriteria dan kwalifikasi peserta yang mengikuti diklat masih jauh dari harapan. Latar belakang pendidikan di bidang kesehatan lingkungan 74% tetapi latar belakang jabatan responden mantan peserta diklat sebagai pemangku Jabatan Fungsional Sanitarian Ahli hanya 26,32%, sebagai staf pelaksanaanana bidang kesehatan lingkungan 31,58% dan 31,58% mengaku sebagai staf di bidang lain (non kesehatan lingkungan). Hal ini sudah dapat dipastikan bahwa tidak semua mantan peserta diklat ini akan menerapkan kemampuan hasil diklat di tempat tugasnya karena memang tupoksinya berbeda walaupun masa kerja sebagai sanitarian di tas 10 tahun tahun sebanyak 42,11%
Laporan EPP Jabatan fungsional Sanitarian Ahli Tahun 2010 34 Hal ini sempat diutarakan mantan peserta diklat (30%-50%) sebagai salah satu dari penyebab mereka yang belum mampu menerapkan kemampuan hasil diklat ditempat kerja, terutama pada materi–materi yang tergolong baru buat mereka seperti, Teknologi Tepat Guna, Menyadur tulisan, Menyusun Karya Ilmiah dan Melakukan Analisis Hasil Pengamantan bidang Kesehatan Lingkungan.
3. Penggunaan Alat Bantu Pelatihan dan Metoda Pembelajaran masih dirasakan kurang mendukung
Alat bantu pelatihan dan Metoda pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelatihan yang berbasis kompetensi seperti diklat ini. Dalam kaitan ini lebih dari 35% peserta mantan diklat mengutarakan bahwa ketidak-mampuannya dalam menerapkan keketidak-mampuannya ditempat tugas disebabkan alat bantu dan metoda pembelajaran yang digunakan kurang mendukung, terutama pada saat praktik/penugasan.
4. Fasilitator dan Pembimbing dirasakan mantan peserta diklat masih belum optimal keberadaannya
Pada beberapa materi, seperti penyusunan karya Ilmiah, Menyadur, Pengembangan Teknologi Tepat Guna serta saat praktikum/penugasan peranan fasilitator dan pembimbing belum berperan secara bermakna, hal ini diutarakan lebih 35% responden.
5. Jumlah dan porsi jam pembelajaran (teori & praktik) yang masih belum seimbang
Lebih dari 45% responden mengutarakan bahwa jam praktik sangat kurang sehingga kesempatan untuk “mencoba” dirasakan kurang sekali, apalagi terdapat beberapa kegiatan praktikum ternyata hanya “melihat-lihat saja” karena memang waktu yang tersedia kurang mendukung.
6. Wahana Praktikum yang tidak mendukung
Pada saat praktikum lebih dari 34% responden mengeluhkan bahwa tempat praktik 42,11% kurang mendukung dan 26,32% hampir mendukung, Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pembentukan keterampilan peserta diklat untuk selanjutnya akan dapat diterapkan di tempat tugas.
7. Sarana Penunjang yang belum mendukung
Sarana penunjang yang masih dirasakan kurang mendukung diantaranya Ruang Penginapan : 31,58% kurang mendukung dan 26,32% hampir mendukung, dengan komentar :
Banyak nyamuk, air kurang bersih, air bau Fe/besi, 1 kamar 3 orang, lingkungan kurang bersih, kamar sumpek, banyak vektor penyakit, tidak memenuhi standar kesehatan, tidak ada meja untuk membuat tugas. Disamping itu juga dikeluhkan tentang sarana ibadah 36,84% kurang mendukung dan 26,32% hampir mendukung.
Laporan EPP Jabatan fungsional Sanitarian Ahli Tahun 2010 35 B. KEADAAN/SITUASI DI TEMPAT TUGAS PENGHAMBAT PENERAPAN KEMAMPUAN
Keadaan/situasi di tempat tugas menurut data yang ada ternyata mempunyai andil yang cukup besar terhadap belum diterapkannya kemampuan hasil diklat ditempat tugas, diantaranya Kebijakan Pimpinan di era otonomi daerah, diantaranya :
• Tidak adanya dana dan fasilitas pendukung untuk menerapkan kemampuan hasil diklat
• Rencana kerja dilakukan dikantor induk • Tidak ada kegiatan lapangan
• program kesehatan lingkungan kurang mendapat dukungan • belum menjadi prioritas program
• Memidahkan staf tanpa patroon karir yang jelas, sehingga mantan peserta diklat tidak mungkin lagi dapat menerapkan kemampuan hasil diklat, karena tupoksinya sudah berbeda.
Walaupun belum semua tujuan diklat Jabatan fungsional Sanitarian ini dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan, tetapi pada kenyataannya diklat ini membawa dampak pada terjadinya perubahan kinerj mantan peserta diklat seperti yang diutarakan sendiri oleh mantan peserta diklat dan atasan/temen sekerjanya. Jika isian cheklist dan hasil wawancara itu benar maka telah terjadi keuntungan lain di luar tujuan pelatihan seperti yang diamanatkan oleh kurikulum diklat.
Lebih lanjut untuk melihat keuntungan lain selain ketercapaian tujuan diklat, maka dapat disimak pada bab III tentang :
• Gambaran Indikator peningkatan kinerja yang dirasakan oleh mantan peserta diklat • Gambaran manfaat diklat yang dirasakan oleh mantan peserta diklat
• Gambaran perubahan tampilan kerja menurut atasan/teman sekerja
• Indikator yang digunakan atasan/teman sekerja dalam melihat adanya perubahan tampilan kerja setelah yang bersangkutan mengikuti diklat :
• Gambaran karya nyata menurut atasan/teman sekerja (terbanyak) yang dihasilkan setelah yang bersangkutan mengikuti diklat
Laporan EPP Jabatan fungsional Sanitarian Ahli Tahun 2010 36
V. SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasar pada data yang berhasil diolah dan uraian pembahasan di atas maka Evaluasi Pasca Diklat Jabatan fungsional Sanitarian Ahli dapat disimpulkan sebagai berikut :
Hampir 50% mantan peserta Diklat Jabatan fungsional Sanitarian Ahli, yang diwakili oleh 19 orang responden (63,33%) belum menerapkan kemampuan hasil diklat, hal ini disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama, yakni (1) faktor yang berpengaruh pada saat pelaksanaan diklat di Bapelkes Lemahabang tahun 2009 yang lalu dan (2) faktor yang berpengaruh di tempat tugas ketika mantan peserta diklat akan menerapkan kemampuan hasil diklatnya. Faktor yang pertama mengakibatkan mantan peserta merasa belum mampu untuk menerapkan disebabkan keadaan/situasi saat pelaksanaan diklat yang masih belum optimal sedangkan faktor yang kedua mengakibatkan mantan peserta sekembalinya ketempat tugas tidak dapat menerapkannya disedbakan oleh adanya kebijakan (sistem) di tempat kerja yang tidak memungkinkan.
Walaupun belum semua tujuan diklat Jabatan fungsional Sanitarian ini dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan, tetapi pada kenyataannya diklat ini membawa dampak pada terjadinya perubahan kinerja mantan peserta diklat seperti yang diutarakan sendiri oleh para mantan peserta diklat dan atasan/teman sekerjanya.
B. Rekomendasi
Pelatihan ini cukup strategis guna mengembangkan jabatan fungsional bagian para sanitarian, tetapi kurang mendapat perhatian yang serius di tingkat user, untuk itu perlu dilakukan advokasi di tingkat user.
Pada pelaksanaan diklat serupa dimasa mendatang perlu dioptimalkan hal–hal sebagai berikut :
1. Pemilihan Calon Peserta agak diperketat sesuai kriteria dan kwalifikasinya 2. Memperbaiki Proses Pembelajarn, terutama memperbaiki porsi JPL antara
teori dan Praktikum, mengingat diklat ini seharusnya berbasis kompetensi 3. Menyiapkan bahan latih, media mpembelajaran, alat bantu yang berkaitan
dengan praktikum
4. Memilih fasilitator dan pembimbing praktikum yang berpengalaman sesuai materi yang dibawakannya