IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.6. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk Sekitar Hutan
Penduduk di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Walat umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian, dan bekerja sebagai buruh pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering. Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestri Hutan Pendidikan Gunung Walat sebanyak 300 orang petani penggarap. Hasil-hasil pertanian dari lahan agroforestri adalah singkong, kapolaga, pisang, cabe, padi gogo, kopi, sereh, dan lain-lain. Jumlah ternak domba atau kambing di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Walat sebanyak 1875 ekor. Hijauan pakan ternak tersebut sebagian besar berasal dari Hutan Pendidikan Gunung Walat (Badan Eksekutif Hutan Pendidikan Gunung Walat 2009).
Kecamatan Cicantayan, khususnya desa Hegarmanah juga merupakan desa penghasil manggis dengan mutu eksport. Jumlah pohon manggis di desa
Hegarmanah sebanyak 12.800 batang dan akan terus bertambah. Untuk menjadi sentra produksi diperlukan 40.000 pohon (Badan Eksekutif Hutan Pendidikan Gunung Walat 2009).
28
5.1. Pemeriksaan Data
Pengamatan struktur tegakan dilakukan di lima petak ukur dengan luasan masing-masing satu hektar. Petak ukur yang terpilih merupakan petak ukur yang dianggap memiliki perbedaan strata tegakan hutan. Dalam setiap petak ukur, data hasil pengamatan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kolompok jenis pinus, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis. Setiap kelompok ini dicobakan empat model famili sebaran, yaitu famili sebaran normal, famili sebaran lognormal, famili sebaran gamma, dan famili sebaran eksponensial negatif.
Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan dari ke lima petak ukur, didapatkan data hasil pengamatan terhadap pohon dengan pembagian berdasarkan masing-masing kelompok jenis sebagai berikut : (a) kelompok jenis pinus, terdiri dari 2 jenis pinus, yaitu P. merkusii, dan Pinus oocarpa, (b) kelompok jenis lain, hutan tanaman pinus di HPGW memiliki komposisi jenis yang cukup beranekaragam, diantaranya agatis (A. lorantifolia), caratan, cempedak (Artocarpus integer), cianjing, dara uncal, huru (Litsia chinensis), jambu bol (Eugenia malaccensis), jangkurang, kayu afrika (M. eminii), ki hu’ud, ki sireum (Eugenia cymosa), ki teja, ki terasi, kopo (Physalis angulata), laban (Vitex pubescens), mahoni (S. macrophylla), peuris, puspa (S. wallichii), ramogiling, simpur (Dillenia exelsa), sengon (P. falcataria), suren (Toona sureni), teureup,
dan beberapa jenis tanaman liar lainnya yang tidak diketahui jenisnya, (c) kelompok seluruh jenis, kelompok ini mencakup seluruh jenis pohon
berdasarkan hasil pengumpulan data yang diamati.
Pada Tabel 1 menunjukkan struktur tegakan dilihat dari kerapatan (N/ha) yang terdapat pada masing-masing petak ukur untuk kelompok jenis pinus, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis.
29 Diameter (cm) Pinus Jenis Lain Seluruh Jenis Pinus Jenis Lain Seluruh Jenis Pinus Jenis Lain Seluruh Jenis Pinus Jenis Lain Seluruh Jenis Pinus Jenis Lain Seluruh Jenis 10-19 5 144 149 1 16 17 11 11 22 17 118 135 4 69 73 20-29 17 60 77 24 4 28 38 18 56 43 23 66 9 22 31 30-39 58 12 70 82 9 91 60 47 107 60 4 64 35 9 44 40-49 74 1 75 94 6 100 69 33 102 53 1 54 39 3 42 50-59 49 1 50 53 4 57 37 20 57 38 0 38 42 2 44 60-69 26 0 26 29 0 29 11 16 27 12 0 12 10 0 10 70-79 6 0 6 3 0 3 6 3 9 2 0 2 3 1 4 80-89 0 0 0 1 1 2 0 1 1 2 0 2 1 0 1 90-99 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 100 up 1 0 1 0 1 1 2 1 3 1 0 1 0 0 0 Total 236 218 454 288 41 329 234 150 384 228 146 374 143 106 249
Jika digambarkan ke dalam bentuk histogram, maka data kerapatan tegakan akan membentuk pola yang berbeda-beda dalam menggambarkan struktur tegakan untuk kelompok jenis pinus, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis pada masing-masing petak ukurnya. Pola tersebut dapat berupa pola J terbalik atau pun pola yang mendekati pola lonceng telungkup (Gambar 1). Dari hasil penyajian histogram (Gambar 1) diketahui bahwa pola J terbalik lebih dominan ditemukan dalam menggambarkan struktur tegakan untuk kelompok jenis lain pada masing-masing petak ukurnya, sedangkan untuk pola yang mendekati pola lonceng telungkup lebih dominan ditemukan dalam menggambarkan struktur tegakan untuk kelompok jenis pinus pada masing-masing petak ukurnya.
Pola J terbalik biasanya terbentuk pada hutan tidak seumur, yaitu hutan yang memiliki beberapa kelompok umur atau ukuran (Arief 2001 dalam Patrycia 2010). Hutan tidak seumur biasanya memiliki pola penyebaran yang khas, menurut Daniel et al (1987) dalam Patrycia (2010), pada tegakan tidak seumur jumlah pohon tersebar berada dalam kelas diameter terkecil, jumlahnya menurun lebih kurang sebanding dengan bertambahnya ukuran.
Hal itu dikarenakan, individu pohon yang tumbuh pada masa awal pertumbuhan cukup banyak dan seiring berjalannya waktu energi yang diperlukan untuk pertumbuhan akan semakin besar, karena adanya persaingan antar individu untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup, air, mineral, dan pertahanan terhadap gangguan luar seperti hama dan penyakit. Persaingan seperti ini akan terus berlanjut dan terjadilah proses seleksi alam, yaitu kematian pada individu yang tidak dapat bersaing. Secara alami persaingan ini akan mengakibatkan pengurangan jumlah individu yang bertahan hidup pada setiap tingkat kelas diameter (Patrycia 2010).
Sementara itu, terlihat pula pada histogram, bentuk struktur tegakan untuk kelompok jenis pinus yang mendekati pola lonceng telungkup, hal ini sesuai dengan pernyataan Daniel et al (1992) dalam Payungallo (2010) mengenai bentuk distribusi pada tipe tegakan hutan tanaman (seumur) yang mendekati kurva bentuk lonceng telungkup, yaitu mendekati sebaran normal.
(a)
(b)
(d)
(e)
(f)
Gambar 1 Histogram kerapatan tegakan berdasarkan kelas diameternya untuk kelompok jenis pinus, kelompok jenis lain, dan kelompok seluruh jenis pada (a) PU 1, (b) PU 2, (c) PU 3, (d) PU 4, (e) PU 5, dan (f) Keseluruhan PU.
Pada Gambar 1, terlihat bahwa struktur tegakan kelompok jenis lain memiliki pola yang lebih tidak teratur daripada kelompok jenis pinus. Struktur tegakan pada kelompok jenis pinus terlihat lebih rapat satu sama lain dengan bentuk grafik yang hampir sama untuk setiap petak ukurnya, sedangkan untuk kelompok jenis lain walaupun lebih didominasi oleh grafik dengan pola J terbalik, namun masih ditemui pola yang mendekati pola lonceng telungkup pada salah satu petak ukurnya (PU 3). Pada histogram juga terlihat bahwa pada masing-masing petak ukur, jumlah individu lebih didominasi oleh kelompok jenis pinus. Hal ini berarti potensi untuk kelompok jenis pinus kedepannya akan lebih besar daripada kelompok jenis lain.
Pada kondisi normal, menurut Ermayani (2000), struktur tegakan yang lebih tua biasanya berada di atas struktur tegakan yang lebih muda. Namun pada tegakan hutan yang dijadikan petak ukur penelitian ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya, hal itu dikarenakan pada tegakan hutan di HPGW tidak diketahui secara pasti mengenai ketentuan tahun tanam pada masing-masing petak ukur.
5.2. Pemilihan Model
Walaupun Meyer et al (1952) dalam Prihanto (1987) telah mengungkapkan bahwa bentuk lonceng terbalik merupakan bentuk khas bagi struktur tegakan hutan seumur, namun bila model disajikan dalam bentuk famili sebaran, maka masih ada berbagai kemungkinan akan famili sebaran mana yang terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan. Ditambah lagi dengan kondisi tegakan tiap petak ukur yang tidak diketahui umur tanamnya, memungkinkan hutan tanaman yang diperkirakan memiliki bentuk lonceng terbalik mengalami penyimpangan, atau mungkin dengan kondisi hutan yang tanpa penjarangan dan tanpa penebangan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan bentuk struktur tegakan.
Dalam pendugaan model struktur tegakan untuk setiap famili sebaran menggunakan parameter-parameter yang berbeda. Parameter-parameter tersebut yang kemudian akan digunakan untuk mendapatkan nilai peluang pada kelas diameter yang terdapat pada Lampiran 5-22. Parameter-parameter yang digunakan pada setiap model famili sebaran dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Parameter sebaran pada setiap model famili sebaran di masing-masing petak ukur Petak Ukur Kelompok Jenis Parameter Sebaran
Normal Lognormal Gamma Eks.
Negatif µ σ L σL α β θ Petak Ukur 1 Pinus 45.1186 12.9465 3.7654 0.3036 11.5574 3.9039 45.1186 Jenis Lain 18.5642 6.2837 2.8713 0.3092 10.1852 1.8227 18.5642 Seluruh Jenis 32.3678 16.7957 3.3361 0.5426 3.7029 8.7413 32.3678 Petak Ukur 2 Pinus 44.2153 11.8999 3.7518 0.2789 13.5762 3.2568 44.2153 Jenis Lain 32.2927 20.3053 3.3054 0.5821 3.1080 10.3901 32.2927 Seluruh Jenis 42.7295 13.8148 3.6962 0.3622 8.6775 4.9242 42.7295 Petak Ukur 3 Pinus 41.0940 14.1412 3.6526 0.3703 8.0648 5.0955 41.0940 Jenis Lain 41.1267 15.5423 3.6381 0.4169 6.5302 6.2980 41.1267 Seluruh Jenis 41.1068 14.7044 3.6469 0.3887 7.3849 5.5663 41.1068 Petak Ukur 4 Pinus 39.4737 14.2940 3.6074 0.3802 7.4949 5.2668 39.4737 Jenis Lain 15.8562 5.5307 2.7137 0.3035 10.1935 1.5555 15.8562 Seluruh Jenis 30.2540 16.4086 3.2585 0.5607 3.4673 8.7254 30.2540 Petak Ukur 5 Pinus 44.9720 12.4305 3.7612 0.3196 11.3258 3.9708 44.9720 Jenis Lain 19.6698 10.6077 2.8739 0.4329 4.9147 4.0022 19.6698 Seluruh Jenis 34.2008 17.1218 3.3835 0.5754 3.5194 9.7177 34.2008
Pemilihan model untuk mengetahui pola struktur tegakan di lapangan dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum, yaitu dengan memilih famili sebaran yang mempunyai nilai fungsi kemungkinan maksimum tertinggi sebagai model penduga terbaik bagi struktur tegakan yang bersangkutan.
Hasil dari pengamatan yang dilakukan pada setiap petak ukur untuk masing-masing famili sebaran menunjukkan komposisi nilai fungsi kemungkinan (L) yang berbeda.
Tabel 3 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(ln L)) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur kelompok jenis pinus Petak Ukur Normal Lognormal Gamma Eks. Negatif
(1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) Petak 1 939.2 2 943.8 3 938.1 1 1135.0 4 Petak 2 1121.9 3 1120.9 2 1117.1 1 1379.3 4 Petak 3 951.9 2 953.8 3 947.3 1 1103.5 4 Petak 4 930.0 3 925.0 2 921.5 1 1066.0 4 Petak 5 563.3 1 577.1 3 569.3 2 687.3 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum ; (2) Nomor urut terbesar
Tabel 4 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(ln L)) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur kelompok jenis lain Petak Ukur Normal Lognormal Gamma Eks. Negatif
(1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) Petak 1 710.0 3 678.9 1 685.9 2 854.8 4 Petak 2 181.6 3 171.0 1 172.6 2 183.5 4 Petak 3 624.4 2 626.8 3 621.7 1 707.5 4 Petak 4 456.9 3 428.8 1 436.3 2 549.5 4 Petak 5 400.7 3 365.8 1 374.2 2 421.8 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum ; (2) Nomor urut terbesar
Tabel 5 Komposisi nilai fungsi kemungkinan maksimum (-(ln L)) untuk setiap famili sebaran pada masing-masing petak ukur kelompok seluruh jenis Petak Ukur Normal Lognormal Gamma Eks. Negatif
(1) (2) (1) (2) (1) (2) (1) (2) Petak 1 1925.0 3 1880.7 1 1882.0 2 2032.6 4 Petak 2 1330.7 1 1348.2 3 1333.7 2 1564.4 4 Petak 3 1577.1 2 1581.9 3 1570.1 1 1811.0 4 Petak 4 1577.1 3 1532.5 1 1534.7 2 1649.2 4 Petak 5 1060.6 3 1057.7 2 1050.9 1 1128.5 4 Keterangan : (1) Nilai fungsi kemungkinan maksimum ; (2) Nomor urut terbesar
Pada penyajian Tabel 3, 4, dan 5, nilai fungsi kemungkinan maksimum disajikan dalam bentuk –(ln L), sehingga penilaian menjadi terbalik, dimana maksimum (L) akan sama dengan minimun (-(ln L)). Berdasarkan hasil dari pengamatan, menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan yang berbeda dalam hal urutan besarnya nilai L.
Pada kelompok jenis pinus, famili sebaran gamma memiliki nilai L tertinggi pada hampir setiap petak ukur yang dibuat, kemudian disusul oleh famili sebaran normal. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa famili sebaran gamma merupakan model penduga terbaik bagi struktur tegakan hutan yang bersangkutan untuk kelompok jenis pinus. Kemudian, untuk kelompok jenis lain, famili sebaran lognormal memiliki nilai L tertinggi pada hampir setiap petak ukur yang dibuat, kemudian disusul oleh famili sebaran gamma. Sehingga dapat dikatakan bahwa famili sebaran lognormal merupakan model penduga terbaik bagi struktur tegakan hutan yang bersangkutan untuk kelompok jenis lain.
Perbandingan nilai-nilai penduga kemungkinan maksimum setiap kelompok jenis dalam bentuk grafik batang dapat dilihat pada Gambar 2.
(a)
(b)
(c)
Gambar 2 Grafik batang penduga kemungkinan maksimum pada: (a) kelompok jenis pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis.
Sementara itu, pada kelompok seluruh jenis, nilai L tertinggi dimiliki oleh famili sebaran gamma dan lognormal (Tabel 5), kemudian disusul oleh famili sebaran normal dan famili sebaran eksponensial negatif. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa famili sebaran lognormal dan famili sebaran gamma merupakan model penduga terbaik bagi struktur tegakan hutan yang bersangkutan untuk kelompok seluruh jenis.
Prihanto (1987) mengungkapkan gambaran mengenai keempat famili sebaran yang dicobakan sebagai berikut :
1 Famili sebaran normal
Famili sebaran normal memiliki model yang cukup sederhana jika dibanding dengan famili sebaran lainnya. Selama ini struktur tegakan hutan tanaman (seumur) selalu dianggap mengikuti model famili sebaran normal. Pendugaan parameter famili sebaran ini relatif mudah dan sudah banyak dikenal. Dalam penerapan pemakaiannya, famili sebaran normal memiliki peubah acak normal baku (z) dimana sebaran peluangnya dapat dicari melalui bantuan tabel. Transformasi peubah acak x ke peubah acak normal baku z adalah , sehingga :
2 Famili sebaran lognormal
Model famili sebaran ini merupakan model konversi peubah acak yang menyebar normal. Oleh karena itu, pendugaan parameter famili sebaran ini hampir sama dengan pendugaan parameter famili sebaran normal. Perbedaannya adalah terdapat pada transformasi peubah acak ke dalam bentuk ln (logaritmik natural), sehingga dalam hal ini menurunkan kepraktisannya dibanding pada famili sebaran normal.
3 Famili sebaran gamma
Famili sebaran gamma merupakan model yang paling rumit diantara empat famili sebaran yang diikutsertakan dalam pemilihan model
ini. Kerumitannya disamping tidak praktis juga memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan. Sumber kesalahan dapat terjadi pada pendugaan parameter bentuk yang menggunakan pendekatan empiris, perhitungan Г , serta pengaruh pembulatan yang lebih besar karena banyaknya fungsi-fungsi yang harus dilalui dalam penyusunan model.
4 Famili sebaran eksponensial negatif
Famili sebaran eksponensial negatif sebenarnya masih merupakan anggota famili sebaran gamma. Untuk parameter , maka fungsi kepekatan sebaran gamma identik dengan fungsi kepekatan famili sebaran eksponensial negatif dengan sepadan dengan . Oleh karena itu, L gamma selalu ≥ L eksponensial negatif. L gamma sama dengan L eksponensial negatif pada saat parameter , dan akan selalu lebih besar dari L eksponensial negatif untuk tidak sama dengan 1. Pengikutsertaan famili sebaran eksponensial negatif dalam pemilihan model ini diharapkan dapat menggantikan famili sebaran gamma yang sangat rumit apabila famili sebaran gamma terpilih sebagai model terbaik dan selisih L gamma dan L eksponensial negatif relatif kecil. Hal ini mengingat bahwa famili sebaran eksponensial negatif memiliki model yang sangat sederhana (berparameter tunggal) dan praktis dalam penyusunan modelnya. Tetapi pada kenyataannya, L eksponensial negatif jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan L gamma maupun kedua famili sebaran lainnya. Nilai L eksponensial negatif yang lebih kecil tersebut disebabkan oleh adanya pemaksaan besarnya parameter . Parameter untuk famili sebaran eksponensial negatif memiliki nilai yang sama dengan rata-rata. Walaupun demikian, bentuk kurva famili sebaran eksponensial negatif berbeda dengan famili sebaran normal. Bentuk famili sebaran normal menyerupai lonceng telungkup, sedangkan eksponensial negatif mempunyai bentuk J terbalik (Walpole 1992 dalam Payungallo 2010). Dari gambaran-gambaran tersebut dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa famili sebaran normal, lognormal, gamma, dan eksponensial negatif memiliki kualitas yang relatif sama sebagai penduga bagi struktur tegakan di HPGW. Famili sebaran yang pada mulanya dianggap rumit, seperti pada famili
sebaran gamma, sudah tidak lagi dianggap sebagai masalah yang berat seiring dengan tersedianya software-software pembantu, dalam penelitian ini software yang dimaksud adalah software MATLAB Release 2008b.
Berdasarkan hasil dari penyajian jumlah peringkat yang berasal dari komposisi fungsi kemungkinan maksimum untuk setiap famili sebaran pada seluruh kelompok jenis (Tabel 6), dapat ditarik kesimpulan bahwa model famili sebaran yang terbaik akan terpilih berdasarkan jumlah peringkat yang terkecil. Dalam hal ini dapat berarti bahwa model yang terpilih sebagai model yang terbaik dalam menggambarkan struktur tegakan kelompok jenis pinus dan kelompok seluruh jenis adalah model famili sebaran gamma, sementara model yang terbaik dalam menggambarkan struktur tegakan kelompok jenis lain adalah model famili sebaran lognormal.
Tabel 6 Jumlah peringkat dari komposisi fungsi kemungkinan maksimum (-(ln L)) untuk setiap famili sebaran pada kelompok jenis pinus, jenis lain, dan seluruh jenis
Kelompok Jenis Jumlah Peringkat pada Famili Sebaran
Normal Lognormal Gamma Eks. Negatif
Pinus 11 13 6 20
Jenis Lain 14 7 9 20
Seluruh Jenis 12 10 8 20
Total 37 30 23 60
Penyajian model dalam bentuk fungsi kepekatan sebaran terlampir pada Lampiran 5-22. Perbandingan bentuk struktur tegakan hutan pada masing-masing petak ukur untuk setiap kelompok jenis yang dibuat berdasarkan famili sebaran normal, lognormal, gamma, dan eksponensial negatif akan digambarkan secara grafis pada Gambar 3-8. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kurva fungsi kepekatan sebaran normal, lognormal, dan gamma memiliki bentuk yang relatif sama, terutama antara fungsi kepekatan sebaran lognormal dan gamma. Sedangkan kurva fungsi kepekatan sebaran eksponensial negatif memiliki bentuk yang jauh berbeda dengan ketiga sebaran lainnya yang berarti model eksponensial negatif kurang dapat menggambarkan kondisi lapang yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh pemaksaan besarnya parameter bentuk . Padahal kenyataannya besarnya berkisar antara 3.1080 sampai 13.5762.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada petak ukur 1.
(a)
(b)
(c)
Gambar 3 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis di petak ukur 1.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada petak ukur 2.
(a)
(b)
(c)
Gambar 4 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis di petak ukur 2.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada petak ukur 3.
(a)
(b)
(c)
Gambar 5 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis di petak ukur 3.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada petak ukur 4.
(a)
(b)
(c)
Gambar 6 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis di petak ukur 4.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada petak ukur 5.
(a)
(b)
(c)
Gambar 7 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis di petak ukur 5.
Berikut adalah gambar perbandingan antara data aktual dengan model pada keseluruhan petak ukur.
(a)
(b)
(c)
Gambar 8 Perbandingan data aktual dengan model (Model-model Famili Sebaran Normal, Lognormal, Gamma, dan Eksponensial Negatif) pada: (a) kelompok pinus, (b) kelompok jenis lain, dan (c) kelompok seluruh jenis pada keseluruhan petak ukur.