• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

E. Keadaan Sosial Kemasyarakatan Desa Muara Kibul

penduduk sehingga menuntut keseimbangan dari segi sarana pendidikan, sehingga masyarakat merasakan bahwa pendidikan adalah salah satu kebutuhan yang sangat mendesak, yang harus dipenuhi saat ini.

meninggal dunisa tersebut dengan demikian dapat meringankan beban penderitaan ahli waris yang ditinggalkan.43

F. Sturuktur Organisasi Desa Muara Kibul44 KADES

SANDRI CAN INDRA

43 Dokumentasi Keadaan Penduduk Desa Muara Kibul tahun 2016.

44 Dokumentasi Struktur Organisasi Desa Muara Kibul tahun 2016.

SEKDES MUHAMMAD SYAFRI

A.Md BPD

JUAINI

Kaur Pemerintahan

Yusman

Kaur Pembangunan Ahmad Bhaki

Kaur Umum TriAyuningsi

h

Kadus Pondok Indah

Syargawii Kadus

Palompek M. Hadi Kadus

Kampung Tengah Darussalam Kadus

Kampung Aur M. Nasir Kadus

Kampung Dalam Syargawi

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Sistem Pelaksanaan Bagi Hasil Kebun Karet Di Desa Muara Kibul

Di dalam Islam terdapat berbagai akad bagi hasil dalam bidang pertanian, salah satu diantaranya adalah musaqah, di dalam musaqah terdapat pihak yang mengikrarkan dirinya untuk menyerahkan sebidang kebun sedangkan pihak lain mengelola kebun tersebut beserta pembiayaannya. Hasil panen yang diperoleh di bagi sesuai kesepakatan sebelumnya.

Kerjasama semacam ini dipraktekan oleh masyarakat di Desa Muara Kibul.

Di samping mengelola kebun miliknya sendiri juga memperkerjakan orang lain untuk penggarapannya dengan sistem bagi hasil, yang di dalam kehidupan masyarakat setempat dikenal dengan istilah motong parah (motong karet) dan di dalam kepustakaan Islam hampir mirip dengan istilah musaqah, yaitu suatu sistem persekutuan perkebunan antara pemilik kebun di satu pihak dan penggarap di pihak lain dengan sistem bagi hasil sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak.

Demikian halnya bagi hasil penggarapan kebun karet yang terjadi di Desa Muara Kibul dilakukan atas dasar kekeluargaan dan kepercayaan masing-masing pihak, dan menurut kebiasaan masyarakat setempat, akad dilaksanakan secara lisan tanpa disaksikan oleh saksi-saksi dan prosedur hukum yang mendukung.

Pelaksanaan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum, sehingga tidak ada bukti yang kuat telah terjadinya kerjasama kedua belah pihak. Sebagaimana hasil

38

penelitian maka diperoleh suatu hasil komentar yang mengatakan bahwa ada beberapa tahapan ataupun cara masyarakat dalam mengadakan perjanjian bagi hasil kebun karet, yaitu sebagai berikut:

1. Melalui Perundingan Bersama

Perundingan bersama dalam arti adalah kedua belah pihak mengadakan suatu perjanjian dimana pihak pertama yaitu penggarap menawarkan perundingan kepada pihak kedua yaitu pemilik kebun, bahwa dirinya akan mengelola kebun yang dalam keadaan butuh untuk dikelola agar tidak rusak. Kemudian pihak pemilik kebun memberikan tanggapan bila memang cocok dengan penawaran yang ditawarkan penggarap tersebut, maka pihak pemilik kebun tersebut tidak menjadi masalah, karena antara pihak pemilik kebun dan penggarap sudah saling kenal dan saling percaya satu sama lainnya.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Iwan pihak pemilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Saya memiliki kebun karet seluas 12 Hektar, awalnya kebun karet ini saya kelola sendiri tapi dikarenakan saya berbisnis dan kebun karet saya pun terlalu luas dan saya tidak sanggup untuk menggarap sendiri, saya pun sibuk berbisnis jadi kebun saya tidak ada yang ngurus, jadi saya tawarkan orang untuk menggarap kebun karet saya tersebut dengan sistem bagi hasil”.45 Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Madi sebagai pihak penggarap atau pengelola kebun karet menyatakan bahwa:

“Saya ingin menambah pendapat hidup, apalagi saya tidak memiliki pekerjaan tetap dan saya pun tidak memiliki kebun karet seluas itu, maka akhirnya saya memutuskan untuk bekerjasama untuk menggarap kebun

45 Wawancara, dengan Bapak Iwan selaku pemilik kebun karet, tanggal 03 september 2018.

karet tersebut dengan ketentuan sistem bagi hasil yang telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak”.46

2. Tahap Bagi Hasil

Bagi hasil merupakan Dalam pelaksanaan penimbangan getah (karet) dan pembagian hasil biasanya pihak pemilik kebun mereka hanya menerima uang bersih dari pihak pekerja, minsalnya sekali nimbang hanya mendapatkan getah 3 Ton dengan memperoleh uang sejumlah Rp. 2.400.000 yang mana harga getah 1 Kg Rp. 8.000 Rupiah, dari jumlah uang tersebut dibagi tiga bagian yang mana 1 bagian untuk pemilik kebun dan 2 bagian untuk penggarap kebun. Jadi uang yang diperoleh oleh pemilik kebun sejumlah Rp. 800.000 (Delapan Ratus Ribu Rupiah) sedangkan untuk penggarap sejumlah Rp. 1.600.000 (Satu Juta Enam Ratus Ribu Rupiah), namun apabila pekerja ada 2 orang maka dari sejumlah uang Rp.

1.600.000, tersebut yang di peroleh dibagi dua lagi kepada pekerja yang satunya lagi.47

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibuk Tutit pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

“Biasanya saya nimbang getah karet 2 Ton dalam jangka waktu dua minggu sekali dengan memperoleh uang sejumlah Rp. 1.600.000 yang mana harga getah nya 1 kg Rp. 8.000 Rupiah, dari jumlah uang tersebut dibagi menjadi tiga bagian yang mana 1 bagian untuk pemilik kebun dan 2 bagian untuk penggarap kebun. Jadi uang yang saya terima sejumlah Rp. 1.066.000 (Satu Juta Enam puluh Enam Ribu Rupiah) sedangkan untuk pemilik kebun sejumlah Rp. 553.000 (Lima Ratus Lima Puluh Tiga Rupiah). 48

46 Wawancara, dengan Bapak Madi selaku penggarap kebun karet, tanggal 03 september 2018.

47 Wawancara, dengan Bapak Adis selaku pemilik kebun karet, tanggal 08 september 2018.

48 Wawancara, dengan Ibuk Tutit selaku penggarap kebun karet, tanggal 08 september 2018.

Namun di atas sudah penulis kemukakan bahwa sebagian masyarakat melakukan perundingan pembagian hasil yang diperoleh di bagi tiga bagian antara pemilik dan penggarap kebun.

3. Jangka Waktu Dalam Pelaksanaan Bagi Hasil Kebun Karet

Perkebunan karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahunan. Tanaman karet ini memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau). Perkebunan karet ini dapat juga menghasilkan manfaat bagi pekerja dan pemilik kebun karet dengan cara melakukan perawatan dengan baik. Dalam pelaksanaan perjanjian bagi hasil kebun karet ini yang disepakati oleh kedua belah pihak antara pihak penggarap dan pihak pemilik kebun karet adalah tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak itu sendiri, karena dalam jangka waktu nimbang getah karet bisa saja sampai satu atau dua kali 1 bulannya.

Untuk itu jangka waktu pelaksanaan bagi hasil kebun karet sebagaimana hasil wawancara dengan beberapa pekerja dan pemilik kebun. Hasil wawancara dengan Bapak M. Nur pemilik kebun karet yang mengatakan bahwa:

“Untuk waktu yang saya lakukan dalam pelaksanaan bagi hasil kebun karet ini bisa dilakukan satu minggu atau dua minggu sekali nimbang getah karet, semuanya tergantung kemampuan serta kesanggupan penggarap kebun itu sendiri, karena kebanyakan yang menentukan biasanya itu adalah seorang penggarap karena kebun karet ini tidak sama dengan perkebunan lainnya, bila cuaca nya hujan terus maka mengalami kegagalan untuk nimbang getah karet tersebut”.49

Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Cuban pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

49 Wawancara, dengan Bapak M. Nur selaku pemilik kebun karet, tanggal 05 september 2018.

“Biasanya waktu pelaksanaan bagi hasil kebun karet Saya lakukan dua minggu sekali, tetapi saya juga penah melakukan dua bulan satu kali, dikarenakan saya mengalami kerugian waktu itu harga getah karet turun drastis harganya sangat murah, sehingga saya memutuskan untuk berhenti bekerja untuk beberapa bulan di karenakan saya juga sakit, setelah saya sembuh dan akhirnya saya bekerja kembali”.50

Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibuk Jarimah pihak pemilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Untuk pelaksanaan perjanjian bagi hasil kebun karet ini bisa dilakukan satu kali seminggu jika getah karet nya banyak tapi jika getah karetnya kurang maka pembagiannya bisa dilakukan dua minggu atau satu bulan sekali, semuannya tergantung atas kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak dan tergantung udah berapa banyak getah karet yang di dapatkan, jika getah karetnya banyak maka banyak pula hasil pembagiannya yang di dapatkan”.51

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Herman pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

“Waktu yang saya lakukan dalam pelaksanaan bagi hasil kebun karet ini biasanya satu bulan sekali, karena di dalam jangka waktu satu bulan itu cukup lama jadi agak lumayan banyak untuk menghasilkan getah karetnya”.52

Dalam beberapa hasil wawancara di atas maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa tentang jangka waktu yang telah dilakukan masyarakat dalam bagi hasil kebun karet ini tergantung hasil yang didapatkan dan kesepakatan atas kedua belah pihak, termasuk kondisi cuaca dan harga getah karet tersebut apakah mahal atau murah, karena apabila kondisi cuaca sedang musim hujan maka butuh

50 Wawancara, dengan Bapak Cuban selaku penggarap kebun karet, tanggal 05 september 2018.

51 Wawancara, dengan Ibuk Jarimah selaku pemilik kebun karet, tanggal 07 september 2018.

52 Wawancara, dengan Bapak Herman selaku penggarap kebun karet, tanggal 07 september 2018.

waktu yang lama untuk nimbang getah karet tersebut dan untuk kondisi harga getah karet apakah mahal atau murah, hal ini sangat perlu diperhatikan karena apabila harga getah karet murah maka akan terjadi kerugian bagi penggarap dan pemilik kebun.

Adapun beberapa kewajiban yang dilakukan oleh pemilik kebun dalam pencapaian hasil karet yang di inginkan yaitu sebagai berikut:

1. Penyediaan Lahan Karet

Penyediaan lahan karet merupakan kewajiban bagi pemilik kebun karet yang dimana lahan tersebut dikelola dan kemudian ditanam oleh pemilik kebun karet, jika pemilik karet tidak bisa melakukan penggarapan, maka pemilik kebun karet mencari orang lain atau pekerja untuk menggarap dan merawat kebun karetnya tersebut dengan sistem bagi hasil antara pemilik dan penggarap, dalam menyediakan lahan untuk penanaman bibit sekitar 1.500 (Seribu lima ratus) batang luas lahan yang digunakan adalah sekitar 4 hektar dengan penanaman karet dengan jarak dan kerapan tanaman karet adalah sebagai berikut: jarak tanam dari satu batang dengan yang lain berkisar rata-rata 2,8 meter, atau 3,0 meter. Dengan demikian pertumbuhan yang diserap oleh tanaman karet tersebut menjadi maksimal.

Dalam luas lahan 4 hektar sangat tidak dianjurkan terlalu rapat, jarak antara satu pohon dengan pohon yang lainnya. Maka karet dewasa kepadatan dan

kerapatan pohon setiap hektarnya tidak melebihi dari jumlah 1.000 sampai dengan 500 pohon.53

2. Menanggung modal dan seluruh biaya-biaya yang terdapat dalam proses penggarapan seperti biaya pupuk dan bibit karet

a. Penyediaan pupuk karet

Penyediaan pupuk juga dilakukan oleh pemilik kebun karet, biaya pembalian pupuk juga dilakukan oleh pemilik kebun karet, penggarap hanya memupuknya saja tapi tidak ikut membeli. Cara yang dilakukan dalam memupuk sedikit rumit dan akan memakan waktu paling lama satu minggu, untuk melakukan pemupukan hal yang pertama adalah persiapkan pupuk seperti pupuk urea sebanyak 10 karung pupuk untuk bibit batang karet berjumlah 500 batang.

Selain puput persiapkan juga cangkul untuk menggali dan ember untuk menempatkan pupuk tersebut.

Tahap yang harus dilakukan yaitu cangkul terlebih dahulu tanah yang ada disekeliling batang karet, cangkul jangan terlalu dalam. Kemudian pupuk tersebut tanamkan dikeliling batang karet atau dekat dengan akar karet agar mudah diserap oleh akar karet, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mendapatkan getah karet yang berkualitas yang banyak keluar getah karetnya. Apabila sudah ditanamkan pupuk tersebut kemudian tutup kembali dengan tanah dan setelah itu siram dengan air agar lebih meresap kedalam akar.

53 Wawancara, dengan Bapak Hasan selaku pemilik kebun karet, tanggal 13 september 2018

b. Penyediaan bibit karet

Penyediaan bibit karet dan semua pembelian bibit dilakukan oleh pemilik kebun karet.

Adapun beberapa kewajiban yang dilakukan oleh penggarap kebun karet dalam pencapaian hasil karet yang di inginkan antara lain sebagai berikut:

1. Penyediaan alat untuk menggarap

Penyediaan alat untuk menggarap yaitu sebagai berikut:

a. Pahat

Pahat digunakan untuk memahat kulit karet yang akan digarap, penyediaan pahat ini dibeli sendiri oleh seorang yang akan menggarap. Pahat yang akan digunakan untuk menggarap adalah pahat yang tajam, pahat yang tidak mudah patah ketika digunakan untuk menyadap karet.

Tahap pemahatan ini dilakukan setiap hari oleh penggarap, dalam penggarapan dipersiapkan pahat dan air tawar untuk menjaga-jaga ketika terjadi hujan dipertengahan penggarapan. Pahat yang digunakan haruslah tajam agar mudah memahat kulit karet dalam proses pahatannya dan cepat keluar getah karet yang dipahat.

b. Bak karet/penampungan

Semua getah karet yang selesai disadap, dimasukan ke dalam bak karet/penampungan disediakan oleh penggarap sendiri, karena bak karet ini bukan kewajiban bagi pemilik kebun tetapi kewajiban bagi penggarap kebun.

Dalam proses pembekuan digunakan berbagai campuran supaya mendapatkan pembekuan yang bagus, bahannya seperti cuka, param dan air tawas

supaya getah karet menempel dan tidak mudah hancur ketika dikeluarkan dari bak getah. Cuka, param dan air tawas disiramkan kedalam bak yang berisi getah karet.

Setelah sudah disiramkan dan dicampurkan semua, getah karet tersebut di endapkan selama kurang lebih 15 menit agar getah tersebut benar-benar jadi dan menempel menjadi kepingan karet.

c. Ember karet

Ember karet digunakan untuk menggambil getah karet yang sudah disadap, untuk penyediaan ember ini juga dilakukan dan disediakan sendiri oleh penggarap. Untuk mengambil getah karet dalam penampungan getah karet di desa Muara Kibul menggambil getah karet sering disebut ngangkit. Tempat penampungan getah karet yang sudah penuh diambil selama satu minggu.

Cara melakukannya adalah pertama batang karet tersebut dipahat terlebih dahulu sama seperti pemahatan biasanya setelah itu jika sudah dipahat semua diendapkan selama kurang lebih satu jam untuk menunggu getah karet yang keluar hingga tidak menetes lagi barulah bisa melakukan pengambilan getah karet secara keseluruhan pada bagian yang sudah dipahat.

Kemudian ambil getah karet dalam tempat penampungan karet yang berisi getah karet kemudian letakan ke dalam ember yang berisi air dengan campuran soda api, soda api berguna agar air atau getah karet yang sudah diambil dan dimasukkan ke dalam ember agar tidak cepat beku, untuk semua getah karet yang sudah diambil dari tempat penampungan karet dan sudah diletakkan ke dalam ember kemudian dimasukan lagi ke dalam bak getah karet untuk diolah dan di proses membentuk kepingan karet yang siap untuk dijual.

2. Membersihkan lahan 3. Memberikan pupuk

4. Panen dan menimbang hasil getah karet

5. Mengantarkan dan menjual hasil panen ke pabrik atau pun kepada toke getah 6. Bertanggung jawab penuh terhadap perkebunan yang digarapnya.

Sistem pelaksanaan bagi hasil getah karet antara pemilik dan penggarap kebun karet dilakukan oleh petani kebun karet antara pemilik dan penggarap karet menggunakan ikatan kesepakatan dan perjanjian kerjasama yang telah dikompromikan terlebih dahulu untuk menentukan berapa besar pembagian hasil antara pemilik dan penggarap kebun karet.yang mana pembagian hasil karet menurut kebiasaan di desa Muara Kibul dibagi menjadi tiga (3) bagian, dua (2) bagian untuk penggarap dan satu (1) bagian untuk pemilik kebun.

Dalam sistem bagi hasil ini terlebih dahulu getah karet tersebut dijual kepada toke karet. Penjualan dan pembelian getah karet, melibatkan beberapa orang yang terkait dalam proses jual beli getah karet yaitu sebagai berikut:

a) Pemilik karet atau orang yang mempunyai kebun karet yang menggarap sendiri yang menjual sendiri hasil getah karet selama penggarapan satu bulan kepada toke karet atau pembeli getah karet.

b) Penggarap karet atau orang menggarap punya orang lain ialah orang yang tidak memiliki kebun karet untuk mereka garap sendiri, tetapi mereka menggarap punya orang lain sebagai suatu pekerjaan untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi dengan resiko jika menggarap punya orang lain hasil yang

didapat selama penggarapan di bagi hasil antara pemilik dan penggarap kebun karet tersebut.

c) Toke karet sebagai pemilik sekaligus pembeli getah karet adalah orang yang memiliki kebun karet sendiri dan juga langsung membeli getah karet baik dari orang yang menggarap kebun karetnya maupun orang lain yang menggarap punya orang lain yang hanya sengaja menjual getah karetnya kepada toke karet tersebut.

Di dalam sistem bagi hasil kebun karet di desa Muara Kibul ada beberapa Keuntungan Bagi Hasil dan Kerugian Bagi Hasil yaitu sebagai berikut:

1. Keuntungan Bagi Hasil

Dalam pelaksanaan kerja sama menggunakan sistem bagi hasil kebun karet ini jika mendapat getah karet dengan jumlah yang banyak dapat menimbulkan keuntungan antara lain:

a. Bila hasil getah banyak maka akan memberikan keuntungan baik bagi pemilik maupun penggarap kebun,

b. Pihak pemilik kebun yang cukup luas bisa membantu masyarakat yang berekonomi lemah,

c. Menambah pendapatan bagi masyarakat itu sendiri dan memperbaiki taraf hidup mereka,

d. Mendidik masyarakat yang kaya untuk selalu peduli dan membantu masyarakat yang berekonomi lemah,

e. Dapat menarik tenaga kerja karena kondisi krisis sekarang ini bagi masyarakat memang sulit untuk mendapakan pekerjaan dan keuntungan, sehingga warga

yang tidak memiliki pendapatan bisa ikut bertani sehingga mendapatkan penghasilan dan menggurangi penggangguran yang ada,

f. Dari pada kebun karet tersebut terbengkalai dan tidak terurus dapat juga dimanfaatkan oleh masyarakat yang tidak memiliki kebun atau pekerjaan sebagai tempat mata pencaria kehidupannya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Heri pemilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Manfaat dalam bagi hasil kebun karet ini sangat menguntungkan dan sangat membantu masyarakat yang berekonomian lemah, karena bagi yang tidak memiliki kebun tentunya sulit untuk menambah penghasilan apalagi dalam kesulitan ekonomi seperti sekarang ini, dan dari pada kebun tersebut tidak terurus lebih baik dimanfaatkan dengan menyerahkan kebun tersebut kepada orang lain yg mau merawat dan menggarap atau mengelola kebun tersebut dengan melalui sistem bagi hasil”.54

Dari hasil wawancara dengan Bapak Edi pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

“Manfaat bagi hasil kebun karet ini sangat menguntungkan dan membantu masyarakat yang penggaguran, dan juga membantu masyarakat yang kurang mampu, sebab tanpa adanya cara seperti ini masyarakat yang kurang mampu akan semakin sulit untuk mendapakan pekerjaan atau memperoleh pendapatan”.55

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Dayat pihak pemilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Menurut saya sangat bermanfaat sekali karena bisa membantu masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan dapat menambah pendapatan, dari pada kebun karetnya tidak terurus dan bersemak lebih baik diserahkan kepada

54 Wawancara, dengan Bapak Heri selaku pemilik kebun karet, tanggal 13 september 2018.

55 Wawancara, dengan Bapak Edi selaku penggarap kebun karet, tanggal 13 september 2018.

orang yang bersedia menggarapnya dan hasilnya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama”.56

Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Datuk pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

“Dalam usaha sistem bagi hasil kebun karet ini sangat bermanfaat dan menguntunkan karena sangat membantu bagi masyarakat yang miskin dan yang berekonomian lemah. Hal ini akan memberikan dampak manfaat yang besar dari kedua belah pihak”.57

Dari hasil wawancara dan permasalah di atas, maka dapat diambil suatu pemahaman, bahwa keuntungan terhadap pelaksanaan sistem bagi hasil kebun karet ini sangat besar sekali karena dapat saling tolong menolong dan saling membantu satu sama lainnya.

2. Kerugian Bagi Hasil

Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pelaksanaan sistem bagi hasil kebun karet ini, dan adapun kerugiannya sebagai berikut:

a. Bila tidak saling menjaga kepercayaan dan menjaga kesepakatan satu sama lain bisa saja menimbulkan konflik ataupun perpecahan antara kedua belah pihak, sementara tujuan melakukan kerja sama sistem bagi hasil ini untuk saling membantu dan tolong menolong antara keduanya.

b. Bila hasil panen ataupun garapan sedikit, sementara pihak pekerja telah mengeluarkan biaya yang cukup besar yang dibiayai selama pengelolaan kebun karet dan hasilnya lebih sedikit daripada biaya yang dikeluarkan pekerja, maka pekerja merugi.

56 Wawancara, dengan Bapak Dayat selaku pemilik kebun karet, tanggal 08 september 2018.

57 Wawancara, dengan Bapak Datuk selaku penggarap kebun karet, tanggal 07 september 2018.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibuk Wokiyah pihak pimilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Untuk masalah ingkar janji tentunya bagi kami pernah terjadi, karena kita tidak pernah mengontrol bagaimana pekerjaan yang dilakukan oleh pihak penggarap oleh karena itu pihak penggarap lari dari tanggung jawabnya dan pihak pemilik kebun merugi disebabkan biaya-biaya selama pengelolaaan kebun karet tersebut menjadi tanggungan pemilik kebun. Memang dampak negatif disini kebanyakan hasil panen atau garapan sedikit, tetapi hal ini jarang terjadi”.58

Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Adis selaku pemilik kebun karet menyatakan bahwa:

“Hampir belasan tahun saya menyerahkan kebun karet saya dengan orang yang menggarap kebun karet tersebut, untuk masalah inkar janji emang pernah pernah terjadi karena seorang penggarap pernah menjual hasil karet secara diam-diam, awalnya saya tenggur sampai dua kali tetapi ia teus melakukannya, maka dari itu saya memberhentikan ia untuk berkerja”.59 Kemudian hasil wawancara dengan Bapak Subhan pihak penggarap kebun karet menyatakan bahwa:

“Dampak yang terjadi di dalam sistem bagi hasil kebun karet ini bila hasil panennya sedikit, karena pihak sudah bekerja keras dan juga sangat menguras tenaga, waktu, dan kesempatan. Hal ini tentunya pihak pekerja ataupun penggarap akan rugi dan masalah ingkar janji pernah terjadi, karena saya kurang teliti dan saya pun jarang mengontrol kebun tersebut”.60

Selanjutnya hasil observasi penulis di Desa Muara Kibul dapat diperoleh suatu gambaran bahwa, bila keadaan cuaca atau iklim ini tidak stabil maka akan jadi penghambat bagi penggarap untuk memotong karet. Penggarap terkadang tidak selamanya mempunyai waktu untuk mengurus pohon-pohon yang ada di

58 Wawancara, dengan Ibuk Wokiyah selaku pemilik kebun karet, tanggal 12 september 2018.

59 Wawancara, dengan Bapak Adis selaku pemilik kebun karet, tanggal 08 september 2018.

60 Wawancara, dengan Bapak Subhan selaku penggarap kebun karet, tanggal 12 september 2018.

Dokumen terkait