2 BAHAN DAN METODE
3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Kondisi Iklim
Lokasi penelitian memiliki kondisi iklim hampir sama. Curah hujan rata- rata tahunan sebesar 2.041 mm (Stasiun Pomalaa, Kabupaten Kolaka) dan 1.901 mm (Stasiun Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur). Curah hujan rata-rata bulanan tertinggi (281 dan 306 mm) terjadi pada bulan April dan Mei, sedangkan terendah terjadi pada bulan Agustus (65 dan 81 mm). Berdasarkan Schmidt dan Ferguson (1951), lokasi penelitian mempunyai tipe hujan A (Basah). Tingkat kebasahan ini dicerminkan oleh bulan basah (>100 mm/bulan) yang terjadi selama 10 bulan dan tanpa bulan kering (< 60 mm/bulan).
Suhu udara rata-rata bulanan di lokasi penelitian berkisar 26,7°C-28,5°C dengan suhu udara rata-rata tahunan sebesar 27,9°C, sedangkan kelembaban udara rata-rata tahunan sebesar 75,6%. Kelembaban udara terendah (71%) terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober, sedangkan kelembaban udara tertinggi (79%) terjadi pada bulan April hingga Mei. Kondisi iklim di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kondisi iklim di lokasi penelitian
Stasiun Ladongi (2001-2014) Stasiun Pomalaa (2004-2013)
Bulan Curah Hujan Suhu Udara Kelembaban Udara Curah Hujan
mm °C % mm Januari 160 28,5 76 164 Februari 107 28,2 77 156 Maret 172 28,1 77 231 April 177 27,7 79 281 Mei 306 28,0 79 227 Juni 218 27,3 78 140 Juli 210 26,7 76 140 Agustus 81 27,2 71 65 September 82 28,0 71 92 Oktober 103 28,4 71 152 November 114 28,5 75 194 Desember 172 28,5 77 199 1.901 27,9 75,6 2.041
Geologi dan Bahan Induk
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Kolaka skala 1:250.000 (Simandjuntak et al. 1993), lokasi penelitian terbentuk dari 6 formasi geologi, yaitu Qa (Aluvium), Qpa (Formasi Alangga), Tml (Formasi Langkowala), Ku (Kompleks
Ultramafik), MTpm (Kompleks Pompangeo), dan Pzm (Kompleks Mekongga) (Gambar 3).
Gambar 3. Peta geologi dan lokasi profil tanah/SLP
Aluvium (Qa) merupakan formasi geologi termuda di lokasi penelitian, terbentuk pada zaman Kuarter dan berumur Holosen. Formasi ini tersusun dari lumpur, lom, pasir, kerikil dan kerakal.
Formasi Alangga (Qpa) adalah formasi geologi yang terbentuk pada zaman Kuarter dan berumur Plistosen. Formasi ini tersusun dari konglomerat dan batupasir.
Formasi Langkowala (Tml) merupakan formasi geologi yang terbentuk pada zaman Tersier dan berumur Miosen dengan komposisi batuan terdiri dari konglomerat, batupasir, serpih dan sesetempat kalkarenit.
Kompleks Ultramafik (Ku) merupakan formasi geologi yang terbentuk pada zaman kapur dengan susunan batuan terdiri dari harsburgit, dunit, serpertinit, gabro, basal, dolerit, mafik meta, ampibolit, magnesit.
Kompleks Pompangeo (MTpm) adalah formasi geologi yang terbentuk pada zaman Tersier dan berumur paleosen hingga kapur dengan komposisi batuan terdiri dari skis mika, skis glokofan, skis ampibolit, skis klorit, rijang dan skis gneisan, pualam dan batugamping meta.
Kompleks Mekongga (Pzm) merupakan formasi geologi yang berumur karbon. Susunan batuan dari formasi ini terdiri dari skis, gneis dan kuarsit. Formasi ini tersebar cukup luas di lokasi penelitian.
U
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa tanah-tanah di lokasi penelitian terbentuk dari bahan induk batuan skis, batupasir, batuan ultramafik, dan aluvium. Untuk keperluan karakterisasi dan klasifikasi tanah, serta evaluasi lahan telah diambil 24 profil tanah yang terbentuk dari bahan induk tersebut, yaitu profil SK 1, SK 2, SK 3, SK 4, SK 5, SK 6, SK 7, SK 8, dan SK 9 (batuan skis), profil BP 1, BP 2, BP 3, BP 4, BP 5, BP 6, BP 7, BP 8, dan BP 9 (batupasir), profil MF 1, MF 2, MF 3 (batuan ultramafik), dan profil AL 1, AL 2, AL 3 (aluvium) (Gambar 3).
Landform dan Relief
Landform merupakan bentukan alam di permukaan bumi yang menggambarkan kondisi suatu wilayah dengan ciri yang berbeda satu dengan lainnya, tergantung dari proses pembentukan dan evolusinya. Landform sangat erat kaitannya dengan keadaan dan sifat-sifat geologi, litologi, iklim, jasad hidup, dan relief/topografi yang menentukan kondisi tanah di atasnya. Berdasarkan hasil interpretasi dan verifikasi di lapangan, landform di lokasi penelitian terdiri dari : (1) dataran tektonik, (2) perbukitan tektonik, (3) intrusi volkanik, dan (4) dataran aluvial (Lampiran 1).
Dataran tektonik merupakan landform yang terbentuk sebagai akibat dari proses pengangkatan (uplift), dan lipatan (folded) dengan relief datar (lereng <1%) hingga bergelombang (lereng 8-15%). Di lokasi penelitian, landform ini terbentuk dari bahan batuan skis dengan relief agak datar (lereng 2%) (profil SK 1, SK 2, SK 3) hingga bergelombang (lereng 10%) (profil SK 4, SK 5, SK 6) dan batupasir dengan relief agak datar (lereng 2%) (profil BP 1, BP 2, BP 3, BP 4, BP 5, BP 6) hingga berombak (lereng 4%) (profil BP 7, BP 8, BP 9), ketinggian tempat 38-100 m di atas permukaan laut (dpl).
Perbukitan tektonik merupakan landform yang terbentuk sebagai akibat dari proses pengangkatan (uplift), dan lipatan (folded) dengan relief berbukit (lereng 15-30%). Di lokasi penelitian, landform ini terbentuk dari bahan batuan skis (profil SK 7, SK 8, SK 9). Ketinggian tempat (elevasi) dari landform ini adalah 274-288 m dpl.
Intrusi volkanik adalah landform yang terbentuk sebagai akibat dari intrusi atau terobosan volkanik. Di lokasi penelitian, landform ini terbentuk dari bahan batuan ultramafik dengan relief bergelombang (lereng 12%) dan ketinggian tempat 49-78 m dpl. Profil tanah yang terbentuk pada landform ini adalah MF 1, MF 2, dan MF 3.
Dataran aluvial merupakan dataran luas yang terbentuk akibat pengendapan bahan aluvium oleh air atau proses fluvial (aktivitas sungai). Bahan- bahan yang diendapkan pada landform ini di lokasi penelitian didominasi oleh fraksi debu dan klei yang diduga berasal dari hasil pelapukan batupasir dan batuan ultramafik di sekitarnya. Relief dari landform ini adalah datar (lereng 1%) dengan ketinggian tempat 67-73 m dpl. Tanah yang terbentuk pada landform ini berdrainase terhambat (profil AL 1, AL2, AL3) dan saat ini umumnya digunakan sebagai lahan sawah serta hanya sebagian kecil yang masih digunakan sebagai kebun kakao.
Tipe Penggunaan Lahan
Tipe penggunaan lahan (TPL) merupakan jenis-jenis penggunaan lahan yang diuraikan lebih detil, menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik (FAO, 1976). Tipe penggunaan lahan di lokasi penelitian adalah TPL kebun kakao rakyat yang dikelola dengan tingkat pengelolaan input rendah.
Tanaman kakao yang ditanam di lokasi penelitian berasal dari jenis kakao lindak dengan varietas kakao lokal (klon PA 7, AML, NA 34) tanpa sambung samping, dan umur tanaman kakao sekitar 16-18 tahun, dengan tanaman naungan umumnya gamal dan tanaman penaung lainnya berupa mangga, durian, kelapa. Tanaman penaung diperlukan di areal kebun kakao untuk mempertahankan kelembaban tanah dan menjaga tanaman kakao dari kekeringan.
Kakao umumnya dipanen pada bulan April hingga September dengan pemanenan buah masak tiap dua minggu sekali. Biji kakao yang telah dikeringkan selama 3 hari umumnya dijual ke pedagang pengepul atau ke pasar guna memenuhi kebutuhan keluarga atau domestik. Produksi kakao yang dikelola dengan input rendah bervariasi tergantung dari keragaman bahan induk dan kondisi kesuburan tanahnya. Modal yang digunakan selama satu tahun umumnya rendah disebabkan intensitas tenaga kerja rendah karena menggunakan tenaga kerja keluarga. Selain itu, tingkat pengelolaan lahan (pemberantasan gulma, pengendalian hama penyakit tanaman (HPT), dan pemupukan) juga dilakukan dengan input atau dosis rendah. Sumber tenaga untuk pemupukan, pengendalian HPT, pemangkasan hingga pemanenan menggunakan tenaga manusia dengan jumlah terbatas (2-3 orang/ha), kecuali pengangkutan hasil panen dengan menggunakan kendaraan roda dua. Informasi mengenai cara pengelolaan kakao di lokasi penelitian diperoleh petani dari penyuluh pertanian setempat.
Pemangkasan, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian HPT, pemanenan dilakukan dengan jumlah tenaga kerja dan intensitas kegiatan terbatas. Pemangkasan tanaman kakao dilakukan agar tanaman cukup mendapatkan penyinaran matahari. Pemupukan tanah umumnya menggunakan Phonska dengan dosis rendah, rata-rata 300 kg/ha/tahun atau setara dengan 90 g Urea, 90 g TSP, dan 90 g KCl/pohon. Dosis pupuk anorganik yang dianjurkan untuk tanaman kakao umur lebih dari 4 tahun dengan kondisi lingkungan baik adalah 220 g Urea, 240 g TSP dan 170 g KCl/pohon/tahun(Pujiyanto dan Abdoellah 2013).
Luas lahan kakao yang dikelola petani di lokasi penelitian umumnya sempit sekitar 1-3 ha dengan status lahan kakao milik sendiri dan dikelola atas bantuan tenaga keluarga sendiri.
Tingkat pendapatan petani umumnya bervariasi dari rendah hingga sedang Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan jumlah hasil panen biji kering kakao akibat perbedaan kondisi kesuburan tanah. Petani yang memliki lahan yang subur umumnya memperoleh pendapatan dari hasil panen kakao lebih tinggi dibandingkan petani dengan lahan kurang subur.
Infrastruktur yang tersedia untuk mencapai kebun kakao dapat dilalui kendaraan roda dua (motor) maupun roda empat, namun kondisi jalan sebagian besar masih berupa jalan tanah sehingga apabila terjadi hujan menjadi licin dan dapat menghambat mobilitas petani menuju areal kebun kakao.
19