• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sejarah Singkat Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) adalah penggabungan dari beberapa kawasan lindung, meliputi: Suaka Margasatwa Lore Kalamata (Kep. Mentan No. 522/Kpts/Um/1973); Hutan Wisata dan Hutan Lindung Danau Lindu (Kep. Mentan No. 46/Kpts/Um/1978) dan Suaka Margasatwa Lore Lindu (Kep. Mentan No.1012/Kpts/Um/1981). Deklarasi penggabungan kawasan lindung tersebut sebagai Taman Nasional pada waktu kongres Taman Nasional se-dunia di Denpasar Bali tahun 1982 dan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 merupakan dasar terbentuknya TNLL.

Kawasan TNLL ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 593/Kpts-II/1993. Kemudian ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui SK Nomor : 464/Kpts-II/1999. Luas kawasan TNLL mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 736/Menteri/X/1992 tanggal 14 Oktober 1982 luas kawasan TNLL adalah 231.000 ha. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 593/Kpts-II/1993 luas kawasan TNLL adalah 229.000 ha. Luas TNLL kembali mengalami perubahan pada tahun 1999 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999, TNLL dikukuhkan dengan luas kawasan 217.991,18 ha yang menjadi dasar pengelolaan TNLL saat ini. Berdasarkan informasi dari Balai Taman Nasional Lore Lindu tahun (2006), secara garis besar, penetapan TNLL adalah sebagai berikut :

1. TNLL adalah penggabungan dari tiga kawasan lindung, meliputi: Suaka Margasatwa Lore Kalamanta (Kep. Mentan No. 522/Kpts/Um/1973); Hutan Wisata dan Hutan Lindung Danau Lindu (Kep. Mentan No. 46/Kpts/Um/1978) dan Suaka Margasatwa Lore Lindu (Kep. Mentan No.1012/Kpts/Um/1981)

2. Dasar TNLL adalah deklarasi penggabungan kawasan lindung tersebut sebagai Taman Nasional pada waktu kongres Taman Nasional se-dunia di Denpasar Bali tahun 1982, melalui SK. Mentan No. 736/Mentan/X/1982

3. Selanjutnya ditunjuk oleh Menteri Kehutanan melalui Keputusan No. 593/Kpts-II/1993 dengan luas penunjukan 229.000 ha

4. Penunjukan tersebut dijadikan dasar untuk melakukan tata batas definitif, hingga temu gelang dan telah dikukuhkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Keputusan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas 217.991,18 ha

Kondisi Fisik dan Geografis TNLL

Secara Geografis TNLL terletak pada koordinat 1º 8’ – 1º30’ LS dan 119º 58’ – 120º 61’ BT. TNLL merupakan salah satu kawasan terpenting dari konservasi flora dan fauna endemik Sulawesi Tengah, selain dari fungsinya sebagai kawasan resapan air tanah yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Kawasan TNLL tersebut terbentang pada ketinggian sekitar 200 – 2.610 mdpl yang merupakan deretan pegunungan malleugraf. Deretan pegunungan tersebut terdiri atas puncak Gunung Nokilalaki (2.355 m dpl), Gunung Moa (1.280 mdpl), Gunung Sibaronggo (1.347 mdpl), dan Gunung Momi (1.116 mdpl).

Status Kawasan dan Status Pengelolaan

Status kawasan TNLL ditetapkan pada tanggal 23 Juni 1999 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 464/Kpts-II/1999. Status Pengelolaannya, dikelola oleh Balai TNLL sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional dan Unit Taman Nasional serta SK Menhut No. 6186/Kpts-II/2002 tanggal 10 Juni 2002.

Batas Kawasan

Batas kawasan TNLL telah ditata batas ´´temu gelang´´ oleh Sub BIPHUT Palu sepanjang 644 Km dengan batas-batas sebagai berikut :

Dataran Palolo – Sebelah Utara Dataran Napu – Sebelah Timur Dataran Bada – Sebelah Selatan

Sungai Lariang dan hulu Sungai Palu (Lembah Kulawi) - Sebelah Barat

Kondisi Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Fergusson, bagian utara kawasan TNLL mempunyai tipe iklim C/D (musiman) dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 855-1200 mm/tahun, bagian timur tipe iklim B (agak musiman) dengan curah hujan berkisar antara 344-1400 mm/tahun dan bagian barat memiliki tipe iklim A (lembab permanen) dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 1200-2200 mm/tahun (Infokom Sulteng, 2004).

Potensi Flora Figafeta filaris sp (Wanga)

Wanga (Pigafeta filaris) merupakan jenis palma endemik Sulawesi. Jenis pohon ini tumbuh pada ketinggian 300-1.000 mdpl. Wanga dapat dibedakan dengan jenis-jenis pohon palma lainnya, dari deretan duri-durinya yang berwarna pirang keemasan di sepanjang pangkal daunnya yang telah gugur dan batang berwarna hijau tua dengan cincin-cincin berwarna abu-abu muda. Berbeda dengan berbagai jenis palma Asia Tenggara pada umumnya, tampaknya Wanga tidak biasa beradaptasi pada habitat-habitat sekunder, karena pertumbuhannya yang cepat, tidak tahan sinar matahari pada fase semai dan pole serta menghasilkan biji-biji kecil dalam jumlah yang sangat banyak.

Wanga biasa ditemukan di tepi-tepi sungai, puncak-puncak bukit dengan sisi yang terjal, bekas tanah longsor, onggokan batu vulkanik dan bekas aliran lahar (Dransfield 1976 diacu dalam Balai Taman Nasional Lore Lindu 2006). Wanga memiliki banyak manfaat, batang wanga digunakan sebagai penopang pada rumah-rumah tradisional dan lumbung-lumbung Padi di Tana Toraja dan juga digunakan sebagai pipa-pipa saluran air (Sneed 1981, diacu dalam Balai Taman Nasional Lore Lindu 2006).

Eucalyptusdeglupta (Leda)

Leda (Eucalyptus deglupta) merupakan salah satu jenis flora khas yang terdapat di TNLL. Flora ini termasuk jenis pohon yang mempunyai tempat

tumbuh yang spesifik, yakni di tempat yang cukup terdapat air khususnya sekitar sungai. Pada umumnya, pohon Eucalyptus deglupta berasosiasi dengan Wanga (Pigafeta filaris), Rotan (Calamus sp.), Lekatu (Duabanga moluccana), Tohiti (Dysoxylum sp), Uru (Elmerillia sp), Palih (Lithocarpus sp), dan Tohiti (Dysoxylum sp). Eucalyptus deglupta berbunga pada bulan-bulan April sampai Juli.

Anggrek Alam

Jenis-jenis anggrek alam di kawasan TNLL terdapat sekitar 50 jenis dan menyebar pada ketinggian 600-800 mdpl. Beberapa jenis diantaranya termasuk jenis endemik seperti Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) dan Anggrek Bulan Merah (Phalaenopsis celebencis). Tanaman ini sangat menarik, bentuk daunnya yang indah berbelang-belang hijau ungu dan termasuk jenis epifit, berbunga putih, daunnya berdaging tebal, lama berbunga 3-4 bulan dengan jumlah kuntum 7-15 kuntum dalam satu tangkai. Jenis ini banyak di jumpai disekitar Gunung Nokilalaki.

Potensi Fauna Mamalia

Fauna yang tergolong Mamalia yang dapat ditemukan di TNLL diantaranya: Anoa (Anoa quarlesi, Anoa depressicornis), Babirusa (Babyrousa babyrusa), Babi Sulawesi (Sus celebensis), Kera (Macaca tonkeana), Phalanger ursinus, Kus-Kus Sulawesi (P. celebencis), Tarsius Sulawesi (Tarsius spectrum), Rusa (Cervus timorensis) dan Kelelawar. (Balai Taman Nasional Lore Lindu 2006)

Anoa

Jenis satwa yang paling dekat dengan kerbau ini berbulu lebat, warnanya coklat muda sampai coklat tua atau hitam. Anoa memiliki tanduk pendek berbentuk kerucut. Anoa pegunungan (Anoa quaresi), memiliki tinggi 75 cm diukur dari bahunya, lebih kecil dibandingkan dengan Anoa dataran rendah (Anoa ressicornis). Anoa yang merupakan satwa solitaire yang mempunyai sifat unik, karena dari lima spesies yang ada di Asia Tenggara, satwa inilah satu-satunya yang mempunyai habitat utama di hutan perawan. Makanan Anoa adalah berbagai jenis tanaman buah, daun-daun, rumput-rumput, lumut dan pakis. Oleh masyarakat lokal

(di dalam dan di sekitar TNLL), Anoa dikenal dengan nama Anoang, Kerbau Pendek, Dangko, Bondago Tutu, Bulu, Tutu, Sako, atau Tungka.

Kondisi topografi TNLL yang berbukit, berlembah dan dataran tinggi sangat sesuai bagi Anoa pegunungan yang sudah langka. Survey yang terakhir dilaksanakan menemukan cukup banyak jenis satwa di pedalaman Taman Nasional yang berpegunungan, dimana bekas tapak kaki, bekas tempat berbaring dan kotoran satwa ini sering terlihat. Akibat sering diburu oleh pemburu bayaran sampai hampir punah, TNLL merupakan tempat suaka terakhir bagi spesies endemik Sulawesi ini.

Musang (Civet)

Spesimen dari Civet raksasa Sulawesi yang jarang sekali terlihat (disebut musang oleh penduduk setempat), ditangkap hidup-hidup di TNLL ini pada tahun 1999. Cives jantan muda ini ditangkap oleh penduduk desa dan dilepaskan kembali setelah didokumentasikan dan dibuat filmnya.

Dengan berat badan 9 kg, musang ini panjangnya 130 cm dari kepala sampai ekor. Meskipun telah ditemukan oleh para ilmuwan lebih dari 100 tahun lalu, musang jenis ini baru beberapa kali saja terlihat. Makhluk yang pemalu ini merupakan satwa ahli memanjat, dan merupakan predator terbesar di Sulawesi setelah ular Piton. Makanan utama musang ini adalah burung-burung kecil, mamalia kecil, buah palma dan telur.

Babirusa

Babirusa (Babyrousa babyrusa) yang sudah langka ini merupakan kerabat jauh babi. Babirusa jantan mempunyai dua pasang taring, yang sepasang tumbuh menembus langit-langit rahang atas dan melengkung balik di atas mata. Babirusa sekarang sudah hampir punah di TNLL, karena nampaknya satwa ini lebih suka tinggal di kawasan dataran rendah di sekitar sungai dan danau, sehingga cenderung diganggu manusia. Babirusa merupakan binatang malam yang memburu buah yang jatuh dari pohon, dan membuka kayu yang lapuk untuk mencari larva kumbang. Tidak seperti babi pada umumnya, babirusa hanya melahirkan 1-2 anak,

yang tumbuh lambat sekali, sehingga satwa itu sangat rawan punah akibat diburu manusia.

Kera (Macaca tonkeana)

Kera Sulawesi sering digambarkan sebagai kera hitam, karena hampir tidak ada ekornya. Kera bukanlah jenis kera besar, tetapi monyet yang merupakan kerabat dekat Makaka berekor babi yang hidup di Kalimatan dan Sumatera. Makaka Tonkeana (Macaca tonkeana), yang hidup di dalam TNLL adalah salah satu dari tujuh jenis kera makaka yang ada di pulau ini, dan hanya dapat ditemukan di bagian Timur dan Tengah Sulawesi Tengah. Karena kera ini terancam kepunahan akibat diburu, baik untuk konsumsi lokal maupun untuk pasar daging di Manado, Sulawesi Utara. TNLL telah menjadi suaka yang penting bagi mereka. Dalam survey terbaru, Makaka seringkali terlihat di sekitar pinggir hutan, dan mencari makan di kebun-kebun hutan. Kera Makak mungkin justru lebih sering hidup di habitat-habitat ini daripada di bagian pegunungan TNLL, yang belum pernah dijamah manusia. Mereka dianggap binatang pengganggu oleh banyak penduduk lokal karena sering mengganggu tanaman kopi dan coklat milik masyarakat.

Tarsius (Kera Hantu)

Tarsius merupakan salah satu primata terkecil di dunia, beratnya hanya 100 gr dengan panjang badan 10 cm dari kepala dan panjang ekor 20 cm. Seperti semua primata, kera hantu ini mempunyai ciri mata yang menghadap ke depan dan kuku yang pipih. Kera hantu dewasa berhubungan secara monogamy dan tinggal dengan satu atau dua anaknya yang masih kecil. Keluarga kera ini tidur bersama dalam sarang di dalam belukar atau di dalam lubang pohon, muncul kira-kira 10-20 menit setelah matahari terbenam dan memulai perburuan serangga secara solitaire di tempat yang lebih rendah. Kera ini mempunyai wilayah kekuasaan permanen kurang dari 1 ha dan dipertahankan dari kera hantu lain dengan cara nyanyian.

Kelelawar

Paling sedikit ada 55 jenis kelelawar yang hidup di kawasan TNLL. Kelelawar ini sangat penting peranannya agar hutan dapat berfungsi, karena berperan penting dalam penyerbukan dan penyebaran biji berbagai tumbuhan tropis, seperti pisang liar dan beberapa jenis pandan atau palma berduri. Ada hubungan antara jenis tumbuhan hutan tertentu dengan jenis kelelawar yang ada, oleh karena itu berkurangnya jumlah kelelawar mempunyai potensi mempengaruhi komposisi hutan dalam jangka panjang. Survei-survei lapangan baru-baru ini menghasilkan penemuan dua jenis kelelawar buah yang diperkirakan merupakan spesies baru.

Burung

Sekitar 224 jenis burung ditemukan di Sulawesi, 97 diantaranya merupakan endemik. Sulawesi secara internasional dikenal sebagai suaka burung yang penting, 83 % jenis burung endemik Sulawesi terlihat di dalam TNLL. Jenis burung endemik yang ditemukan di TNLL antara lain Nuri Sulawesi (Tanygnatus sumatrana), Loriculus exilis, Trichologssus platurus, Cacatua sulphurea, Rangkong (Buceros rhinoceros dan Aceros cassidix), Pecuk ular (Anhinga rufa), Rallus plateni, Scolopax celebencis, Tyto inexspectata, Geomalia heinrichi, Macrocephalon maleo, Megapodius frecycynent.

Burung Maleo

Burung Maleo (Macrocephalon maleo), adalah anggota famili (rumpun) Megapodiidae yang suka membuat gundukan atau sering juga disebut burung incubator. Rumpun burung ini ditemukan dari Indonesia Timur terus sampai ke Polinesia dan Australia, tetapi burung Maleo sendiri hanya hidup di Sulawesi Utara, Tengah dan Tenggara. Burung ini mempunyai bulu hitam dan putih mencolok dengan dada merah jambu, ekor berdiri tegak dan kepala gundul seperti helm. Ukuran burung ini sebesar ayam betina (1,6 kg). Burung Maleo menetaskan telurnya dengan bantuan sumber panas dari luar, seperti; pantai-pantai berpasir yang dipanasi matahari, sumber-sumber air panas atau lubang-lubang gunung berapi.

Di dalam TNLL ditemukan sembilan lokasi sarang, semuanya terletak dekat sumber air panas atau di tepian sungai yang terbuka. Lokasi-lokasi sarang dikunjungi oleh burung-burung Maleo setiap pagi atau sore, dan dipakai bersama oleh beberapa pasang burung. Saat ini, burung Maleo mulai kesulitan mencari tempat untuk meletakkan telurnya. Burung ini menggali dengan kakinya yang kuat dan cakarnya yang sebagian dihubungkan dengan selaput, lokasi penetasan telur Maleo terletak di Desa Pakuli ± 30 Km dari Kota Palu.

Enggang/Rangkong

Kedua jenis Enggang Sulawesi menunjukkan contoh penggunaan kanopi pohon secara unik. Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), hidup dan makan secara unik pada kanopi atas, sedangkan Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), menempati kanopi bawah. Kedua jenis burung tersebut menunjukkan kebiasaan bertelur yang menarik. Si jantan dengan bantuan si betina, menggunakan lumpur untuk mengurung si betina dalam sarang di lubang pohon yang dipilihnya, dan hanya ditinggalkan lubang kecil untuk memberi makan kepada si betina. Si betina tetap terkurung dalam lubang pohon itu selama mengerami telurnya dan memelihara anaknya sampai mereka mampu terbang. Selama masa bertelur dari bulan Juli sampai September, si jantan mencari dan menyediakan makanan untuk keluarganya.

Sumber makan utama burung ini adalah buah Ara. Burung-burung ini dapat diamati dengan cara menunggu dekat pohon Ara yang sedang berbuah. Burung Enggang pada gilirannya juga memainkan peran penting dalam penyebaran biji pohon itu. Burung enggang berbuncak, juga disebut Rangkong dalam bahasa Indonesia dan disebut Allo oleh penduduk setempat merupakan burung yang paling menarik perhatian di dalam TNLL sehingga dijadikan simbol/logo TNLL. Burung ini mempunyai suara yang keras dan parau serta kepakan sayap yang ribut, ketika terbang di atas kanopi pohon. Umumnya Allo hinggap berpasangan, atau berkelompok di pohon yang berbuah.

Reptil, Ikan dan Amfibi

Terdapat 21 jenis cecak besar di kawasan TNLL, 68 jenis ular Sulawesi dapat ditemukan, seperti ular Piton (Phyton reticulatus) dan King Cobra (Ophiophagus hannah). Ular-ular yang paling sering ditemukan adalah ular Pembalap (Elaphe erythrura dan Elaphe jansen). Ular Piton yang bercorak seperti jala adalah ular terpanjang di dunia, dan banyak ditemukan di berbagai kawasan di Asia Tenggara. Ular Piton yang tercatat paling panjang, spesimen yang berukuran 9,97 m, ditemukan di Sulawesi. Kadang-kadang ular Piton ini memangsa makhluk yang besar, dan pada bulan Maret 1998 ada orang yang dimakan ular piton berukuran 5 m di Kulawi, ular ini kemudian dibunuh. Ular Piton juga seringkali diburu untuk dimanfaatkan daging dan kulitnya.

Di danau Lindu terdapat dua puluh satu juta amfibi dan enam jenis ikan, termasuk spesimen endemik di danau Lindu, yaitu Xenopoeceilus sarasinorum. Belut sangat umum ditemukan di semua sungai kecil di TNLL, tetapi ikan hanya ditemukan di sungai-sungai yang lebih besar dan danau-danau.

Serangga

Ribuan jenis serangga yang unik dan cantik dapat dilihat di sekitar TNLL, tetapi kebanyakan sulit diidentifikasi. Seringkali yang dilihat pengunjung adalah jenis yang kecil. Meskipun jenis ini tidak umum seperti hewan yang lebih besar, tetapi banyak yang menarik, mempunyai kebiasaan unik, dan layak diamati. Serangga yang sangat menarik untuk diamati seperti kupu-kupu yang berwarna mencolok yang terbang sekeliling TNLL. Kupu-kupu tersebut biasanya sering ditemukan mengitari air atau sumber garam dan bunga-bunga. Banyak spesies kupu-kupu yang ditangkap dan dijual kepada para kolektor.

Peternakan kupu-kupu pernah dianjurkan sebagai sumber alternatif mata pencaharian penduduk setempat. Kupu-kupu endemik termasuk Papilio blumei, kupu-kupu besar yang berekor seperti burung Sriti dengan sayap bergaris-garis biru-hijau menyala dan Graphium androcles, kupu-kupu besar dengan ekor panjang gemulai. Banyak kupu-kupu jantan, khususnya Graphium atau Appies sp terlihat minum di sekitar comberan untuk mendapatkan garam yodium yang sangat penting bagi siklus kehidupan mereka.

Letak Geografis Kecamatan Kulawi

Kecamatan Kulawi terletak pada 1,6º-1,9º Lintang Selatan, 119,25º Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Gumbasa dan Dolo Selatan Sebelah Timur : Kabupaten Poso

Sebelah Selatan : Kecamatan Kulawi Selatan Sebelah Barat : Provinsi Sulawesi Barat

Luas Wilayah Kecamatan Kulawi adalah ± 1.425,49 ha. Secara administratif terdiri dari 18 desa, dimana delapan desa diantaranya hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua dan berjalan kaki. Jarak antara ibu kota kecamatan (Bolapapu) ke desa-desa dan alat transportasi yang digunakan bisa dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Jarak Antara Ibu Kota Kecamatan dengan Desa-desa di Kecamatan Kulawi Tahun 2005

Desa Jarak (Km) Alat Transportasi

Winatu 16 Mobil Towulu 53 Motor Siwongi 62 Motor Banggaiba 76 Motor Rentewulu 62 Motor Lonca 9 Mobil Boladangko 1 Mobil Sungku 3 Mobil Toro 16 Mobil Mataue 1 Mobil Bolapapu 0 Mobil Namo 1 Mobil Tangkulowi 3 Mobil Salua 17 Mobil Puroo 19 Mobil Langko 20 Mobil Tomado 22 Mobil Anca 23 Mobil

Sumber : Kasi Pemerintahan Kecamatan Kulawi (2005)

Topografi

Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), Kecamatan Kulawi pada umumnya merupakan daerah pegunungan (± 90%), dan berada sepanjang aliran sungai Lariang yang terletak pada ketinggian 500-1000 m di atas

permukaan laut. Kemiringan tanah cukup curam yaitu berkisar antara 60%-70% dan bahkan ada yang mencapai di atas 80%. Persentase ketinggian desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Kulawi adalah : Sebanyak 44,4% mempunyai ketinggian 0-500 mdpl dan sebanyak 55,6% mempunyai ketinggian 501-1.000 mdpl. Data bentuk permukaan tanah dan ketinggian dari permukaan laut desa-desa di Kecamatan Kulawi pada tahun 2005 bisa dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Keadaan Tanah Menurut Persentase Bentuk Permukaan Tanah menurut Desa di Kecamatan Kulawi Tahun 2005

Desa

Bentuk Permukaan Tanah

Ketinggian (dpl) Dataran (%) Perbukitan (%) Pegunungan

(%) Winatu - - 100 700 Towulu - - 100 700 Siwongi - - 100 700 Banggaiba - - 100 700 Rentewulu - - 100 700 Lonca - - 100 500 Boladangko - - 100 500 Sungku - - 100 500 Toro - - 100 700 Mataue - - 100 500 Bolapapu - - 100 500 Namo - - 100 500 Tangkulowi - - 100 500 Salua - - 100 500 Puroo - - 100 700 Langko - - 100 700 Tomado 100 - - 700 Anca - - 100 700

Sumber BPS Kabupaten Donggala (2005)

Penduduk

Jumlah penduduk di Kecamatan Kulawi berdasarkan hasil pencatatan registrasi penduduk pada akhir tahun 2004 sebanyak 17.455 jiwa. Jumlah penduduk di Kecamatan Kulawi berkurang karena adanya pemekaran kecamatan, yaitu Kecamatan Kulawi Selatan. Luas Kecamatan Kulawi adalah 1.425,49 Km, dengan demikian kepadatan penduduk di Kecamatan Kulawi pada Tahun 2005 adalah 13 jiwa/Km2. Data luas wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk di Kecamatan Kulawi tahun 2005 bisa dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Kulawi Tahun 2005

Desa Luas (Km2) Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (Km2) Winatu 98,57 1.173 12 Towulu 246,67 1.177 5 Siwongi 66,94 652 10 Banggaiba 51,63 355 7 Rentewulu 41,90 596 14 Lonca 100,14 463 5 Boladangko 49,29 482 10 Sungku 67,47 954 14 Toro 50,65 2.057 41 Mataue 31,29 572 18 Bolapapu 59,80 2.292 38 Namo 24,37 1.179 48 Tangkulowi 24,55 307 13 Salua 45,68 1.138 25 Puroo 106,94 922 9 Langko 107,35 893 8 Tomado 120,82 1.718 14 Anca 131,43 525 4 2005 2004 2003 1.425,49 2.212,81 2.212,81 17.455 25.430 24.822 13 11 11

Sumber : Registrasi Penduduk Akhir Tahun 2005

Data jumlah rumah tangga, penduduk dan rata-rata penduduk per rumah tangga di Kecamatan Kulawi Tahun 2005 bisa dilihat pada Tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Jumlah Rumah Tangga, Penduduk dan Rata-rata Penduduk per Rumah

Tangga di Kecamatan Kulawi Tahun 2005

Desa Rumah Tangga Penduduk Rata-rata Penduduk/RT Winatu 204 1.173 6 Towulu 282 1.177 4 Siwongi 120 652 5 Banggaiba 105 355 3 Rentewulu 142 596 4 Lonca 121 463 4 Boladangko 128 482 4 Sungku 232 954 4 Toro 542 2.057 4 Mataue 144 572 4 Bolapapu 557 2.292 4 Namo 165 1.179 7 Tangkulowi 75 307 4

Tabel 4. (Lanjutan)

Desa Rumah Tangga Penduduk Rata-rata Penduduk/RT Salua 278 1.138 4 Puroo 228 922 4 Langko 221 893 4 Tomado 392 1.718 4 Anca 128 525 4 2005 2004 2003 4.064 5.956 5.908 17.455 25.430 24.822 4 4 4

Sumber : Registrasi Penduduk Akhir Tahun 2004

Pendidikan

Berdasarkan data yang terdapat dalam Kecamatan Kulawi dalam Angka Tahun 2005, fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Kulawi didominasi oleh sekolah dasar sebanyak 31 buah sedangkan SLTP hanya tersedia 2 buah dan SMU hanya tersedia 1 buah. Berdasarkan data pada Tabel 6 terdapat pengurangan jumlah SD dan SLTP dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pemekaran Kecamatan Kulawi Selatan, sehingga SD yang awalnya secara administratif berada di di Kecamatan Kulawi, pindah ke Kecamatan Kulawi Selatan . Data jumlah sekolah menurut tingkat pendidikan di Kecamatan Kulawi bisa dilihat pada Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5. Banyaknya Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Kulawi Tahun 2005

Desa Tingkat Pendidikan

TK SD SLTP SMU/SMK Winatu 1 1 - - Towulu - 2 - - Siwongi - 2 - - Banggaiba - 1 - - Rentewulu - 2 - - Lonca - 1 - - Boladangko - 1 - - Sungku 1 2 - - Toro 1 2 - - Mataue 1 1 - - Bolapapu 2 4 1 1 Namo 1 2 - - Tangkulowi - - - - Salua - 1 - -

Tabel 5. (Lanjutan)

Desa Tingkat Pendidikan

TK SD SLTP SMU/SMK Puroo - 1 - - Langko - 2 - - Tomado - 5 1 - Anca - 1 - - 2005 7 31 2 2004 8 42 3 1 2003 8 42 3 1 2002 8 42 3 1

Sumber : Kantor Cabang Dinas Dikjar Kecamatan Kulawi

Berdasarkan data banyaknya murid sekolah di Kecamatan Kulawi, diketahui bahwa jumlah murid yang paling banyak adalah murid SD, dan semakin tinggi pendidikan, jumlah muridnya semakin sedikit. Hal ini mengindikasikan, tingginya murid yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Data selengkapnya bisa dilihat pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Jumlah Pelajar berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Kulawi Tahun 2005 Tingkat Pendidikan Status Sekolah Jumlah Negeri Swasta TK - 68 68 SD 1.483 459 1.952 SLTP 294 48 342 SMU 186 - 186 SMK - - - PT/Universitas - - - 2005 1.963 575 2.548 2004 2.951 892 3.843 2003 2.506 1.285 3.791 2002 2.529 1.285 3.814

Sumber : Kantor Cabang Dinas Dikjar Kecamatan Kulawi (2005)

Pertanian

Sektor pertanian merupakan tumpuan kehidupan perekonomian di Kecamatan Kulawi pada umumnya. Oleh sebab itu pembangunan di sektor pertanian masih merupakan hal yang penting dalam mendukung pembangunan ekonomi pada sektor yang lain. Sektor pertanian yang berkembang di Kecamatan Kulawi adalah sub sektor Pertanian Tanaman Pangan, sub sektor Perkebunan, dan

sub sektor Peternakan. Luas tanaman bahan makanan di Kecamatan Kulawi Tahun 2005 bisa dilihat pada Tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Luas Tanaman Bahan Makanan di Kecamatan Kulawi Tahun 2005 (Ha) Desa Padi

Sawah

Padi

Ladang Jagung Ubi Kayu

Kacang Tanah Winatu 89 75 90 0,5 - Towulu 20 25 23 - - Siwongi - 88 30 - - Banggaiba 65 16 25 - 2 Rentewulu 14 41 16 - - Lonca 33 36 10 - - Boladangko 6 - 10 - - Sungku 32 13 179 - 1,5 Toro 819 - 165 - - Mataue 69 - 26 - 1 Bolapapu 236 - 16 - - Namo - - 40 - - Tangkulowi 18 - 7 - - Salua - 16 87 - 1

Dokumen terkait