• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN UMUM

Dalam dokumen MANAJEMEN PANEN KELAPA SAWIT (Halaman 24-74)

Letak Geografi

Lokasi Kebun Mandah, PT. Bhumireksa Nusa Sejati, Minamas Plantation secara administratif terletak di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau. Lokasi Kebun Mandah berada pada Bujur Timur 1030 28' 28" – 1030 34' 34" dan Lintang 00 05' 41" – 00 09' 40". Kebun Mandah dari Batam dapat ditempuh melalui darat menuju Pelabuhan Sekupang selama 30 menit, kemudian melalui laut menuju Pelabuhan Guntung menggunakan kapal fery selama 2 - 4 jam, dan kemudian menggunakan speed boat menuju Kebun Mandah kurang lebih selama 1 jam. Kebun Mandah juga dapat ditempuh dari Pekanbaru melalui Tembilahan, Ibu Kota Kabupaten Indragiri Hilir melalui sungai menggunakan speed boat selama 4 - 6 jam. Peta Kebun Mandah terdapat pada Lampiran 4.

Keadaan Iklim dan Tanah

Kondisi iklim di Kebun Mandah berdasarkan data curah hujan enam tahun terakhir termasuk tipe iklim A yaitu daerah sangat basah dengan rata-rata curah hujan tahunan kebun Mandah adalah 2 525 mm/tahun. Data curah hujan disajikan pada Lampiran 5.

Jenis tanah di areal Kebun Mandah, PT. Bhumireksa Nusa Sejati tergolong tanah organik atau tanah gambut dengan kandungan tanah ultisol 0 %, insepsol 0 %, dan histosol 100 %. Jenis tanah gambut memiliki struktur fisik yang remah dan mudah terjadi erosi atau abrasi pada tepi kanal di jalur transportasi yang terkena ombak. Kedalaman tanah gambut di kebun Mandah berkisar lebih dari 3 m. Derajat kemasaman (pH) tanah di Kebun Mandah rata-rata 2.93 yang menunjukkan bahwa tanah gambut di kebun Mandah merupakan tanah dengan kemasaman yang tinggi dengan kesesuaian lahan kelas S3. Topografi di Kebun Mandah memiliki areal yang datar dengan kemiringan 0 – 8 %.

13

Keadaan Tanaman dan Produksi

Tanaman kelapa sawit di Kebun Mandah secara umum adalah tanaman menghasilkan (TM) dengan tahun tanam 1996 - 2005. Bibit kelapa sawit yang ditanam di Kebun Mandah berasal dari Socfindo, Guthrie Research, dan Marihat. Pola tanam kelapa sawit yang digunakan dalam penanaman adalah segitiga samasisi dengan jarak tanam 9 m x 9 m x 9 m (populasi efektif 142 pokok/ha).

Produksi Kebun Mandah berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari tahun 2005 sampai 2010. Peningkatan produksi dipengaruhi oleh bahan tanaman, pemeliharaan tanaman, luas areal, pokok produktif per hektar, berat tandan rata-rata (BTR) yang meningkat setiap tahun pada tanaman kelapa sawit juga menyebabkan terjadinya peningkatan produksi. Produksi Kebun Mandah juga terjadi fluktuasi produksi tiap bulannya. Hal ini disebabkan oleh kerapatan buah, tenaga kerja, dan curah hujan.

Tabel 1. Produksi Kebun Mandah Tahun 2006-2010

Bulan Aktual Produksi

2005 / 2006 2006 / 2007 2007 / 2008 2008 / 2009 2009 / 2010 2010 / 2011 ..........kg......... Juli 1 153 383 1 545 570 2 131 763 3 388 165 4 218 604 4 584 521 Agustus 1 553 474 1 065 613 2 316 297 3 589 413 4 080 639 4 628 030 September 1 210 811 1 509 226 3 194 202 3 027 697 2 637 484 3 343 706 Oktober 1 821 865 704 336 2 226 815 3 227 360 4 509 978 3 589 514 November 1 298 178 1 392 693 3 589 885 3 759 997 4 358 348 4 194 717 Desember 1 827 606 2 012 516 3 223 586 3 548 491 4 542 321 4 412 094 Januari 892 956 1 991 357 2 694 366 3 472 842 3 905 422 3 805 585 Februari 865 542 1 729 238 2 187 959 2 473 315 3 532 416 3 445 992 Maret 505 710 1 860 695 2 092 463 2 724 307 3 810 199 4 578 807 April 1 009 300 1 878 720 2 473 359 2 309 690 3 917 870 4 479 539 Mei 1 904 124 1 909 393 2 608 613 2 168 075 3 755 146 5 295 816 Juni 1 300 788 1 673 611 2 715 338 3 454 912 4 214 390 5 743 446 Total 15 343 737 19 272 968 31 454 646 37 144 264 47 482 817 52 101 767 Luas (ha) 3 207 3 207 3 589 3 589 4 116 4 111 Produktivitas (ton / ha) 4.8 6.0 8.7 10.4 11.5 12.7

Luas Areal dan Tata Guna Lahan

Luas areal Kebun Mandah sampai tahun 2012 adalah 5 040 ha yang terdiri dari tanaman menghasilkan (TM) seluas 4 111 ha, dan luas areal yang tidak ditanami 929 ha. Kebun Mandah dibagi menjadi lima divisi areal pertanaman dan tiap divisi terbagi beberapa blok tanam. Luas areal masing-masing yaitu Divisi I seluas 832 ha dibagi dalam enam blok, Divisi II seluas 822 ha dibagi dalam enam blok, Divisi III seluas 784 ha dibagi dalam enam blok, Divisi IV seluas 819 ha dibagi dalam tujuh blok, dan Divisi V seluas 854 ha dibagi dalam tujuh blok. Areal yang tidak ditanami merupakan areal prasarana seperti emplasment, kanal, dan areal konservasi yang keseluruhan sebesar 8.47 % dari total areal Kebun Mandah. Luas areal dan tata guna lahan di Kebun Mandah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tata Guna Lahan Kebun Mandah

No Uraian Divisi Total

Luas I II III IV V ... ha ... 1 Tanaman Menghasilkan TT. 1996 TT. 1997 TT. 1998 TT. 1999 TT. 2000 TT. 2004 TT. 2005 141 691 - - - - - - 151 671 - - - - - - 139 645 - - - - - - - 413 145 261 - - - - 229 376 249 141 842 810 645 642 521 510 Total Areal TM 832 822 784 819 854 4 111 Areal TBM - - - -

Total Areal Ditanam 832 822 784 819 854 4 111 2 Areal Belum Ditanam /

Lainnya - Emplasment/Pabrik - Kanal/kolektor - Sungai/rawa - Okupasi - Konservasi 30 41 - - - 14 38 - - - 11 36 - - - 14 18 - 235 208 - 17 - 267 - 69 150 - 502 208 Total Areal Tidak Ditanam 71 52 47 475 284 929 Total Areal Kebun Mandah 903 874 831 1 294 1 138 5 040

15

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Struktur organisasi Kebun Mandah terdiri dari seorang estate manager yang memimpin dan bertanggung jawab terhadap semua kegiatan di unit kebun. Estate Manager membawahi seorang senior asisten, lima asisten divisi, seorang asisten traksi, satu asisten Quality Asurance (QA), dan seorang kepala seksi (Kasie). Senior asisten memimpin sebuah divisi dan memiliki wilayah kerja seluruh divisi. Asisten divisi bertanggung jawab atas pekerjaan di setiap divisi. Kepala seksi bertugas memimpin kegiatan administratif di kantor besar. Struktur organisasi Kebun Mandah dapat dilihat pada Lampiran 6.

Ketenagakerjaan di Kebun Mandah, PT. Bhumireksa Nusa Sejati terdiri atas karyawan staf dan non staf. Perbedaan ini berdasarkan jenis pekerjaan dan sistem pengupahan. Karyawan staf terdiri dari estate manager, asisten kepala, asisten divisi, dan kepala seksi. Pemberian gaji berdasarkan golongan dan kebijakan yang dibuat oleh perusahaan. Karyawan non staf terdiri atas syarat kerja umum (SKU) yang terbagi menjadi SKU bulanan dan SKU harian seperti mandor, SKU kontrak, dan karyawan harian lepas (KHL).

Pengelolaan Kebun Tingkat Staf

Pengelolaan kebun dilakukan oleh estate manager dibantu oleh asisten kepala, asisten divisi dan kepala seksi. Estate manager mengelola kebun mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dalam pelaksanaan manajemen teknis, manajemen tenaga kerja, serta manajemen keuangan kebun.

Asisten kepala mempunyai tugas untuk menggantikan tugas manajer jika tidak berada di lokasi, serta memimpin sebuah divisi, bagian traksi, klinik, gudang, dan keamanan. Asisten kepala langsung bertanggung jawab kepada estate manager. Asisten kepala bertugas untuk memimpin, mengarahkan dan menegur para asisten dalam melaksanakan kegiatan di lapangan.

Asisten divisi mempunyai tugas untuk membuat program kerja divisi, mengkoordinasikan pekerjaan mandor-mandor tanaman dalam menjalankan peraturan perusahaan, mengevalusi hasil kerja mandor I, kerani divisi, mandor perawatan, mandor panen, kerani panen serta membantu estate manager dalam

pengawasan dan pelaksanaan teknis di lapangan. Asisten dibantu oleh seorang mandor I dalam pelaksanaan kegiatan lapangan. Pelaksanaan administrasi asisten dibantu oleh kerani divisi.

Kepala seksi bertugas memimpin kegiatan yang dilaksanakan di kantor besar, menyusun, dan melaporkan secara tertulis kegiatan administratif yang bersifat umum, teknik budidaya, produksi, tenaga kerja, maupun hal-hal pendukung yang berasal dari luar kebun.

Pengelolaan Kebun Tingkat Non Staf

Karyawan kebun tingkat non staf adalah kepala gudang, mandor I, mandor panen, kerani divisi, mandor perawatan dan kerani panen. Kepala gudang bertugas untuk mengatur keluar masuk barang, bahan, dan alat yang dibutuhkan kebun serta mencatat jumlah barang yang tersedia. Kepala gudang dalam melakukan aktivitasnya dibantu oleh beberapa karyawan gudang.

Mandor I bertugas membantu asisten divisi dalam mengawasi kegiatan sehari-hari di lapangan. Setiap divisi mempunyai seorang mandor I yang membawahi beberapa mandor seperti mandor perawatan, mandor panen, dan kerani buah. Kegiatan yang dilakukan mandor I adalah mengawasi kegiatan yang dilakukan mandor dan karyawan agar rencana yang telah ditetapkan berjalan dengan baik. Selain itu, mandor I juga dapat menegur dan memberikan sanksi kepada mandor dan karyawan yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai rencana.

Kerani divisi bertugas melakukan kegiatan administratif seperti laporan produksi, laporan penggunaan HK, laporan penggunaan bahan, laporan hancak dan laporan-laporan lainnya serta setiap hari melaporkan pasca panen ke kantor besar. Kerani divisi dalam melakukan tugasnya berkoordinasi dengan mandor dan kerani buah. Kerani divisi juga membantu asisten untuk membagikan gaji dan jatah beras pada karyawan.

Mandor panen bertugas untuk mengabsensi karyawan, memberikan instruksi pekerjaan, mengatur hanca karyawan, mengawasi pekerjaan, mem-berikan petunjuk teknis, mengawasi pekerjaan dan melaporkan hasilnya dalam buku kerja mandor. Seorang mandor harus dapat meningkatkan hasil kerja karyawan agar dapat mencapai target yang diinginkan.

17 Kerani buah bertugas untuk mencatat, menghitung jumlah TBS, brondolan yang dipanen, menyeleksi TBS di TPH, membuat premi potong buah setiap hari panennya dan mengatur transportasi buah dari TPH ke colection point (CP). Laporan dimasukkan dalam buku laporan panen harian setiap divisi yang selanjutkan dilaporkan ke kantor besar.

Pengelolaan Tenaga Kerja Harian

Kegiatan setiap hari dimulai pukul 05.30 WIB, yang diawali dengan apel pagi di setiap divisi. Asisten divisi memimpin kegiatan apel pagi dengan mengarahkan para mandor tentang kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu serta mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari sebelumnya, tetapi sebelum asisten, Mandor I yang membuka dan memulai apel pagi tersebut. Mandor I juga bertugas menggantikan asisten memimpin apel pagi jika asisten berhalangan karena tugas keluar ataupun sakit. Seluruh kegiatan di lapangan dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 14.00 WIB, terkecuali hari Jum’at kegiatan diakhiri pukul 12.00 WIB.

Setiap asisten divisi membawahi seorang mandor I, satu orang kerani divisi, dan 6 supervisior (mandor dan kerani buah). Pengawasan dilakukan setiap hari oleh asisten divisi dan mandor I. Selain melakukan pengawasan di lapangan asisten juga mengevaluasi buku kerja mandor setiap hari. Mandor bertugas mengabsen karyawan, memberikan instruksi pekerjaan, mengatur hancak karyawan, mengawasi pekerjaan dan memberikan laporan dalam buku kerja mandor setiap hari kerja. Laporan hasil kerja mandor dikumpulkan menjadi satu oleh kerani divisi yang kemudian dilaporkan kepada pihak manajemen kebun pada kantor besar.

Fasilitas Sosial

Kebun Mandah menyediakan fasilitas sosial dan pendidikan yang memadai. Fasilitas sosial yang dimiliki adalah satu unit klinik yang terletak di pusat lokasi kebun, empat unit tempat penitipan anak yang terletak di tiap divisi, tiga unit musola yang terletak di Divisi I, Divisi III, dan Divisi IV. Fasilitas

pendidikan yang dimiliki adalah satu unit sekolah dasar swasta (SDS) bangunan permanen dan taman kanak-kanan (TK) yang berada di pusat lokasi kebun. Fasilitas transportasi air yang disediakan berupa bargas, pompong, dan pocay. Bargas digunakan untuk menjemput dan mengantar siswa sekolah yang digunakan oleh Divisi III, Divisi IV, dan Divisi V. Pompong digunakan untuk mengantar siswa SLTP ke luar Kebun Mandah yang berada di Nusa Perkasa Estate. Pocay merupakan transportasi yang digunakan oleh divisi yang jauh dari pusat kebun seperti Divisi IV dan V untuk antar jemput staf dalam kebun, mengantar karyawan atau keluarga karyawan yang sakit untuk berobat ke poliklinik, dan keperluan umum yang lain. Selain itu juga terdapat kelompok kesenian kuda lumping dan koperasi karyawan.

19

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Lahan gambut adalah tanah yang terbentuk dari bahan organik dalam waktu yang lama dan umumnya tersebar di sepanjang pantai. Tanah gambut umumnya juga disebut sebagai tanah daun. Untuk mencapai produktivitas yang optimal di lahan gambut, maka pengelolaannya memerlukan standarisasi teknologi dan kultur-teknis khusus yang berbeda dengan tanah mineral. Dalam peningkatan efektifitas operasional di lahan gambut diperlukan paket teknologi yang terintegrasi mulai dari sistem pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, transportasi dan pengelolaan produksi.

Aspek Teknis

Kegiatan teknis yang dilakukan penulis di Divisi V Kebun Mandah adalah sebagai KHL selama 3 minggu, yang dalam pelaksanaannya penulis bekerja sebagai KHL yang sebenarnya di lapangan. Pelaksanaan kegiatan teknis sebagai KHL dilakukan dengan mengikuti kegiatan pemeliharaan tanaman mulai dari rawat piringan kimia, rawat gawangan kimia, rawat gawangan manual, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, mounding, water mangement, dan panen.

Kegiatan dimulai dengan mengikuti apel karyawan lapangan, dimulai pukul 06.00 - 06.30 WIB yang dipimpin masing-masing mandor. Pada saat apel karyawan, para mandor bertugas mengabsen karyawan, memberikan pengarahan jika ada pengalihan kegiatan, membagi hancak, dan volume pekerjaan. Pelaksanaan di lapangan dimulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB. Jurnal kegiatan di lapangan sebagai KHL, pendamping mandor dan penanggung jawab sementara asisten divisi terlampir pada Lampiran 1, 2 dan 3.

Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit di Kebun Mandah merupakan tanaman yang telah menghasilkan sehingga pemeliharaan tanaman berpusat pada tanaman menghasilkan (TM). Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu tindakan yang

sangat penting dalam menentukan produktivitas tanaman kelapa sawit, disamping kondisi lingkungan dan potensi genetik. Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit menghasilkan bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tanaman, mempermudah pekerjaan pemanenan, mempermudah kontrol di lahan serta pemupukan akan lebih efektif dan efisien.

Rawat Gawangan Manual. Rawat gawangan manual adalah kegiatan

menanggulangi pertumbuhan gulma di gawangan kelapa sawit dengan cara membabat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengendalikan gulma di gawangan mati yang dapat menghalangi kegiatan pemupukan, pemanenan, dan menghindari persaingan hara dengan kelapa sawit, serta mempermudah pengawasan. Norma pekerjaan rawat gawangan manual adalah ± 1 ha/HK.

Jenis gulma yang dominan di perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut adalah Nephrolepis biserata, Paspalum conjugatum, Melastoma malabathricum, Borreria alata, dan Mikania micrantha.

Pendongkelan Kentosan. Pendongkelan kentosan merupakan salah satu

kegiatan pemeliharaan tanaman dengan membuang tanaman sawit liar yang tumbuh di sekitar tanaman kelapa sawit utama yang terdapat di piringan dan gawangan. Sawit liar dicabut bertujuan agar penyerapan hara oleh tanaman kelapa sawit utama tidak terganggu dan juga mencegah terbentuknya pokok ganda. Biaya pemeliharaan kegiatan dongkel kentosan tidak dimasukkan dalam budget anggaran bulanan pemeliharaan sehingga kegiatan ini dilakukan pada saat kegiatan chemist (penyemprotan secara kimia) terhalang oleh hujan.

Pengendalian Gulma Secara Kimia

Pengendalian gulma secara kimiawi di Kebun Mandah menerapkan sistem kerja Block Spraying System (BSS). Sistem kerja BSS merupakan program penyemprotan yang dilakukan secara terintegrasi dan terorganisir dari awal hingga akhir kegiatan penyemprotan. Tujuan dibentuknya sistem BSS adalah untuk meningkatkan output pekerja semprot, baik dari segi luasan (hancak semprot) maupun dari kualitas hasil semprotan.

Secara umum Standar Operation Procedur pelaksanaan pengendalian secara kimia (tim Chemist) sebagai berikut:

21 1. Mengikuti antrian pagi dengan Mandor Semprot pada jam 06.00 WIB

2. Menerima instruksi/pengarahan kerja dari Mandor Semprot tentang teknis kerja dilapangan.

3. Mengambil dan mengecek alat semprot masing-masing ke gudang divisi. 4. Mengambil bahan semprot (racun herbisida) sesuai dengan rencana kerja,

yang sudah dilakukan percampuran 1:1 atau Bahan herbisidi 50 %. Sebelum di bawa kelapangan.

5. Mengenakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap (baju lengan panjang, celana panjang, clemek, kaca mata, masker, topi dan satung tangan karet). 6. Mengenakan sepatu harus berada di dalam celana panjang demikian juga

dengan mengenakan sarung tangan didalam lengan baju panjang. 7. Pada saat kerja, penyemprotan harus searah dengan arah angin.

8. Pada saat jam istirahat makan, alat APD dan racun dijauhkan minimal 10 m dari tempat istirahat dan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun cuci yang telah disiapkan.

9. Melaksanakan penyemprotan dengan radius > 2 m.

10. Mencabut kentosan langsung sebanyak minimal 50 kentosan untuk digunakan sebagai absensi.

11. Selesai menyemprot,seluruh alat semprot dicuci dan di simpan dalam kondisi yang bersih di gudang divisi dan diatur rapi.

12. Ganti baju seragam kerja dengan pakaian yang bersih sebelum kembali kerumah masing-masing.

Semprot Gawangan, Piringan dan Tempat pengumpulan Hasil (TPH)

Gawangan merupakan lorong baris diantara jalur kelapa sawit yang terdiri dari gawangan hidup dan gawangan mati. Gawangan hidup berfungsi sebagai pasar pikul atau jalan pengangkutan buah dari pohon ke TPH. Pengendalian gulma pada gawangan yang dilakukan secara kimia menggunakan alat semprot knapsack sprayer RB15 dengan kapsitas 15 l/tangki dalam pengaplikasiannya. Tujuannya adalah untuk mengurangi kompetisi hara, air dan sinar matahari, menekan populasi hama, mempermudah kontrol pekerjaan dari satu gawangan ke gawangan lainnya dan mempermudah pengangkutan buah ke TPH.

Semprot gawangan ini menggunakan herbisida Audit dengan bahan aktif Glyphosate isopropylamine, Meta Prima berbahan aktif metil metsulfuron 20 %, dan Starane berbahan aktif metil heptil ester atau fluroksipir. Audit dan Starane merupakan herbisida yang bersifat sistemik, berbentuk larutan dalam air yang berfungsi untuk mengendalikan jenis gulma berdaun lebar, sempit dan teki. Konsentrasi yang digunakan untuk Audit adalah 4 cc/ l air atau sekitar 60 cc/tangki sedangkan Starane adalah 0.68 cc/ l air. Alat yang digunakan adalah RB 15 dengan kapasitas 15 liter. Meta prima merupakan herbisida pra dan purna tumbuh yang bersifat selektif, berbentuk butiran berwarna putih keabuan, dan berbahan aktif metil metsulfuron 20 % yang berfungsi untuk mengendalikan gulma berdaun lebar dan gulma berdaun sempit. Cara pengaplikasian meta prima terlebih dahulu melarutkan bahan dan air. Aplikasi di lapangan Kebun Mandah dengan cara mencampur Audit dengan Starane atau Audit dengan Meta prima.

Pengendalian gulma berlilin digunakan herbisida dengan merk dagang “Kenlon” yang merupakan herbisida purna tumbuh sistemik berbentuk pekatan, berwarna coklat terang, dan berbahan aktif triklopir butoksi etil ester 480 g/l. Cara aplikasi bisa dengan cara penyemprotan dengan konsentrasi 4 cc/l atau dengan cara gulma ditebas hingga kulitnya mengelupas sampai terlihat kambium dilanjutkan dengan mengoleskan herbisida pada anak kayu tersebut.

Semprot piringan dan TPH merupakan pengendalian gulma menggunakan bahan kimia dan dosis yang sama dengan kegiatan semprot gawangan akan tetapi pengendalian dilakukan di sekitar piringan pokok kelapa sawit dan tempat pengumpulan hasil. Tujuannya adalah mempermudah pemanenan, mengurangi kompetisi unsur hara dan air, sanitasi terhadap hama dan penyakit, mempermudah pengontrolan pekerjaan, dan membersihkan tempat pengumpulan buah.

Pelaksanaan penyemprotan diatur oleh mandor dengan sistem ancak giring. Penyemprot masuk dari jalur tanaman pada pasar rintis dan menyemprot piringan setiap pokok dengan radius > 2 m sampai parit tersier. Gulma disemprot sampai basah agar racun bereaksi dengan cepat. Kegiatan penyemprotan sering terhalang dengan hujan sehingga penyemprotan dilakukan pada saat cuaca cerah agar herbisida yang digunakan tidak sia-sia.

23 Rotasi yang digunakan dalam pengendalian gulma secara kimia adalah 4 bulan. Norma pekerjaan semprot gawangan adalah ± 3 ha/HK. Kegiatan ini memiliki mobilisasi yang cepat sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan pengorganisasian kerja dan transportasi sendiri. Hal ini dilakukan agar semua pekerjaan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Pemupukan

Tanah gambut di Kebun Mandah termasuk gambut ombrogen karena terbentuk dari curah hujan yang airnya tergenang. Hara yang ada di tanah gambut menjadi tidak tersedia bagi tanaman karena dipengaruhi pH yang rendah dan kelat. Pemupukan merupakan suatu usaha untuk mempertahankan, mengendali-kan, dan meningkatkan kesuburan tanah. Efektifitas dan efisiensi pemupukan ditentukan enam faktor sebagai berikut jenis pupuk, dosis aplikasi, penyimpanan pupuk, waktu aplikasi, cara aplikasi, dan tempat diaplikasikan.

Beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum pemupukan, yaitu persiapan piringan, material pupuk, tenaga kerja, sarana transportasi serta alat-alat aplikasi pupuk yang sudah dikalibrasi. Kebun Mandah dalam pelaksanaan pemupukan berdasarkan anjuran rekomendasi pemupukan yang dibuat oleh Minamas Reserch Center (MRC) yang berdasarkan hasil analisis sampel daun/ leaf sample unit (LSU). Jenis pupuk yang digunakan di Kebun Mandah adalah pupuk makro dan pupuk mikro. Pupuk makro yang digunakan NPK Peat Kay, sedangkan pupuk mikro yang digunakan CuSO4, ZnSO4, dan FeSO4. Dosis pemupukan untuk pupuk makro (Peat Kay) adalah 3 - 3.5 kg/pokok sedangkan untuk dosis pupuk mikro adalah 250 g/pokok.

Program pemupukan makro di Kebun Mandah dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada semester satu dimulai pada bulan Juli – Desember dan semester dua pada bulan Januari-Juni, sedangkan pada pupuk mikro dilakukan satu kali dalam satu tahun.

Penerapan kegiatan pemupukan di Kebun Mandah dengan cara Block Manuring System (BMS) yaitu program implementasi pemupukan yang dilakukan secara simultan dari pokok ke pokok dan dari blok ke blok dengan tenaga aplikator yang terdiferensiasi jelas antara penabur dan pengecer (Gambar 1).

Tujuannya adalah mutu pemupukan yang lebih baik, supervisi lebih fokus, dan produktifitas yang lebih tinggi.

Sistem operasi BMS di Kebun Mandah meliputi :

1. Pembagian Hancak kelompok kerja pupuk (KKP) yang diatur berurutan dan tidak saling overlapping sehingga waktu mobilisasi lebih singkat, 2. Sistem pengeceran material pupuk yang dilakukan oleh tenaga pengecer

secara khusus

3. Sistem operasi penaburan pupuk dilakukan secara sambung menyambung (simultan) dan tanpa terputus, sehingga aplikasi dapat lebih merata,

4. Model pengawasan yang dilakukan oleh mandor pupuk lebih fokus dan mudah

5. Teknis pembagian hancak KKP yang dilakukan oleh mandor sesuai dengan norma kerja pemupukan

Jenis pekerjaan pemupukan terbagi menajadi penguntilan, pengecer pupuk ke lapangan, pelangsir, dan penabur. Kebutuhan jumlah tenaga harus pasti dan sesuai dengan luas areal yang akan dipupuk. Norma prestasi pemupukan untuk penabur adalah 2 – 3.5 ha/HK atau 350 - 500 kg/HK untuk pemupukan mikro dan 1.5 – 2 ton/HK pada pemupukan makro.

Gambar 1. Model Pergerakan Tim Pupuk dalam Aplikasi

Leaf Sample Unit (LSU). LSU merupakan pengambilan contoh daun kelapa sawit yang akan dianalisa untuk penentuan dosis rekomendasi pemupukan. Hasil analisa daun merupakan faktor kunci dalam penentuan dosis rekomendasi. Telah diketahui bahwa ketelitian dan ketepatan hasil analisa daun terutama sekali

25 tergantung dari cara pelaksanaan pengambilan sampel daun yang benar di lapangan. Metode yang dipakai tidak selalu sama untuk setiap LSU tergantung pada luas dan bentuk areal LSU. Pada prinsipnya dalam satu LSU terdapat pohon sample antara 28 – 50 pohon. Daun contoh diambil dari dari pelepah nomor 17 (Gambar 2). Pedoman umum untuk penentuan jumlah pohon sampel LSU

Dalam dokumen MANAJEMEN PANEN KELAPA SAWIT (Halaman 24-74)

Dokumen terkait