Aspek Panca Usaha Ternak pada Pemeliharaan Ayam Pedaging di Peternakan Plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama.
1. Bibit Ayam Pedaging
Ayam broiler adalah galur ayam hasil rekayasa genetik yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, masa panen pendek dan menghasilkan daging berserat lunak, timbunan daging baik, dada lebih besar dan kulit licin (North and Bell, 1990).
Perkembangan ayam pedaging dimulai dari Great grand parents stock, Grand parents stock, Parent stock, dan Final stock. Great grand parent stock adalah jenis ayam yang berasal dari persilangan dan seleksi dari berbagai kelas, bangsa, atau varietas yang dilakukan oleh pembibit dan merupakan bagian untuk membentuk Grand parent stock, dihasilkan dari persilangan galur murni (pure line). Grand parent stock adalah jenis ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan Parent stock. Parent stock adalah jenis ayam yang dipelihara untuk menghasilkan Final stock. Final stock merupakan ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan telur atau daging yang telah melalui berbagai persilangan dan seleksi. Diantara ayam jantan dan betina Final stock ini tidak boleh disilangkan karena keturunannya hanya akan menghasilkan produksi 50 % dari induknya (Anggorodi, 1984).
Bibit yang digunakan dalam lokasi peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama yaitu galur SR 707 dari hatchery PT. Satwa Utama Raya yang merupakan hasil persilangan antara ayam Cornish dan Playmouth Rock dengan vaksinasi ND
K-18 L + IBD setelah menetas. DOC yang dipelihara sejumlah 4.500 ekor, ditempatkan dalam brooder chick di kandang panggung. Adapun ketetapan harga jual yang berlaku untuk peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama yaitu DOC seharga Rp. 3.700,-/ekor. Pemilihan dan penggunaan strain ini dimaksudkan adanya pertimbangan dalam hal produksi daging yang cukup tinggi, resistensi terhadap penyakit dan dapat lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (1987) yang menyatakan bahwa ciri-ciri anak ayam yang sehat antara lain memiliki kemampuan penyesuaian untuk dipelihara di lingkungan tropis, tidak mudah mengalami cekaman, konversi pakan yang baik, memiliki tingkat persentase mortalitas yang rendah.
Gambar 2. Data Label Box DOC dari PT. Satwa Utama Raya
Bibit yang telah menetas dari hatchery tidak langsung diangkut ke kandang melainkan lebih dahulu dicatat data-datanya, selama pengangkutan DOC, box ditutup agar DOC tidak kepanasan dan langsung dimasukkan dalam brooder yang sudah disiapkan 2 hari sebelum DOC datang. Setelah DOC sampai ke kandang kemudian DOC diberi air minum putih yang telah dicampur dengan gula merah dengan perbandingan 100 gr gula merah dengan 5 lt air atau 2% air gula. Pemberian air gula
19 tersebut dimaksudkan agar DOC memperoleh energi kembali yang diakibatkan kelelahan DOC selama perjalanan sehingga dapat menghindari dehidrasi pada DOC tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (1987) bahwa pemberian air gula berguna untuk memberikan energi siap pakai sehingga kelelahan DOC dapat dikurangi.
Tahapan pertumbuhan hewan akan membentuk kurva sigmoid (Anggorodi, 1984). Pada awal pertumbuhan lambat, kemudian berkembang lebih cepat dan akhirnya perlahan lagi menjelang dewasa tubuh. Kecepatan pertumbuhan pada ayam mempunyai variasi yang cukup besar tergantung pada tipe ayam, strain, jenis kelamin dan makanan, disamping faktor lingkungan seperti suhu dan perlindungan terhadap penyakit (North, 1978).
2. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam secara umum dapat di kelompokkan menjadi beberapa macam yaitu di sebabkan karena stress (cekaman), defisiensi zat makanan, parasit penyakit karena protozoa, penyakit karena bakteri, penyakit karena virus dan penyakit karena cendawan (Suprijatno dan Atmomarsono, 2005). Penyebab penyakit biasanya berkaitan dengan stres (cekaman). Stres di sebabkan karena beberapa faktor dari lingkungan dan dari manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Diantara faktor penyebab stres yaitu kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi yang tinggi, tidak cukup pakan dan minum dan pengobatan yang berlebihan. Apabila foktor tersebut bisa di minimalisir maka kemungkinan stres sangat kecil.
Berdasarkan hasil pembedahan (nekropsi) dari beberapa sampel ayam afkir yang telah dilakukan oleh dokter hewan pada minggu ke-3, dapat disimpulkan bahwa
20 penyakit yang secara positif menjangkit ayam yang ada di peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin ini adalah Kolibasilosis yang disebabkan kurangnya penerapan biosecurity terhadap air yang diminum ternak sehingga bakteri yang habitatnya di air di sekitar kandang dapat menyebar dengan cepat. Hal tersebut disebabkan karena lingkungan sekitar kandang berupa alam hutan bebas dengan sungai di belakang kandang. Dokter hewan menyarankan agar air yang digunakan sebaiknya dipastikan bersih dan steril dari bakteri penyebab penyakit.
Gambar 3. Nekropsi pada Sampel Penyakit Kolibasilosis oleh Dokter Hewan
Kolibasilosis (Bakteri Escherichia coli)
Kolibasilosis umumnya dianggap sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan unggas. Kejadian kolibasilosis belakangan ini pemunculannya sangat menonjol pada ayam pedaging yang berumur muda, antara 1 – 2 minggu pada ayam yang dipelihara dalam keadaan sanitasi yang sangat rendah. Bakteri E. coli akan melimpah pada air yang kualitasnya jelek, terutama setelah turunnya hujan. Angka
21 kematian bisa mencapai 10% dan akan lebih besar lagi apabila disertai infeksi lain yang mengikutinya, seperti : ND, M. gallisepticum atau IB.
E.coli ditemukan di dalam saluran usus ternak dan manusia dan didapatkan di dalam feses, sehingga E. coli dikenal sebagai indikator kontaminasi kotoran. Gejala klinis kolibasilosis adalah kematian mendadak yang terjadi pada bentuk akut, tanpa menunjukkan gejala klinis. Apabila penyakit berjalan kronis, maka gejala yang terlihat yaitu kelesuan, napsu makan menurun serta munculnya gangguan pernafasan berupa ngorok pada malam hari disertai pengeluaran eksudat dari hidung. Beberapa kasus kolibasilosis terjadi pada organ reproduksi unggas sehingga agak sukar diamati. Eksudat pada kantong hawa dan radang fibrinosa pada kantong jantung dan permukaan hati. Gejala lain berupa radang pusar (omphalitis), septicaemia dan enteritis.
Distribusi E. coli sangat luas, bisa ditemukan di dalam litter, kotoran ayam, debu/kotoran lain dalam kandang serta lingkungan sekitar kandang, pakan, air minum dan sumber air, seperti sumur. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105 – 106 sel E. coli/gram. Bakteri akan tahan lama di dalam kandang, terutama keadaan kering.
Pencegahan dilakukan dengan mentaati sanitasi. Mengusahakan pakan dan air minum supaya tidak tercemar oleh feses, jika perlu tambahkan antibiotik dalam pakan. Beberapa antibiotik yang termasuk kelompok aminoglikosida yang biasa digunakan untuk mengatasi kolibasilosis adalah neomisin dan gentamisin, kelompok aminosiklitol, yaitu spektinomisin dan kelompok polipeptida, misalnya kolistin/polimiksin B.
22 Vaksinasi yang pertama dilakukan adalah oleh petugas hatchery pada umur 0 hari sesaat setelah ayam menetas ayam menggunakan vaksin ND-KL + IBD, di perusahaan penetasan (hatchery). Vaksin ini berguna untuk mencegah penyakit ND dan IBD. Vaksinasi yang kedua dilakukan pada umur 14 hari, pada vaksinasi kedua ini ayam diberi vaksin ND, jenis vaksin yang digunakan adalah jenis ND Clone dengan metode vaksinasi yang dilakukan melalui air minum dan pelarut medimilk. Vaksinasi ini berguna untuk mencegah penyakit ND (Newcastle Desease). Vaksinasi dilakukan untuk menjaga kekebalan pada ayam. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Murtidjo (1987) yang menyatakan bahwa vaksinasi merupakan suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada ayam agar ayam tersebut kebal terhadap serangan penyakit.
Gambar 4. Vaksinasi ND Clone Melalui Air Minum
Selain vaksinasi program dalam hal kesehatan ternak juga ada program Obat-obatan yang diberikan antara lain Anasol yang berguna untuk meningkatkan
23 produktifitas dan mengatasi stress, Monorox yang berguna antimikroba berspektrum luas untuk melawan komplikasi yang timbul, Doxine sebagai Antibiotik yang ampuh untuk infeksi saluran pernafasan seperti CRD, Coryza, Chollera maupun infeksi saluran pencernaan seperti Collibasilosis,dan salmonellosis, serta Vitamin C yang berguna mempertahankan daya tahan tubuh ternak.
Adapun program Obat dan Vaksinasi yang disarankan bagi peternak plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Program Obat dan Vaksinasi untuk 100 ekor Ayam Pedaging PT. Bintang Sejahtera Bersama.
Umur Obat/Vaksin Dosis Keterangan
1 ND-IB L, ND Killed, IBD
Pemberian di hatchery
Air gula 2% 100 gr gula merah + 5 lt. air Saat DOC tiba di kandang, selama 2 jam Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan setelah air gula saat DOC tiba 2 Menorox 10 gr Menorox + 10 lt. air Menorox diberikan pagi hari
Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan setelah Consumix Plus habis 3 Menorox 10 gr Menorox + 10 lt. air Menorox diberikan pagi hari
Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan setelah Consumix Plus habis 4 Menorox 10 gr Menorox + 10 lt. air Menorox diberikan pagi hari
Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan setelah Consumix Plus habis 5 Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan pagi hari
AI Killed 0,25 cc Suntik Subcuatan (di bawah kulit leher) 6 Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan pagi hari
7 Anasol 10 gr Anasol + 10 lt. air Anasol diberikan pagi hari
8 Air biasa + caporit 3-5 ppm Kaporit dibungkus kaos di kran air minum ke bak air 9 Air biasa + caporit 3-5 ppm Kaporit dibungkus kaos di kran air minum ke bak air 10 Air biasa + caporit 3-5 ppm Kaporit dibungkus kaos di kran air minum ke bak air 11 Air biasa + caporit 3-5 ppm Kaporit dibungkus kaos di kran air minum ke bak air 12 Air biasa + caporit 3-5 ppm Kaporit dibungkus kaos di kran air minum ke bak air 13 Anasol 20 gr Anasol + 40 lt. Air Anasol diberikan pagi hari
14 ND Clone 1 vial 60 gr skim milk + 20 lt. Air
Vaksin jam 7 pagi, puasa minum ± 2 jam Anasol 20 gr Anasol + 40 lt. Air Anasol diberikan pagi hari
15 Doxine 100 gr Doxine + 50 lt.Air Doxine diberikan pagi hari setelah habis anasol 16 Doxine 100 gr Doxine + 50 lt.Air Doxine diberikan pagi hari setelah habis anasol 17 Doxine 100 gr Doxine + 50 lt.Air Doxine diberikan pagi hari setelah habis anasol 18 Anasol 30 gr Anasol + 60 lt. Air Anasol diberikan pagi hari
24 19 Anasol 30 gr Anasol + 60 lt. Air Anasol diberikan pagi hari
20 Air biasa + caporit 3-5 ppm Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 21 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 22 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 23 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 24 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 25 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 26 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 27 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 28 Vitamin C 10 gr Vitamin C + 50 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 29 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 30 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 31 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 32 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 33 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 34 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit) 35 Vitamin C 20 gr Vitamin C + 100 lt. Air Diberikan pagi hari setelah habis air biasa (caporit)
Catatan :
1. Apabila tampak gejala sakit maka segera laporkan ke TS
2. Jika ada gejala sakit langsung diberikan antibiotic (vaksin tunda)
3. Vaksin ND standar 14 hari (vaksin ND dengan turun sekam harus +/- 2 hari atau tidak bersamaan
4. Umur ayam lewat 35 hari program dilanjutkan vitamin sampai panen,apabila kondisi sehat
5. Consumix Plus bias diganti dengan Menorox, Octacyn-EN 6. Anasol bisa diganti Perfexol-L, Nutri-C
7. Vitamin C bias diganti dengan Nutri-C, Orange
8. Vaksinasi AI sesuai kasus di suatu daerah atau pertimbangan Animal Health 9. Peternak wajib mengikuti program obat di atas dengan petunjuk TS (Tehnical
Service).
Sumber : Data Primer Praktek Kerja Lapangan di PT. Bintang Sejahtera Bersama, 2014.
Adapun sanitasi yang dilakukan meliputi sanitasi kandang dan pencegahan penyakit. Sanitasi kandang mingguan dilakukan rutin dengan penyemprotan desinfektan Sevin di kandang untuk membunuh hama dan penyakit yang dapat menyerang ternak. Pembersihan kandang setelah ayam dipanen dilakukan dengan
25 cara kotoran ayam dibersihkan, lantai dan dinding kandang dibersihkan dengan cara disemprot air menggunakan selang. Rasyaf (1995) menyatakan bahwa tujuan dari pencucian yang berulang-ulang untuk memastikan agar kandang steril dan bebas dari penyakit yang pernah ada atau memutus siklus penyakit pada pemeliharaan berikutnya.
Gambar 5. Program Sanitasi Penyemprotan melaui Desinfentan Sevin
3. Aspek Perkandangan
Kandang merupakan unsur penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan ayam karena merupakan tempat hidup ayam sejak usia awal sampai berproduksi. Dengan demikian kandang harus memenuhi segala persyaratan yang dapat menjamin kesehatan serta pertumbuhan yang baik bagi ayam yang dipelihara. Faktor konstruksi yang dituntut untuk kandang ayam yang baik meliputi ventilasi,
26 dinding kandang, lantai, atap kandang, bahan bangunan kandang, hingga lingkungan kandang (Priyatno, 2001).
a) Konstruksi kandang
Berdasarkan konstruksinya, kandang dapat dibedakan menjadi: Kandang bateray, kandang postal dan kandang panggung (North, 1994).
Kandang yang dipakai pada peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin menggunakan sistem kandang panggung terbuka dengan kapasitas 4.500 ekor yang terdiri atas satu kandang dengan tempat istirahat bagi personil kandang di pertengahannya bagian pinggir. Sistem kandang pada peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin menggunakan sistem kandang panggung yang berukuran luas 604 m2 dengan panjang 75,5 m dan lebar 8 m, tiangnya dari balok kayu, alas dan dinding dari bamboo, dan dengan pondasi beton.
27 Kandang panggung adalah kandang dengan konstruksi alas yang terangkat lebih tinggi dari tanah sekitar sehingga kandang lebih terhindar dari feses dan kondisi berbahaya saat banjir. Akpobome dan Funguy (1992) menyatakan bahwa broiler yang dipelihara pada kandang panggung memiliki bobot badan yang lebih rendah tetapi konversi pakan yang lebih baik dibandingkan broiler yang dipelihara di atas lantai sekam. Selain itu, menurut Hypes et all. (1994) kebaikan dari kandang panggung yaitu memiliki ventilasi yang sangat baik bagi ayam di dalamnya, sebab udara bertiup melalui seluruh bagian tubuh ayam. Keuntungan lain dari penggunaan kandang panggung adalah kemudahan dalam mekanisme kandang dan mengurangi kontak ayam dengan feses yang merupakan salah satu sumber bibit penyakit.
Berbeda dengan konstruksi kandang panggung, kandang bateray adalah sangkar segi empat yang disusun secara berderet memanjang dan bertingkat dua atau lebih berbentuk kotak menggunakan sistem alas berlubang atau kawat yang bersambung satu dengan yang lain terbuat dari kayu, bambu atau kawat (North,1994).
Selain itu, dikenal juga konstruksi kandang postal adalah suatu tipe pemeliharaan unggas dengan lantai kandangnya berhubungan langsung dengan lahan atau tanah sekitarnya ditutup oleh bahan penutup lantai yang memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga tidak menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan kehangatan, menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang seperti sekam padi, serutan gergaji, tongkol jagung, jerami padi yang dipotong-potong, serta dapat digunakan kapur mati yang penggunaannya dicampurkan dengan bahan litter. Menurut Sudjarwo dan Indarto (1989), ketebalan litter pada pemeliharaan anak ayam
28 (day old chicken) awalnya hanya sekitar 5 cm sampai 8 cm. secara bertahap, litter ditambah atau diganti sampai mencapai maksimal 10 cm sampai 13 cm.
b) Atap Kandang
Atap kandang pada peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin adalah atap kandang dengan tipe A dengan bahan daun rumbia agar lebih mudah menyerap panas. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2000) bahwa bahan untuk atap sebaiknya digunakan yang ringan, murah dan tidak menghantar panas.
Gambar 7. Atap Kandang Peternakan Plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama
Menurut Suprijatna (2005), terdapat beberapa tipe konstruksi atap, yaitu: atap bentuk jongkok, atap bentuk A, atap gabungan bentuk A dan bentuk jongkok, atap bentuk monitor, dan atap bentuk semimonitor.
29 Gambar 8. Berbagai Macam Tipe Atap Kandang
c) Dinding kandang
Dinding kandang pada peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin adalah dinding kandang dengan sifat terbuka yang terbuat dari sekat kawat dengan tiang dinding dari balok kayu, yang ditutup dengan tirai yang terbuat dari plastik. Pada umur 1-7 hari tidak dilakukan pembukaan tirai hal ini dilakukan agar ayam tidak kedinginan, mulai umur 8 hari tirai dibuka setengah pada siang hari dan pada malam hari tirai ditutup kembali untuk menjaga kondisi ternak dari suhu yang terlalu dingin. Hal ini sesuai dengan pendapat Murtidjo (1987) yang menyatakan bahwa dinding ayam dengan sistem terbuka sangat membantu ventilasi, mengusir udara yang busuk dan menggantinya dengan udara yang segar serta untuk menjaga temperatur udara dalam kandang.
30 Gambar 9. Dinding Kandang Peternakan Plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama
d) Lantai Kandang
Lantai kandang pada peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin adalah terbuat dari belahan bambu yang pada fase pemeliharaan starter ditutup dengan karung bekas pakan dan ditaburi litter serbuk gergaji. Hal ini dilakukan supaya ayam tidak terperosok jatuh. Setelah umur 21 hari serbuk gergaji dan karung pengalas diturunkan dari lantai panggung sehingga ayam akan mulai beradaptasi dengan lantai aslinya berupa belahan bambu. Pada masa adaptasi ini ayam kerap kali mengalami luka akibat kakinya terjepit di sela-sela belahan bambu. Maka diperlukan pengawasan yang lebih efektif untuk menyelamatkan kondisi ayam yang luka.
Bahan litter yang efektif adalah bersifat daya serap air (absorben) tinggi, bebas debu, sukar untuk dimakan ayam, tidak beracun, murah, mudah diangkut dan diganti, serta tersedia melimpah. Sainsburry (1995) menyatakan bahwa litter harus
31 menimbulkan kenyamanan bagi unggas dan terbebas dari parasit dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada unggas. Pengawasan terhadap kualitas litter sangat penting untuk kesuksesan manajemen perkandangan unggas. Litter dapat menggunakan bahan organik yang bersifat menyerap air. Contohnya, serbuk gergaji, sekam padi, potongan jerami kering, potongan rumput kering, atau tongkol jagung yang dihaluskan. Bahan tersebut dapat dicampur dengan bahan lain, seperti kapur dan super fosfat.
Gambar 10. Lantai Kandang Peternakan Plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama
4. Aspek Pemasaran
Pemasaran ayam pedaging di PT Bintang Sejahtera Bersama dengan sistem kemitraan menjadi tanggung jawab mutlak PT Bintang Sejahtera Bersama sebagai pihak inti sehingga plasma tidak kerepotan untuk memasarkan ayam yang sudah siap panen. Peternak hanya menyiapkan tenaga dan surat-surat untuk proses panen, mulai dari penangkapan ayam, penimbangan dan pengangkutan ke mobil bakul, ayam
32 pedaging seluruhnya dipasarkan ke berbagai tujuan. Secara umum jalur pemasaran ayam pedaging tidak jauh berbeda dengan jalur pemasaran produk jenis lain yang dibudidayakan oleh peternak.
Penjualan ayam di peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin sebanyak 4340 ekor dengan berat hidup 1,4-1,6 kg. Sehingga rata-rata keseluruhan bobot badan ayam saat panen adalah 1,5 kg. Sesuai kontrak awal dengan perusahaan inti, ayam dijual dengan berat 1,46-1,55 kg seharga Rp 15.700,-/ kg, dengan berat 1,56-1,65 kg seharga Rp. 15.600,-/kg, dan dengan berat 1,66-1,75 kg seharga Rp. 15.500,-/kg. Pemasaran ayam pedaging merupakan usaha yang berhubungan dengan arus penyerahan barang dan jasa dari peternak ke konsumen akhir atau pengecer atau pedagang.
Gambar 11. Proses Pemanenan Hasil
Pemanenan dan pemasaran hasil panen biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. Jumlah dan ukuran ayam yang akan ditangkap harus disesuaikan dengan surat permintaan pembelian. Berikut ini data penjualan ayam di peternakan plasma PT. Bintang Sejahtera Bersama milik bapak Jumardin :
33 Tabel 5. Data Penjualan Ayam di Peternakan Plasma PT. Bintang Sejahtera
Bersama No Waktu Jumlah 1 09-12-2014 (Pukul 16:00) 800 ekor 2 10-12-2014 (Pukul 16:00) 900 ekor 3 11-12-2014 (Pukul 07:00) 550 ekor 4 11-12-2014 (Pukul 10:00) 900 ekor 5 11-12-2014 (Pukul 16:00) 200 ekor 6 12-12-2014 (Pukul 07:00) 200 ekor 7 13-12-2014 (Pukul 07:00) 160 ekor 8 13-12-2014 (Pukul 16:00) 400 ekor 9 18-12-2014 (Pukul 16:00) 170 ekor 10 20-12-2014 (Pukul 16:00) 50 ekor
Total penjualan 4330 ekor
Sumber : Data Primer Praktek Kerja Lapangan di PT. Bintang Sejahtera Bersama, 2014.
Perlakuan terhadap ayam saat proses panen berlangsung hingga menuju tujuan akhir pemasaran berlangsung dengan baik. Hal ini sangat mempengaruhi tingkat stress pada ayam yang dapat menyebabkan mortalitas pada beberapa kasus. Hal ini sesuai dengan pendapat Medion (2014) bahwa setelah ditimbang, masukkan ayam ke dalam keranjang ayam dan hindari tindakan kasar untuk mengurangi resiko banyaknya ayam yang diafkir akibat sayap atau kakinya patah. Ayam-ayam tersebut kemudian dimasukkan dan ditata ke dalam mobil pengangkutan. Setelah semua data benar dan sesuai dengan surat jalan penangkapan, barulah kendaraan pengangkut ayam boleh diizinkan keluar meninggalkan lokasi kandang untuk menuju ke pengepul atau langsung dibawa ke tempat pemotongan ayam.
34 Panen dilakukan pada pagi hari pukul 07:00 dan 10:00 dan pada sore hari pukul 16:00. Selain perlakuan secara langsung, waktu saat proses panen berlangsung juga sangat mempengaruhi penyusutn bobot badan ayam. Maka hal ini perlu diperhitungkan untuk menjalin hubungan kemitraan yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Medion (2014) bahwa waktu pengangkutan ayam sebaiknya dilakukan pada