III. METODE PENELITIAN
4.3 Keadaan Umum Usahatani Karet
Luas lahan merupakan salah satu faktor produksi dalam berusahatani, semakin luas lahan karet yang dimiliki petani maka semakin banyak produksi yang dihasilkan. Dari hasil perhitungan lampiran 7 dapat diketahui bahwa rata-rata luas lahan yang dimiliki rumah tangga petani karet di daerah penelitian yaitu seluas 3,18 hektar. Adapun distribusi luas lahan yang dimiliki petani responden di daerah penelitian adalah sebagai berikut.
Tabel 10. Distribusi Petani Berdasarkan Luas Lahan Karet di Daerah Penelitian Tahun 2016
Luas Lahan (Ha) Jumlah Petani
KK Persentase (%)
1 – 2 48 50,53
3 – 4 30 31,58
5 – 6 11 11,58
7 – 8 5 5,26
9 – 10
> 10
1 0
1,05 0
Jumlah 95 100
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa sebagian besar petani karet di daerah penelitian mempunyai luas lahan dibawah 3 hektar yaitu sebanyak 50,53% atau 48 petani dan rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani karet di daerah penelitian adalah 3,19 hektar. Menurut Hertanto (1998) luas lahan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan petani sehingga berpengaruh pula terhadap kesejahteraan petani tersebut.
54 4.3.2 Status Kepemilikan Lahan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa status kepemilikan lahan di daerah penelitian ada dua yaitu petani menyadap karet miliki sendiri dan ada petani menyadap karet milik orang lain. Kalau petani menyadap karet milik orang lain pola bagi hasilnya ada dua yaitu pola bagi hasil dibagi 2 (50% : 50%) dan dibagi 3 (35% : 65%). Adapun status kepemilikan lahan petani di deaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini:
Tabel 11. Distribusi Petani Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Karet di Daerah Penelitian Tahun 2016
Pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa sebagian besar status kepemilikan lahan karet di daerah penelitian adalah milik sendiri yaitu sebanyak 68 petani atau sebesar 71,58% dan status lahan milik orang lain yaitu sebanyak 27 petani atau sebesar 28,42%
4.3.3 Jumlah Pohon Karet
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, jumlah pohon karet perhektar yang dimiliki petani sampel didaerah penelitian bervariasi. Jumlah pohon karet rata-rata yang dimiliki petani sampel yaitu 1.856 pohon. Semakin banyak jumlah pohon karet yang dimiliki petani maka semakin banyak pula produksi yang dihasilkan.
Adapun distribusi jumlah pohon karet yang dimiliki petani sampel didaerah penelitian dapat dilihat pada tabel 11 di bawah ini.
Status Kepemilikan Lahan Jumlah KK Persentase (%) Milik Sendiri
Milik Orang Lain
68 27
71,58 28,42
Jumlah 95 100
55
Tabel 12. Distribusi Petani Berdasarkan Jumlah Pohon Karet di Daerah Penelitian Tahun 2016
Jumlah Pohon Jumlah Petani
KK Persentase (%)
400 - 1213 44 46,32
1214 - 2027 22 23,16
2028 - 2841 10 10,52
2842 - 3655 10 10,52
3656 - 4469 2 2,11
4470 – 5283
> 5283
3 4
3,16 4,21
Jumlah 95 100
Pada Tabel 12 terlihat bahwa distribusi jumlah pohon yang dimiliki petani tidak merata, dimana sebagian besar petani sampel di daerah penelitian mempunyai pohon karet dibawah 2028 pohon dengan jumlah 66 petani atau sebesar 69,48%, 7 petani sampel mempunyai pohon karet lebih dari 4469 pohon dan sisanya mempunyai pohon karet yang berkisar antara 2028 – 4469 pohon, rata-rata jumlah pohon karet yang dimiliki petani karet di daerah penelitian adalah 589 pohon/ha. Berdasarkan BPS (2003), petani karet adalah orang yang bergerak dalam bidang usahatani karet yang mempunyai kebun karet minimal 140 pohon pada daerah penelitian.
4.3.4 Produksi Karet
Produksi karet yang dihasilkan petani sangat mempengaruhi pendapatan , semakin tinggi produksi karet yang dihasilkan petani semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh oleh petani tersebut. Berdasarkan hasil penelitian bahwa total produksi karet yang dihasilkan petani di daerah penelitian yaitu sebesar 412.944 kg/tahun dan rata-rata produksi karet sebesar 4.346,78 kg/3,18
56
ha/tahun. Adapun distribusi produksi karet yang dimiliki petani sampel di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 13. Distribusi Petani Berdasarkan Produksi Karet di Daerah Penelitian Tahun 2016
Produksi Karet
(Kg/ satuan luas lahan 3,18 ha /tahun)
Jumlah Petani
KK Persentase (%)
1.296 – 2.994 30 31,58
2.995 – 4.693 32 33,68
4.694 - 6.392 22 23,16
6.393 – 8.091 6 6,32
8.092 – 9.790 1 1,05
9.791 – 11.489
> 11.489
3 1
3,16 1,05
Jumlah 95 100
Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa produksi karet terbesar adalah pada rentang produksi 2.995 – 4.693 kg/tahun yaitu dengan jumlah petani sebanyak 32 KK atau 33,68%, dengan total produksi karet yang dihasilkan petani di daerah penelitian yaitu sebesar 412.944 kg/tahun dan rata-rata produksi karet sebesar 4.346,78 kg/tahun atau 1.366,91 kg/ha/tahun dan 55% dari rata-rata produksi karet adalah 751 kg/ha/tahun, yaitu lebih kecil dibandingkan dengan standar rata-rata produksi karet Provinsi Jambi sebesar 858 kg/ha/tahun (Diktorat Jendral Perkebunan).
Tinggi dan rendahnya produktivitas karet yang dihasilkan petani sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim hujan produksi yang dihasilkan pohon karet meningkat, namun frekuensi penyadapan sedikit. Hal ini dikarenakan saat hujan petani tidak bisa menyadap, lateks yang dihasilkan tidak bisa dikumpulkan.
Pada saat musim panas penyadapan dapat dilakukan setiap hari, namun produksi yang dihasilkan pohon karet berkurang. Menurut Anonim (2013) lateks bisa mengalir keluar dari pembuluh lateks akibat adanya tekanan turgor.
57
Banyaknya lateks yang keluar berpengaruh pada besar kecilnya tekanan pada dinding sel.
4.3.5 Harga Produksi Karet
Harga rata-rata slab tebal yang diterima petani sampel di daerah penelitian pada saat penelitian tahun 2016 yaitu sebesar Rp. 6.412,63/kg dengan harga terendah Rp. 5.500/kg dan harga tertinggi mencapai Rp. 7.500/kg. Harga slab tebal ini sangat bervariasi dan berfluktuatif, hal ini dipengaruhi oleh jarak tempat penelitian dengan pabrik cramb rubber, kualitas karet kadar karet kering dan juga permainan harga oleh tengkulak atau toke.
4.4 Penerimaan Usahatani
Penerimaan usahatani merupakan jumlah produksi yang dihasilkan dikurang dengan basi (potongan) dikalikan dengan harga yang berlaku pada saat penelitian dilaksanakan. Berdasarkan penelitian basi yang diterima petani karet beragam.
Hal ini tergantung pada kadar karet kering (KKK) yang dihasilkan petani.
Semakin tinggi KKK yang dihasilkan petani semakin rendah basi yang diperolehnya, dan begitu pula sebaliknya semakin rendah KKK yang dihasilkan petani semakin tinggi basinya.
Dari hasil perhitungan (Lampiran 7) diperoleh rata-rata penerimaan petani karet di daerah penelitian adalah sebesar Rp. 21.905.828 per/petani/tahun dengan penerimaan terendah Rp. 7.063.200 per/petani/tahun dan penerimaan tertinggi yaitu Rp. 71.120.400 per/petani/tahun. Untuk lebuh jelas dapat dilihat pada Tabel 14 berikut:
58
Tabel 14. Distribusi Petani Berdasarkan Penerimaan Usahatani Karet di Daerah Penelitian Tahun 2016
Golongan Penerimaan (Rp/tahun) Jumlah Petani
KK Persentase (%)
7.063.200 – 15.070.350 26 27,37
15.070.351 – 23.077.501 37 38,95
23.077.502 – 31.014.665 14 14,74
31.014.666 – 39.021.815 12 12,63
39.021.815 – 47.028.966 4 4,21
47.028.967 – 55.036.112
> 55.036.112
1 1
1,05 1,05
Jumlah 95 100
Dari Tabel 14 di atas dapat lihat bahwa sebagian besar petani sampel di daerah penelitian menerima hasil dari penjualan bokar kurang dari Rp 39.021.815 pertahun yaitu sebanyak 89 petani atau 93,69% dan selebihnya sebanyak 6 petani sampel yang menerima hasil penjualan bokar diatas Rp 39.021.815 pertahun atau 6,31% dan rata-rata penerimaan dari usahatani karet adalah sebesar Rp 21.905.828 per/petani/tahun.
4.5 Biaya Produksi