Usaha Budidaya Ikan Nila Gesit dalam Keramba Jaring Tancap di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan
1. Keadaan Umum Desa
Desa Semperiuk merupakan salah satu dari ratusan Desa yang ada di Kabupaten Sambas, terletak di Kecamatan Jawai Selatan. Desa ini hanya dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menyeberangi sungai. Jarak dari Kota Sambas sekitar 2 jam dan 6 jam dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat jika menggunakan kendaraan bermotor dan memerlukan waktu setengah jam untuk menyebrangi sungai. Di sebelah Selatan Desa Semperiuk berbatasan langsung dengan Sungai Sambas, sebelah Utara berbatasan Desa Suah Api, sebelah Timur berbatasan Desa Sabaran dan di bagian Barat berbatasan dengan Desa Sarilaba. Beberapa anak sungai yang ada di Semperiuk bermuara di DAS Sambas.
Sungai dimanfaatkan warga setempat untuk lahan penangkapan ikan, keperluan pengairan sawah dan perkebunan serta sarana transportasi air. Sedangkan untuk usaha budidaya sungai ini belum sama sekali dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap musim kemarau anak sungai yang ada tidak pernah mengalami kekeringan, karena sumber air dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang dibawa oleh induk sungai. Sebaliknya dimusim hujan, sungai ini tidak pernah meluap karena pergerakan air yang cukup lancar. Salinitas di Sungai ini tergantung pada musim, disaat curah hujan tinggi air cenderung tawar sedangkan di musim kemarau air akan payau.
2. Potensi Yang di Miliki
Tersedianya air sepanjang tahun dan belum dimanfaatkannya sungai secara maksimal oleh masyarakat setempat, sehingga diperlukan suatu usaha agar sungai dapat memberikan kontribusi lebih. Pemeliharaan ikan atau dikenal dengan budidaya merupakan suatu usaha yang menjanjikan untuk mengoptimalkan fungsi dari sungai yang ada. Budidaya ikan di sungai dapat dilakukan dengan keramba jaring tancap. Budidaya dengan keramba jaring tancap desainnya sangat sederhana, pengoperasiannya mudah dan dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar. Sehingga setiap warga yang bermukim ditepian sungai dapat melakukan usaha ini tanpa mengganggu pekerjaan utamanya. Ikan air tawar yang paling cocok dibudidayakan di sungai Semperiuk yang sumber airnya sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut adalah jenis nila. Ikan nila merupakan ikan yang mampu bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan terutama perubahan salinitas. Selain tahan terhadap kadar garam yang tinggi, pertumbuhan ikan nila juga tergolong cepat
karena respon terhadap pakan buatan dalam waktu 3-4 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi.
3. Peluang Pasar dan Analisa Biaya
Ikan nila mempunyai nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein, rasanya yang gurih dan nikmat sehingga banyak digemari setiap lapisan masyarakat. Ikan nila yang akan
diproduksi dapat dipasarkan langsung pada konsumen, rumah-rumah makan, para pengumpul ikan. Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk ikan segar, ikan nila juga dapat dibuat berbagai macam bentuk olahan, berupa fillet segar, fillet beku ataupun surimi yang memiliki potensi yang cukup besar di pasar internasional.
Suatu usaha akan kehilangan daya tariknya bila usaha itu tidak menjanjikan keuntungan. Untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang akan didapat dari usaha yang dilakukan maka di perlukan analisa usaha. Analisa biaya dalam kegiatan usaha budidaya ikan nila pada keramba jaring tancap dengan ukuran 2×3 m, 1 unit keramba akan ditebar 1.000 benih ikan nila dan akan dibangun 2 unit keramba. Maka berikut analisanya.
Ukuran panen ikan nila rata-rata 300 gram selama masa pemeliharaan 3 bulan, dengan tingkat kelangsungan hidup 80%. Maka jumlah produksi 2 x 1.250 ekor x 300 gram x 80% =
600.000 gram. Harga ikan nila di pasaran perkilogramnya Rp.20.000,-, maka pendapatan kotor diperoleh 600 kg x Rp.20.000,- = Rp.12.000.000,-
a. Biaya Investasi
- 2 Unit Keramba jaring tancap @ Rp. 750.000,- = Rp.1.500.000,-
- Peralatan = Rp. 600.000,- + Jumlah Biaya Investasi = Rp.2.100.000,- b. Biaya operasional
- Penyusutan Keramba 15% x Rp. 1.500.000,- = Rp. 225.000,- - Penyusutan Peralatan 10% x Rp. 600.000,- = Rp. 60.000,- - Obat-obatan dan bahan kimia = Rp. 500.000,- - Benih ikan nila 2000 ekor x Rp.600,- = Rp. 1.200.000,- - Pakan 300 kg x Rp.8.000,- = Rp. 2.400.000,- + Jumlah Biaya Operasional = Rp. 4.385.000,- c. Keuntungan operasional
Pendapatan – Biaya Operasional = Keuntungan operasional Rp. 12.000.000,- – Rp. 4.385.000,- = Rp. 7.615.000,-
d. Break Ovent Point (BEP)
BEP Produksi = Biaya operasional : Harga jual/kg Rp. 4.385.000,- : Rp. 20.000,- / kg
= 219,25 kg
Artinya, titik balik modal akan tercapai apabila jumlah produksi ikan nila sebesar 219,25 kg. BEP Harga = Biaya Operasional : Total Produksi
Rp. 4.385.000,- : 600 kg = Rp. 7.308,3,-/kg
Artinya, titik balik modal akan tercapai apabila harga produksi ikan nila sebesar Rp. 7.308,3,-/kg.
e. Benefit Cost Ratio (B/C)
B/C ratio = Pendapatan : Biaya Operasional Rp.12.000.000,- : Rp. 4.385.000,-
= 2,74 %
Nilai B/C ratio sebesar 2,74 menunjukkan bahwa usaha budidaya ikan nila sangat layak dilakukan. Dari setiap Rp. 1,- akan diperoleh keuntungan Rp. 2,74,-.
f. Pengembalian Modal
Pengembalian Modal = Biaya Operasional : Keuntungan Operasional = Rp. 4.385.000,- : Rp. 7.615.000,- = 0,57
Artinya, modal yang dikeluarkan pada usaha budidaya ikan nila ini dapat dikembalikan dalam waktu 0,57 kali periode.
H. Metode Pelaksanaan
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Usaha ini akan dilakukan di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Waktu pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai bulan Februari 2010. 2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam usaha ini antara lain, benih ikan nila gift ukuran 5 cm, pakan ikan, obat-obatan. Sedangkan alat yang diperlukan adalah waring (jaring), kayu cerocok, batu pemberat, ember, serokan, timbangan, kantong plastik, tali dan paku
3. Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi untuk usaha budidaya ikan perlu dipertimbangkan agar usaha yang
dilakukan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan dapat berkesinambungan. Tidak semua sungai dapat dijadikan tempat usaha budidaya dalam keramba jaring tancap. Aspek teknis seperti kondisi perairan (sungai) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara. Selain aspek teknis, aspek sosial ekonomi juga harus diperhatikan meliputi prasarana jalan, keamanan, mudah mendapatkan tenaga kerja, dekat dengan daerah pengembangan budidaya ikan dan pemasaran.
4. Pembuatan Keramba Jaring Tancap
Setelah bahan dan alat guna membuat keramba jaring tancap telah tersedia maka langkah yang dilakukan adalah :
a.Buat kerangka menurut ukuran yang dikehendaki, dalam hal ini panjang 3 meter, sedang lebar 2 meter. Kemudian kayu gelam (cerocok) ditancapkan kedalam lumpur untuk membuat kerangka keramba. Empat tiang memanjang yang masing-masing merupakan tulang tempat mengikat tiang-tiang melintang.
b.Kayu cerocok diikat dengan tali tambang/rotan atau dipaku antara tiang yang telah ditancapkan dengan tiang-tiang melintang kerangka yang bentuknya menyerupai balok. c Setelah kerangka tiang terbentuk persegi panjang dengan ukuran 2×3 m, maka waring dipasang pada kerangka yang diikat dengan tali tambang. Jaring yang digunakan ada 2 macam, yaitu jaring dalam sebagai wadah budidaya dan jaring luar dengan ukuran mata jaringnya agak besar yang berfungsi untuk pelindung jaringwadah budidaya atau pencegah serangan hama.
d Kemudian masukan waring kedalam air hingga hampir menyetuh lumpur, titik atas waring jangan sampai tenggelam pada saat pasang air tertinggi atau banjir. Dan ketika surut terendah tinggi air dalam waring tidak kurang dari 50 cm.
5. Teknik Budidaya
Budidaya ikan di keramba jaring tancap yang harus pertama kali diperhatikan adalah debit air dan arus air pada sungai tersebut, pemilihan tempat untuk keramba jaring tancap harus memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air. Peletakan jaring tancap
didaerah yang berarus kecil dan dalam dengan kedalaman ideal untuk keramba jaring tancap adalah 60-70 cm. Apabila keramba jaring tancap sudah dibuat maka dilakukan teknik
budidaya yang meliputi :
a.Penebaran benih ikan nila gift kedalam wadah budidaya. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi atau sore hari saat kondisi perairan tidak terlalu panas agar ikan tidak stres. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Caranya ialah ikan dalam kantong plastik (wadah pengangkutan) dibiarkan terapung dalam perairan sekitar 2-4 menit, kemudian secara bertahap air perairan sedikit demi sedikit dimasukkan kedalam wadah pengangkutan. Bila kondisi air dalam wadah pengangkutan dengan air perairan sudah sesuai (sama), maka ikan-ikan yang ada dalam wadah
b.Pemberian pakan. Masa pemeliharaan ikan selama 3 bulan, pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pellet yang banyak tersedia di pasaran. Selain pakan berupa pellet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Bulan pertama pemeliharaan, setiap hari pakan diberikan sebanyak 4% dari berat total ikan yang dipelihara. Bulan kedua jumlah pellet dikurangi menjadi 3,5% dan bulan ketiga pemeliharaan maka setiap harinya pakan yang diberikan adalah 3% dari berat total ikan. Agar jumlah pakan yang diberikan dapat ditentukan maka setiap 7-10 hari sekali dilakukan sampling untuk menentukan berat ikan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan nafsu makan ikan.
c.Pengendalian hama dan penyakit ikan. Selama pemeliharaan, kesehatan ikan selalu diamati agar dapat melakukan penaggulangan sedini mungkin. Hama ikan dapat berupa hama
perusak, pesaing dan pemangsa yang dapat mengganggu pertumbuhan ikan sehingga menurunkan jumlah produksi. Hama tersebut dapat dibasmi secara kimia (menggunakan obat-obatan), biologi (menekan pertumbuhannya dengan memasukkan hewan predator) maupun menangkap hama secara langsung. Apabila ditemui tanda-tanda serangan penyakit, maka segera dilakukan diagnostik dan pengobatan serta memisahkan atau membuang ikan yang terserang agar tidak menginfeksi ikan yang sehat. Kebersihan keramba harus selalu tetap terjaga dan selalu melakukan pengontrolan terhadap jaring karena dikhawatirkan ada yang bocor.
6. Pemanenan dan Pemasaran
Pemenenan ikan dilakukan apabila masa pemeliharaan sudah mencapai 3 bulan, dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba. Hal ini dilakukan dengan cara salah satu sisi kantong jaring dengan sisi lainnya dirapatkan. Dengan cara ini ikan-ikan yang akan ditangkap tergiring dan terkumpul di satu tempat sehingga mudah dipanen. Ikan-ikan yang sudah terkumpul diambil menggunakan serokan dan dimasukkan kedalam wadah. Ikan yang telah dipanen akan dipasarkan dalam bentuk ikan hidup dan segar ke rumah-rumah makan, pasar ikan tradisional, para pengumpul ikan dan langsung
kekonsumen. I. Jadwal Kegiatan
No Uraian Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4 5
1. Pembuatan proposal X
2. Persiapan peralatan dan bahan X 3. Pelaksanaan program
- Pembuatan keramba jaring tancap - Penebaran benih ikan
- Pembesaran - Pemenenan X X X X X X
- Pemasaran X
4. Pengumpulan dan analisis data X X
5. Pembuatan draf laporan dan seminar intern X X
6. Pembuatan laporan final X
7. Pengiriman laporan X
J. Rancangan biaya
a. Pembuatan 2 unit keramba jaring tancap Rp.1.500.000,- b. Peralatan Budidaya Rp. 600.000,- c. Benih Ikan Nila Gesit 2000 ekor @ Rp.600,- Rp.1.200.000,-
d. Pakan ikan 300 kg @ Rp.8000,- Rp.2.400.000,- e. Obat-obatan dan bahan kimia Rp. 500.000,- f. Timbangan Rp. 550.000,- g. Dokumentasi Rp. 350.000,- h. Biaya Transportasi, konsumsi dan akomodasi Rp.1.600.000,-
i. Pembuatan Laporan dan penenelusuran data Rp 450.000,-
j. Fotocopy dan ATK Rp. 400.000,- k. Lain-lain Rp. 400.000,- Jumlah Rp.9.950.000,-