RIWAYAT HIDUP
4.6 Keadaan Vegetasi dan Fauna
Tegakan Hutan di HPGW didominasi tanaman damar (Agathis lorantifolia), pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis eminii), rasamala (Altingia excelsa), Dalbergia latifolia, Gliricidae sp, Shorea sp, dan akasia (Acacia mangium). Di HPGW paling sedikit terdapat 44 jenis tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan dan 13 jenis bambu. Selain itu terdapat jenis tumbuhan obat sebanyak 68 jenis. Potensi hutan tanaman berdasarkan hasil inventarisasi hutan tahun 2010 yang dilakukan oleh Universitas Gottingen (TIF) adalah sebanyak 11.381 m3 kayu Agathis loranthifolia (damar), kayu Pinus merkusii (pinus) 62.782 m3, kayu Schima wallichii (puspa) 5.943 m3, tanaman campuran (mix plantation) sebanyak 19.809 m3 dan hutan sekunder (secondary forest) sebanyak 826 m3. Pohon damar dan pinus juga menghasilkan getah kopal dan getah pinus. Di HPGW juga ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus, kayu afrika sebagai sumber benih dan bibit unggul
Areal HPGW memilki beraneka ragam jenis satwa liar yang meliputi jenis-jenis mamalia, reptilia, burung, dan ikan. Jenis mamalia yang ada yaitu babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kelinci liar (Nesolangus sp.), meong congkok (Felis bengalensis), tupai (Callociurus sp.), trenggiling (Manis javanica), musang (Paradoxurus hermaphroditic). Dari jenis burung (Aves) terdapat sekitar 20 jenis burung, antara lain: Elang Jawa, Emprit, Kutilang dan lain-lain. Jenis-jenis reptilia antara lain biawak, ular dan bunglon. Terdapat berbagai jenis ikan sungai seperti ikan lubang dan jenis ikan lainnya. Ikan lubang adalah ikan sejenis lele yang memiliki warna agak merah. Selain itu terdapat pula lebah hutan (Apis dorsata).
4.7 Penduduk
Penduduk di sekitar HPGW umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian dan bekerja sebagai buruh pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering. Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestry HPGW sebanyak 300 orang petani penggarap.
4.8 Hasil Sadapan
Tabel 1 Produksi dan upah getah pinus dan kopal di Hutan Pendidikan Gunung Walat No
Tanggal Produksi (kg) Upah(Rp/kg)
Pinus Kopal Pinus Kopal
1 Sebelum 2001 350 400 2 2001-2003 900 600 3 2005 780 750 4 2006 1081 750 5 2007 1345 1040 800 750 6 2008 913 723 800 750 7 Maret 2009 38.5 280.0 1000 1000 8 April 2009 2.275,0 2,691.5 1000 1000 9 Mei 2009 4.502.5 3,830.0 1000 1000 10 Juni 2009 6.484.5 4,852.0 1000 1000 11 Juli 2009 6.490.0 5,932.5 1000 1000 12 Agustus 2009 6.823.0 6,970.5 1000 1000 13 September 2009 8.560.0 7,463.0 1000 1000 14 Oktober 2009 8.567.5 4,464.5 1000 1000 15 November 2009 5.682.0 5,459.0 1000 1000 16 Desember 2009 5.799.0 5,474.5 1000 1000 17 Januari 2010 5.588.5 6,117.0 1000 1000 18 Februari 2010 7.078.5 8,175.5 1000 1000 19 Maret2010 7.599.5 5,720.0 1000 1000 20 April 2010 6.337.5 6,586.0 1000 1000 21 Mei 2010 11.422.0 8,717.0 1000 1000 22 Juni 2010 10.775.0 6,807.5 1000 1000 23 Juli 2010 10.591.0 5,840.0 1000 1000 24 Agustus 2010 9.664.5 8,382.1 1000 1000 25 September 2010 7.265.0 6,250.5 1000 1000 26 Oktober 2010 6.925.5 4,633.5 1000 1000 27 November 2010 5.007.5 2,646.0 1000 1000 28 Desember 2010 12.953.0 9,604.0 1000 1000 29 Januari 2011 5.017.0 5,623.0 1200 1200 30 Februari 2011 7.135.0 5,634.5 1200 1200 31 Marer 2011 8.286.0 5,022.0 1200 1200 32 April 2011 7.328.0 4,541.0 1600 1600 33 Mei 2011 9.386.5 4,863.0 1600 1600 34 Juni 2011 13.677.0 4,858.5 1600 1600 35 Juli 2011 16.281.0 5,369.0 1600 1600 36 Agustus 2011 17.059.0 6,956.5 1600 1600 37 September 2011 15.243.5 6,060.5 1600 1600 38 Oktober 2011 17.401.5 5,707.0 1600 1600 39 November 2011 9.444.0 4,243.0 1600 1600 40 Desember 2011 11.034.5 3,414.0 1600 1600 Sumber: Rekapitulasi hasil sadapan getah pinus HPGW (olah)
Hasil sadapan yang ada di HPGW berupa getah pinus dan kopal. Di bawah ini terdapat hasil produksi dan upah getah pinus dan kopal tertera pada Tabel 1. Tabel 1 dapat dilihat bahwa penyadapan kopal sudah ada sejak sebelum 2001, sedangkan penyadapan pinus dimulai sejak tahun 2007. Pada tahun 2007 produksi pinus sebesar 1345 kg mengalami penurunan pada tahun 2008. Hal ini diakibatkan karena pada awal penyadapan, getah yang dihasilkan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2007 upah sadap pinussebesar Rp.800/kg dan kopal sebesar Rp.750/kg. Pemberlakuan penyamaan upah sadap kopal dan pinus mulai dilakukan pada awal tahun 2009.
5. 1 Karakteristik Penyadap Getah Pinus
Karakteristik responden dalam penelitian ini, meliputi: umur, tingkat pendidikan, pekerjaan utama dan sampingan serta ukuran keluarga. Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah penyadap pinus yang sedang aktif melakukan kegiatan penyadapan getah pinus di HPGW.
5.1. 1 Umur Penyadap Getah Pinus
Penduduk usia produktif berkisar antara 15-65 tahun (Muttaqien 2006). Sebagian besar responden terdapat pada selang umur 30-39 tahun dan 40-49 tahun yaitu sebesar 36% dan 24%. Hal ini menunjukkan bahwa para penyadap masih berada pada usia produktif antara 15-65 tahun (Tabel 2).
Tabel 2 Sebaran responden bedasarkan tingkat umur di HPGW.
Umur Jumlah responden (org) Presentase (%)
20-29 4 16 30-39 9 36 40-49 6 24 50-59 2 8 60-69 4 16 Total 25 100
5.1. 2 Tingkat Pendidikan Penyadap Getah Pinus
Tingkat pendidikan penyadap pinus yang ada di HPGW masih tergolong rendah yaitu sebagian besar penyadap berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 80% (Tabel 3). Hal ini dikarenakan pendidikan belum menjadi prioritas utama para penyadap. Bahkan masih terdapat beberapa penyadap yang tidak bersekolah. Penyadap beranggapan bahwa apabila semakin tinggi tingkat pendidikan, maka biaya yang akan dikeluarkan akan semakin tinggi. Sehingga mereka lebih mengutamakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari daripada untuk pendidikan. Pendidikan formal merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam pencapaian kehidupan ekonomi yang layak dan sejahtera karena tingkat
pendidikan akan mempengaruhi pola pikir dan sikap masing-masing individu dalam menghadapi permasalahan kehidupan.
Tabel 3 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan di HPGW.
Pendidikan Jumlah responden (org) Presentase(%)
Tidak sekolah 3 12
Tamat Sd 20 80
Tamat Smp 2 8
Total 25 100
5.1. 3 Pekerjaan Utama dan Pekerjaan Sampingan Penyadap Getah Pinus
Penyadap pinus bukan merupakan satu-satunya pekerjaan yang dimiliki oleh para penyadap. Sebagian besar penyadap pinus memiliki pekerjaan sampingan lain. Berdasarkan Tabel 4 diperoleh bahwa sebagian besar penyadap memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani dan buruh yaitu sebesar 36% dan 32% . Hal ini mengakibatkan pada musim-musim tanam dan panen, penyadap akan lebih memilih untuk bertani atau menjadi buruh tani daripada menyadap, karena pada musim tanam umumnya adalah musim penghujan sehingga hasil sadapan juga cenderung menurun. Penyadap yang memiliki lahan/sawah akan bekerja sampingan sebagai petani, sedangkan penyadap yang tidak memiliki lahan akan menjadi buruh tani atau pedagang. Hal ini dulakukan untuk menambah penghasilan mereka. Beberapa penyadap beranggapan memiliki pekerjaan sampingan kerena kebutuhan yang tinggi, sedangkan hasil sadapan dianggap kurang dapat memenuhi kebutuhan. Namun demikian masih ada penyadap yang hanya bergantung hidup dari hasil sadapan saja.
Tabel 4 Sebaran responden berdasarkan jenis pekerjaan utama dan sampingan di HPGW
Pekerjaan
Jumlah Responden (org) Presentase (%)
Utama Sampingan
Penyadap Pinus - 5 20
Penyadap Pinus Petani 9 36
Penyadap Pinus Pedagang 2 8
Penyadap Pinus Buruh 8 32
Penyadap Pinus Tukang ojek 1 4
5.1. 4 Ukuran Keluarga Penyadap Getah Pinus
Ukuran keluarga menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 1994 dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: keluarga kecil (≤ 4 orang), keluarga sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (≥ 8 orang). Ukuran keluarga yang dimaksud oleh BKKBN tersebut adalah ukuran keluarga inti yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak. Sebagian besar penyadap pinus memiliki ukuran keluarga yang kecil sebesar 76% (Tabel 5). Beberapa penyadap pinus dalam kegiatan penyadapan dibantu oleh istri dan anak-anak mereka.
Tabel 5 Sebaran Responden berdasarkan ukuran keluarga di HPGW
Ukuran keluarga Jumlah Responden (org) Presentase (%)
Kecil (≤ 4 orang) 19 76
sedang (5-7 orang) 5 20
Besar (≥ 8 orang) 1 4
Total 25 100
5.2 Perlakuan penyadapan
Perlakuan penyadapan adalah beberapa cara perlakuan yang diberikan oleh pihak Badan Pengelola HPGW kepada para penyadap pinus dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas hasil sadapan. Perlakuan penyadapan yang telah dilakukan oleh Badan Pengelola HPGW, meliputi motivasi kerja, kontrak kerja, tarif upah dan hasil penelitian.
5.2. 1 Motivasi kerja
Motivasi kerja muncul tidak hanya dari dalam diri namun juga terdapat pengaruh dari faktor luar . Faktor yang mempengaruhi motivasi yang ada pada karyawan menurut Hesberg (1990) yaitu faktor higienis (Hygienic factors) dan faktor motivasi (motivation factors). Faktor higienis adalah faktor yang berpengaruh dari luar antara lain : upah dan gaji, kondisi kerja, administrasi perusahaan, hubungan sosial dengan pekerja yang lain dan adanya kepastian pekerjaan. Sedangkan faktor motivasi umumnya menyangkut faktor yang ada dari dalam diri mengenai kebutuhan psikologis menyangkut pribadi karyawan terkait dengan pekerjaan itu sendiri, antara lain : prestasi yang diperoleh dalam suatu
pekerjaan, pengakuan prestasi yang telah dicapai, pemberian tanggung jawa, dan adanya kemajuan dalam pekerjaan (Mangkuprawira dan Hubeis 2007).
Pengaruh motivasi kerja dari dalam diri masing-masing penyadap tidaklah sama. Motivasi kerja meningkat ketika kebutuhan yang harus dipenuhi juga meningkat. Selain untuk pemenuhan kebutuhan, keinginan penyadap untuk dapat meningkatan kesejahteraan pun menjadi salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan motivasi kerja dari dalam diri penyadap. Peningkatan motivasi kerja karena pengaruh dari luar dapat berupa pemberian motivasi kerja yang dilakukan oleh Badan Pengelola HPGW kepada para penyadap. Cara yang dilakukan adalah dengan bertatap muka secara langsung antara pengelola dengan penyadap, kunjungan langsung ke rumah penyadap dan diadakannya rapat serta perubahan sistem pemberian upah sadap yang semula diberikan setiap minggu menjadi diberikan secara harian.
Pemberian motivasi dengan bertatap muka secara langsung dilakukan oleh Badan Pengelola HPGW kepada para penyadap. Badan Pengelola HPGW menemui penyadap saat penyadap melakukan kegiatan penyadapan di lapangan. Pemberian motivasi secara langsung ini bertujuan agar pengelola dapat mengetahui keluhan-keluhan yang dialami oleh penyadap sehingga pihak pengelola dapat mengetahui kesulitan yang dialami oleh penyadap dan dapat dicarikan solusinya. Hal ini dapat meningkatkan semangat penyadap untuk dapat meningkatan hasil sadapan. Selain itu dengan diketahuinya kesulitan yang ada di lapangan maka Badan Pengelola HPGW dapat mengetahui apakah inovasi yang telah diterapkan berpengaruh baik atau tidak terhadap produktivitas penyadap.
Kunjungan langsung ke rumah penyadap dilakukan oleh Badan Pengelola HPGW apabila terdapat penyadap yang sudah lama tidak melakukan penyadapan karena alasan tertentu ataupun terdapat penyadap yang produktivitas kerjanya mengalami penurunan. Faktor-faktor penyebab menurunnya produktivitas ataupun ketidak hadiran penyadap antara lain: penyadap yang sakit ataupun penyadap yang lebih memilih pekerjaan sampingan misalkan untuk menjadi buruh tani karena pada masa itu sedang dalam masa tanam/masa panen. Selain pemberian motivasi kerja, cara ini bertujuan untuk menyambung silaturrahmi dan mempererat hubungan antara pengelola dengan penyadap.
Rapat tahunan dilakukan dua kali setahun, namun dapat diadakan rapat selain ketentuan ini apabila terdapat hal-hal penting yang akan disampaikan oleh Badan Pengelola HPGW kepada para penyadap. Rapat tahunan dilakukan dengan tujuan untuk melakukan evaluasi hasil produktivitas hasil sadapan. Selain itu diadakannya rapat apabila terdapat hal-hal penting yang akan disampaikan oleh Badan Pengelola HPGW misalnya: rapat kenaikan upah kerja, rapat penggantian stimulansia dan lain-lain. Dalam rapat tahunan para penyadap dapat menyampaikan keinginan atau harapan dimasa mendatang maupun keluhan yang dialami oleh penyadap.
Perubahan sistem pembayaran upah yang semula diberikan secara mingguan menjadi harian juga sangat mempengaruhi peningkatan produktivitas penyadap. Perubahan sistem ini berlaku sejak awal tahun 2009. Perubahan sistem ini berlaku karena adanya pergantian kepengurusan HPGW pada awal tahun 2009. Penyadap yang semula diberikan upah secara mingguan sangat kesulitan apabila ada keperluan mendadak. Penyadap harus menunggu selama satu minggu untuk mendapatkan upahnya. Namun sejak tahun 2009 mereka dapat memperoleh upah ketika getah sudah disetorkan kepada Badan Pengelola HPGW. Mekanisme pemberian upah ini adalah ketika penyadap sudah menyerahkan getah kepada pengelola lalu getah dicatat beratnya dan penyadap diberikan kupon sesuai dengan berat getah yang telah disetorkan. Kupon ini yang dapat ditukar dengan upah di bagian administrasi HPGW.
Pemberian motivasi kerja dilakukan pada awal masa kepengurusan Direktur Eksekutif HPGW Budi Prihanto Siswosuwarno dimulai pada bulan awal bulan Mei tahun 2009. Awal pemberian motivasi ini tidak mengalami kenaikan produktivitas getah pinus secara signifikan, namun mulai bulan September 2009 mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 85,35 kg/bulan. Pada bulan-bulan selanjutnya terus mengalami kenaikan yang signifikan (Gambar 1). Kenaikan tertinggi pada bulan Desember tahun 2010 dan terus stabil sampai akhir tahun 2011. Hasil pemberian motivasi kerja kepada para penyadap secara keseluruhan dapat meningkatkan hasil sadapan sangat jauh dibandingkan dengan kedaan awal hanya sebesar 213,5 kg/bulan dengan kenaikan tertinggi sebesar 317 kg/bulan. Total produksi getah pinus sebelum periode saat ini adalah 1345 kg/bulan pada
tahun 2007 dan 913 kg/bulan pada tahun 2008. Selanjutnya dengan adanya pemberian motivasi kerja menjadi 2.275 kg/bulan pada bulan April tahun 2009 dan terus meningkat hingga 17.401 kg/bulan pada bulan Oktober tahun 2011.
Gambar1. Grafik pengaruh motivasi kerja terhadap kenaikan hasil sadapan getah pinus (kg).
5.2. 2 Kontrak Kerja
Perjanjian atau kontrak kerja merupakan perjanjian kerja yang dilakukan antara dua atau lebih individu yang didalamnya terdapat beberapa hal yang telah disepakati oleh semua pihak. Perjanjian kerja merupakan dasar hukum yang paling utama dalam suatu hubungan kerja. Dasar dari perjanjian kerja adalah adanya orang dibawah pimpinan orang lain, adanya penunaian kerja dan adanya upah yang diberikan atas hasil penunaian kerja (Djumialdja 2008). Penyadap pinus bekerja dibawah pimpinan dari Badan Pengelola HPGW. Penunaian kerja yang dilakukan oleh penyadap yaitu pemberian hasil sadapan getah pinus kepada Badan Pengelola HPGW. Banyaknya hasil sadapan yang diperoleh penyadap pinus nantinya akan mempengaruhi upah yang akan diterima oleh penyadap. Pemberian upah sadap atas hasil sadapan pinus diberikan setelah penyadap telah menunaikan pekerjaannya.
Perjanjian kerja atau kontrak kerja yang ada di HPGW sudah ada sejak masa kepengurusan Direktur Eksekutif HPGW Budi Prihanto Siswosuwarno tahun 2009. Kontrak kerja ini dibuat antara Badan Pengelola HPGW dengan penyadap. Kontak kerja ini berisi kesediaan penyadap untuk menjadi penyadap,
dimana hal-hal yang tidak tercantum didalamnya akan dicantumkan didalam perjanjian lain yang telah disepakati. Kontrak kerja yang ada di HPGW termasuk dalam Perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT). Hal ini dikerenakan kontrak kerja yang ada di HPGW bersifat periode ataupun dapat ditentukan waktunya.
Adanya kontrak kerja ini tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap produktivitas sadapan getah pinus di HPGW. Hal ini dikarenakan para penyadap menganggap bahwa kontrak kerja hanya merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi penyadap di HPGW. Berdasarkan jawaban responden dan Badan Pengelola HPGW tampak bahwa kontrak kerja hanya memberikan pengaruh terhadap kenaikan hasil sadapan getah pinus sebesar 15 kg/bulan saja (Gambar 2). Kenaikan akibat pengaruh parameter ini tidak mengalami peningkatan kembali terhadap hasil sadapan getah pinus karena pengaruh yang sangat minim.
Gambar 2. Grafik pengaruh kontrak kerja terhadap kenaikan hasil sadapan getah pinus (kg)
5.2. 3 Tarif Upah
Gaji atau Upah merupakan salah satu unsur yang penting untuk meningkatkan motivasi kerja seorang karyawan karena gaji/upah merupakan alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan pegawai (Hariandja 2007). Pengupahan di Indonesia pada umumnya didasarkan pada tiga fungsi upah yaitu : terjaminnya kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya, mencerminkan imbalan atas hasil kerja seseorang dan menyediakan insentif untuk mendorong peningkatan produktivitas kerja (Sumarsono 2003). Upah yang diterima karyawan di HPGW mencerminkan fungsi imbalan atas hasil kerja seseorang dan pemberian insentif untuk mendorong peningkatan produktivitas kerja. Pemberian upah kepada para
penyadap berdasarkan atas hasil sadapan yang diperoleh para penyadap. Sistem pengupahan ini dihitung dengan satuan rupiah per kilogram getah hasil sadapan. Pemberian upah tidak bergantung pada satuan waktu. Penyadap yang telah menyetorkan hasil sadapan akan mendapatkan kupon yang selanjutnya dapat ditukarkan sebagai upah, tergantung pada hasil sadapan yang telah disetorkan. Umumnya penyadap dapat menyetorkan hasil sadapan dan menyetorkannya dua atau tiga kali dalam satu minggu, namun terdapat pula beberapa penyadap yang menyetorkannya setiap hari. Hal ini juga tergantung pada lokasi sadapan. Penyadap yang memiliki jarak sadapan yang cenderung dekat dengan pusat HPGW akan menyetorkan getah lebih sering dibandingkan dengan penyadap yang lokasinya lebih jauh. Pemberian insentif juga dilakukan oleh Badan pengelola HPGW dengan tujuan agar para penyadap dapat meningkatkan produktivitas sadapan. Insentif diberikan oleh Badan pengelola HPGW kepada penyadap setiap akhir bulan.
Tarif upah yang ada di HPGW meningkat dari waktu ke waktu. Penyadapan pinus dimulai pada tahun 2007, dimana tarif upah awal yang digunakan pada tahun 2007-2008 sebesar Rp.750/kg. Terdapat kenaikan tarif upah dimulai pada bulan Maret tahun 2009 dan berlaku sampai akhir tahun 2010 sebesar Rp 1.000/kg. Upah sadapan kembali mengalami kenaikan pada tanggal 11 Januari tahun 2011, dimana tarif lama sebesar Rp. 1.000/kg naik menjadi Rp.1.200/kg. Setiap produksi sadapan melebihi target produksi diatas 100 kg/minggu yang semula Rp.1.200/kg menjadi Rp.1400/kg . Produksi bulanan melebihi target produksi diatas 350 kg/bulan yang semula Rp.1.400 /kg menjadi Rp.1.600/kg. Kenaikan upah ini tercantum dalam Surat Keputusan Direksi No.02/Dir/HPGW/I/2011 tentang Parubahan Tarif Sadapan pada tanggal 11 Januari Tahun 2011. Terdapat pula pemberian insentif berupa mie instan untuk tiga penyadap dengan hasil sadapan terbanyak. Kenaikan tarif upah ini berlaku hanya selama 3 bulan.
Pada tanggal 25 Maret 2011 terdapat kenaikan tarif upah kembali berdasarkan Surat Keputusan Direksi No.03/Dir/HPGW/III/2011. Surat keputusan tersebut berisi bahwa tarif getah pinus diubah yang sebelumnya sebesar Rp.1.200/kg pada tarif dasar, Rp.1400/kg pada produksi bulanan diatas
100kg/minggu dan Rp.1.600/kg pada produksi bulanan diatas 350 kg/bulan menjadi Rp.1.600,-/kg. Dengan adanya surat keputusan ini maka harga upah sadap yang sebelumnya tidak digunakan lagi. Pemberian insentif lainnya berupa berupa mie instan untuk tiga penyadap dengan jumlah sadapan tertinggi tetap berlaku. Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal 26 maret tahun 2011 dan dapat berubah sewaktu-waktu sampai adanya Surat Keputusan selanjutnya.
Awal diberlakukannya tarif upah tidak berpengaruh terlalu signifikan terhadap peningkatan hasil sadapan sebesar 12,875 kg/bulan. Kenaikan berpengaruh signifikan terhadap kenaikan tarif pada bulan Maret tahun 2011 sebesar 66,875 kg/bulan (Gambar 3). Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi atau kesejahteraan menjadi motif bagi masyarakat untuk berproduksi lebih banyak. Apabila masyarakat mampu meningkatkan produksi sadapan getah maka tingkat kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. Dengan demikian peningkatan hasil sadapan berbanding lurus terhadap peningkatan pendapatan penyadap atau kesejahteraan masyarakat.
Gambar 3. Grafik pengaruh tarif upah terhadap kenaikan hasil sadapan getah pinus (kg).
5.2. 4 Hasil Penelitian atau Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan adanya teknologi (Keraf & Dua 2001). Perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya berbanding lurus dengan peningkatan atau ditemukannya teknologi. Seiring berjalanya waktu, ilmu pengetahuan berkembang karena penggunaanya dalam
pemenuhan kebutuhan yang semakin meningkat pula. Ditemukannya beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang ada semakin berkembang.
Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang ini juga berpengaruh terhadap produktivitas penyadapan getah pinus di HPGW. HPGW menggunakan stimulansia merupakan salah satu hasil penerapan ilmu pengetahuan. Stimulansia yang digunakan adalah stimulansia anorganik dalam proses pengambilan getah pinus. Pemberian stimulansia ini bertujuan agar memperlancar keluarnya getah. Penggunaan stimulansia ini digunakan sejak tahun 2008 sampai April 2011. Stimulansia anorganik yang digunakan yaitu cairan Asam Sulfat yang merupakan campuran antara H2SO4 dan HNO3. Menurut Santosa (2011) diacu dalam Damastuti (2011) mekanisme stimulansia ini adalah memberikan efek panas terhadap getah, sehingga getah lebih lama dalam keadaan cair dan mudah mengalir keluar dari saluran getah dan mempengaruhi tekanan turgor dinding sel hal ini akan mempermudah getah cepat keluar dan saluran getah dapat terbuka dalam waktu yang relatif lebih lama. Namun penggunaan stimulansia Cairan Asam Sulfat (CAS) memiliki beberapa kekurangan yaitu memiliki dampak negatif diantaranya membahayakan diri penyadap, tidak ramah lingkungan dan kualitas getah yang dihasilkan lebih rendah. Penggunaan CAS ini dapat mengganggu pernapasan dan dapat merusak kulit penyadap. Hampir seluruh penyadap merasakan dampak yang membahayakan ini, antara lain tangan yang mengelupas dan gangguan pernafasan berupa sesak nafas.
Saat ini telah dikembangkan pula stimulansia organik. Mulai bulan April 2011 HPGW menggunakan stimulansia organik adalah Etrat 12-40. Menurut Darmastuti (2011), penggunaan stimulansia organik selain dapat meningkatkan hasil produksi getah, memiliki beberapa keuntungan, yaitu: tidak memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, penyadap, dan pohon pinus sendiri, serta kualitas getah yang dihasilkan lebih baik.
Penggunaan stimulansia organik berupa Etrat 12-40 mampu meningkatkan rata-rata produktvitas sebesar 96,28% dibandingkan dengan perlakuan tidak menggunakan stimulansia (kontrol) sedangkan penggunaan Cairan Asam Sulfat (CAS) hanya meningkatkan rata-rata produktivitas sadapan sebesar 5,28%
dibandingkan dengan perlakuan kontrol (Darmastusi 2011). Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan stimulansia organik berupa Etrat 12-40 sangat besar. Gambar 4 menunjukkan adanya penggunaan stimulansia organik dalam penyadapan getah pinus memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil sadapan pinus. Peningkatan yang cukup signifikan terdapat pada bulan Juni tahun 2011 sebesar 93,73 kg dan terus meningkat hingga bulan Agustus tahun 2011 menjadi 203,968 kg. Selain meningkatkan hasil sadapan, penggunaan etrat yang tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan penyadap dan sangat disukai oleh penyadap.
Gambar 4 Grafik pengaruh hasil penelitian terhadap hasil sadapan getah pinus.
Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa perlakuan penyadapan yang memiliki pengaruh paling tinggi terhadap kenaikan getah pinus adalah motivasi kerja yatu sebesar 317 kg. Peningkatan motivasi kerja ini 21 kali lebih besar dibandingkan dengan kenaikan kontrak kerj sebesar 15 kg. Motivasi kerja memiliki pengaruh paling tinggi selain karena rentang waktu yang digunakan dalam penerapan perlakuan ini cukup lama penerimaan penyadap atas pemberian perlakuain ini cukup baik. Setelah itu diikiti dengan hasil penelitian sebesar 203,968 kg. Peningkatan hasil sadapan karena adanya perlakuan hasil penelitian ini 14 kali lebih besar dibandingkan dengan kenaikan kontrak kerja. Hasil penelitian akan meningkat seiring berjalannya waktu dan peningkatan kebutuhan manusia. Hasil penelitian memiliki pengaruh yang cukup baik terhadap peningkatan hasil sadapan getah, hal ini ditandai dengan peningkatan yang cukup tinggi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tarif upah meningkatan produktivitas penyadap sebesar 66,85 kg/bulan atau empat kali lebih besar
dibandingkan dengan pengaruh kontrak kerja. Peningkatan yang diakibatkan karena adanya tarif upah cukup besar. Hal ini dikerenakan pengaruh motif ekonomi yang diterapkan oleh Badan Pengelola HPGW terhadap penyadap. Pengaruh yang diberikan kontrak kerja terhadap peningkatan hasil sadapan relatif