a. Kondisi Geografi dan Administrasi
Secara geografis Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan salah satu Kabupaten di pesisir Pantai Barat Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Batas wilayahnya Kabupaten Tapanuli Tengah adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia,
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara, 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, 4. Sebelah Utara dengan Singkil (Provinsi NAD).
Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki luas wilayah sebesar 2.194,98 Km2 dengan ketinggian dari air laut yakni sekitar 0-1.266 m diatas permukaan laut. Panjang garis pantainya ± 219 Km, dimana jumlah nelayan pada tahun 2003 sekitar 9.938 jiwa dari 249.840 jiwa penduduk.
Kabupaten Tapanuli Tengah yang menjadi lokasi program MFCDP ini merupakan kawasan yang memiliki karakteristik dan geologis yang khas
dibandingkan dengan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geologis, pantai Barat Sumatera Utara merupakan pantai curam dan berbatu karena berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Untuk kawasan Tapanuli Tengah, terutama di lokasi MFCDP di Kecamatan Sorkam, Sorkam Barat dan Kolang pantainya relatif landai dan berpasir.
Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Pandan dan secara administratif memiliki 15 kecamatan yang merupakan pengembangan dari 8 kecamatan pada bulan Juni 2002. Diantara ke lima belas kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah tersebut, 12 diantaranya merupakan kecamatan yang sebagian atau seluruh wilayahnya termasuk dalam kawasan pesisir dan tiga diantaranya dijadikan kawasan perencanaan program MFCDP yaitu kecamatan Kolang, Sorkam dan Sorkam Barat. Adapun kondisi umum tiap desa dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Kondisi Umum Desa Penelitian
No Nama Desa Kondisi Umum
1 Hurlang Muara Nauli
Desa Hurlang Muara Nauli merupakan satu dari 12 desa/kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kolang. Desa ini memiliki luas 49.17 Km2 dengan rasio terhadap luas kecamatan adalah 12.30 %. Sebahagian besar penduduknya adalah petani sawah dan petani ladang. Hanya sebahagian kecil penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan, baik nelayan penuh dan sambilan.
2 Lingkungan III Pasar Sorkam
Desa Lingkungan III Pasar Sorkam merupakan salah satu desa/kelurahan di Kecamatan Sorkam Barat dengan luas wilayah 7,80 km2, yang rasionya dengan luas kecamatan adalah 2,95 %. Penduduk desa ini sebahagian besar adalah nelayan. Namun secara umum penduduknya juga memiliki lahan pertanian yang biasanya dikerjakan oleh isteri nelayan dan anak-anaknya.
3 Pahieme Desa Pahieme merupakan salah satu desa pesisir yang berada satu Kecamatan dengan Desa Lingkungan III Pasar Sorkam dan Maduma, yakni Kecamatan Sorkam Barat. Desa ini memiliki luas wilayah sebesar 4,97 Km2. Desa ini merupakan desa terbesar dan terpadat penduduknya di Kecamatan Sorkam Barat. Mata pencaharian terbesar penduduknya adalah bertani sawah dan ladang. 4 Bottot Teluk Roban Desa Bottot Teluk Roban merupakan salah satu desa dari 14
desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Sorkam. Luas desa ini 3,40 Km2 dengan rasio terhadap total luas kecamatan adalah 2,92%. Penduduk desa ini sebahagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, umumnya penduduk juga memiliki lahan pertanian yang pengelolaannya dilakukan oleh isteri nelayan.
5 Maduma Desa Maduma memiliki luas wilayah 13,22 Km2 yang sebahagian besar penduduknya adalah nelayan tradisional/kecil. Namun, penduduk desa ini juga memiliki lahan pertanian yang dikelola oleh laki-laki dan perempuan.
Sumber : Bappenas (2005)
b. Kependudukan
Tabel 2 menyajikan jumlah penduduk desa, dimana Desa Pahieme memiliki jumlah penduduk terbesar dibandingkan dengan jumlah penduduk desa lain yaitu sebesar 3.612 jiwa. Sementara itu Desa Lingkungan III Pasar Sorkam memiliki jumlah penduduk terbesar kedua dengan jumlah penduduk sebesar 3.161 jiwa. Desa Maduma memiliki jumlah penduduk paling sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk desa lain yaitu sebesar 3.612 jiwa.
Tabel 2 Jumlah Penduduk Desa
Jumlah No Desa
Laki-Laki Perempuan
Total (jiwa)
1. Hurlang Muara Nauli 762 779 1.541
2. Bottot Teluk Roban 556 568 1.124
3. Lingkungan III Pasar Sorkam 1.563 1.598 3.161
4. Pahieme 1.785 1.827 3.612
5. Maduma 396 406 802
Total 5.062 5.178 10.240
Kondisi tingkat kesejahteraan masyarakat yang berdomisili di lokasi program MFCDP Kabupaten Tapanuli Tengah dapat dikategorikan menjadi empat kelompok (Tabel 3), yaitu Pra Keluarga Sejahtera, Keluarga Sejahtera 1, Keluarga Sejahtera 2, Keluarga Sejahtera 3.
Tabel 3 Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Kategori Rumah Tangga
No. Desa
Pra KS KS-1 K-2 KS-3
Jumlah (KK)
1. Hurlang Muara Nauli 11 230 45 10 296
2. Bottot Teluk Roban 20 192 38 8 244
3. Lingkungan III Pasar Sorkam 25 497 31 21 574
4. Pahieme 30 693 35 25 783
5. Maduma 6 153 22 3 184
Total 92 1765 171 67 2081
Sumber : Kabupaten Tapanuli Tengah dalam angka (2003)
Jumlah penduduk desa menurut jenis pekerjaan memiliki proporsi jumlah yang berbeda. Di Desa Hurlang Muara Nauli, Pahieme, dan Maduma sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Desa Bottot Teluk Roban dan Lingkungan III Pasar Sorkam sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Tabel 4 menyajikan jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan dimana Desa Lingkungan III Pasar Sorkam memiliki proporsi nelayan terbesar
dibandingkan dengan desa lainnya. Desa Pahieme memiliki proporsi nelayan yang terkecil jika dibandingkan dengan desa lainnya.
Tabel 4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan
No. Desa Nelayan Pedagang Petani Jumlah
(KK)
1. Hurlang Muara Nauli 27 5 150 296
2. Bottot Teluk Roban 129 6 70 244
3. Lingkungan III Pasar Sorkam 299 100 53 574
4. Pahieme 26 50 567 783
5. Maduma 32 5 87 184
Total 513 166 927 2081
Sumber : Kabupaten Tapanuli Tengah dalam angka (2003)
c. Kondisi Sarana dan Prasarana
Secara umum, kondisi sarana dan prasarana baik umum maupun perikanan di lokasi penelitian kurang terawat dengan baik, seperti akses jalan menuju ke desa yang rusak cukup parah dan sarana gudang penyimpanan es yang telah
berubah fungsi menjadi penyimpanan barang. Kondisi umum prasarana jalan desa dapat dilihat pada Tabel 5 dimana kondisi jalan aspal memang cukup panjang jika dibandingkan dengan jenis jalan yang lain, namun kondisi badan jalan cukup memprihatinkan.
Tabel 5 Kondisi Prasarana Jalan di Desa Penelitian
No. Desa Jenis Jalan Panjang (km) 1. Hurlang Muara Nauli Aspal
Diperkeras Tanah Setapak 3 - 0,3 0,2 2. Bottot Teluk Roban Aspal
Diperkeras Tanah Setapak 1 - 0,3 0,1 3. Lingkungan III Pasar Sorkam Aspal Diperkeras Tanah Setapak 6 3 1,5 4 4. Pahieme Aspal Diperkeras Tanah Setapak 5 0,5 0,2 0,5 5. Maduma Aspal Diperkeras Tanah Setapak 0,5 2 1,5 4,5 Sumber : Bappenas (2005)
Tabel 6 menyajikan jumlah sarana perikanan yang terdapat di desa penelitian, dimana jumlahnya sangat minimal. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Lingkungan III Pasar Sorkam belum pernah difungsikan untuk kegiatan perikanan dan sekarang telah mengalami kerusakan akibat dari gempa. Kegiatan
docking tradisional berada pada Desa Bottot Teluk Roban dan Desa Lingkungan
III Pasar Sorkam. Pada saat penelitian, di Desa Bottot Teluk Roban sedang
mengerjakan perahu program MFCDP hasil perguliran dana MFCDP sebanyak 12 perahu.
Tabel 6 Jumlah Sarana Perikanan di Desa Penelitian
No Desa TPI/PPI Docking
1. Hurlang Muara Nauli - -
2. Bottot Teluk Roban - 1
3. Lingkungan III Pasar Sorkam 1 1
4. Pahieme - -
5. Maduma - -
d. Status Sumberdaya Perikanan Laut i. Perikanan Tangkap
Pada umumnya dari semua desa pesisir yang diteliti, para nelayan
memiliki teknologi yang relatif sama yaitu perahu tanpa mesin dan perahu motor tempel. Jenis alat tangkapnya telah digunakan secara turun temurun seperti jaring ”salam”, jaring ikan kembung”aso-aso”, kepiting dan pancing, kecuali pada Desa Lingkungan III Pasar Sorkam yang menggunakan lampara dasar atau mini trawl. Jenis ikan yang ditangkap yaitu ikan kembung ”aso-aso”, “gulamo”, kepiting, rajungan dan teri.
Berdasarkan studi partisipatif yang telah dilakukan oleh Bappenas pada tahun 2005 bahwa perairan di lima desa penelitian memiliki potensi perikanan yang besar, namun nelayan memandang bahwa kondisi saat ini jauh lebih sulit dibanding 5 dan 10 tahun lalu untuk mendapatkan jenis ikan yang sama pada saat melakukan aktifitas penangkapan. Di samping itu, rata-rata ukuran ikan yang ditangkap juga semakin kecil seiring dengan perubahan mata jaring yang
diperkecil untuk bisa menangkap ikan lebih banyak. Hal ini mencerminkan bahwa ikan-ikan yang berukuran besar sudah mulai berkurang. Hasil dari penggunaan mata jaring kecil tersebut ikan-ikan yang masih kecil seperti anak kembung ”aso-aso” dan jenis ikan lainnya sudah tertangkap sebelum tumbuh dewasa.
Jarak tempuh nelayan untuk menangkap ikan juga terus mengalami perubahan. Menurut nelayan, jika pada 10 tahun yang lalu untuk mendapatkan hasil yang maksimal, nelayan hanya menangkap ikan di pinggir pantai atau disekitar 1 mil. Lima tahun lalu nelayan harus menangkap ikan lebih jauh lagi sekitar 2 – 3 mil atau lebih ke tengah laut (upaya yang lebih intensif) maupun menyusuri pantai. Hal ini menyangkut ketersediaan ikan dalam daerah operasi penangkapan ikan. Wilayah penangkapan ikan tersebut antara lain adalah Perairan Muara Kalang, Perairan Karang Sibakua, Perairan Sorkam, Pulau Belalang dan Perairan Desa Maduma. Rata-rata nelayan melakukan kegiatan penangkapan satu hari melaut yang telah dikenal sebagai one day fishing (Bappenas 2005).
Daerah perairan desa penelitian memiliki dua musim angin yaitu musim angin timur dan angin barat. Pada musim timur yang terjadi pada bulan September – Februari, kondisinya baik untuk melaut dan gelombang laut tidak terlalu besar.
Sedangkan pada musim barat yang terjadi pada bulan Maret – Agustus, termasuk kedalam cuaca yang buruk, gelombang tinggi dan angin kencang sehingga nelayan boleh melaut pada saat angin agak tenang.
ii. Perikanan Budidaya
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Kelautan Tapanuli Tengah tahun 2005 bahwa kabupaten ini memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan dan kelautan dengan potensi lahan budidaya laut lebih kurang 1.500 Ha.
Sementara itu ketersediaan lahan untuk usaha budidaya laut sebesar 900 Ha, dimana produksi perikanan dari usaha budidaya laut sebesar 549,40 ton per tahun.
Desa Bottot Teluk Roban merupakan satu-satunya desa yang mendapatkan bantuan dari program MFCDP untuk kegiatan perikanan budidaya. Jenis yang dibudidayakan adalah lokan yaitu sejenis kerang darah (Anadara sp) yang membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan dalam satu siklus panen. Satu siklus tersebut terdiri dari masa persiapan lahan tambak, masa pemeliharaan dan masa pemanenan. Persiapan lahan tambak terdiri dari kegiatan pembersihan lahan dan pembuatan tambak.
Budidaya lokan ini dilakukan dengan sistem cage culture secara perorangan yang tergabung ke dalam satu Kelompok Masyarakat Penerima Manfaat (KMPM). Modal awal yang diberikan dari program MFCDP yaitu sebesar Rp 3.300.000,00 per kepala keluarga yang digunakan untuk membuat tempat budidaya, pembelian bibit dan biaya operasional. Budidaya lokan ini merupakan salah satu alternatif mata pencaharian penduduk Desa Bottot Teluk Roban yang memberikan keuntungan cukup besar, namun kendala yang ditemukan di lapangan biasanya berkaitan dengan kondisi perairan.