BAB II KAJIAN TEORITIK
2.1 Deskripsi Teori
2.1.1 Keaktifan Belajar Peserta Didik
2.1.1.1 Pengertian Keaktifan Belajar Peserta Didik
Keaktifan belajar meliputi kata “Aktif” dan “Belajar”. Keaktifan berasal dari kata aktif, mempunyai arti kegiatan atau kesibukan. Keaktifan belajar ialah suatu keadaan ataupun hal di mana siswa dapat aktif (Hamanik, 2008). Keaktifan dalam proses pendidikan bisa memicu serta meningkatkan bakat. Selain itu, siswa bisa berlatih berpikir kritis serta membongkar permasalahan di kehidupan sehari-hari. Siswa yang aktif umumnya mendominasi kegiatan akademik. Dengan ini mereka aktif memakai nalar, guna mengetahui ide pokok dari materi yang di informasikan.
Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa keaktifan siswa mempunyai hubungan dengan penggunaan akal atau nalar dalam menemukan ide pokok pembelajaran dan mencari solusi atas permasalahan yang ada, serta mampu mengapresiasikannya di kehidupan sehari-hari.
2.1.1.2 Bentuk-Bentuk Keaktifan Belajar
Slameto, 1995, mengklasifikasikan bentuk-bentuk keaktifan belajar peserta didik menjadi dua golongan, yaitu keaktifan psikis dan keaktifan fisik. Berikut penjelasan dari kedua bentuk keaktifan belajar:
(1) Keaktifan Psikis
Bagi kelompok psikis, belajar merupakan cara untuk memperlihatkan adanya individu yang aktif memproses informasi yang di dapat, bukan untuk menyimpannya tanpa ada perubahan atau pengubahan. Bentuk-bentuk keaktifan psikis, yaitu:
(2) Keaktifan Indera. Selama belajar, seseorang harus menggunakan indera yang lebih baik seperti pendengaran, penglihatan dan lain-lain.
(2.1) Keaktifan Emosional. Hal ini diperlukan bagi siswa untuk mencoba menikmati apa yang mereka pelajari.
(2.2) Keaktifan Akal. Peserta didik perlu menggunakan akalnya untuk dapat merumuskan suatu materi, atau menarik sebuah kesimpulan dari materi yang diajarkan.
(2.3) Keaktifan Ingatan. Selama proses pembelajaran, peserta didik patut aktif menyerap bahan ajar yang ditugaskan oleh pengajar dan berusaha mengingatnya di ingatan.
(3) Keaktifan Fisik
Keaktifan peserta didik ketika proses pembelajaran menurut hukum Law of Exercise (hukum latihan), mempunyai arti bahwa semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Bentuk keaktifan fisik, yaitu:
(3.1) Mencatat. Mencatat ataupun menulis dikatakan sebagai kegiatan belajar, apabila peserta didik mempunyai kebutuhan akan
materi atau bahan ajar.
(3.2) Membaca. Hal terpenting dalam belajar adalah membaca.
Karena, dengan membaca, peserta didik dapat lebih paham akan materi yang telah dijelaskan oleh guru.
(3.3) Berdiskusi. Dalam kegiatan diskusi, terdapat beberapa aktivitas di dalamnya. Seperti: bertanya, mengeluarkan pendapat, dan lain-lain. Selain itu, diskusi juga berguna untuk memajukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa.
(3.4) Mendengar. Saat proses pembelajaran, peserta didik harus mendengarkan guru dalam memberikan materi. Karena, dengan mendengar, peserta didik akan mudah untuk mengingat sesuatu yang telah diajarkan.
2.1.1.3 Aspek Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar peserta didik mampu dilihat dari keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Hamalik (2011), ada delapan aspek keaktifan belajar siswa, adalah:
(1) Visual activities (kegiatan visual), aktivitas ini meliputi membaca, meninjau, mendemonstrasikan, memamerkan.
(2) Oral activities (kegiatan berbicara), adalah kegiatan menyajikan suatu fakta, menceritakan kembali suatu keadaan, memberi pertanyaan, mengutarakan saran, memberi pendapat, mewawancarai serta berdiskusi.
(3) Listening activities (kegiatan mendengarkan), contohnya mendengarkan pidato, ceramah, diskusi, musik dan lain-lain.
(4) Writing activities (kegiatan menulis), contohnya menulis ulang materi, menulis informasi, serta menulis lainnya.
(5) Drawing activities (kegiatan menggambar), kegiatan membuat grafik, peta, diagram dan lain-lain.
(6) Motor activities (kegiatan motorik), seperti melakukan eksperimen, melakukan pekerjaan konstruksi, bermain model dan lain-lain.
(7) Mental activities (kegiatan mental), misalnya kontemplasi, mengenali, analisis, memecahkan persoalan, pengambilan keputusan.
(8) Emotional activities (kegiatan emosional), misalnya kesenangan, kebosanan, kebahagiaan, keberanian, ketenangan, kecemasan, dan lain-lain.
2.1.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Menurut Syah, 2003. Faktor yang pengaruhi keaktifan belajar peserta didik ialah:
(1) Faktor Internal ialah faktor yang berasal dari dalam diri individu tersebut, serta pada dasarnya belajar merupakan kegiatan psikologis.
Oleh karena itu, keadaan psikologis juga mempengaruhi belajar setiap individu. Faktor yang mempengaruhi ialah:
(1.1) Intelegensi atau biasa disebut dengan tingkat kecerdasan (IQ), siswa dapat memastikan keaktifan dan keberhasilan pembelajaran.
(1.2) Sikap. Gejala internal yang terjadi akibat adanya reaksi atau respon dengan cara yang berbeda terhadap suatu objek.
(1.3) Bakat. Potensi yang sudah dibawa sejak lahir, dan tentu saja setiap peserta didik memiliki bakat yang berbeda. Bakat ini juga yang mempengaruhi keaktifan peserta didik.
(1.4) Minat. Peserta didik cenderung memiliki penasaran yang besar terhadap sesuatu yang belum mereka ketahui atau kuasai.
(1.5) Motivasi. Motivasi ialah keadaan di mana mendorong siswa untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan harapan lebih baik.
(2) Faktor Eksternal. Faktor di luar diri peserta didik adalah keadaan area di sekeliling peserta didik, yang masuk dalam faktor eksternal yaitu:
(2.1) Area sosial. Area ini melingkupi pengajar, staf administrasi serta para teman di sekitar siswa.
(2.2) Area non-sosial, yang termasuk dalam area ini merupakan gedung sekolah dan lokasinya, tempat tinggal, materi pembelajaran serta waktu belajar.
(3) Faktor Pendekatan Belajar ialah metode atau strategi yang dipakai guru untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Rekayasa proses pembelajaran diperlukan seperti pemilihan metode pembelajaran dan pemakaian bahan pembelajaran yang interaktif.
2.1.1.5 Indikator keaktifan belajar
Menurut Sanjaya (2010), ada beberapa indikator siswa aktif belajar, yaitu:
(1) Keaktifan Siswa Dalam Proses Perencanaan
(1.1) Peserta didik ikut berpartisipasi pada pengembangan tujuan pembelajaran yang cocok untuk kebutuhan dan kemampuannya dengan mempertimbangkan kegiatan pembelajaran.
(1.2) Partisipasi peserta didik pada penyusunan rancangan rencana studi.
(1.3) Ikut serta mengidentifikasi dan memelihara bahan ajar yang digunakan.
(2) Keaktifan Siswa Dalam Proses Pembelajaran
(2.1) Dalam proses pembelajaran, keterlibatan fisik, mental, emosional dan intelektual siswa diperlukan. Hal ini dapat tercermin dari tingginya konsentrasi dan semangat peserta didik untuk menyelesaikan tugas secara baik dalam waktu yang telah diputuskan.
(2.2) Siswa belajar secara langsung. Dalam hal ini, ide dan prinsip diperkenalkan lewat pengalaman konkret seperti perasaan.
Pengalaman ini juga dapat dilaksanakan pada saat kerjasama kelompok.
(2.3) Terdapat upaya peserta didik untuk membuat lingkungan belajar yang nyaman.
(2.4) Partisipasi peserta didik ketika meneliti dan menggunakan sumber belajar yang ada dan dianggap sesuai seperti materi
pembelajaran.
(2.5) Partisipasi peserta didik seperti menjawab, memberi pertanyaan, mencoba memecahkan persoalan dan mencari solusi dari masalah yang ada.
(2.6) Siswa dapat berinteraksi dengan banyak cara, baik antar siswa yang lain maupun antara guru dengan siswa.
(3) Keaktifan Siswa dalam Penilaian Pembelajaran
(3.1) Partisipasi siswa untuk menilai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
(3.2) Partisipasi siswa dalam melakukan kegiatan tes dan mengerjakan tugas yang harus dikerjakan.
(3.3) Keinginan peserta didik untuk menyusun laporan secara tertulis dan lisan tentang hasil belajar yang telah dicapainya.