KEANEKARAGAMAN HAYATI
6.1.2. Keanekaragaman spesies dan genetik 1. Daratan
Keanekaragaman hayati yang terdapat di daratan terdiri dari bermacam-macam tumbuhan dan satwa. Semakin beranekaragam jenis tumbuhan dan satwa maka potensi sumber daya alam di wilayah tersebut semakin tinggi.dan dapat memberikan keuntungan bagi manusia untuk mencukupi segala kebutuhannya.
6.1.2.1.1. Tumbuhan
Jenis tanaman buah-buahan yang terdapat di Kota Mojokerto sangat bervariasi dan apabila dilihat dari jumlahnya sebagian besar selalu meningkat setiap tahunnya. Jumlah tanaman buah-buahan yang terbanyak pada tahun 2008 adalah Mangga sebanyak 17.410 pohon, Sawo sebanyak 11.022 pohon, dan pisang sebanyak 10.660 pohon. Sampai saat ini di Kota Mojokerto tidak dijumpai jenis tanaman buah duku dan manggis. Hal tersebut dikarenakan jenis tanah yang kurang sesuai sehingga tanaman buah tersebut sulit untuk dapat tumbuh dengan baik. Distribusi Jenis dan jumlah tanaman buah di Kota Mojokerto dapat dijumpai pada tabel 6.1.
2006, 2007, dan 2008
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Mojokerto
6.1.2.1.2. Satwa
Populasi ternak besar maupun kecil di Kota Mojokerto yang terdiri dari sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba, itik, ayam ras dan ayam buras pada tahun 2007 berturut-turut sebesar 175, 25, 42, 908, 995, 3.430, 4.450 dan sebesar 16.555 ekor. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya produksi telur mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 25,14 persen, menjadi sebesar 24.958 kg. Sedangkan tahun 2006 produksi telur ayam dan itik adalah 19.943 kg (Tabel 6.2). Melihat jumlah pemotongan ternak, pada tahun 2007 jumlah ternak sapi dan babi yang dipotong mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, begitu pula pemotongan kambing dan domba juga meningkat. Pemotongan sapi sebanyak 7.970 ekor; pemotongan kambing 3.594 ekor; domba sebesar 3.605 ekor dan babi 1.815 ekor.
Jenis Tanaman Buah
Tahun 2006 2007 2008 01. Alpukat/ Avocado 82 82 67 02. Belimbing/ Starfruits 7 370 7 450 8610 03. Duku/ Duku - - - 04. Durian/ Durian 600 700 700
05. Jambu Air/ Rose Apple 1 570 1 538 1503
06. Jambu Biji/ Guava 2 102 2 067 2012
07. Jeruk/ Orange 275 275 267 08. Mangga/ Mango 5 259 17 414 17410 09. Manggis/ Mangosteen - - - 10. Nangka/ Jackfruit 400 410 410 11. Nanas/ Pineapple 10 10 - 12. Pepaya/ Papaya 181 1 819 1654 13. Pisang/ Banana 10 965 10 688 10660 14. Rambutan/ Rambutan 710 783 833
15. Salak/ Salacia palm 35 25 25
16. Sawo/ Chiku 11 522 11 222 11022
17. Sirsak/ Soursop 115 125 120
18. Sukun/ bread tree 16 16 16
19. Melinjo/ Belinjo 1 796 1 066 916
Tabel 6.2 Banyaknya Ternak dan Unggas Menurut Jenisnya di Kota Mojokerto Tahun 2006, 2007, dan 2008
Jenis Ternak dan Unggas Tahun
2006 2007 2008
01. Sapi/ Cow 141 175 197
02. Sapi Perah/ Dairy Cow 27 25 23
03. Kerbau/ Buffalo 44 42 38
04. Kambing/ Goat 977 908 1441
05. Domba/ Sheep 1 192 995 735
06. Babi/ Pig - - -
07. Itik/ Duck 3 830 3 430 3425
08. Ayam Ras/ Hen 2 550 4450 2300
09. Ayam Buras/ Domestic Hen 18 880 16 555 14654
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Mojokerto
6.1.2.2. Perairan 6.1.2.2.1. Tumbuhan
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, hingga saat ini belum dilakukan pendataan mengenai potensi sumber daya alam untuk jenis tumbuhan air, hal tersebut dikarenakan jumlah dan jenis tumbuhan air di Kota Mojokerto sangat langka.
6.1.2.2.2. Satwa
Data jumlah produksi ikan yang ada di wilayah Kota Mojokerto diperoleh dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pada tahun 2008 produksi ikan darat mengalami peningkatan dibandingkan dari tahun 2006 dan 2007, yaitu dari 26.600 kg (tahun 2006) menjadi 33.900 kg (tahun 2007) dan 35.134 kg.
Tabel 6.3 Banyaknya Ikan Menurut Jenisnya di Kota Mojokerto Tahun 2006, 2007, dan 2008
Jenis Ikan Tahun
2006 2007 2008
01. Ikan Mas/ Gold Fish - - -
02. Ikan Tawes 1 800 3 200 3330 03. Ikan Mujair 850 1 300 1740 04. Ikan Nila 1 150 2 600 2903 05. Ikan Lele 18 500 19 000 19000 06. Ikan Gurami 3 150 3 300 3793 07. Lainnya/ Others 1 150 4 500 4368
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Mojokerto
6.2. Tekanan
Persoalan pelestarian satwa liar yang dilindungi di Indonesia umumnya cukup kompleks, sedangkan di Kota Mojokerto perdagangan satwa belum terjadi, perdagangan satwa bukan saja karena habitat asal mereka semakin menyempit dan rusak, tetapi juga karena bentuk-bentuk kejahatan eksploitasi, seperti kepemilikan, perdagangan dan penyelundupan satwa yang terus
perdagangan dan penyelundupan satwa dilindungi. Kepentingan ekonomi selalu menjadi alasan untuk mengeksploitasi satwa liar, walaupun sejauh ini belum ada dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Satwa-satwa itu semakin berkurang jumlahnya karena diperdagangkan, dipelihara, dikonsumsi dan diburu. Strategi komprehensif diharapkan dapat dilaksanakan secara bertahap untuk menyelesaikan permasalahan perdagangan satwa ini.
Penurunan biodiversitas dari suatu ekosistem meningkatkan kerentanannya terhadap penyakit, dan stress lingkungan, menurunkan daya lentingnya (resilience) terhadap gangguan, dan menurunkan produktivitas ekosistem. Pertumbuhan penduduk, pemanfaatan berlebih (Over-hunting), pencemaran, pemanasan global dan perubahan iklim dapat mempercepat hilangnya spesies dan ekosistem
Berbagai penyebab penurunan/tekanan terhadap keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem di Kota Mojokerto antara lain konversi lahan, pencemaran, eksploitasi yang berlebihan, praktek teknologi yang merusak dan perubahan iklim. Berikut ilustrasi kerusakan keanekaragaman hayati pada tingkat ekosistem, jenis/spesies dan genetik:
1. Kerusakan Ekosistem 2. Kepunahan Spesies
3. Penyusutan Keragaman Sumberdaya Genetik
6.3. Respon
Upaya Pengendalian
Pemerintah Kota Mojokerto sejak lama telah melakukan beberapa upaya pengendalian dan penanggulangan kerusakan lingkungan yang dapat menyebabkan penyusutan keanekaragaman hayati. Beberapa kebijakan telah dicanangkan terutama terkait dengan upaya pelestarian/konservasi, seperti Mascot Identitas Flora Tumbuhan/Tanaman Kota Mojokerto yaitu Tanaman SAWO KECIK & TANAMAN MOJO. Selain itu diupayakan pula suatu kebijakan pemanfaatan yang mengindahkan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan serta pembagian keuntungan/kesejahteraan yang adil dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati.
Sejak Tahun 1990 telah diterbitkan UU no. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang mana undang-undang ini mengatur konservasi keanekaragaman ekosistem dan spesies, terutama di kawasan lindung. Namun pengelolaan kawasan lindung sampai saat ini, khususnya dalam menjamin partisipasi masyarakat, penegakan hukum dan alokasi pendanaan kurang memadai, sehingga beberapa kawasan lindung terancam oleh kegiatan perburuan, penangkapan ikan, penebangan dan pemungutan sumberdaya hutan illegal serta adanya konflik dengan masyarakat lokal.
Mengingat kondisi hutan kota di Kota Mojokerto di beberapa wilayah mengalami penurunan, hendaknya semua lembaga/instansi pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya hutan kota yang ada, melalui pengambilan kebijakan yang tegas untuk tidak mengizinkan lagi adanya kegiatan konversi lahan.
Prinsip pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan Pemerintah Kota Mojokerto demi kelangsungan semua agen hayati yaitu:
1. Setiap bentuk kehidupan adalah unik dan memerlukan penghargaan dari manusia
2. Pelestarian keanekaragaman hayati adalah investasi yang menghasilkan keuntungan penting, baik secara lokal, nasional dan global
3. Biaya dan keuntungan keanekaragaman hayati harus dibagi secara lebih adil kepada semua penduduk
4. Sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, pelestarian keanekaragaman hayati menuntut perubahan mendasar dalam pola dan praktek pembangunan ekonomi
5. Peningkatan pendanaan untuk pelestarian keanekaragaman hayati perlu diimbangi dengan pembaharuan kebijakan dan lembaga
6. Prioritas-prioritas untuk pelestarian keanekaragaman hayati berbeda-beda bila ditinjau dari sudut pandang lokal, nasional dan global
7. Pelestarian keanekaragaman hayati hanya dapat dipertahankan jika kesadaran dan perhatian masyarakat dan para pengambil kebijakan cukup besar
8. Tindakan untuk melestarikan keanekaragaman hayati haruslah direncanakan dan diimplementasikan pada suatu skala yang ditetapkan berdasarkan kriteria ekologis dan sosial
9. Keanekaragaman budaya sangat berkaitan dengan keanekaragaman hayati, pengelolaan keanekaragaman hayati harus bertumpu pada keragaman budaya, sebaliknya melestarikan keanekaragaman hayati seringkali membantu memperkokoh integrasi dan nilai-nilai budaya
10. Meningkatkan partisipasi masyarakat, penghargaan terhadap hak -hak asasi manusia. Semakin balk tingkat pendidikan dan informasi dalam masyarakat serta makin
keanekaragaman hayati.
Kebijakan nasional pengelolaan keanekaragaman hayati diarahkan pada pemanfaatan sumberdaya hayati untuk kesejahteraan masyarakat dengan penekanan pada upaya pelestarian untuk mendukung pemanfaatannya. Oleh karena itu pengelolaan keanekaragaman hayati merupakan suatu peluang untuk memanfaatkan sumberdaya hayati tersebut disamping mencegah kehilangannya yang terus berlanjut.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah menyusun suatu strategi pengelolaan keanekaragaman hayati dan sekaligus rencana aksi yang harus diimplementasikan secara efektif, termasuk perlindungan pengetahuan tradisional dan kearifan masyarakat yang sejak dahulu telah memanfaatkan sumberdaya hayati. Tahun 2003 dicatat sebagai salah satu milestone perkembangan kebijakan keanekaragaman hayati di Indonesia yaitu dengan diterbitkannya Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional yang lebih dikenal dengan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP).
IBSAP merupakan acuan pelaksanaan program-program keanekaragaman hayati nasional sampai Tahun 2020. IBSAP yang penyusunannya dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), merupakan hasil kerja sama seluruh instansi dan lembaga pemerintah terkait dan berbagai organisasi di seluruh pelosok Indonesia. Sayangnya dokumen IBSAP tidak mengikat secara hukum agar program-programnya bisa dilaksanakan. Demikian pula kemitraan atau partnership yang menjadi salah satu keluaran dari pertemuan KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, September 2002, merupakan modal utama dalam pelaksanaan program -program yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati.
Pelaksanaan berbagai kegiatan pengelolaan keanekaragaman hayati perlu melibatkan semua pemangku kepentingan terutama pemangku kepentingan yang berada di daerah, sejalan dengan semangat UU No. 21/2004 Tentang Pengesahan Cartagena Protocol On Biosafety To The Convention On Biological Diversity, yang memberikan kewenangan dan tanggung jawab pada pemerintah daerah untuk mengelola lingkungan hidup, termasuk sumberdaya alam, kecuali yang bersifat sumberdaya strategis.
1. Konservasi In-situ
Konservasi in-situ adalah upaya melindungi ekosistem atau habitat alami untuk konservasi kekayaan keanekaragaman hayati. Penggolongan kawasan konservasi in-situ adalah cagar alam (nature reserves), suaka margasatwa (wildlife reserves), taman nasional (national parks), taman wisata alam (nature recreation park), taman hutan raya (grand forest parks) dan taman buru (games reserves).
2. Konservasi Eks-situ
Konservasi sumber daya alam eks-situ (ex-situ) adalah konservasi sumberdaya alam di luar kawasan yang pembangunannya diupayakan sesuai dengan aslinya, sehingga memungkinkan dilakukan pengembangan dan pembinaan sumberdaya alam beserta ekosistemnya untuk berbagai tujuan. Upaya konservasi eks -situ meliputi antara lain kegiatan pengelolaan kebun raya, kebun binatang, taman safari, penangkaran dan pembudidayaan. Pelestarian keragaman sumberdaya genetik, terutama untuk tanaman pertanian dan ternak dilakukan melalui koleksi plasma nutfah yang sebagian besar merupakan koleksi hidup. Penyusutan sumberdaya genetik atau plasma nutfah secara kuantitatif sulit diketahui secara pasti, hal ini antara lain karena belum ada sistem pengelolaan plasma nutfah nasional dan peraturan perundangan yang mengatur sumberdaya genetik ini.
3. Pemanfaatan Sumberdaya Genetik, Bioteknologi dan Keamanan Hayati Pemanfatan sumberdaya genetik sesungguhnya telah dilakukan sejak lama. Sumberdaya hayati ini merupakan sumberdaya strategis yang pelestarian dan pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal walaupun program pemuliaan dan program bioteknologi modern telah dilaksanakan di Indonesia. Ada indikasi bahwa banyak sumberdaya genetik Indonesia yang dibawa ke luar negeri untuk dikembangkan (misalnya untuk industri makanan, obat-obatan dan kosmetik). Lemahnya pemantauan dan belum adanya pengaturan tentang pengelolaan sumberdaya genetik ini telah mendorong pemerintah bekerja sama dengan beberapa organisasi non pemerintah, termasuk wakil masyarakat adat, menyusun peraturan perundangan tentang pengelolaan sumberdaya genetik maupun peraturan lain yang terkait. Peraturan mengenai sumberdaya genetik tetap menekankan perlunya pengaturan pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya genetik kepada pihak penyedia dan pengguna dan masyarakat adat maupun masyarakat lokal yang mempunyai pengetahuan tradisional pemanfaatan sumberdaya ini. Di samping keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan bioteknologi modem, disadari rekayasa genetik masih mempunyai dampak samping yang dapat mengancam upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati dan juga bagi kesehatan manusia.