BAB III KEARIFAN LOKAL DALAM UPACARA HATTANJOU
3.1.1 Kearifan Lokal Dalam Upacara Hattanjou Iwai
nilai-nilai luhur bangsanya. Nilai-nilai luhur tersebut perlu terus dipelihara agar terjaga kelestariannya. Wujud budaya yang perlu
dilestarikan tersebut berupa bahasa, cerita-cerita rakyat, adat istiadat dan kesenian.
Negara Jepang adalah negara maju yang masih tetap menjaga dan berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan lokal mereka. Jepang tetap mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokalnya meski ditengah gegap gempita mereka sebagai sebuah negara maju dengan kekuatan industri yang luar biasa. Karena masyarakat Jepang dikenal sebagai negara yang sangat mencintai kebudayaanya.
Salah satu kebudayaan atau kebiasaan yang masih terus dilaksanakan masyarakat Jepang yaitu ritual ritus-ritus kelahiran.
Seperti upacara hattanjou iwai (ulang tahun pertama). Upacara hattanjou iwai merupakan salah satu ritus kelahiran pada
masyarakat jepang yang sampai saat ini masih dijaga atau masih dilaksanakan oleh masyarakat Jepang. Hattanjou iwai (ulang tahun pertama) merupakan acara ulang tahun yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat Jepang. Orang tua di Jepang merayakan hari istemewa anak-anak mereka dengan satu atau sepasang kue ulang tahun merah putih (tanjo mochi).
Adapun nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam upacara hattanjou iwai (ulang tahun pertama) ini, yaitu:
1. Nilai Religius
Upacara hattanjou iwai yang dilakukan masyarakat Jepang mengandung nilai religious. Karena kepercayaan masyarakat
Jepang yang dipengaruhi oleh Shinto yang diyakini bahwa daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan akan roh. Manusia memiliki roh yang masuk kedalam tubuh manusia pada waktu lahir dan akan meninggalkan tubuh manusia pada waktu meninggal. Roh tersebut akan mengalami proses, dalam setiap kondisi akan mengalami perubahan. perubahan tersebut adalah perubahan dari kekotoran menuju kesucian.
Dalam setiap tahap perubahan tersebut dibutuhkan ritus-ritus untuk memperoleh kekuatan supernatural untuk keselamatan.
Peralihan dari suatu tahap ke tahap lainnya dianggap sebagai masa-masa rawan, oleh karena itu diadakan doa atau acara-acara untuk mendoakannya.(Situmorang Dan Rospita Uli, 2013:39).
Upacara hattanjou iwai merupakan bentuk rasa syukur orang tua sang anak kepada Dewa karena dalam setahun penuh telah menjaga sang dalam tumbuh kembangnya. Selain itu juga upacara hattanjou iwai merupakan bentuk untuk menyampaikan doa dan harapan semoga sang anak selalu diberkati dengan kesehatan, kesejahteraan, kesempurnaan dan kelengkapan sepanjang hidupnya.
2. Nilai Sosial
Upacara hattanjou iwai juga juga memiliki tujuan untuk memperkenalkan sang anak kepada lingkungan sosialnya atau orang –orang yang ada disekitarnya. Sang anak akan diperkenalkan dengan keluarganya yang awalnya hanya mengenal ibunya dan
ayahnya melalui upacara hattanjou iwai ia diperkenalkan kepada lingkungan yang besar dan luas.
Anak juga akan diperkenalkan dengan bumi yaitu tempat ia dilahirkan dan berpijak. Karena bumi merupakan pemberi segala kebutuhan hidup. Anak bertambah besar bukan hanya karena didukung banyak orang, tapi mereka tumbuh didukung juga oleh alam. Sinar matahari dan hujan yang turun ke bumi, pohon dan tumbuhan, yang kemudian menghasilkan buah.
Alam menghasilkan berbagai kehidupan, melindungi dan membesarkan manusia. Setiap kali merayakan pertumbuhan sehat sang anak , alangkah baiknya memikirkan dan mensyukuri apa yang kita terima dari alam setiap harinya dalam kehidupan kita.
Karena itu sang anak juga harus menjaga dan memelihara keseimbangan dan keserasihan antara alam dengann manusia.
Akan tetapi pada saat sekarang ini upacara hattanjou iwai lebih banyak hanya dilakukan keluarga inti saja, yaitu orang tua, kakek dan nenek juga keluarga terdekat lainnya. Bahkan pada beberapa keluarga hanya merayakan upacara hattanjou iwai ini dengan ayah, ibu, dan anak.
3. Nilai Pendidikan
Upacara hattanjou iwai memberikan banyak nilai pendidikan kepada anak tentang segala sesuatu dalam kehidupan. Dari setiap tahap dijadikan sebagai simbol dan lambang yang bermakna positif.
Dan dapat dijadikan sebagai pelajaran yang baik untuk menjalani hidup bagi sang anak kelak dimasa mendatang.
Upacara ini mengajarkan sang anak untuk hidup mandiri, dan mengajarkan bahwa hidup tidak pernah mulus tetapi penuh dengan pasang surut, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap rintangan dalam kehidupan.
4. Nilai Psikologis
Bagi masyarakat Jepang, upacara hattanjou iwai merupakan syarat yang dijalani oleh anak sebelum ia benar-benar siap untuk menghadapi kehidupannya. Karena didalam upacara ini banyak pelajaran-pelajaran yang dapat diambil hikmanya dan dijadikan pedoman hidup. Merupakan tanggung jawab orang tua untuk melaksanakan upacara hattanjou iwai. Melalui upacara inilah orang menyampaikan harapan-harapan terhadap anaknya. Harapan-harapan akan keselamatan dan kesehatan. Harapan akan kebaikan serta keserasian hidup si anak untuk masa yang akan datang.
Dengan melakukan upacara ini maka kedua orang tua akan merasakan kepuasan batin karena mereka telah melaksanakan tanggung jawab mereka terhadap anaknya, sebab apabila upacara ini tidak dilaksanakan dan harapan orang tua tidak terpenuhi.
3.1.2 Kearifan Lokal Dalam Upacara Tedak Siten
Setiap perubahan pada tingkat hidup individu masyarakat Jawa dituangkan melalui kepercayaan dalam wujud upacara tradisional diantaranya adalah upacara Tedhak Siten. Pelaksanaan
upacara ini oleh masyarakat bukan saja sebagai wujud perilaku semata akan tetapi ada makna atau nilai-nilai yang menyertainya.
Nilai-nilai inilah yang menjadi tujuan masyarakat untuk memperingatinya. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung pada upacara tedhak siten yaitu, antara lain:
1. Nilai Religius
Sistem upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya upacara Tedhak Siten pada dasarnya adalah ungkapan rohani masyarakat dalam menanggapi rahasia Tuhan. Oleh karenanya upacara tersebut sangat berkaitan erat dengan dorongan emosi keagamaan masyarakat. Emosi keagamaan ini muncul dari rasa ketakutan, kegelisahan, ketidak tenangan didalam hatinya.
Keadaan seperti ini maka dapat dikatakan bahwa sistem upacara yang dilakukan dalam hal ini khususnya upacara Tedhak Siten mempunyai nilai relegius dalam kehidupan masyarakat,
karena berhubungan dengan penghormatan atau pemujaan pada Tuhan serta roh-roh leluhur yag dapat memberikan rasa aman, tenang, tenteram tidak takut tidak gelisah dan memberi keselamatan
Dari uraian di atas tampak bahwa setiap upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah ungkapan rohani untuk mendapatkan rasa tenang dan memohon keselamatan. Di mana bila tidak melaksanakan akan merasa tidak tenang, takut kalau tidak diberi keselamatan oleh Tuhan.
Upacara Tedhak Siten sebenarnya merupakan perwujudan dari sikap religius masyarakat Jawa dalam mencapai keselamatan terutama bagi anak. Untuk mendapatkan keselamatan tersebut maka dipanjatkanlah doa-doa oleh kedua orang tua si Anak berserta orang-orang yang hadir. Doa-doa yang dibaca secara bersama-sama dipanjatkan kepada Tuhan, semoga selalu melindungi keselamatan dan kesehatan si Anak dari segala macam gangguan baik yang berasal dari bermacam-macam penyakit maupun yang berasal dari mahkluk-mahkluk halus.
Upacara Tedhak Siten dalam hal ini adalah upacara untuk menyampaikan doa-doa secara langsung kepada yang maha kuasa baik doa yang berupa permohonan maupun puji syukur kepada Tuhan karena berdoa merupakan cara yang terbaik untuk berhubungan dengan Tuhan.
Doa-doa yang dipanjatkan itu adalah untuk memohon kepada Tuhan supaya memberi keselamatan serta kesehatan terhadap anak selama ia menjalankan upacara ataupun dalam menjalankan kehidupan selanjutnya.
Selain doa-doa yang di tujukan kepada tuhan, doa-doa akan ditujukan pula pada mahluk-mahluk gaib penghuni desa agar senantiasa tidak mengganggu jalannya upacara dan mau memberikan restunya kepada anak dan keluarganya.
Masyarakat Jawa percaya bahwa disekitar mereka hidup makhluk gaib yang dipercayai sebagai kaum kerabat dan nenek
moyang mereka yang telah meninggal dan keberadaan mereka harus dihormati. Meminta keselamatan dari Tuhan sangatlah penting namun meminta restu dari nenek moyang juga penting.
Masyarakat Jawa percaya walaupun nenek moyang ataupun kerabat mereka telah meninggal mereka dapat membantu manusia yang masih hidup jika kita memintanya dengan cara yang baik.
2. Nilai Sosial
Upacara tradisional adalah kegiatan yang melibatkan para masyarakat dalam mencapai tujuan keselamatan. Upacara itu merupakan bagian yang integral dari kebudayaan masyarakatnya.
Sedangkan kelestarian upacara tradisional itu sendiri dimungkinkan karena didalam upacara tersebut mempunyai makna atau nilai-nilai bagi kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. Suatu upacara akan mengalami kepunahan bila tidak mempunyai makna atau nilai-nilai bagi kehidupan sosial masyarakatnya.
Demikian pula halnya dengan upacara Tedhak Siten, upacara ini masih dilakukan oleh masyarakat Jawa karena mempunyai makna atau nilai sosial bagi masyarakat Jawa, yaitu sebagai melestarikan tradisi, meningkatkan hubungan silahturahmi, keserasian hidup, serta sebagai media untuk mendidik masyarakat.
Dengan melestarikan suatu tradisi budaya berarti bahwa masyarakat turut menjaga budaya tersebut. Masyarakat yang masih melakukan upacara Tedhak Siten karena masyarakat berfikir
upacara Tedhak Siten ini dapat tetap memperkokoh nilai-nilai dan norma-norma budaya yang telah berlaku secara turun-temurun.
Masyarakat beranggapan bahwa hidup ini disusun oleh tradisi, oleh karena itu upacara Tedhak Siten harus tetap dilaksanakan karena merupakan tradisi dan naluri orang Jawa yang harus dilestarikan.
Bagi masyarakat dengan dilaksanakannya upacara Tedhak Siten dapat semakin meningkatkan hubungan silahturahmi antar
masyarakat. Dengan diadakannya upacara Tedhak Siten ini oleh sebuah keluarga maka anggota-anggota dari suami dan istri akan turut berperan serta didalamnya, bukan saja keluarga dari keluarga suami istri tersebut tetapi juga tetangga-tetangga dekat yang juga ikut ambil bagian.
Didalam kegiatan untuk mempersiapkan suatu upacara Tedhak Siten terjadi suatu kerjasama diantara mereka yang melakukan segala persiapan tersebut. Hubungan tersebut terbina secara otomatis karena ketika mereka saling berkomunikasi, saling membantu, bercanda dan sebagainya. Seperti pada saat memasak bersama-sama (Rewangan), tonjokan (memberi makanan) dan lain-lain, sehingga memberikan suasana yang akrab dan bahkan bertambah meriah karena adanya gelak tawa mereka. Situasi yang demikian dapat mempererat hubungan dan memperkecil ketegangan. Hal ini tidak terlepas dari sifat kegotong royongan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Sehingga dengan perasaan
rela dan ihklas mereka saling membantu dalam menyiapkan segala keperluan upacara yang dibutuhkan.
Pelaksanaan upacara Tedhak Siten pada hakekatnya adalah untuk memperkenalkan anak kepada lingkungan sosialnya. Seorang anak yang pada mulanya hanya mengenal ibunya dan ayahnya melalui upacara Tedhak Siten ia diperkenalkan kepada lingkungan yang besar dan luas.
Pertama-tama anak diperkenalkan pada bumi/tanah tempat ia dilahirkan. Bumi merupakan tempat berpijak sekaligus pemberi segala kebutuhan hidup seperti air dan makanan. Selain itu ia juga harus menjaga dan memelihara segala pemberian Tuhan sehingga akan tercipta suatu hubungan yang seimbang dan serasi antara manusia dan alam lingkungannya.
Aktifitas-aktifitas seperti menginjak jadah tidak lain juga adalah untuk mengajarkan pada anak bagaimana sebaiknya membina hubungan disekelilingnya misalnya kakak, adik, serta anggota masyarakat yang lainnya.
Sebagaimana yang tertuang dalam unsur-unsur atau perlengkapan upacara yang banyak berisi pesan-pesan atau nasehat dimana anak diajak untuk selalu berbudi pekerti baik, dermawan, berbakti kepada orang tua dan masyarakat disekitarnya. Disamping itu dituntut untuk taat pada perintah Tuhan sehingga ia merasa selalu dekat dengan sang Pencipta.
Apabila kelak ia dewasa dan mengamalkan hal atau unsur-unsur yang terkandung didalam upacara yang dijalannya, maka ia akan memperoleh keserasian hidup antara dirinya dengan Tuhan, dengan keluarga dan masyarakat maupun dengan alam semesta.
3. Nilai Pendidikan
Upacara Tedhak Siten ini adalah untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat khususnya anak tentang segala Sesuatu yang baik. Hal ini dimungkinkan karena didalam upacara Tedhak Siten banyak mengandung unsur-unsur pendidikan. Seperti diketahui, didalam pelaksanaan upacara Tedhak Siten terdapat sesaji dan tahapan-tahapan upacara yang dapat dijadikan sebagai simbol atau lambang bermakna positif.
Simbol-simbol tersebut dapat dijadikan sarana pendidikan yang baik karna mengandung norma atau aturan yang mencerminkan nilai atau asumsi apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga dapat di jadikan sebagai pedoman berprilaku bagi masyarakat Jawa. Di dalam simbol tersebut terkandung pesan-pesan dan nilai-nilai luhur yang ditujukan pada masyarakat Jawa.
Simbol-simbol tersebut adalah satu mekanisme untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat terutama bagi anak yang di turun tanahkan.
4. Nilai Psikologis
Bagi masyarakat Jawa, Tedhak Siten merupakan syarat yang
kehidupannya. Karena didalam upacara ini banyak pelajaran-pelajaran yang dapat diambil hikmanya dan dijadikan pedoman hidup. Merupakan tanggung jawab orang tua untuk melaksanakan upacara Tedhak Siten. Melalui upacara inilah mereka memanifestasikan harapan-harapan terhadap anaknya.
Harapan-harapan akan keselamatan dan kesehatan. Harapan akan kebaikan budi pekerti serta keserasian hidup si anak untuk masa yang akan datang. Dengan melakukan upacara ini maka kedua orang tua akan merasakan kepuasan batin karena mereka telah melaksanakan tanggung jawab mereka terhadap anaknya, sebab apabila upacara ini tidak dilaksanakan dan harapan orang tua tidak terpenuhi akan timbul perasaan kecewa dan malu, seolah-olah kedua orang tua tidak peduli dengan apa yang mungkin akan terjadi dalam kehidupan anak-anaknya, karena ketika masih anak-anak tidak diselamati, ada kemungkinan harapan-harapan itu tidak akan terpenuhi.
Upacara Tedhak Siten juga merupakan manifestasi dari rasa kasih sayang kedua orang tuanya kepada anaknya, sebagian benih cinta kasih kedua orang tuanya. Maka anak-anak harus dihormati dan disayangi. Menjadi tanggung jawab orang tua untuk menjadi teladan yang baik serta tidak memperlakukan anaknya dengan kasar karena anak adalah titipan/amanah dari Tuhan. Kepada orang tua, oleh sebab itu harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Kedua orang tua merupakan orang yang paling bertanggung jawab untuk
mendidik anaknya, baru kemudian anak dididik diluar rumah misalnya disekolah dan lingkungan sehari-hari.
5. Nilai Ekonomis
Pelaksanaan upacara Tedhak Siten bagi masyarakat Jawa didasarkan pada nilai-nilai ekonomis anak terhadap orang tuanya dimasa yang akan datang, dimana seorang anak dapat dijadikan investasi ketika kedua orang tuanya tidak dapat bekerja lagi.
Bagi masyarakat Jawa anak merupakan faktor terpenting dalam kehidupan keluarga, terutama berkaitan dengan potensi ekonomis yang ditimbulkannya Di dasari oleh makna ekonomis terhadap anak inilah kenapa upacara Tedhak Siten dilakukan.
Karena melalui upacara Tedhak Siten ini orang tua dapat mewujudkan harapan-harapan yang mereka miliki.
Melalui upacara ini diharapkan agar anak selamat sehat dan sukses dalam menjalani kehidupannya kelak. Selain itu juga agar anak mempunyai budi pekerti yang baik pada orang tuanya, sehingga dapat menopang kehidupan orang tuanya kelak ketika sudah jompo atau tidak bisa lagi bekerja.
3.1.3 Perbandingan Kearifan Lokal Hattanjou Iwai Dan Tedhak Siten
Upacara hattanjou iwai maupun tedhak siten sama-sama mengandung banyak nilai-nilai kearifan lokal yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup pada setiap masyarakat pendukungnya.
Ditengah-tengah derasnya arus globalisasi dan juga pengaruh
budaya barat yang semakin menjamur masyarakat Jepang maupun masyarakat Jawa masih tetap konsisten menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi yang secara turun temurun yang telah dilaksanakan mulai zaman dulu sampai saat ini.
Masyarakat Jepang tetap melakukan upacara hattanjou iwai (ulang tahun pertama) secara tradisional meskipun acara ulang tahun ala barat sudah menjadi tradisi di setiap negara didunia.
Yaitu dengan menggunakan berbagai macam kue ulang tahun begitu indah dan beragam bentuk.
Akan tetapi, masyarakat Jepang dalam merayakan hari istimewa anaknya atau ulang tahun pertama tetap mengunakan kue mochi (kue beras) atau lebih dikenal issho mochi. Karena masyarakat jepang meyakini bahwa kue mochi (kue beras) merupakan kue suci yang didedikasikan kepada Dewa sejak zaman kuno, masyarakat Jepang percaya bahwa kue mochi dapat melimpahkan kekuatan. Tetapi issho mochi untuk hattanjou iwai saat ini tidak lagi dibuat sendiri karena sudah banyak toko maupun online shop yang menyediakan segala keperluan untuk melaksanakan upacara hattanjou iwai.
Akan tetapi, dalam pelaksaan upacara hattanjo iwai ini ada sedikit perubahan dimana pada zaman dulu ketika melaksanakan upacara ini mengundang banyak orang tapi, untuk sekarang ini upacara ini hanya dilakukan atau dihadiri oleh keluarga inti saja.
Dan beberapa keluarga bahkan oleh keluarga inti saja, bahkan ada
di beberapa keluarga hanya dilaksankan oleh Ayah, Ibu dan Anak.
Upacara ini tidak lagi mengundang kerabat lain maupun kenalan.
Dengan begitu nilai sosial dari upacara ini akan berkurang dimana sang anak tidak akan mengenal kerabatnya yang lain lagi.
Dan secara tidak langsung jiwa individualis akan terbentuk pada sang anak.
Begitupun dengan masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih melaksanakan upacara tedhak siten, walaupun dengan serangkaian acara atau ritual yang begitu banyak dan panjang, tapi masyarakat Jawa tetap melaksanakannya dengan penuh rasa suka cita.
Tetapi seiring dengan perkembangan zaman upacara tedhak siten mengalami sedikit perubahan. Misalnya dalam menyiapkan sesaji, sebagian masyarakat Jawa tidak lagi menyiapkan sesajian karena menganggap menjadi suatu hal yang merepotkan. Cara berpikir instan pada masyarakat yang hanya ingin melakukan upacara atau doa seperti ini akan melunturkan nilai-nilai yang terkandung pada upacara tersebut.
Tabel Perbandingan Kearifan Lokal Yang Terkandung Dalam Hattanjou Iwai Dan Tedhak Siten
Kearifan Lokal Dalam Hattanjou Iwai
Kearifan Lokal Dalam Tedhak Siten 1. Rasa syukur kepada Dewa karena
dalam satu tahun telah menjaga tumbuh kembang sang Anak.
1. Rasa Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa , ungkapan rohani untuk mendapatkan rasa tenang dan
Menyampaikan doa dan harapan agar anak selalu diberkati.
2. Memperkenalkan sang anak pada lingkungan yang lebih luas, baik pada keluarga , kerabat, dan kenalan.
3. Memperkenalkan anak pada bumi tempat ia berpijak, mensyukuri pemberian alam. Menjaga keseimbangan dan keserasihan antara manusia dengan alam.
4. Setiap tahap mengajarkan kepada sang anak untuk menjalani hidup dimasa mendatang. Yaitu untuk hidup mandiri dan tidak pernah putus asa dan menyerah dalam menghadapi semua rintangan dalam hidup.
5. Kedua orang merasakan kepuasan batin karena telah melaksanakan tanggung jawab mereka.
memohon keselamatan kepada sang anak dalam tumbuh kembangnya.
2. Meningkatkan dan mempererat hubungan silaturrahmi dengan keluarga, kerabat dan juga tetangga
maupun masyarakat.
Mempertahankan sifat kegotong royongan.
3. Memperkenalkan anak pada bumi/tanah tempat ia berpijak dan dilahirkan. Menjaga dan memelihara alam akan menciptakan hubungan yang seimbang antara manusia dengan alam.
4. Setiap tahapan mengandung makna yang positif yang dijadikan sebagai pedoman dalam berperilaku dalam menjalani hidup. Mengajarkan pada sang anak untuk dapat melalui semua kesulitan dan rintangan dalam menjalani hidup kelak. Dan dalam setiap masalah pasti ada titik terangnya.
5. Kedua orang tua merasakan
kepuasan batin telah melaksanakan tanggung jawab mereka karena apabila tidak akan timbul perasaan kecewa dan malu.
6. Dimasa yang akan datang sang anak diharapkan dapat menopang kehidupan orang tuanya kelak ketika sudah jompo dan tidak dapat bekerja lagi.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN
Setiap individu akan mengalami tahap-tahap pertumbuhan pada waktu tertentu dalam hidupnya. Tahap-tahap pertumbuhan itu membawa perubahan terhadap individu tersebut, baik perubahan biologis, sosial budaya maupun jiwanya. Tingkat-tingkat pertumbuhan membawa individu kedalam lingkungan sosial yang baru. Keadaan ini di anggap sebagai saat-saat berbahaya (kritis). oleh sebab itu, untuk menghadapi hal tersebut individu perlu di persiapkan dengan upacara-upacara tertentu.
Upacara hattanjou iwai dan tedhak siten yang di lakukan oleh masyarakat Jepang dan masyarakat Jawa adalah untuk memperkenalkan seorang anak kepada lingkungannya yang baru dan lebih luas. Upacara ini tidak terlepas dari kebudayaan yang di miliki oleh suku bangsa masing-masing.
Upacara hattanjou iwai dan tedhak siten di laksanakan oleh masyarakat tidak hanya untuk memperkenalkan seorang anak kepada lingkungan yang baru dan lebih luas. tetapi upacara ini juga mempunyai makna tertentu bagi masyarakat. Dari panjelasan pada bab terdahulu maka dapatlah di simpulkan bahwa:
1. Pelaksanaan kedua upacara ini Hattanjou iwai dan Tedhak Siten oleh masyarakat didasari oleh pandangan relegius masyarakat, dengan melalui upacara hattanjou iwai dan tedhak Siten ini
keluarga memohon pada Tuhan agar melindungi dan memberikan keselamatan serta kesehatan kepada anak.
2. Bagi masyarakat di laksanakannya upacara hattanjou iwai dan tedhak siten ini karena upacara ini banyak mengandung
unsur-unsur pendidikan terutama bagi anak atau unsur-unsur-unsur-unsur pendidikan tersebut dapat kita lihat melalui aktivitas-aktivitas dan unsur-unsur upacara. Setiap aktivitas maupun unsur upacara mengandung pesan atau nasehat-nasehat yang sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat
3. Bagi masyarakat dengan melaksanakan upacara hattanjou iwai dan tedhak siten berarti budaya Jepang dan Jawa akan tetap terjaga kelestariannya karena secara turun temurun tradisi tersebut terus di wariskan sehingga akan menimbulkan
3. Bagi masyarakat dengan melaksanakan upacara hattanjou iwai dan tedhak siten berarti budaya Jepang dan Jawa akan tetap terjaga kelestariannya karena secara turun temurun tradisi tersebut terus di wariskan sehingga akan menimbulkan