Berdasarkan informasi yang ada dan sepanjang penelusuran kepustakaan yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis Yuridis Pelaksanaan Penetapan Ganti Rugi Atas Tanah Akibat Pelebaran Jalan Di Daerah Desa Sumber Mufakat”
Akan tetapi ada beberapa penelitian-penelitian yang menyangkut dengan topik ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh :
1. Noni Gusvita, NIM : 107011122, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Hambatan Pelaksanaan Ganti Rugi Tanah Untuk Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur,” masalah yang diteliti adalah:
a. Apakah pelaksanaan ganti rugi tanah untuk Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur telah sesuai dengan ketentuan pengadaan tanah saat ini?
b. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat pelaksanaan ganti rugi tanah untuk Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur?
c. Bagaimana upaya yang ditempuh untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan ganti rugi tanah untuk Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur?
2. Azwir, NIM : 087011003, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Pelaksaan Ganti Rugi Hak Atas
Tanah Untuk Kepentingan Umum Pengembangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh,” masalah yang diteliti adalah:
a. Bagaimana proses pelaksanaan ganti rugi harga tanah untuk kepentingan umum Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh?
b. Faktor-faktor penyebab adanya penolakan harga ganti rugi tanah oleh pemegang hak atas tanah atas keputusan panitia pengadaan tanah pengembangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh?
c. Bagaimanakah upaya ditempuh dalam penyelesaian masalah ganti rugi harga tanah pengembangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Provinsi Aceh?
3. Bangun P Nababan, NIM : 077011007, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Penyelesaian Ganti Rugi Tanah Untuk Pembangunan Bandar Udara Silangit Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara,” masalah yang diteliti adalah:
a. Bagaimana status hak atas tanah di areal Bandar Udara Silangit Siborong-borong?
b. Bagaimana pengadaan tanah masyarakat adat bagi pelaksanaan pembangunan Bandar Udara Silangit Siborong-borong?
c. Apakah faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menyelesaikan ganti rugi tanah adat Siborong-borong?
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Dalam melakukan penelitian diperlukan kerangka teoritis sebagaimana yang dikemukakan oleh Ronny H Soemitro, bahwa untuk memberikan landasan yang mantap pada umumnya setiap penelitian harus selalu disertai dengan pemikiran teoritis.25 Dengan landasan yang kuat maka penelitian yang diteliti akan terarah.
Sementara Hadari Nawawi mengemukakan bahwa kerangka teori adalah
“Berisi uraian tentang pemahaman teori dan hasil penelitian terdahulu yang terkait. Pemahaman ini bisa dalam arti meletakkan kedudukan masing-masing dalam masalah yang sedang diteliti, dan pada akhirnya menyatakan posisi atau pendirian penelitian disertai dengan alasan-alasan dan bukan bermaksud untuk memamerkan teori dan hasil-hasil penelitian ilmiah pakar terdahulu sehingga pembaca diberitahu mengenai sumber tertulis yang telah dipilih oleh peneliti, hal ini juga dimaksudkan untuk memberitahukan mengapa dan bagaimana teori hasil penelitian para peneliti terdahulu dalam melakukan penelitiannya.26
Suatu teori di dalam ilmu-ilmu sosial, bertujuan untuk menyajikan pola-pola yang terjadi dalam kehidupan sosial manusia.27 Secara garis besar ada 3 (tiga) fungsi utama dari teori yaitu:28
a) Teori memberikan arah tentang apa yang harus diteliti dari suatu objek, sehingga mampu membahas fenomena/fakta yang akan dipelajari/diamati dari objek tersebut (relevan).
25Ronny. H Soemitro, 1, Metodelogi Penelitian Hukum (Jakarta, Ghali, 1982), hal. 37.
26Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1995), hal 39-40.
27Soejono Soekanto, 1, Pengatar Penelitian Hukum, Cetakan Ketiga, (Jakarta, UI Press, 2012), hal. 122.
28Abdurrozaq Hasibuan, Metode Penelitian, (Medan, Multi Grafika, 2003), hal. 4.
b) Teori menyusun fakta secara teratur/sistematis dalam bentuk generalisasi atau prinsip-prinsip, sehingga hubungan fakta-fakta satu sama lainnya mudah untuk dipahami.
Teori menunjukkan hubungan fakta-fakta, sehingga dengan pola hubungan itu dapat diramalkan fakta/kondisi yang belum pernah diketahui. Suatu penelitian harus mempunyai dasar-dasar yang kokoh, agar permasalahan yang diteliti dapat menjawab setiap permasalahan yang ada, untuk itu diperlukan landasan teori.
Teori dan penelitian harus secara bersama berfungsi menambah pengetahuan ilmiah, seorang peneliti ilmu hukum terutama dalam penelitian ilmu hukum empiris, tidak boleh menilai teori terlepas dari kenyataan fakta-fakta hukum yang ada di tengah masyarakat.29
Teori juga bertujuan untuk mencapai tujuan hukum. Teori yang digunakan dalam penelitian dapat mendukung analisis terhadap kasus yang diteliti.adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum dan teori fungsi sosial atas tanah.
a) Teori Kepastian Hukum
Hukum tidak terlepas dari kehidupan manusia maka untuk membicarakan hukum, kita tidak dapat lepas membicarakannya dari kehidupan manusia.30 Hukum tumbuh, hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Hukum merupakan
29Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Cetakan Pertama, (Bandung, Mandar Maju, 2008), hal. 137
30Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Cetaka Kelima, (Yogyakarta, Universitas Atmajaya, 2010), hal. 1.
sarana menciptakan ketertiban bagi masyarakat. Tujuan hukum itu sendiri adalah menciptakan suatu kedamaian dalam masyarakat.31
Dalam masyarakat setiap aturan yang dijalankan oleh pemerintah harus menciptakan kepastian hukum. Secara normatif kepastian hukum adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis. Hukum harus tegas dan tidak berat sebelah.
Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu yang pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.32
Kepastian hukum merupakan jaminan mengenai hukum yang berisi keadilan. Norma-norma yang memajukan keadilan harus sungguh-sungguh berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati. Menurut Gustav Radbruch, keadilan dan kepastian hukum merupakan bagian-bagian yang tetap dari hukum yang harus dijaga demi keamanan dan ketertiban suatu negara.33 Keadilan dan kemanfaatan. Dalam hal mewujudkan keadilan, Adam Smith (1723-1790) selaku guru besar dalam bidang filosofi moran dan sebagai ahli teori hukum dari
31Soejono Soekanto, 2, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta, Universitas Indonesia Press, 1986), hal. 13.
32Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung, Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 23.
33Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta, Toko Gunung Agung, 2002), hal. 95.
Glasglow University pada tanhun 1950, telah melahirkan ajaran tentang keadilan (justice).34
Selain itu, teori kepastian hukum berguna untuk menjamin adanya aturan yang bersifat umum yang membuat manusia tahu mana yang benar dan salah, yang dapat memberikan jaminan kepada manusia akan adanya kepastian terhadap pelaksanaan hukum itu sendiri.35 Sehingga masyarakat tidak merasa di curangi dalam pelanksanaan penegakan hukum itu.
Peter Mahmud Marzuki, mengemukakan berkaitan dengan pengertian kepastian hukum dapat dijelaskan bahwa:
1) Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.
2) Keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang, melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan hakim yang lain untuk kasus serupa yang telah diputus.36
Berkaitan dengan yang akan diteliti yaitu peran pemerintah melalui panitia yang ditunjuk untuk memantau dan melakukan prosedur penetapan ganti rugi atas tanah untuk pelebaran jalan di Desa Sumber Mufakat. Dalam penetapan ganti rugi tanah untuk kepentingan umum, perlu diperhatikan prosedur perhitungan ganti rugi kepada pihak yang memiliki alat bukti yang diterbitkan oleh pejabat yang
34Bismar Nasution, Mengkaji Ulang Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi, Pidato sebagai pengukuhan guru besar, USU-Medan, 17 April 2004, hal 4-5, sebagaimana dikutip dari Neil Mac Cornick, Adam Smith On Law”, Valvarasio University Law Review, Vol 15, 1981, hal.
244.
35Peter Mahmud Marzuki, 1, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta, Kencana Pradana Media Grup, 2008), hal. 158.
36Ibid
berwenang yang membuktikan adanya penguasaan yang bersangkutan atas tanah yang bersangkutan.
Kesulitan yang dihadapai dalam perhitungan ganti rugi oleh lembaga/tim penilai dan tim panitia pengadaan tanah pemerintah kota dan kabupaten adalah adanya perbedaan harga pasar dan harga yang telah ditetapkan dalam Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).37 Hal ini yang biasa menjadi kendala dilapangan. Keadaan masyarakat yang mengharapkan nilai yang tinggi untuk ganti rugi atas tanahnya menjadi perdebatan dengan tim panitia pelaksaan pelepasan tanah.
Maria Sumardjono berpendapat bahwa perlu diadakan suatu lembaga penaksir tanah yang bersifat independen dan bekerja dengan profesionalisme. Karena, begitu sulit menentukan besaran ganti rugi atas tanah karena selain berdasarkan NJOP, juga mempertimbangkan alokasi, jenis hak atas tanah, status penguasaan atas tanah, peruntukan tanah, kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah, prasarana, fasilitas dan utilitas, lingkungan dan faktor-faktor lain.38
Saat ini dalam melakukan perhitungan untuk memberikan ganti rugi saat ini tidak lagi berdasarkan NJOP, dalam mempertimbangkan pemberian ganti rugi demi kepastian hukum perlu diperhatikan tahapan pelaksanaan pengadaan tanah, sesuai dengan Perpres No. 71 tahun 2012, yaitu
a. Perencanaan;
b. Persiapan;
c. Pelaksaan;
d. Penyerahan hasil;
37 Bernhard Limbong, Op Cit, hal. 194.
38 Ibid, hal. 195.
Menurut pendapat Benhard Limbong, pelaksanaan pengadaan tanah meliputi:
1) Inventarisasi dan Identifikasi
Inventarisasi dan Identifikasi meliputi kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang per bidang tanah dan pengumpulan data pihak yang berhak atas objek pengadaan tanah yang dilaksanakan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja.hasil inventarisasi dan identifikasi wajib diumumkan di kantor Kepala Desa/Kelurahan, Kantor Camat, dan tempat pengadaan tanah dilakukan.
2) Penilaian Ganti Rugi
Penilaian gantu kerugian dilakukan oleh penilai yang ditetapkan dan diumumkan oleh lembaga pertanahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penilaian besarnya nilai ganti rugi oleh penilai dilankukan bidang pe bidang tanah, meliputi: tanah, ruang atas tanah dan bawah tanah, bangunan, tanaman, benda yang berkaitan dengan tanah, dan atau kerugian lain yang dapat dinilai. Nilai ganti kerugian yang dinilai merupakan nilai pada saat pengumuman penetapan lokasi pembangunan.
Besarnya nilai ganti kerugian disampaikan kepada lembaga pertanahan dengan berita acara dan menjadi dasar musyawarah penetapan ganti rugi.
3) Musyawarah Penetapan Ganti Rugi
Lembaga pertanahan melakukan musyawarah dengan pihak yang berhak setelah menerima hasil penilaian dari penilai untuk menetapkan bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian. Hasil kesepakatan dalam musyawarah menjadi dasar pemberian ganti kerugian kepada pihak yang berhak yang dimuat dalam berita acara kesepakatan.
4) Pemberian Ganti Rugi
Pemberian ganti rugi atas objek pengadaan tanah diberikan langsung kepada pihak yang berhak. Ganti kerugian diberikan kepada pihak yang berhak berdasarkan hasil penilaian yang ditetapkan dalam musyawarah dan/atau putusan Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung. Pada saat pemberian ganti kerugian, pihak yang berhak menerima ganti kerugian wajib melakukan pelepasan hak dan menyerahkan bukti penguasaan atau kepemilikan objek pengadaan tanah kepada instansi yang memerlukan tanah melalui lembaga pertanahan.
5) Penyerahan Hasil
Pada tahapan penyerahan hasil, lembaga pertanahan menyerahkan hasil pengadaan tanah kepada instansi yang memerlukan tanah. Penyerahan hasil dilakukan setelah pemberian ganti kerugian kepada pihak yang
berhak dan pelepasan hak dan/atau pemberian ganti kerugian telah dititipkan di pengadilan negeri.39
Pendapat Benhard Limbong tersebut bila dikaji dengan Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat atas Perpres No. 71 tahun 2012, terdapat beberapa perubahan dalam pelaksanaannya dimana dalam peraturan baru, sejumlah tahapan dalam pengadaan tanah dipangkas. Perpres tersebut menegaskan, Gubernur melaksanakan tahapan kegiatan persiapan pengadaan tanah setelah menerima dokumen perencanaan pengadaan tanah dari instansi yang memerlukan. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Gubernur membentuk tim persiapan paling lama 2 hari, dimana dalam aturan lama dilakukan selama 10 hari sejak dokumen perencanaan pengadaan tanah diterima secara resmi oleh Gubernur.
Surat pemberitahuan rencana pembangunan itu disampaikan kepada masyarakat pada rencana lokasi pembangunan melalui Lurah/Kepala Desa dalam waktu paling lama 3 hari kerja, dimana dalam peraturan lama 20 hari kerja sejak ditanda tangani surat pemberitahuan. Penanganan keberatan oleh Gubernur dilakukan paling lama 3 hari kerja dimana sebelumnya 14 hari kerja sejak diterima keberatan.
Perpres tersebut juga menjelaskan bahwa Gubernur dapat mendelegasikan kewenangan pelaksanaan persiapan pengadaan tanah bagi kepentingan umum kepada bupati/walikota berdasarkan pertimbangan efisiensi, efektivitas, kondisi geografis, suberdaya manusia, dan pertimbangan lainnya, dengan jangka waktu paling lama 5 hari kerja, dimana aturan sebelumnya tidak ada batas waktu.
39Ibid, hal. 148-151.
Terkait ganti kerugian dalam bentuk uang dalam pengadaan tanah, menurut Perpres ini, dilakukan oleh instansi yang memerlukan tanah berdasarkan validasi dari ketua pelaksanaan pengadaan tanah atau pejabat yang ditunjuk.
Validasi dilakukan dalam waktu paling lambat 3 hari kerja dimana dalam peraturan lama tidak memiliki batas waktu, dan pemberian ganti kerugian dilakukan dalam waktu paling lama 7 hari kerja sedangkan dalam aturan lama tidak memiliki batas waktu.
Dengan terlaksananya prosedur pelaksanaan pengadaan tanah tersebut diatas, maka jaminan kepastian hukum juga telah terlaksana. Masyarakan tidak merasakan penetapan ganti rugi secara sepihak oleh pemerintah, tetapi dengan dilaksanakannya musyawarah maka bentuk kepuasan dan kepatian terpenuhi.
Akan tetapi prosedur terbut bukanlah hal yang mudah dilakukan, hal ini disebabkan banyaknya perbedaan keinginan pemilik hak dalam menentukan besarnya ganti rugi yang diberikan pemerintah. Namun prosedur tetap harus dijalankan dan pihak pemerintah harus lebih bijaksana dalam menjalankan proyek tersebut.
b) Teori Fungsi Sosial Atas Tanah
Leon Duguati pada tahun 1922, adalah orang yang untuk pertama kalinya mengembangkan konsep fungsi sosial. Menurutnya, hak adalah fungsi sosial dalam arti bahwa kekuasaan yang dimiliki seseorang dibatasi oleh kepentingan
masyarakatnya.40 Selain itu, ada juga pendapat dari Notonagoro yang menegaskan bahwa:
Hak milik yang memiliki fungsi sosial itu sebenarnya mendasarkan diri pada individu, mempunyai dasar yang individualistis, lalu ditempelkan kepadanya sifat yang sosial, sedangkan jika didasarkan pada pancasila, hukum kita tidak berdasarkan atas corak individualistis, tetapi bercorak dwitunggal. Kepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan haruslah saling imbang untuk mengimbangi dwitunggal. Dengan kata lain, di dalam hak milik tercantum sifat diri dan di samping itu memiliki sifat kolektif. Jadi, bukan hak milik privat perorangan yang memiliki sifat kolektif atau melepaskan sifat individunya.41
Sedangkan dalam Pasal 6 UUPA menyatakan bahwa “semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. Seseorang tidak dibenarkan mempergunakan atau tidak mempergunakan hak miliknya (atas tanah) semata hanya untuk kepentingan pribadi, apalagi jika hal itu dapat merugikan kepentingan masyarakat karena sesuai dengan asas fungsi sosial ini hak milik harus dapat hapus jika kepentingan umum menghendakinya.42 Karena semua mahluk membutuhkan sarana guna menunjang kelancaran aktifitasnya maka penggunaan tanah tidak dapat dibatasi. Kepentingan umum harus diutamakan diatas kepentingan pribadi.
Dalam pasal tersebut juga mengandung beberapa prinsip keutamaan fungsi sosial yaitu:
a) Merupakan suatu pernyataan penting mengenai hak-hak atas tanah yang merumuskan secara singkat sifat kebersamaan atau kemasyarakatan hak-hak atas tanah menurut prinsip hukum tanah nasional. Dalam konsep hukum tanah nasional memiliki sifat komunalistik religius, yang
40Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, (Bandung, Mandar Maju, 2002), hal. 120.
41Notonegoro, Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia, (Jakarta, Bina Aksara, 1984), hal. 51.
42Wisnu Nur Baskoro, Asas Fungsi Sosial Hak Atas Tanah, --- http://civicsedu.blogspot.com/2012/06/asas-fungsi-sosial-hak-atas-tanah-hukum.html?m=1, diakses pada tanggal 30 Agustus 2018, pukul 13.30 Wib.
mengatakan bahwa seluruh bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah bumi, air dan ruang angkasa, Bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional.
b) Tanah yang dimiliki seseorang secara hak tidak hanya mempunyai fungsi bagi yang mempunyai hak itu saja tetapi juga bagi Bangsa Indonesia seluruhnya. Sebagai konsekwensinya, dalam mempergunakan tanah yang bersangkutan tidak hanya kepentingan individu saja yang dijadikan pedoman, tetapi juga harus diingat dan diperhatikan kepentingan masyarakat. Harus diusahakan adanya keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat.
c) Fungsi sosial hak-hak atas tanah mewajibkan pada yang mempunyai hak untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan sesuai dengan keadaannya, artinya keadaan tanah, sifatnya dan tujuan pemberian haknya.
Hal tersebut dimaksudkan agar tanah harus dapat dipelihara dengan baik dan dijaga kualitas kesuburan serta kondisi tanah sehingga kemanfaatan tanahnya dinikmati tidak hanya oleh pemilik hak atas tanah saja tetapi juga masyarakat lainnya.43
Berkaitan dengan yang akan diteliti terhadap proses pelebaran jalan yang terletak di Desa Sumber Mufakat, di mana masyarakat selaku pemilik hak tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk tidak melepaskan haknya guna kepentingan umum. Sesuai dengan pernyataan Bupati Berastagi bahwa alasan belum semua masyarakat belum melepaskan haknya adalah karena domisili dan bukan karena alasan masyarakat yang tidak setuju mengenai penetapan ganti rugi atas tanah milik masing-masing yang belum menyetujui.
Respon masyarakat yang belum menyetujui juga tidak boleh di ulur-ulur dengan alasan domisili saja. Hal ini disebabkan proses penyelesaian harus sesuai dengan target yang ditentukan. Mengingat pentingnya fungsi jalan sebagai fungsi sosial yang akan digunakan masyarakat yang melintasi jalan tersebut. panitia yang di tunjuk untuk penyelesaian pekerjaan tersebut, harus lebih maksimal dalam penyelesaian pekerjaan tersebut
43 Ibid.
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konsepsi adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti.44 Selain itu, kerangka konsepsi juga dapat juga diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut sebagai defenisi operasional, kerangka konsepsi pada hakekatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkrit dari kerangka teoritis yang seringkali bersifat abstrak, sehingga diperlukan defenisi-defenisi operasional yang menjadi pegangan konkrit dalam proses penelitian.45
Masalah khusus sangat membutuhkan ketepatan suatu konsep dan keahlian untuk menemukan atau menciptakannya.46 Sumandi Suryabrata memberikan arti khusus apa yang dimaksud dengan konsep. Konsep berkaitan dengan definisi operasional. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut dengan definisi operasional.47 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai.48
44Soejono Soekamto, 2, Op Cit, hal.132.
45Ibid, hal. 133.
46 J. Suprapto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta, Rineka Cipta, 2003), hal.
194
47 Sumandi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998), hal. 3
48Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia, Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung, Alumni, 2004), hal. 31.
Guna menghindari kesimpangsiuran dalam menafsirkann istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, dikemukakan beberapa defenisi operasional sebagai berikut:
1. Tanah adalah tempat bermukim bagi umat manusia disamping sebagai sumber kehidupan bagi mereka yang mencari nafkah mencari usaha.49 2. Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada pemegang
haknya untuk menggunakan dan/atau mengambil manfaat dari tanah yang dihakinya.50
3. Hukum Tanah adalah keseluruhan ketentuan-ketentuan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang semuanya mempunyai objek pengaturan yang sama yaitu hak penguasaan atas tanah sebagai lembaga-lembaga hukum dan sebagai hubungan hukum yang konkret, beraspek public dan privat, yang dapat disusun dan dipelajari secara sistematis, hingga keseluruhannya menjadi satu kesatuan yang merupakan satu sistem.51
4. Pengadaan tanah menurut John Salindeho adalah menyediakan tanah atau mengadakan tanah untuk kepentingan atau keperluan pemerintah, dalam rangka pembangunan proyek atau pembangunan sesuatu sesuai program pemerintah yang telah di tetapkan.52
49Abdurrahman, 2, Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, (Bandung Citra Aditya Bakti, 1994), hal. 25.
50Urip Santoso, Hukum Agraria Kajian Konprehensif, Cetakan Pertama, (Jakarta, Kencana, 2012), hal. 10.
51 Ibid, hal. 11.
52John Salindeho, (2) Masalah Tanah Dalam Pembangunan, (Jakarta, Sinar Grafika, 1988), hal. 31.
5. Kepentingan umum menurut John Selindeho, adalah termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama rakyat, dengan memperhatikan segi-segi sosial, politik, psikologis, dan hankamnas atas dasar asas-asas pembangunan nasional dengan mengindahkan ketahanan nasional serta wawasan nusantara.53
6. Ganti rugi menurut Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Pengadaan Tanah adalah penggantian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak dalam proses pengadaan tanah.54