Bahu-membahu Berwaspada, Jangan sampai Mengusung Agama Buddha ke Kepercayaan Mistis
2. Kebahagiaan berlebihan, yaitu penumbuhan perasaan puas hati, kegirangan, kegiuran, merasa telah mencapai sesuatu dan bersuka
cita secara mendalam.
Kedua jenis perasaan ini merupakan nilai positif bagi batin, sebagai hal yang baik, bermanfaat tinggi pada kehidupan, merupakan titik yang mencolok dalam perasaan agamis. Akan tetapi ini juga mengandung sisi negatif dan sering berdampak buruk yang sangat parah secara tak terbayangkan.
Keyakinan yang kuat memungkinkan menjadikan orang ter- jerumus ke ketakhayulan dan melekati secara berlebihan, hingga ber- ambisi untuk harus mencapai tujuan yang diyakini, hingga memung- kinkan memaksakan pihak lain untuk turut percaya, dapat melakukan setiap hal, dapat mengangkat senjata berperang pula, sebagaimana pe- rang agama yang keji dan parah sepanjang zaman hingga zaman kini, khususnya di dunia sisi barat.
Kebahagiaan yang berlebihan, mendalam, kegirangan, kegiuran menyelimuti seluruh tubuh memungkinkan mendukung keyakinan untuk lebih teguh. Kadang kebahagiaan demikian ini menyesatkan dengan menganggap bahwa dirinya telah mencapai hasil istimewa yang merupakan tujuan khusus tertentu, misalnya pencapaian nib- bāna atau apa pun yang diberitahukan oleh gurunya, menjadikan ingin menyendiri tanpa mau bersosialisasi, meninggalkan pekerjaan dan ke- wajiban, atau melupakan permasalahan guna menyembunyikan derita dan berada dalam kelengahan.
Agama-agama di India pada buddhakāla terhitung tidak ma- salah terhadap perasaan jenis pertama yaitu keyakinan dalam sisi ke- yakinan yang dapat mendorong orang untuk menyakiti atau bertindak kekerasan. Mereka sebaliknya berkecenderungan ke perasaan jenis kedua yaitu kebahagiaan yang berlebihan, sebagaimana para resi dan petapa yang berdiam menyendiri di hutan, berlarut dalam pencapaian jhāna. Kecenderungan ini tampaknya menurun ke agama-agama India. Jika tidak memelajari Agama Buddha secara jelas, orang sulit memilah-
milah dan akan turut mengusung Agama Buddha untuk hanyut ke arus itu juga.
Kemunculan Agama Buddha memiliki hal yang menonjol tersendiri, atau dapat dikatakan memerkaya kandungan ajaran agama-agama, yaitu melangkah ke pengetahuan kebenaran dan memegang pengetahuan ke- benaran itu sebagai pokok ajaran yang paling penting.
Keyakinan harus dilengkapi dengan pengetahuan kebenaran sejak dini, dan harus mengarahkan diri ke kebijaksanaan sehingga tidak menjadi tersesat dan tidak menjurus ke kekerasan atau tindak saling menyakiti.
Kebahagiaan berlebihan dan mendalam yang menjurus ke ke- tenggelaman menyisihkan posisi kebijaksanaan. Ini harus dibalik. Kita menjadikan kebahagiaan sebagai pondasi untuk menciptakan pikiran yang siap untuk dipekerjakan, lalu memekerjakan pikiran itu dalam bidang kebijaksanaan, menggunakan kebijaksanaan untuk membebas- kan pikiran dan hidup di dunia nyata dengan pengetahuan benar dan kesadaran.
Jika belum menembus kebijaksanaan, seseorang disebut belum menyelami Agama Buddha. Dan, nilai-nilai batiniah yang dikatakan sangat baik, baik itu keyakinan, samādhi, atau kebahagiaan, memung- kinkan menimbulkan dampak negatif pada saat itu juga, atau berlarut hingga ke masa mendatang.
Sebuah kecenderungan kelompok orang di dunia keagamaan lagi adalah kegemaran-kegemaran yang mengarah ke hal mistis, yaitu: kemampuan melihat hal yang orang kebanyakan tidak dapat merasa- kan atau mencapainya; masuk dan beradanya seseorang ke dalam kelompok khusus dan mendapatkan penunjukan sebagai orang pilihan untuk mencapai keberadaan istimewa tertentu; menerima ajaran pada hal-hal mistis atau pengetahuan istimewa; berkedudukan sebagai siswa dekat, dan sebagainya.
Sang Buddha risih atas keberadaan seperti itu, yang telah ada sejak awal di masyarakat yang dipengaruhi ajaran Brāhmaṇa, misalnya: monopoli bidang pendidikan, yaitu pihak kasta tinggi saja yang boleh belajar pustaka Veda, sebaliknya orang berkasta rendah seperti sūdra dilarang belajar (belakangan pustaka Manūdharmasastra membuat aturan mengancam, misalnya jika orang berkasta sūdra mendengar- kan penguncaran pustaka Veda, ia harus ditetesi timbel di lubang te- linganya, dsb.). Pustaka Veda itu harus dijaga dengan Bahasa Veda yang menjadi awal mula bahasa Sanskerta, dipelajari hanya oleh orang- orang tertentu, untuk orang golongan tertentu, dan sebagainya.
Sang Buddha tidak mengakui tingkatan orang berdasarkan ke- turunan menurut sistem empat kasta. Beliau mengajarkan bahwa tingkatan orang bukan karena kelahiran, melainkan karena perilaku. Beliau menerima semua kalangan yang berkehendak menjadi bhikkhu dalam Dhammavinaya secara sejajar dalam sistem tanpa kasta dengan memandang bahwa siapa pun yang belajar dan mengembangkan diri, mencapai kebebasan dari kotoran-kotoran batin, menjadi orang yang paling tinggi di antara semua kasta1, dan menganjurkan para siswa
mengumumkan dhamma di semua wilayah.
Pernah ada, seorang bhikkhu yang berasal-usul dari kasta brāh- maṇa mengusulkan agar buddhavacana dijaga dalam Bahasa Sanskerta seperti halnya pustaka Veda. Sang Buddha mencelanya lalu menetap- kan sikkhāpada tentang pelarangan melakukan pembatasan demikian itu dan mengumumkan bahwa orang dapat memelajari buddhavacana melalui bahasa masing-masing.2 Ajaran Beliau terbuka luas bagi semua orang, sehingga tampak nyata kemudian bahwa pendidikan buddha- dhamma berikut sistem empat perhimpunan penganut Buddha mun- cul di daerah-daerah yang ada bhikkhu saṅgha, di tempat-tempat yang ada vihāra, memberikan ciri bahwa Agama Buddha sebagai perintis pendidikan masyarakat yang tidak membatasi ras, kedudukan, kasta, jenis kelamin, dan usia.3
1 Misalnya: Khu. Su. 25/306/352; Aṅ. Aṭṭhaka. 23/109/205; Dī. Pā. 11/71/107. 2 Vinaya. 2/180/70.
3 Agama Buddha dan pendidikan publik berkembang baik secara bertahap hingga pada tahun 335 S.M. kenaikan tahta Maharaja Asoka. Setelah beralih menganut Agama Buddha
Menjelang berparinibbāna, Sang Buddha bersabda tentang ciri ajaran Beliau secara jelas,
“Wahai Ānanda, dhamma yang telah Aku babarkan tidak ada luar, tidak ada dalam (yaitu tidak membeda-bedakan, tidak ber- batasan, dan tidak ada penghalangan, tidak ada kelompok orang luar – kelompok orang dalam, misalnya tidak mengkhususkan orang tertentu atau mengkhususkan golongan tertentu).
“Wahai Ānanda, Tathāgata tidak memiliki ācariyamuṭṭhi (ge- nggaman tangan guru, yaitu ajaran yang disembunyikan, dira- hasiakan, disimpan) dalam dhamma-dhamma.”
(Dī. Ma. 10/93/117) Bahasan di atas ini sebagai contoh ciri ajaran Agama Buddha, baik dari sisi tujuan Sang Buddha agar kita mengetahui kebenaran me- nurut alamiah alam, sebagai hal yang terbuka dan sederhana,1 maupun
dimensi kebebasan dalam sisi bermasyarakat yang patut disadari secara pada tahun 327 S.M. beliau memulai menerapkan kebijakan dhammavijaya (kemenangan secara dhamma) menurut bentuk Agama Buddha, membangun 84 ribu vihāra seluruh wilayah kerajaan yang berwilayah paling luas dalam sejarah India, dan menitahkan untuk menuliskan prasasti penyebaran dhamma di setiap wilayah. Pada waktu itu ada vihāra untuk para bhikkhu dan vihāra untuk para bhikkhuni. Mereka memberikan pendidikan
kepada masyarakat, baik lelaki maupun wanita. Beberapa buku referensi hingga ada yang
menyatakan bahwa data statistik orang yang melek aksara negeri India mencapai 60 %. Belakangan, setelah kaum brāhmaṇa kembali berkuasa, Agama Hindu pun membatasi
kegiatan pendidikan dengan kembali ke sistem kasta lagi, kian memerketat sistem kasta
itu, serta muncul budaya menikah usia dini. Kegiatan kependidikan merosot hingga zaman Perang Dunia Kedua, data statistik orang India yang melek aksara tidak lebih dari 10 % (Lihat: ‘Education, History of,’ Encyclopaedia Britanica (1965), VII, 1010).
1 Pernyataan demikian ini tidak bertentangan dengan buddhavacana ‘adhigato kho mayā- yaṃ dhammo gambhīro duddaso duranubodho’, dst. (Dhamma yang telah Aku capai ini
mendalam, sulit dilihat, sulit turut dicapai … himpunan makhluk-makhluk ini terlengah pada hal-hal yang menimbulkan kelekatan … sehingga sulit melihat keberadaan demikian
ini, yaitu idappaccayatāpaṭiccasamuppāda … termasuk juga nibbāna’ – misalnya Vinaya. 4/7/8). Maksudnya, bahwa:
Dhamma atau kebenaran itu merupakan sabhāvadhamma (keberadaan yang sejatinya)
menurut wajarnya alam, terbuka pada setiap saatnya, tidak ada yang tersembunyikan secara khusus.
Tetapi manusia memiliki kelekatan yang menutupi diri sendiri dengan kelengahan mereka
pada pengikat-pengikat.
Kebenaran itu dapat ditembus melalui paññā (pengetahuan kebenaran) yang harus dikembangkan dalam batin yang telah terlatih (pelatihan samādhi pun berlangsung demi sebagai pondasi bagi paññā, bukan sebagai tujuan).
jelas dan kokoh oleh umat Buddha agar mereka tidak terpicu oleh per- asaan beragama pada umumnya dan menarik Agama Buddha kembali ke arus agama-agama sistem keyakinan dan perasaan batiniah.
Pemahaman atas hal-hal ini bermanfaat dalam menimbang perihal ‘dhammakāya’, ‘āyatananibbāna’, dan sebagainya di bagian mendatang.