• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1.2 Keberadaan Vektor Pembawa Penyakit Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan vektor pada kapal penumpang dan kapal barang tidak memenuhi syarat kesehatan. Meskipun vektor larva nyamuk dan tikus tidak ditemukan, namun masih ditemukan vektor lalat dan kecoak diatas kapal. Indeks lalat pada ruang makan/ kantin kapal penumpang dalam skala 2 dan termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan kecoak yang ditemukan pada ruang dapur dan gudang kapal yaitu sebanyak 5 ekor

atau dalam kategori tinggi. Indeks lalat pada pada ruang makan/ kantin kapal barang dalam skala 1-2 ekor dan termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan kecoak yang ditemukan pada ruang dapur dan gudang kapal yaitu sebanyak 3 ekor atau dalam kategori rendah.

Keberadaan lalat (Musca domestica) berhubungan dengan adanya sampah yang dihasilkan di atas kapal. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi tempat perkembangbiakan vektor. Lalat merupakan vektor yang dapat memindahkan bakteri penyebab penyakit sehingga menimbulkan gangguan kesehatan pada penghuni kapal. Lalat dapat menyebarkan penyakit karena mereka makan sangat bebas, yaitu memakan makanan manusia dan sisa makanan yang dibuang. Lalat akan mengambil patogen pada waktu hinggap dan makan, kemudian patogen terikut pada permukaan luar tubuh lalat. Penularan terjadi karena kontak lalat dengan manusia atau makanannya. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan lalat, melalui saluran pencernaan seperti : disentri, diare, kolera, dan infeksi tertentu seperti: trakoma, konjungtivitis, polio dan infeksi kulit. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya hal tersebut, pihak ABK wajib memperhatikan kebersihan kapal agar terbebas dari tempat perkembangbiakan vektor seperti lalat. Penanganan sampah yang benar juga dianjurkan agar sampah tidak menimbulkan bau busuk yang mengundang datangnya lalat (Musca domestica). Proses desinseksi juga dapat dilakukan untuk menghilangkan lalat (Musca domestica).

Keberadaan kecoak (Periplaneta americana) didominasi karena terdapat ruangan yang kotor, gelap dan lembab. Karena sesuai dengan sifatnya, kecoak

sangat suka tempat yang kotor, gelap dan lembab. Kecoak mempunyai peranan yang cukup penting dalam penularan penyakit. Peranan tersebut antara lain : 1. Sebagai vektor mekanik bagi beberapa mikro organisme patogen.

2. Sebagai inang perantara bagi beberapa spesies cacing.

3. Menyebabkan timbulnya reaksi-reaksi alergi seperti dermatitis, gatal-gatal dan pembengkakan kelopak mata.

Vektor ini dapat memindahkan beberapa mikro organisme patogen antara lain, streptococcus, salmonella dan mikroorganisme lainnya sehingga mereka berperan dalam penyebaran penyakit antara lain, disentri, diare, cholera, hepatitis A, dan polio pada anak-anak. Penularan penyakit dapat terjadi melalui organisme patogen sebagai bibit penyakit yang terdapat pada sampah atau sisa makanan, dimana organisme tersebut terbawa oleh kaki atau bagian tubuh lainnya dari kecoak. Kemudian melalui organ tubuh kecoak, organisme sebagai bibit penyakit tersebut mengkontaminasi makanan. Oleh karena itu pintu dapur dan gudang harus menggunakan pintu self closing dan area sekitar ditutup dengan rapat untuk mencegah masuknya vektor seperti kecoak (Periplaneta americana). Sama halnya seperti lalat, proses desinseksi juga dapat dilakukan untuk menghilangkan kecoak (Periplaneta americana).

5.1.3 Kondisi Pengelolaan Makanan dan Minuman Di Kapal A. Pengelolaan Makanan Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan makanan pada kapal penumpang memenuhi syarat kesehatan, karena seluruh komponen yang dinilai sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Handbook for

inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Pengolahan makanan pada penumpang kelas 1 dan 2 berbeda dengan pengolahan makanan pada penumpang kelas ekonomi. Pengolahan makanan pada penumpang kelas 1 dan 2 dilakukan dari mulai tahap pencucian bahan makanan hingga penyajian makanan yang disajikan di restoran. Sedangkan pengolahan makanan kelas ekonomi dilakukan dengan memanaskan makanan setengah jadi yang sebelumnya sudah diolah dan diletakkan dalam wadah plastik dengan penutup alumunium foil. Seluruh bahan makanan bersumber dari perusahaan yang memiliki izin. Pada ruang pengolahan makanan terdapat tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun. Penjamah makanan dalam kondisi sehat dan menggunakan baju yang bersih/ khusus. Namun, tidak menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan penutup kepala.

Pengolahan makanan pada kapal barang dilakukan dari mulai tahap pencucian bahan makanan hingga penyajian makanan yang dilakukan oleh para ABK secara bergantian sesuai dengan tugas piket yang telah dijadwalkan. Penjamah makanan dalam kondisi sehat, namun tidak menggunakan baju yang khusus digunakan hanya pada saat mengolah makanan, tidak menggunakan sarung tangan, ataupun pelindung kepala.

Penggunaan baju yang bersih, pelindung kepala, dan sarung tangan dapat mengurangi potensi risiko terjadinya kontaminasi makanan yang berasal dari rambut dan kuman ataupun toksin yang terdapat pada tangan maupun pada baju yang digunakan penjamah makanan, sehingga dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga keracunan makanan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan

menggunakan baju bersih yang khusus digunakan pada saat mengolah makanan, menggunakan sarung tangan, dan penutup kepala untuk mencegah terkontaminasinya makanan yang dapat berasal dari rambut dan bakteri yang ada di tangan para penjamah makanan.

B. Penyediaan Air Minum

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penyediaan air minum pada kapal penumpang dan kapal barang memenuhi syarat kesehatan, karena seluruh aspek yang dinilai sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Pada kapal penumpang tersedia air minum yang tidak memerlukan proses pengelolaan lagi karena air minum yang tersedia adalah air minum kemasan yang sudah pasti air tersebut memenuhi syarat seperti, syarat fisik, mikrobiologi dan kimia. Begitu juga dengan ABK kapal barang yang juga menyediakan air minum kemasan untuk memenuhi kebutuhan air minum selama berada dalam perjalanan diatas laut.

Penyediaan air minum tidak hanya sebatas pada kualitas air minum yang akan dikonsumsi. Namun juga tersedianya air minum dalam jumlah yang cukup. Tempat penyimpanan air minum juga harus bebas dari kuman, vektor, dan bahan pencemar lainnya agar tidak mencemari air minum.

C. Penyediaan Air Bersih

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penyediaan air bersih pada kapal penumpang dan kapal barang memenuhi syarat kesehatan, karena seluruh aspek yang dinilai sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam

Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Air bersih yang disuplai ke kapal penumpang dan kapal barang berasal dari perusahaan yang sama yaitu berasal dari perusahaan Metito. Petugas KKP melakukan pemeriksaan terhadap air bersih setiap bulan sebelum air di suplai ke kapal.

Air bersih yang ada diatas kapal memenuhi syarat fisik yaitu, jernih, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau. Saluran tempat pengambilan air dalam kondisi bersih dan tidak terdapat kotoran di sekeliling keran air. Air bersih yang tedapat pada kapal penumpang dan kapal barang digunakan untuk kegiatan memasak, mencuci, dan kegiatan di kamar mandi.

5.1.4 Kondisi Pengelolaan Limbah Di Kapal A. Kondisi Air Tergenang Di Kapal

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap kapal penumpang dan kapal barang, ditemukan air tergenang hanya pada kapal penumpang saja. Air tergenang ditemukan pada ruang dapur kapal penumpang.

Adanya air tergenang bisa menjadi tempat perkembangbiakan larva nyamuk dan serangga lainnya. Karena dalam suatu kondisi, air tergenang tidak mendapat perhatian khusus sehingga kondisi keberadaan vektor menjadi terabaikan. Air tergenang juga dapat berasal dari deburan air laut dan air hujan yang mengenai geladak kapal. Oleh karena itu, dengan menghilangkan air tergenang dapat mengurangi resiko tempat perkembangbiakan larva nyamuk ataupun serangga lainnya.

B. Pengelolaan Limbah Cair Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah cair pada kapal penumpang memenuhi syarat kesehatan. Namun, pengelolaan limbah cair pada kapal barang tidak memenuhi syarat kesehatan, karena terdapat beberapa aspek yang dinilai tidak sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Limbah cair yang dihasilkan dari kamar mandi dan dapur langsung dibuang ke perairan. Namun pada kapal terdapat holding tank yang dapat menampung air limbah.

Sejak September 2008, MARPOL (Maritime Policy) dan amandemen Komite Perlindungan Lingkungan Kelautan (MPEC) menyatakan bahwa semua kapal yang terlibat dalam pelayaran internasional dengan ukuran >400 ton, atau memiliki izin untuk membawa >15 orang, harus dilengkapi dengan setidaknya salah satu dari beberapa sistem pembuangan kotoran berikut ini :

1. Tangki penahan pembuangan kotoran (holding tank) dengan kapasitas yang mencukupi;

2. Sistem penghancuran dan desinfeksi pembuangan kotoran, termasuk tangki penyimpanan;

3. Pusat perawatan pembuangan kotoran yang disetujui sesuai dengan MEPC.2 (VI), rekomendasi mengenai standar anak sungai internasional dan panduan untuk uji informa untuk pusat perawatan pembuangan kotoran.

Menurut WHO (2011) dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates menyatakan bahwa pengolahan limbah

meliputi limbah dari toilet dialirkan melalui sistem perpipaan ke dalam tangki penampung di mana limbah tersebut dihaluskan dan dipecah oleh bakteri alami dalam proses aerobik. Hasilnya kemudian didesinfeksi sebelum dibuang ke laut terbuka. Hal ini penting untuk mempertimbangkan bahwa penggunaan pembersih dan desinfektan berlebihan dalam sistem pembuangan limbah dapat menghancurkan bakteri alami di tangki pengolahan. Tidak adanya pengelolaan limbah cair dapat mengakibatkan tercemarnya air laut sehingga mengganggu habitat hewan laut.

C. Pengelolaan Limbah Padat Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah padat pada kapal penumpang dan kapal barang memenuhi syarat kesehatan, karena seluruh aspek yang dinilai sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan tersedianya tempat sampah yang layak yaitu kedap air dan tertutup. Selain itu volume tempat pembuangan sesuai dengan limbah yang dihasilkan. Pada kapal penumpang kelas ekonomi, penempatan tempat sampah kurang tepat, karena ditempatkan pada beberapa bagian dan jarak yang sangat dekat dengan tempat tidur penumpang. Pada kapal barang juga tersedia tempat sampah yang layak yaitu kedap air dan tertutup. Penempatan tempat sampah sesuai pada kebutuhan awak kapal yaitu di dapur, kamar mandi, dan tempat berkumpul.

Penempatan tempat sampah yang tidak sesuai seperti yang terjadi pada kapal penumpang kelas ekonomi, dapat menyebabkan terjadinya gangguan berupa

bau yang ditimbulkan akan mengganggu kenyamanan penumpang yang berada didekatnya. Selain itu penumpang akan merasa tidak nyaman ketika melakukan aktivitas seperti makan ataupun tidur.

D. Pengelolaan Sampah Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah pada kapal penumpang dan kapal barang tidak memenuhi syarat kesehatan, karena beberapa komponen yang dinilai tidak sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan tidak adanya pemisahan sampah basah dan sampah kering serta tidak tersedia tempat sampah yang dilapisi dengan kantong plastik.

Pemisahan sampah basah dan sampah kering bertujuan untuk mempermudah dalam proses pengolahan sampah di lingkungan. Jika hal ini tidak dilakukan maka sampah tersebut akan diolah secara bersamaan seperti dibakar. Namun, dalam prosesnya sampah kering yang akan terbakar sedangkan sampah basah tidak. Penempatan kantong plastik pada tempat sampah bertujuan untuk mempermudah proses penanganan sampah yang akan diangkut apabila sudah mencapai volume maksimal. Selain itu tempat sampah akan lebih mudah dibersihkan.

E. Kondisi Air Balast Di Kapal

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi air balast pada kapal penumpang dan kapal barang tidak memenuhi syarat kesehatan, karena terdapat beberapa komponen yang dinilai tidak sesuai dengan persyaratan yang

tercantum dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates. Keadaan tersebut dapat dilihat berdasarkan air balast pada kapal yang menjadi objek penelitian tidak pernah dilakukan pemeriksaan kondisi air balast. Hal ini disebabkan oleh letak tangki air balast yang berada di dasar kapal sehingga sangat sulit untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi air balast secara rutin. Menurut WHO (2011) dalam Handbook for inspection of ships and issuance of ship sanitation certificates, menyatakan bahwa air balast yang berasal dari kapal dapat membawa mikroorganisme patogen dari suatu kawasan laut dan dapat mempengaruhi hewan laut di kawasan laut yang lain. Keberadaan mikrooorganisme patogen tersebut dapat membahayakan kehidupan lingkungan laut, merubah keseimbangan ekosistem dan mengganggu kesinambungan pemanfaatan sumber daya pantai, merubah jenis mikroorganisme asal dan membentuk mikroorganisme baru yang termutasi secara genetik. Akibatnya hewan laut yang menjadi buruan para nelayan menjadi tidak layak untuk dikonsumsi karena dikhawatirkan mengandung mikroorganisme patogen yang dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi konsumen. IMO (2004) mengeluarkan pernyataan bahwa salah satu dampak buruk pembuangan air balast adalah ditemukannya bakteri Vibrio cholera di kawasan laut Amerika Selatan sehingga menyebabkan terjadinya wabah kolera. Keberadaan kontaminan biologi menjadi risiko utama pada pembuangan air balast. Namun keberadaan kontaminan kimia pada air balast juga menjadi masalah yang dapat menimbulkan pencemaran laut. Kontaminan kimia dapat berasal dari minyak dan oli kapal. Mengingat letak tangki minyak dan tangki balast yang berdekatan dikhawatirkan terjadi kebocoran

yang akan mempengaruhi kandungan air balast sehingga dapat menyebabkan pencemaran laut ketika dilakukan pembuangan air balast.

Mengingat hebatnya pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh air balast, maka IMO dalam Konvensi Internasional untuk Kontrol dan Managemen Air Balast yang diadakan pada tahun 2004, mewajibkan semua kapal yang menggunakan air balast untuk menerapkan Standard D-2 atau melengkapi dengan pengolahan air balast pada tahun 2016.

Standard D-2 (ballast water treatment) mensyaratkan adanya treatment bagi air balast yang ditemukan adanya kandungan lebih dari 10 mikroorganisme per meter kubik yang berukuran lebih dari atau sama dengan 50 mikron. Dengan adanya pengolahan ini maka tidak akan ada lagi mikroorganisme yang lolos ke lingkungan baru, sehingga kerusakan lingkungan dapat dicegah. Ada beberapa perlakuan untuk menangani masalah ini. Beberapa diantaranya adalah dengan proses kimia dan proses fisika.

1. Proses kimia: dilakukan perlakuan khusus terhadap air balast dengan bahan kimia seperti chlorine atau ozone untuk membunuh organisme yang terkandung di dalamnya.

2. Proses fisika: dapat dilakukan dengan radiasi ultra violet, pemanasan, penyaringan, dan sedimentasi.

5.2 Pengawasan dan Pengendalian Oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan

Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah berdasarkan Permenkes No. 356 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. Tidak ada peraturan yang

mengharuskan setiap kapal yang memenuhi syarat harus diberikan penghargaan, begitu juga sebaliknya untuk kapal yang tidak memenuhi syarat diberikan hukuman. Kebijakan tersebut diatur oleh masing-masing kantor kesehatan pelabuhan. Namun, pemberian arahan dan saran terhadap kapten dan awak kapal yang kapalnya tidak memenuhi syarat, sangat dianjurkan agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Arahan dan saran yang diberikan juga bertujuan untuk meningkatkan kesehatan awak kapal diatas laut, karena perjalanan mereka memerlukan waktu hingga berhari-hari lamanya.

Tidak ada nama khusus untuk petugas pemeriksa sanitasi kapal. Hanya saja kantor kesehatan pelabuhan biasa menyebutnya dengan petugas piket. Namun bila dilihat pada bagian bawah blanko lembar observasi sanitasi kapal tercantum kata “pengawas/ pemeriksa”. Berdasarkan aturan yang ada pemeriksaan sanitasi kapal sebaiknya dilakukan pada saat kapal tiba di pelabuhan dan berangkat dari pelabuhan. Setiap kantor kesehatan pelabuhan harus memenuhi aturan yang dibuat dari kantor pusat. Mekanisme pelaksanaan pemeriksaan sanitasi kapal berdasarkan Permenkes No. 40 Tahun 2015 tentang Sertifikat Sanitasi Kapal adalah sebagai berikut.

1. Tim Pemeriksa memulai pemeriksaan dengan memperkenalkan anggota tim dan menjelaskan tentang tujuan dan proses pemeriksaan sanitasi kepada nahkoda.

2. Tim Pemeriksa menanyakan tentang kondisi operasional Kapal selama perjalanan, dan melakukan verifikasi tentang identitas Kapal dan dokumen yang disampaikan pada saat permohonan.

3. Pemeriksaan Sanitasi dilakukan pada seluruh ruang dan media pada Kapal yang meliputi dapur, ruang rakit makanan, gudang, palka, ruang tidur, air bersih, limbah cair, tangki air ballast, sampah medik dan sampah padat, air cadangan, kamar mesin, fasilitas medik, kolam renang dan area lain yang diperiksa. Apabila palka Kapal terisi barang, maka kargo harus diperiksa. 4. Urutan pemeriksaan dimulai dari ruangan yang terdekat untuk mempercepat

proses pemeriksaan. Dalam melakukan pemeriksaan Tim pemeriksa harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kontaminasi silang, oleh karena itu kebersihan personal, kebersihan pakaian dan status kesehatan Tim Pemeriksa harus dalam kondisi baik dan menggunakan APD.

5. Pemeriksaan Sanitasi Kapal menggunakan Formulir Supervisi checklist Pemeriksaan Sanitasi Kapal, Formulir Supervisi checklist Pemeriksaan Vektor dan BPP, Formulir Supervisi checklist Pengendalian Fumigasi, Formulir Supervisi checklist Penyehatan Air, Formulir Supervisi checklist Pengamanan Pangan, Formulir Supervisi checklist Pengamanan Pengolahan Limbah, Formulir Supervisi checklist Pengamanan Radiasi dan Formulir Laporan Hasil Pemeriksaaan Sanitasi Kapal, sebagaimana contoh Formulir 3 sampai dengan Formulir 9 terlampir.

6. Untuk memastikan ada tidaknya faktor risiko kesehatan dilakukan pengambilan sampel pada media lingkungan sesuai situasi dan kebutuhan. 7. Berdasarkan pertimbangan kesehatan, sampel dapat diambil dan dianalisis

Walaupun hasilnya belum selesai, maka sertifikat tetap dapat diterbitkan dengan catatan “Hasil ditunda/pending” di dalam sertifikat.

8. Setelah pemeriksaan, petugas pemeriksa harus melakukan tanya jawab singkat sebelum menerbitkan Sertifikat. Nahkoda atau perwakilannya harus diberi waktu yang cukup untuk melengkapi dokumen yang diperlukan. 9. Tim Pemeriksa setelah melakukan analisa hasil pemeriksaan sesuai dengan

checklist pemeriksaan (form hasil pemeriksaan pembaharuan SSCEC), bila hasil memenuhi syarat berdasarkan penilaian professional, Tim Pemeriksa dapat merekomendasikan hasil pemeriksaan kepada kepala KKP atau pejabat KKP yang diberikan wewenang untuk menerbitkan SSCEC.

10. Tim Pemeriksa setelah melakukan analisa hasil pemeriksaan sesuai dengan checklist pemeriksaan (form hasil pemeriksaan pembaharuan SSCC), bila hasil tidak memenuhi syarat maka Tim Pemeriksa merekomendasikan kepada Kepala KKP atau Pejabat KKP untuk dilakukan tindakan sanitasi. Adapun tindakan sanitasi yang dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

11. Setelah dilakukan tindakan penyehatan maka direkomendasikan kepada Kepala KKP atau pejabat KKP untuk menerbitkan SSCC.

Jika petugas menemukan vektor pada saat melakukan pemeriksaan, maka kapal tersebut akan dilakukan tindakan desinfeksi yaitu tindakan hapus kuman yang terdapat pada alat kebutuhan manusia dan desinseksi yaitu tindakan hapus serangga. Apabila ditemukan tikus, tindakan yang dilakukan adalah deratting atau hapus tikus dengan fumigasi menggunakan bahan CH3Br.

Pejabat KKP yang mempunyai tugas untuk melakukan Pemeriksaan Sanitasi Kapal harus menunjuk Tim Pemeriksa yang terdiri dari tenaga Fungsional Sanitarian/Entomolog/Epidemiolog yang terlatih dalam pemeriksaan sanitasi Kapal dan mampu berbahasa Inggris lisan dan/atau tulisan. Pernyataan tersebut tertuang dalam Permenkes No. 40 Tahun 2015 tentang Sertifikat Sanitasi Kapal.

Pengawasan air bersih dilakukan dengan mengetahui kualitas air bersih terlebih dahulu, jika memenuhi syarat sesuai dengan Permenkes No.416 Tahun 1999 tentang Air Bersih, kemudian air tersebut dapat di suplai ke kapal yang hendak berangkat dari pelabuhan Belawan. Berdasarkan Permenkes No. 40 Tahun 2015 tentang Sertifikat Sanitasi Kapal, sertfikat sanitasi kapal tidak berlaku apabila ditemukan faktor risiko kesehatan masyarakat, berganti nama, masa berlaku sudah berakhir (6 bulan), berubah bendera, sertfikat dicoret, dihapus, atau dinyatakan rusak, dan keterangan dalam sertifikat tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, pemilik kapal atau nahkoda bertanggung jawab atas kondisi hygiene sanitasi kapal agar dapat mempertanggungjawabkan sertifikat sanitasi yang dimiliki.

Dokumen terkait