• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAMADHAN DI MATA MASYARAKAT MARGINAL

C. Keberagamaan Komunitas Pemulung Setelah Ramadhan

Keistimewaan yang dimiliki Ramadhan telah mampu menstimulasi bangkitnya naluri keagamaan untuk bertindak taat. Tiap jiwa spritual membuncah berlomba untuk sampai pada kondisi larut dalam keshalehan. Setiap individu seolah-olah berlomba-lomba meningkatkan intensitas dan kekhusyuannya dalam ibadah wajib dan sunat.

Itulah sekelumit gambaran mengenai kondisi keberagamaan masyarakat dalam bulan Ramadhan. Ramadhan seolah-olah mempunyai daya magis yang mampu menggerakan setiap nalauri ke arah untuk taat. Namun, apakah ketaatan yang telah diciptakan Ramadhan akan mampu bertahan dalam bulan lainnya, dalam konteks ini, apakah Ramadhan membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi keberagamaan masyarakat dalam bulan setelahnya. Dalam pembahasan ini akan menguraikan keberagamaan komunitas pemulung setelah bulan Ramdhan, khususnya pelaksanaan ritual ibadah wajib.

Ritual salat merupakan salah satu jenis ibadah kontemplasi yang paling dihargai kedudukannaya. Maka, seringkali intensitas pelaksanaannya di jadikan stanadar evaluatif dalam mengukur ketaatan beragama seseorang. Untuk mengetahui keberagamaaan komunitas pemulung setelaah Ramadhan, peneliti menjadikan ritual shalat sebagai acauan dalam menguraikan pembahasan ini.

Berdasarkan wawancara mendalam, dalam hal ini peneliti menemukan jawaban yang cukup variatif. Untuk lebih jelasnya, peneliti akan memaparkan hasil wawancara tersebut dalam uraian di bawah ini:

Edi Sudewo adalah pemulung yang berasal dari Banyumas. Ia tumbuh dan besar di Banyumas, hidup dalam lingkungan yang cukup agamis dan selama tiga tahun pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Dalam hal shalat merupakan ibadah yanag sudah rutin dijalaninya sejak dahulu. Ketika ditanyakan mengenai kondisi kebergamaannya setelah Ramadhan, ia menyatakan bahwa Ramadhan mempengaruhi semangat keberagamaannya di bulan lainnya, namun hanya bertahan dalam waktu yang relatif singkat. Dan setelah itu, ia kembali kepada kebisaannya. Sebagaimana yang diungkapkannya:”…Dalam Ramadhan biasanya saya berusaha memperbanyak ibadah, termasuk tadarus dan salat sunat. Biasanya kalo’ menjelang lebaran hati rasanya sedih dan dalam hati berniat setelah lebaran nanti mau tetap rajin ibadah kaya di bulan ini. Tapi niat itu cuma bisa dilaksanain selama masih dalam suasana Lebaran. Setelah itu kembali lagi kaya biasanya, ’kalo shalat cuma yang wajib. Ba’diyah , qobliyah, apalagi tahajud ‘ngga dikerjain lagi.”131

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Solihin, dan Siti Fatimah. Mereka menyatakan bahwa Ramadhan membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap pelaksanaan ritual ibadah mereka. Namun, tidak bertahan lama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Solihin:”…Ada, saat masih dalam keadaan lebaran. masih ngerjain salat sunat dan baca Al-qur’an. Seperti masih terbawa

131

suasana Ramadhan. Tapi, setelah itu kembali lagi seperti biasa. Kalo’ salat lima waktu ‘ngga ketinggalan, tapi salat sunat dan baca al-quran’ngga saya kerjain lagi…”132

Sedangakan, para informan lainnya menyatakan bahwa Ramadhan tidak membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi keberagamaan mereka di bulan sesudahnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lasmidi:”… Dalam hati sih selalu ada niat untuk rajin salat ‘ngga cuma di bulan Ramadhan, tapi juga dalam hari-hari biasa. Tapi cuma niat dong, kalo’ sudah Ramadhan, saya kembali seperti biasanya, kembali bolong-bolong lagi salatnya…”133

Hal senada juga diungkapkan oleh Wasni:”…Waktu bulan puasa rajin ngelaksanain shalat, dan suka timbul niat mau berubah. Tapi kalo’setelah itu tetap aja males, ngerjain salat. Bahkan kadang-kadang ‘ngga sama dalam bulan puasa..”134

Hal yang tidak berbeda juga diungkapkan oleh Tamiri:”… Saya salat waktu Ramadhan aja. Setelah itu sih, jarang-jarang, bahkan ‘ngga sama sekali…”135

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Ramadhan telah mampu membangkitkan sensitifitas keagamaan mereka, untuk bertindak taat dalam bulan tersebut. Namun, Ramadhan hanya membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi naluri keberagamaan mereka, namun tidak pada sikap tertib dan taat pada pelakasanaan ibadah di bulan sesudahnya.

132

Wawancara Pribadi dengan Solihin, Tangerang 27 September 2007 133

Wawancara Pribadi dengan Bapak Lasmidi, Tangerang, 1 Oktober 2007 134

Wawancaar Pribadi dengan Wasni, Tangerang, 3Oktober 2007 135

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah diuraikan secara mendalam dalam bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Ramadhan tidak mempunyai pengaruh yang cukup signifikan bagi aktivitas dan semangat kerja komunitas pemulung. Dalam konteks ini, Ramadhan tidak menyurutkan kegairahan aktivitas kerja mereka. Justru kehadiran Ramadhan dengan segala kebutuhan khususnya telah mendorong dan memaksa mereka untuk semakin giat bekerja. Maka sebagian informan menambahkan waktu bekerja mereka di malam hari, supaya dapat memenuhi kebutuhan di hari raya Idul Fitri.

Dalam hal pembahasan mengenai makna Ramadhan bagi komunitas pemulung, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pemaknaan terhadap Ramadhan yang diberikan komunitas pemulung di Jl. Bulak Wangi II RT 08 RW03 kelurahan Kedaung adalah pemaknaan yang bersifat kondisional. Dimana kondisi berkah rezeki dan pangan yang mereka alami dalam bulan tersebut dijadikan landasan dalam memberikan makna berkah terhadap bulan Ramadhan.

Sedangkan, berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan dan pemahaman berkenaan dengan ibadah dan amalan khas, serta kistimewaan bulan Ramadhan, maka penulis menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antar informan penelitian. Yang disebabkan karena adanya perbedaan latar belakang pendidikan pada tiap informan.

Berkenaan dengan hasil penelitian mengenai pelaksanaan ibadah ritual komunitas pemulung dalam bulan Ramadhan, peneliti menemukan perbedaan yang cukup signifikan dalam pelaksanaan ritual ibadah salat wajib di bulan Ramadhan. Dimana komunitas pemulung tersebut berupaya melakukan peningkatan intensitas pelaksanaan ritual ibadahnya dalam bulan Ramadhan. Selain itu juga, ditemukan perbedaan ketaatan yang cukup signifikan dalam pelaksanaan ritual ibadah khas Ramadhan. Tak ada dari satu orang informan yang secara total meninggalkannya, mereka semua melaksnakannya. Namun hanya intensitas pelaksanaannya saja yang berbeda. Maka dari hasil penelitian tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa komunitas pemulung di Jl. Bulak Wangi II RT 08 RW 03 kelurahan Kedaung memiliki responsi sikap keagamaan yang cukup baik dalam menyikapi pelakasanaan ritual ibadah di bulan Ramadhan.

Terlepas dari penilaian layak atau tidaknaya komunitas pemulung di wilayah tersebut dimasukan dalam kategori masyarakat shaleh atau tidak, pada pembahasan selanjutnaya peneliti mencoba menguraikan hasil penelitian keberagamaan pemulung setelah bulan Ramadhan. Maka penulias dapat menyimpulkan bahwa adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam hal keberagamaan pemulung dalam bulan Ramadhan dengan bulan sesudahnya. Ini terlihat dari adanya perbedaan intensitas pelaksanaan ibadah wajib yang dikerjakan komunitas pemulung dalam bulan Ramadhan dengan bulan sesudahnya. Tingkat intensitas pelakasanaan ibadah yang dilakukan dalam bulan sesudah Ramadhan relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan pelaksanaanya selama Ramadhan. Bahkan banyak diantara mereka yang cenderung mengabaikan

pelaksanaan ibadah salat wajib dalam bulan biasanya. Dalam artian mereka hanya bertindak taat dalam melaksanakan ritual ibadah wajib dalam bulan Ramadhan saja.

Berdasarkana hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan, bahwa Ramadhan telah mampu membangkitkan sensitifitas keagamaan komunitas pemulung, yang berpuncak pada sikap taat dan tertib ibadah dalam bulan tersebut. Namun, ketika Ramadahn berakhir, pengaruh signifikan tersebut hanya tinggal melekat pada naluri keberagamaan mereka, tetapi tidak pada sikap taat dan tertib pada pelaksanaan ibadah wajib di bulan sesudahnya.

B. Saran-saran

Dalam akhir tulisan ini, ada beberapa hal yang penulis sampaikan kepada pihak-pihak tertentu, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Kepada lembaga kewargaan setempat, yakni RT dan RW, ada baiknya untuk tidak melakukan pembedaan dalam hal sosial dan partisipasi politik Dan juga mengupayakan pembauran warga sekitar guna menghilangkan sikap hipokrit yang diterima komunitas pemulung di wilayah tersebut. 2. Kepada para ulama setempat, supaya mau memberikan pembelajaran

keagamaan kepada komunitas pemulung di wilayah tersebut agar memudahkan pemulung untuk mendapatkan pengetahuan agama yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.

3. Bagi para komunitas pemulung, supaya rajin belajar menimba pengetahuan agama agar dapat mengetahui serta memahami ajaran, dan perintah agama. Sehingga diharapkan dapat taat dalam menjalankan segala bentuk ajaran dan perintah agama .