• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberhasilan Paket Bali serta Objektivitas Media

5. Data Perusahaan Koran Bisnis Indonesia

4.3 Hasil Penelitian

4.4.4 Keberhasilan Paket Bali serta Objektivitas Media

Konferensi WTO terlah berhasil digelar dan menghasilkan Paket Bali. Hasil konferensi di Bali ini dapat dikatakan menjadi penyelamat dari rasa putus asa yang semakin menumpuk setelah bertahun-tahun konferensi WTO tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti.

Isi dari Paket Bali antara lain yang pertama adalah paket pertanian (agricultural) di manav proteksi negara berkembang diberikan oleh negara maju. Negara maju juga berkomitmen untuk mengurangi subsidi pertaniannya, paket kedua adalah paket untuk negara miskin atau Least Development Countries (LDCs), dimana negara miskin mendapatkan kemudahan sistem lalu lintas dan fasilitas perdagangan yang bisa dilakukan oleh negara tersebut, sedangkan paket ketiga adalah fasilitasi perdagangan (trade facility) yang digunakan untuk meningkatkan peningkatan kapasitas pelayanan dari negara miskin dan negara berkembang. Cara ini dilakukan dengan catatan bantuan dari negara maju baik bantuan secara financial (keuangan) maupun transfer teknologi.

Sejak Putaran Doha (Doha Round) diluncurkan pada tahun 2001 di Doha-Qatar, negosiasi tidak pernah mengalami kemajuan. Bali yang indah mempesona, hangat, sekaligus memiliki aura yang menenangkan hati, tampaknya mampu membuat para delegasi menggodok kembali kebijakan Negara nya masing – masing, sehingga semua Negara peserta konferensi menyepakati paket Bali. Seiring dengan disepakatinya Paket Bali, sebaran pemberitaan di media mengenai konferensi ini pun mulai berangsur positif dan tidak lagi pesimis seperti pada pra-konferensi.

―Gini ya mas, beda antara kita optimis dan mendukung ya, karena menurut saya, karena penyelenggaraan konferensi ini di Indonesia, tuan rumah kita, dan kita media Indonesia, kita jelas mendukung langkah pemerintah. Ini kan momentum bagus, kita lebih kearah mendukung. Kalo optimisnya, Pak Gita juga bilang masih banyak PR yang harus dikerjakan setelah WTO ini kan. Kita belum bisa menyebut itu optimis juga‖ (Rio – Bisnis Indonesia)

Dalam hal ini media memposisikan dirinya sebagai pihak yang mendukung kebijakan pemerintah, karena Paket Bali ini merupakan suatu momentum yang bisa dimanfaatkan untuk mulai menata kembali beberepa kebijakan penting. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh para media untuk ‗menegur pemerintah‘ agar dalam menata kembali segala kebijakan, benar – benar terpikirkan dengan baik.

―Waktu itu ya saya melihat bahwa kita harus berangkat kepada suatu harapan baru bahwa ada suatu kesepakatan-kesepakatan waktu di Bali, kita tidak boleh diam kita harus melihat ke depan apa yang harus dipersiapkan, itu sudah menjadi hal yang pemahaman umum, paling tidak di Kompas, bahwa kita harus melihat ke depan, persiapan apa yang harus kita lakukan, sektor ini persiapan apa? Secara makro kebijakan yang harus apa? Kalau kita mau mengarah kepada persaingan bebas di bidang pangan apa yang harus dipersiapkan? Kan gitu kan, apakah kita juga sudah siap untuk melakukan itu? Apakah daya saing komoditas kita bisa lebih baik atau paling tidak sama. Jangankan komoditas pangan yang kita kalah bersaing, kalau kita lihat komoditas sawit yang kita jelas memiliki daya saing 8-10 kali lipat saja kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan Eropa, ya kan. Apalagi pangan yang jelas-jelas kita kalah saing. Untuk itu makanya pemberitaan setelah WTO itu, saya lebih cenderung mengarahkan bahwa genap pemerintah dalam hal ini mesti berbenah dalam arti kita masuk dalam konteks perdagangan bebas, oke pangan ini kita masih bisa perjuangkan, tapi besok-besok apakah bisa kita perjuangkan lagi melakukan hal yang sama? Tekanan dari dunia luar juga kuat, bisa dari sektor pendanaan, investasi, kita tidak pernah tau. Tetapi di luar persoalan itu, yang harus kita benahi kan daya saing, caranya gimana? Ya ayo kita benahi bareng-bareng‖ (Hermas – Kompas)

Setelah disepakatinya Paket Bali, Hermas berharap bahwa hal tersebut tidak hanya menjadi dokumen semata namun juga dapat benar-benar dilaksanakan oleh Pemerintah. Fungsi media dalam hal ini adalah mengawal kerja pemerintah untuk

melaksanakan hasil Paket Bali tersebut karena pada prinsipnya daya saing produk pangan kita masih kurang dibandingkan Negara-negara maju, sementara untuk produk Indonesia yang memiliki daya saing tinggi seperti kelapa sawit, Indonesia tetap tidak bisa berbuat banyak untuk masuk ke pasar Eropa dan Amerika.

Media dalam hal ini Kompas menunjukan objektivitasnya terhadap lahirnya Paket Bali, bahwa ini merupakan pencapaian yang baik bagi Indonesia sebagai tuan rumah, juga keberhasilan setelah sekian lama Konferensi WTO ini mengalami

deadlock, khususnya terkait masalah pangan.

―keberhasilan Paket Bali ini memang achievement nya dia yang paling menonjol. Memang menurut saya dia fight betul, dia tidak lelah untuk menjelaskan ke publik, ke media dan kemudian dia juga termasuk kadang dia mendudukan soal kan, ―ini loh ceritanya…ini loh begini‖ runut… Menurut saya dia cukup telaten melakukan itu dan kemampuan teknis dia dalam bernegosiasi memang baik, karena dia tidak punya kendala bahasa dan komitmen terhadap jabatannya…. Kan dia menjabat tidak lama, dia ingin menunjukan sesuatu yang berarti sebetulnya, menurut saya sih. Yang berarti, yang bisa catatat sebagai sebuah sejarah bahwa, ―Gue kasih kontribusi disitu‖. Saya sih tidak meragukan disitu‖. (Hermas – Kompas)

Hermas menyatakan bahwa media sangat terbantu dengan cukup kooperatifnya Menteri Perdagangan yang saat itu menjabat, Gita Wirjawan yang memang secara berkala menyampaikan apa yang terjadi selama perundingan di dalam. Kompetensinya sebagai Menteri Perdagangan di dukung dengan kemampuan bahasanya yang baik, sehingga paham betul bagaimana menjalankan perundingan ini yang dikabarkan sangat alot. Sebagai tim perundingan, hal tersebut tentunya memperkuat anggapan bahwa media berperan secara objektif dalam pemberitaan mengenai WTO 2013.

Dokumen terkait