• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberlanjutan Dukungan Program Ristek

A. Sinergi Koordinasi Kelembagaan-Program 1. Kerangka Sinergi Koordinasi

2. Keberlanjutan Dukungan Program Ristek

Penelitian perlu dilaksanakan sampai pengembangan produk dan efektivitas daya simpan sehingga dapat dikembangkan pada skala industri dan bersaing dengan pestisida sintetik. Diharapkan dengan adanya dana lanjutan dapat mengintegrasikan formula insektisida nabati dengan strategi pengendalian lain.

35 DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2004. Statistik Perkebunan Indonesia. Direktorat. Jenderal Perkebunan, Jakarta.

Goenadi, D.H., J.B. Baon, Herman, dan A. Purwanto. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao di Indonesia. Badan Penelittian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 33 hlm.

Grainge, M. dan Ahmed, S. 1988. Handbook of Plants with Pest Control Properties. New York.: John Wiley and Sons.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Pertanian: Yayasan Sarana Wanajaya. Jakarta

Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Revised by Van der Laan. PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta.

Prakash A. dan Rao. J. 1997. Botanical Pesticides in Agriculture. New York.: Lewis Publisher.

Prijono D., J.I. Sudiar, dan Irmayetri. 2006. Insecticidal Activity of Indonesian Plant Extracts Against the Cabbage Head Caterpillar, Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera:Pyralidae). J. ISSAAS 12(1):25-34.

____________ dan H. Triwidodo. 1994. Pemanfaatan Insektisida di Tingkat Petani;; Bogor, 1-2 Desember 1993.

Regnault-Roger C. 2005. New Insecticides of Plant Origin for The Third Millenium In: Regnault_Roger BJR, Philogene C, Vincent. C, (Eds.). Biopesticides of Plant Origin: Lavoisier Publishing Inc. p 17-35.

Sulistyowati, E., Y.D. Junianto, S. Sukamto, S. Wiryadiputra, L. Winarto, dan N. Primawati. 2002. Analisis status penelitian dan pengembangan PHT pada pertanaman kakao. Risalah Simposium Nasional Penelitian PHT Perkebunan Rakyat. Bogor 17-18 September 2002. Bag. Proyek PHT Tanaman Perkebunan:161-176.

Wardoyo, S. 1988. A Major Hindrance to Cocoa Development. Indonesian Agricultural Research and Developmental Journal 2:1-4.

Wardoyo, S. 1983. Pembiakan Helopeltis antonii Signoret di laboratorium pada buah kakao. Muara Perkebunan 51(2):33-38.

Wiryadiputra, S.D., E. Sulistyowati, dan A.A. Prawoto. 1994. Teknik Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella (Snellen). Lokakarya Penanggulangan Hama PBK di Indonesia. Jember.

Wood, B.J. and G.F. Chung. 1989. Integrated management of insect pests of cocoa in Malaysia. The Planter 65(762):389-418.

36 Lampiran1. Berita Acara

No : Nota Dinas Perihal : Perubahan judul

dan kegiatan penelitian Kepada Yth.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat di tempat

Saya yang bertanda-tangan di bawah ini:

Nama : Prof. Dr. Ir. I Wayan Laba, MSc.

Jabatan : Peneliti Utama dan Penanggung jawab RPTP PKPP RISTEK TA 2012 Formulasi Produk Pestisida Nabati Berbahan Aktif Saponin, Azadirachtin, Eugenol, dan Sitronellal untuk Mengendalikan Hama Utama Kakao (Conopomorpha

cramerella, Hyposidra sp., dan Helopeltis sp.)

1. Telah melaksanakan perjalanan dinas ke Kebun Cikumpay, PTPN VIII, Rajamandala, Bandung Barat, selama dua hari, terhitung tanggal 7 sampai dengan 8 Juli 2012 dalam rangka koleksi Hyposidra sp. pada tanaman kakao. Hasil survey menunjukkan bahwa tidak diketemukan hama tersebut pada tanaman kakao. Hyposidra sp. banyak ditemukan pada tanaman teh. Oleh karena itu, judul kegiatan semula Formulasi Produk Pestisida Nabati Berbahan Aktif Saponin, Azadirachtin, Eugenol, dan Sitronellal untuk Mengendalikan Hama Utama Kakao (Conopomorpha cramerella, Hyposidra sp., dan Helopeltis sp.) berubah menjadi Formulasi Produk Pestisida Nabati Berbahan Aktif Saponin, Azadirachtin, Eugenol, dan Sitronellal untuk Mengendalikan Hama Utama Kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis sp.)

2. Tidak melaksanakan penelitian analisis ekonomi pada sub kegiatan “Analisis Ekonomi Formulasi Produk Pestisida Nabati Berbahan Aktif Saponin, Azadirachtin, Eugenol, dan Sitronellal untuk Mengendalikan Hama Utama Kakao (Conopomorpha cramerella dan Helopeltis sp.)” di kebun rakyat Kabupaten Ciamis karena telah dilaksanakan tahun 2011. Analisi ekonomi hanya dilaksanakan di perkebunan rakyat di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

37 Demikian kami sampaikan, untuk keperluan administrasi mohon dapat diproses lebih lanjut.

Bogor, 12 Juli 2012

Penanggung jawab RPTP

Prof. Dr. Ir. I Wayan Laba, MSc. NIP. 19530224 198203 1 002 Tembusan:

1. Ketua Kelti Hama dan Penyakit Tanaman (Proteksi Tanaman)

2. Kepala Sie Pelayanan Teknis 3. Pejabat Pembuat Komitmen

38 Lampiran 2. Foto-foto pelaksanaan penelitian

Gambar 1. Gejala serangan Helopeltis sp. pada tanaman teh (kiri) dan daun teh yang terserang Helopeltis sp. (kanan)

Gambar 2. Koleksi Helopeltis sp pada perkebunan teh (kiri) dan pemindahan serta pemisahan instar Helopeltis sp. dari lapang

39 Gambar 4. Pengujian di laboratorium; toples-toples tempat pengujian skala laboratorium; pengujian antifeedant dan repelensi dengan pilihan; pengujian antifeedant dan repelensi tanpa pilihan (gambar dari kiri atas searah jarum jam)

Gambar 5. Pengujian di lapang (searah jarum jam: persiapan, pemasangan kurungan, unit pengamatan, dan penyemprotan) (Kebun Cikumpay, PTPN VIII, Rajamandala, Bandung Barat, Jawa Barat)

41 Gambar 6. Kakao-kakao hasil pengujian

Gambar 7. Kegiatan pelaksanaan di lapang (Sulawesi Barat); lokasi penelitian (kiri atas); keadaan tanaman kakao dari dekat (kanan atas); grading buah kakao berdasarkan tingkat kerusakan buah hasil panen (kiri bawah); hasil panen kakao (kanan bawah)

42 Lampiran 3. Data jumlah Helopeltis sp. yang hinggap pada mentimun metode dengan pilihan

No. Perlakuan Konsentrasi

(ml/l)

Waktu Setelah Aplikasi (JSA) 10 menit 30 menit 1 jam 3 jam 6 jam 24 Jam 1. Azadirachtin + ethanol 4 0,00 1,33 2,00 2,67 4,00 4,67 8 1,33 2,67 2,00 4,67 4,67 2,67 16 0,00 1,00 2,00 1,67 3,00 4,67 2. Azadirachtin + air + ethanol 4 0,00 0,33 0,67 3,33 0,00 0,33 8 1,33 0,67 0,67 2,00 2,67 1,67 16 0,33 1,33 1,33 0,67 2,00 0,67 3. Minyak mimba 4 0,00 0,67 0,67 1,33 0,67 1,33 8 0,33 0,00 0,33 1,00 0,33 1,00 16 0,00 0,33 0,00 2,00 1,33 0,33 4. Azadirachtin + ethanol + rerak 4 0,00 0,00 0,33 0,67 0,33 2,67 8 0,00 0,00 0,67 0,67 2,67 1,67 16 0,00 0,67 1,00 2,00 1,33 1,67 5. Azadirahtin + air + ethanol + rerak 4 0,00 0,00 0,33 0,00 1,00 1,67 8 0,00 0,00 0,00 0,33 0,33 0,67 16 0,00 0,00 0,33 0,00 4,00 3,33 6. Minyak mimba + rerak 4 0,67 1,00 0,00 0,33 0,67 0,67 8 0,00 0,33 0,00 0,33 1,67 0,33 16 0,33 1,00 1,00 1,67 0,67 1,33 7. Neem plus 4 0,67 1,33 0,33 0,00 0,00 0,00 8 0,00 0,67 0,33 1,33 2,00 3,00 16 0,00 0,00 0,67 0,00 0,33 0,00 8. Deltametrin 0,1 0,67 0,00 0,33 0,33 0,00 1,00 0,2 1,33 0,67 0,67 0,33 0,00 0,00 0,4 0,67 0,00 0,67 0,00 0,00 0,00 9. Kontrol 1,67 2,67 3,33 4,33 5,00 6,33

43 Lampiran 4. Data jumlah Helopeltis sp. yang hinggap pada buah mentimun pada metode tanpa pilihan pada konsentrasi terpilih

No. Perlakuan

Waktu Setelah Aplikasi

10 menit 30 menit 1 jam 3 jam 6 jam 24 jam

P K P K P K P K P K P K

1 Azadirachtin + ethanol 0,00 1,33 0,00 2,00 0,00 3,33 0,67 4,00 2,00 4,00 1,33 5,33 2 Azadirachtin + air + ethanol 0,33 1,33 0,67 3,33 0,33 4,67 2,00 5,67 2,33 5,33 1,00 6,33 3 Minyak mimba 0,00 2,00 0,33 3,00 0,33 3,67 0,33 3,33 0,00 2,33 0,00 6,00 4 Azadirachtin + ethanol + rerak 0,67 1,33 2,00 4,33 3,00 3,33 4,33 3,67 5,33 3,00 5,67 3,33 5 Azadirachtin + air + ethanol + rerak 0,00 0,67 0,00 3,00 0,00 4,00 0,67 4,67 0,67 5,00 0,67 8,33 6 Minyak mimba + rerak 0,00 0,33 0,67 1,00 0,33 1,67 1,00 2,67 1,00 3,33 0,00 6,67

7 Neem plus 0,67 1,67 1,00 3,33 1,00 4,00 0,33 5,00 0,33 4,67 0,00 6,00

44 Lampiran 5. Lay out penelitian di Sulawesi Barat

A. Sanitasi Ulangan NO Perlakuan Konsentrasi ml/l I pohon II pohon III pohon IV pohon 1 Neem plus 5,0 25 25 25 25 2 Mimba + rerak 5,0 25 25 25 25 3 Asimbo 5,0 25 25 25 25 4 Sitronellol 5,0 25 25 25 25 5 Bioprotektor-2 5,0 25 25 25 25 6 Azadirachtin 5,0 25 25 25 25 7 Stopper 25 Ec 2,0 25 25 25 25 8 Kontrol - 25 25 25 25

sampel tanaman yang diamati

Keterangan:

1. Dipilih 100 buah sehat yang ukurannya ± 9 cm diberi tanda yang akan dipanen pada akhir peneltian (tergantung ketersediaan bh jika ukurannya ± 9 cm).

2. Buah yabg sudah siap panen ditentukan tingkat kemasakan sesuai kategori kerusakan.

3. Tingkat kerusakan akibat helopeltis dihiyung setiap kali panen.

4. Data yang diperoleh setiap panen dan panen akhir yang ukuran dipilih pada awal penelitian ± 9 cm.

5. 1 ml/200 ml air/pohon 100 ml/20.000 ml/100 pohon 100 ml/20 l air/100 pohon 10 x aplikasi = 1000 ml=1L

v v v v v v v v v

45 B. Tanpa Sanitasi Ulangan NO Perlakuan Konsentrasi ml/l I pohon II pohon III pohon IV pohon 1 Neem plus 5,0 25 25 25 25 2 Mimba + rerak 5,0 25 25 25 25 3 Asimbo 5,0 25 25 25 25 4 Sitronellol 5,0 25 25 25 25 5 Bioprotektor-2 5,0 25 25 25 25 6 Azadirachtin 5,0 25 25 25 25 7 Stopper 25 Ec 2,0 25 25 25 25 8 Kontrol - 25 25 25 25

sampel tanaman yang diamati

Keterangan :

1. Dipilih 100 bh sehat yang ukurannya ± 9 cm diberi tanda yang akan dipanen pada akhir peneltian (tergantung ketersediaan bh jika ukurannya ± 9 cm).

2. Buah yabg sudah siap panen ditentukan tingkat kemasakan sesuai kategori kerusakan.

3. Tingkat kerusakan akibat helopeltis dihiyung setiap kali panen.

4. Data yang diperoleh setiap panen dan panen akhir yang ukuran dipilih pada awal penelitian ± 9 cm.

5. 1 ml/200 ml air/pohon 100 ml/20.000 ml/100 pohon 6. 100 ml/20 l air/100 pohon 10 x aplikasi = 1000 ml=1L

v v v v v v v v v

46 Lampiran 6. Kuesioner

Form : Petani

Kuesioner Sosek Kakao

1. Nama Desa : ... - Kecamatan : ... - Kabupaten : ... - Propinsi : ... 2. Nama Reponden : ... - Umur Responden : ...

- Pengalaman berusahatani Kakao : ...

2. Nama Reponden : ...

- Umur Responden : ...

- Pengalaman berusahatani Kakao : ...

3. Pemilikan kebun kakao berapa persil ? ... ...

- Umur masing-masing tanaman - Persil 1 : Luas : ... ha, umur tanaman : ... tahun - Persil 2 : Luas : ... ha, umur tanaman : ... tahun - Persil 3 : Luas : ... ha, umur tanaman : ... tahun 4. Asal bibit dari : ...

Jenis/varietas : ...

Bentuk bibit : Polibag/biji 5. Tanaman kakao berbuah pertama kali pada umur ... tahun 6. Produksi optimal pada umur berapa tahun ? ...

47 II. Budidaya kakao (saat ini)

1. Penyiangan tanaman

- Per tahun berapa kali ? : ... kali - Upah penyiangan/ha : Rp. ...

- Atau per ... : Rp. ...

- Kemampuan menyiang/orang/hari : ...ha ?/tan ? - Upah tenaga kerja menyiang/hari : Rp. ...

2. Pemupukan tanaman - Berapa kali dilaksanakan pemupukan ? ... kali - Jenis pupuknya apa dan harganya berapa ? * Pupuk ... harga Rp. .../...

* Pupuk ... harga Rp. .../...

* Pupuk ... harga Rp. .../...

- Bulan apa saja pemberian pupuk ? * Bulan ...

- Dosis pemberian pupuk * Pupuk ... = ... kg/...

* Pupuk ... = ... kg/...

* Pupuk ... = ... kg/...

- Sistim upah memupuk : harian/borongan ? ...

- Upahnya : Harian = Rp. .../HOK Borong = Rp. .../HOK - Kemampuan meupuk/orang/hari mendapat ... ha atau ... tanaman 3. Wiwil tanaman kakao

- Per tahun berapa kali ? : ... kali - atau per bulan berapa kali ? : ... kali - Kemampuan seorang melakukan wiwil tanaman per orang/hari

mendapat ... tanaman atau ...

48 4. Pengendalian Hama dan Penyakit

- Per tahun berapa kali ? ... kali/... - Obatnya apa saja ?

* Obat ... harga obat .../Rp. ... * Obat ... harga obat .../Rp. ... * Obat ... harga obat .../Rp. ... - Per sekali semprot habis obat berapa tangki semprot

* Obat ... habis ... tangki * Obat ... habis ... tangki * Obat ... habis ... tangki - Alat semprot yang digunakan volume ... liter

- Dosis obat yang digunakan ?

* Obat ... dosis ... /liter air * Obat ... dosis ... /liter air - Menyemprot, selesai berapa hari/jam ? ... - Upah menyemprot/hari = Rp. ... 5. Panen buah kakao

- Berapa minggu sekali dilaksanakan panen ? ...

- Perolehan buah sekali panen berapa kg ? ... kg buah ... kg biji basah ... kg biji kering - Total produksi per tahun = ... kg biji kering

- Kemampuan seorang panen/hari mendapat ... kg biji basah - Panen diborongkan atau dipanen sendiri ? ... - Kalau diborongkan sistimnya ...

Upahnya berapa = Rp. ...

- Upah tenaga kerja memanen = Rp. .../HOK

- Bentuk pemanenan sampai dengan buah saja atau sudah dikupas/dibuka ? ...

Dokumen terkait