Program rehabilitasi mangrove hadir sebagai upaya penanggulangan hutan mangrove yang sudah rusak di Desa Muara. Kegiatan rehabilitasi mangrove oleh CSR PT Pertamina ini melibatkan masyarakat Desa Muara sebagai pelaksana aktif dalam kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut meliputi pencarian benih mangrove di alam, penyemaian, penanaman, dan pemeliharaan. Untuk melakukan kegiatan tersebut penyelenggara program rehabilitasi mangrove mengajak masyarakat yang bersedia untuk ikut dalam kegiatan rehabilitasi dengan membentuk kelompok. Pada
awal kegiatan kelompok tersebut diberi nama sebagai kelompok “tanam-semai-
pelihara”. Kelompok ini memiliki struktur keanggotaan. Kelompok memiliki empat koordinator, yang terdiri dari koordinator tanam, koordinator semai, koordinator pendidikan dan koordinator umum. Koordinator umumlah yang mengetuai seluruh keanggotaan kelompok.
Menurut Nasdian (2005) tipologi kelembagaan komunitas lokal
“dikonstruksi” berdasarkan dua variabel pokok, yaitu: tinggi rendahnya “keseimbangan pelayanan-peranserta” dalam suatu kelembagaan dan (2) berfungsi- tidaknya good governance dalam suatu kelembagaan. Sehingga keberlanjutan suatu kelembagaan dapat dilihat dari tinggi-rendahnya keseimbangan pelayanan- peranserta dan berfungsi-tidaknya good governance. Berfungsi-tidaknya good governance dapat dilihat dari empat indikator yaitu demokrasi, transparansi, akuntabilitas, dan jejaring kelembagaan.
Keseimbangan Pelayanan-Peranserta
Keseimbangan pelayanan-peranserta merupakan keseimbangan antara pelayanan dan peran serta masyarakat di dalam proses pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove. Tingkat keseimbangan pelayanan-peranserta diukur dengan memberikan sembilan pertanyaan tertutup kepada anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Pertanyaan sangat setuju/setuju/tidak setuju/sangat tidak setuju diberikan, kemudian diakumulasikan dengan indeks skala ordinal. Jumlah dan persentase anggota kelompok berdasarkan keseimbangan pelayanan-peranserta disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keseimbangan pelayanan-peranserta di Desa Muara Tahun 2015
No Pelayanan–Peranserta Jumlah Persentase (%)
1 Tinggi 27 100.0
2 Rendah 0 0.0
Total 27 100.0
Tabel 12 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keseimbangan pelayanan-peranserta di Desa Muara. Sebanyak 100.0 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan keseimbangan pelayanan-peranserta termasuk dalam tingkatan tinggi. Persentase jumlah anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keseimbangan pelayanan-peranserta dapat terlihat jelas pada Gambar 7.
Gambar 7 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keseimbangan pelayanan-peranserta di Desa Muara Tahun 2015
Pelayanan yang didapatkan anggota kelompok berupa penyuluhan terkait mangrove dan rehabilitasi mangrove, penyediaan fasilitas untuk kebutuhan rehabilitasi mangrove melalui ketua kelompok, kunjungan ke kawasan mangrove, dan lainnya. Sedangkan peranserta anggota sangat terlihat dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove. Pelaksanaan kegiatan mangrove sepenuhnya dilakukan oleh anggota kelompok program rehabilitasi dengan didampingi oleh petugas lapangan. Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove meliputi pencarian benih, penyemaian, penanaman di lapang, dan pemeliharaan. Kegiatan tersebut dilakukan oleh anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Petugas lapang hanya memberi intruksi seperti jumlah tanaman, jarak tanam, dan lokasi penanaman. Meskipun petugas lapang juga memberi teknik dan cara menanam, namun masyarakat sudah memiliki kemampuan dalam menanam mangrove. Seperti yang diungkapkan oleh AMN,
“Cara penanaman sebenarnya masyarakat desa lebih paham bagaimana
untuk menanam pohon mangrove”─AMN
Sehingga masyarakatpun diberi kesempatan untuk menanam dengan cara yang biasa mereka lakukan dalam menanam mangrove. Sedangkan lokasi penanaman dan jumlah tanaman tergantung pada perencanaan yang sudah dibuat oleh penyelenggara progam. Peranserta anggota kelompok kurang terlihat dalam perencanaan kegiatan terkait kegiatan rehabilitasi mangrove.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Rendah Per sen
Good Governance
Good Governance merupakan tata kelola kelembagaan yang dapat dilihat dari empat indikator yaitu demokrasi, transparansi, akuntabilitas, dan jejaring kelembagaan.
Demokrasi
Demokrasi merupakan proses pengambilan keputusan yang ditetapkan melalui musyawarah bersama anggota. Tingkat demokrasi diukur dengan memberikan tiga pertanyaan tertutup kepada anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Pertanyaan sangat setuju/setuju/tidak setuju/sangat tidak setuju diberikan, kemudian diakumulasikan dengan indeks skala ordinal. Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat demokrasi disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan demokrasi di Desa Muara Tahun 2015
No Demokrasi Jumlah Persentase (%)
1 Tinggi 0 0.0
2 Rendah 27 100.0
Total 27 100.0
Tabel 13 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat demokrasi pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Sebanyak 100 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menyatakan tingkat demokrasi pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara berada pada tingkatan rendah. Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat demokrasi dapat lebih jelas terlihat pada Gambar 8.
Gambar 8 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarakan demokrasi di Desa Muara Tahun 2015
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Rendah Per sen
Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove bergantung pada instruksi pihak penyelenggara program. Khususnya pada PT Pertamina sebagai penyedia dana. Sehingga pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove dapat dilakukan ketika dana dari Pertamina telah tersedia. Adapun proses pengambilan keputusan oleh penanggung jawab program/proyek. Seperti yang diungkapkan AMN sebagai koordinator umum kelompok bahwa
“perencanaan dan pengambilan keputusan dilakukan oleh penyuluh atau pemegang proyek. Kemudian pelaksanaan proyek bergantung pada penyedia dana, Pertamina. Kegiatan dapat terlaksana ketika dana dari Pertamina telah tersedia. Jika dana telah tersedia maka pelaksanaan penanaman mangrove bisa satu kali per bulan atau per dua bulan”─AMN
Pengambilan keputusan berkaitan dengan jumlah bibit yang akan ditanam, lokasi penanaman, jumlah upah yang dibayarkan, dan waktu penanaman dilakukan oleh penanggung jawab program/proyek. Anggota kelompok rehabilitasi mangrove hanya menerima perintah, kemudian melaksanakannya. Bahkan bagi sebagian anggota kegiatan ini dianggap sebagai pekerjaan. Sehingga menganggap dirinya sebagai karyawan dalam kegiatan rehabilitasi mangrove tersebut.
Transparansi
Transparansi merupakan kemudahan mengakses informasi secara benar dan memadai terkait pengelolaan berbagai kegiatan di kelompok oleh anggota maupun pihak yang berkenpentingan. Tingkat transparansi diukur dengan memberikan tiga pertanyaan tertutup kepada anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Pertanyaan sangat setuju/setuju/tidak setuju/sangat tidak setuju diberikan, kemudian diakumulasikan dengan indeks skala ordinal. Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat transparansi disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan transparansi di Desa Muara Tahun 2015
No Transparasnsi Jumlah Persentase (%)
1 Tinggi 22 81.5
2 Rendah 5 18.5
Total 27 100.0
Tabel 14 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat transparansi pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Sebanyak 81.5 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat transparansi kelompok rehabilitasi mangrove berada pada tingkatan tinggi. Sedangkan sebanyak 18.5 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat transparansi kelompok rehabilitasi mangrove berada pada tingkatan rendah. Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat partisipasi dapat dilihat secara jelas pada Gambar 9.
Gambar 9 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan transparansi di Desa Muara Tahun 2015
Semua informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove disampaikan petugas lapangan kepada anggota kelompok melalui ketua kelompok atau koordinator umun dalam kelompok. Penyampaian informasi biasanya dilakukan sehari sebelum pelaksanaan penanaman. Informasi yang diberikan yaitu terkait tentang waktu pelaksanaan penanaman, lokasi penanaman, jumlah penanaman, jarak tanam, dan cara penanaman. Kemudian informasi umum lainnya yang berkaitan dengan pentingnya mangrove juga disampaikan dalam penyuluhan yang diselenggarakan oleh petugas lapangan pada saat sebelum kegiatan rehabilitasi.
Terkait keuangan kelompok, anggota tidak mengetahui jumlah dana yang diberikan penanggung jawab program/proyek untuk kegiatan ini. Namun kelompok sudah memiliki kesepakatan terkait jumlah upah untuk setiap benih atau bibit yang ditanam.
Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan pelaporan dari pengurus atau koordinator kepada anggota kelompok ataupun dari kelompok kepada pihak-pihak terkait lainnya dalam program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Tingkat akuntabilitas diukur dengan memberikan empat pertanyaan tertutup kepada anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Pertanyaan sangat setuju/setuju/tidak setuju/sangat tidak setuju diberikan, kemudian diakumulasikan dengan indeks skala ordinal. Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat akuntabilitas disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat akuntabilitas pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Sebanyak 85.19 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat akuntabilitas program rehabilitasi mangrove di Desa Muara berada pada tingkatan rendah. Sedangkan sebanyak 14.81 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat akuntabilitas program rehabilitasi mangrove di
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Rendah Per sen
Desa Muara berada pada tingkatan tinggi. Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat akuntabilitas dapat dilihat secara jelas pada Gambar 10.
Tabel 15 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan akuntabilitas di Desa Muara Tahun 2015
No Akuntabilitas Jumlah Persentase (%)
1 Tinggi 4 14.8
2 Rendah 23 85.2
Total 27 100.0
Gambar 10 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan akuntabilitas di Desa Muara Tahun 2015
Kelompok tidak memiliki laporan kegiatan maupun laporan keuangan kelompok. Laporan kegiatan dibuat oleh petugas lapangan yang kemudian dilaporkan kepada penanggung jawab program/proyek. AMN mengungkapkan,
“biasanya petugas lapang mencatat di lapang, nanti dia yang buat laporan ke atasan (pemegang program/proyek), baru dilapor ke
Pertaminanya”─AMN
Sedangkan laporan kegiatan dan laporan keuangan kepada anggota kelompok pun tidak ada. Hal ini disampaikan oleh AMN sebagai koordinator umum kelompok rehabilitasi mangrove,
“kalo laporan tertulis ke anggota sih ga ada. Mereka mah asal sudah dibayar saja ya udah, jadi kelompok ini ga ada laporan-laporan tertulis
gitu”─AMN
Kemudian terkait keuangan diurus oleh petugas lapangan yang kemudian disampaikan kepada koordinator umum. Pembagian upah didasarkan pada jumlah benih yang di dapat dan jumlah bibit yang ditanam. Penentuan jumlah upah per benih/bibit sudah ditentukan oleh petugas lapangan. Sehingga tidak ada uang kelompok, karena pembagian upah langsung kepada masing-masing anggota.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Rendah Pesen
Jejaring Kelembagaan
Jejaring kelembagaan merupakan relasi kerjasama atau interaksi yang terbangun antar kelembagaan di dalam dan di luar kelompok rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Tingkat jejaring kelembagaan diukur dengan memberikan sepuluh pertanyaan tertutup kepada anggota kelompok rehabilitasi mangrove. Pertanyaan sangat setuju/setuju/tidak setuju/sangat tidak setuju diberikan, kemudian diakumulasikan dengan indeks skala ordinal. Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat jejaring kelembagaan disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan jejaring kelembagaan di Desa Muara Tahun 2015
No Jejaring Kelembagaan Jumlah Persentase (%)
1 Tinggi 6 22.2
2 Rendah 21 77.8
Total 27 100.0
Tabel 16 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan jejaring kelembagaan pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Sebanyak 77.8 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat jejaring kelembagaan program rehabilitasi mangrove di Desa Muara berada pada tingkatan rendah. Sedangkan sebanyak 22.2 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat jejaring kelembagaan pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara berada pada tingkatan tinggi. Persentase jumlah anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat jejaring kelembagaan dapat dilihat secara jelas pada Gambar 11.
Pihak-pihak atau lembaga-lembaga yang terlibat langsung dalam kelangsungan kegiatan rehabilitasi mangrove yaitu Pertamina, Trisakti, IPB, Perhutani dan pemerintah desa. Pertamina sebagai penyelenggara dan penyedia dana. Trisakti sebagai penanggung jawab program/proyek rehabilitasi mangrove. IPB sebagai penyedia petugas lapangan. Ketiga lembaga inilah yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan program rehabilitasi mangrove. Sedangkan Perhutani sebagai pemilik lahan hutan mangrove di Desa Muara belum menunjukkan kepeduliannya untuk ikut bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove. Perhutani hanya memperbolehkan lahannnya untuk ditanami mangrove oleh kelompok rehabilitasi mangrove. Hal ini diungkapkan oleh AMN,
“kepedulian Perhutani sangat rendah terhadap lahan mangrove di desa ini. Tidak ada pengawasan dari Perhutani kemudian kepedulian masyarakat rendah, maka mudah sekali untuk merusak hutan mangrove
Gambar 11 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan jejaring kelembagaan di Desa Muara Tahun 2015
Meskipun saat ini banyak lahan-lahan perhutani yang di klaim oleh “bos-
bos” di Desa Muara, namun beberapa “bos-bos” tersebut masih bersedia memperbolehkan lahan-lahan kosongnya ditanami mangrove oleh kelompok program rehabilitasi mangrove. Pemerintah desa juga belum memberikan dukungan secara nyata terhadap kegiatan rehabilitasi mangrove, namun pemerintah desa hanya memberikan perizinan untuk melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Peran pemerintah desa sendiri hanya ikut dalam beberapa pertemuan yang diadakan oleh penyelenggara program rehabilitasi.
“pemerintah desa ga terlalu terlibat sih dalam kegiatan penanaman mangrove, paling kalo ada event mereka suka diundang. Itu paling staf-
stafnya yang dateng”─AMN
Meskipun terdapat ekowisata di Desa Muara, namun kelompok rehabilitasi mangrove belum melakukan kerja sama dengan pihak pengelola ekowisata. Meskipun terdapat salah salah satu anggota kelompok program rehabilitasi mangrove yang sering menyewakan perahunya kepada pengelola ekowisata untuk kebutuhan wisatawan. Namun hal tersebut belum dijadikan peluang untuk melakukan kerja sama antara pengelola ekowisata dengan kelompok program rehabilitasi mangrove.
Keberlanjutan Kelembagaan
Kelembagaan dapat diartikan sebagai wadah ataupun sebagai norma. Kelembagaan sebagai wadah dapat dikatakan sebagai lembaga sedangkan kelembagaan sebagai norma dapat dikatakan sebagai pranata. Koentjaraningrat (1990) menyebutkan perbedaan antara pranata dan lembaga. Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus, sedangkan lembaga atau institut adalah badan atau oranisasi yang melaksanakan aktivitas itu. Kelompok program rehabilitasi mangrove yang dibuat oleh penanggung jawab program/proyek dapat dikatakan sebagai pranata. Karena di dalam kelompok program rehabilitasi tersebut terdapat interaksi antar sesama
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tinggi Rendah Per sen
anggota dan antar anggota dengan di luar anggota, kemudian adapun norma atau aturan mengenai aktivitas rehabilitasi mangrove. Meskipun tidak ada norma atau aturan tertulis, namun terdapat pola-pola interaksi yang terbentuk baik antar sesama anggota maupun antar anggota dengan diluar anggota.
Selain sebagai pranata, kelompok program rehabilitasi juga dapat dikatakan sebagai wadah atau lembaga. Karena kelompok ini dibentuk secara sengaja untuk keperluan kegiatan rehabilitasi mangrove. Kelompok ini juga memiliki struktur keanggotaan, yaitu memiliki koordinator-koordinator dan pembagian kelompok sesuai bidang penanam dan penyemai.
Keberlanjutan kelembagaan dapat dilihat dari tinggi rendahnya
“keseimbangan pelayanan-peranserta” dalam suatu kelembagaan dan berfungsi- tidaknya good governance dalam suatu kelembagaan. Berdasarkan hasil perhitungan pada masing-masing indikator dari keberlanjutan kelembagaan tersebut, maka tingkat keberlanjutan kelembagaan kelompok program rehabilitasi dapat diukur melalui penjumlahan skor terhadap lima variabel tersebut, kemudian di kategorikan menjadi dua kategori yakni, sustain dan unsustain seperti pada Tabel 17.
Tabel 17 Jumlah dan persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keberlanjutan kelembagaan di Desa Muara Tahun 2015
No Keberlanjutan Kelembagaan Jumlah Persentase (%)
1 Sustain 7 25.9
2 Unsustain 20 74.1
Total 27 100.0
Tabel 17 menunjukkan sebaran anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keberlanjutan kelembagaan pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara. Sebanyak 74.1 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat keberlanjutan kelembagaan berada pada kategori unsustain. Sedangkan sebanyak 25.9 % anggota kelompok rehabilitasi mangrove menunjukkan tingkat keberlanjutan kelembagaan komunitas Desa Muara dalam rehabilitasi mangrove berada pada kategori sustain. Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan tingkat keberlanjutan kelembagaan komunitas dapat dilihat secara jelas pada Gambar 12.
Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada beberapa lembaga terkait. Lembaga tersebut yaitu Pertamina, Trisakti, dan IPB. Ketiga lembaga inilah yang berperan penting dalam keberlanjutan kelembagaan kelompok program rehabilitasi mangrove. Karena sistem sosial yang dibentuk dalam kegiatan rehabilitasi mangrove lebih kepada sistem buruh yang diupah. Artinya anggota kelompok program rehabilitasi akan melakukan penanaman jika ada upah yang diterima. Pendanaan untuk upah secara keseluruhan dari Pertamina, kemudian dikelola oleh penanggung jawab program/proyek dari akademisi Trisakti dan selanjutnya dilaksanakan langsung oleh petugas lapangan dari akademisi IPB. Maka kerjasama ketiga pihak/lembaga ini penting dalam keberlanjutan kegiatan rehabilitasi mangrove.
Gambar 12 Persentase anggota kelompok rehabilitasi mangrove berdasarkan keberlanjutan kelembagaan di Desa Muara Tahun 2015
Dalam perencanaan, kegiatan rehabilitasi mangrove ini akan dilaksanakan minimal dalam tiga tahun. Namun bisa diperpanjang sesuai kesepakatan dengan pihak CSR Pertamina. Kelembagaan ini masih belum mandiri dalam arti masih bergantung pada ketiga lembaga terkait lainnya. Kemudian salah satu petugas lapangan mengaku perlu mengadakan kerja sama dengan pihak Perhutani untuk menguatkan kelembagaan rehabilitasi mangrove. Petugas lapang tersebut pernah mengajukan kerja sama dengan pihak Perhutani sebagai pemilik lahan hutan mangrove di Desa Muara. Sampai saat ini belum ada tanggapan positif dari Perhutani terkait kerja sama tersebut. Beliau berharap dengan adanya kerja sama dengan Perhutani, kegiatan rehabilitasi akan terus berjalan meskipun program rehabilitasi mangrove yang diselenggarakan oleh Pertamina telah selesai.
“kawasan penanaman sebenernya memasuki kawasan Perhutani, namun telah mendapat izin untuk melakukan penanaman mangrove. Pengennya bener-bener kerjasama jadi kaya kegiatan di LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), nah pengennya kedepannya seperti itu jadi lembaganya kuat, ga cuma sekedar bergantung pada Pertamina doang. Cuma mungkin untuk mengarah kesana masih dalam proses” ─ GHN (Petugas lapangan)
Hal ini dikarenakan diharapkan dengan adanya kerjasama dengan Perhutani melalui LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) maka kelembagaan akan semakin kuat. Sehingga meskipun nantinya jika program ini selesai, masyarakat masih terus melakukan rehabilitasi dan konservasi mangrove bersama Perhutani. Karena pada dasarnya masyarakat sendiri tidak memiliki lahan di sana. Lahan tempat mereka melakukan kegiatan rehabilitasi mangrove, dari mencari bibit, menyemai, dan menanam adalah milik Perhutani. Salah satu upaya yang pernah dilakukan adalah dengan menulis surat kepada Perhutani membahas terkait perhatian Perhutani yang masih kurang kepada hutan lindung mangrove dan masyarakat Desa Muara. Namun hal tersebut juga masih belum mendapat tanggapan dari pihak perhutani.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sustain Unsustain
“ini juga sudah menulis surat ke Perhutani tapi kenyataannya di lapangan tidak ada. Jadi belum ada kaya kerja bareng dengan Perhutani. Kan kita inginnya di lapang ada dari Perhutani-nya yang minimal ngontrol. Karena kan masyarakat lebih takut yang seperti itu. Misalnya ga akan ngerusak lingkungannya”─ GHN (Petugas lapangan)
Kurangnya kepedulian Perhutani terhadap hutan mangrove juga menjadi salah satu sebab sulitnya melakukan kerjasama kegiatan rehabilitasi mangrove dengan Perhutani. Hal ini dikarenakan hutan mangrove merupakan hutan lindung, sedangkan Perhutani lebih fokus pada hutan produksi yang dapat menhasilkan nilai ekonomi. Hal tersebut pun diungkapkan oleh salah satu petugas lapangan untuk kegiatan rehabilitasi mangrove.
“sebenernya kan pengennya kita kerja sama juga dengan Perhutani, cuma kan Perhutani lebih concern ke ekonomi yah. Sedangkan di sana (Desa Muara) lebih ke hutan lindungnya…. Karena mangrove ga memungkinkan untuk produksi jadi hutan lindung. Nah biasanya karena dianggap ga ada uangnya jarang ada monitoring disana (Desa Muara) dan suka
disalahgunakan sama “mandor-mandor” yang dikenal masyarakat
sebagai “bos-bos” yang membuat lahan tersebut menjadi tambak” ─ GHN (Petugas lapangan)
Adanya kelembagaan ini bertujuan untuk mengembalikan eksistensi hutan mangrove yang telah rusak. Maka keberlanjutan kelembagaan menjadi penting. Namun kelompok ini masih memiliki kelemahan dalam kemandirian kelembagaan. Artinya keberlanjutan kelembagaan bergantung pada kelembagaan lainnya. Pertamina sebagai penyelenggara kegiatan rehabilitasi mangrove menjadi satu- satunya lembaga penting yang dapat mempertahankan keberadaan kelompok program rehabilitasi mangrove tersebut. Kecuali adanya kerjasama dengan Perhutani melalui LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) yang dapat berperan dalam mengelola kegiatan rehabilitasi mangrove tersebut. Mengingat keseluruhan kawasan mangrove di Desa Muara adalah milik Perhutani, maka Perhutani memiliki kewajiban untuk melakukan pengelolaan bersama masyarakat tersebut.
Ikhtisar
Kegiatan rehabilitasi mangrove dapat dikatakan sebagai suatu pranata ataupun juga sebagai lembaga. Kegiatan rehabilitasi mangrove dikatakan sebagai pranata karena dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi mangrove terdapat pola- pola interaksi antar sesama anggota dan antar anggota dengan pihak di luar anggota. Kemudian ada juga norma atau aturan yang terbentuk untuk mengatur pola interaksi tersebut. Kegiatan rehabilitasi mangrove ini juga dapat dikatakan sebagai sebagai suatu lembaga. Karena dalam pelaksanaannya kegiatan ini membentuk kelompok yang terdiri dari masyarakat Desa Muara. Kelompok ini memiliki struktur dan pembagian peran. Kelompok inilah yang selalu terlibat aktif dalam pelaksanaan rehabilitasi mangrove.
Keberlanjutan kelembagaan dapat dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya pelayanan-peranserta dan berfungsi-tidak good governance. Berfungsi-tidaknya good governance dapat dilihat dari demokrasi, transparansi, akuntabilias, dan jejaring kelembagaan. Dalam penelitian ini tinggi-rendahnya pelayanan dan peran- serta dilihat dari keseimbangan antara pelayanan yang diberikan dengan
keterlibatan peran dan serta masyarakat dalam proses manajemen. Tingkat demokrasi dilihat dari pengambilan keputusan yang ditetapkan melalui musyawarah bersama anggota. Tingkat transparansi dilihat dari kemudahan mengakses informasi secara benar dan memadai terkait pengelolaan berbagai kegiatan di kelompok oleh anggota maupun pihak yang berkepentingan. Tingkat akuntabilitas dilihat dari ada/tidaknya laporan dari pengurus kelompok kepada anggota ataupun dari kelompok kepada pihak terkait lainnya. Tingkat jejaring kelembagaan dilihat dari relasi kerjasama atau interaksi yang terbangun antar kelembagaan di dalam dan di luar komunitas.
Tingkat keseimbangan pelayanan dan peran-serta pada program rehabilitasi mangrove di Desa Muara berada pada tingkatan tinggi. Hal ini dikarenakan selain kelompok mendapatkan pelayanan yakni berupa informasi terkait mangrove dan