BAB 1 PENDAHULUAN
2.2 Kebermaknaan Hidup dalam Perspektif Islam
Sejatinya hidup ini memberikan pertanyaan kepada manusia untuk apa mereka diciptakan. Hidup bukan sebatas tentang rutinitas bangun di pagi hari dan tidur kembali saat malam tiba. Hidup juga bukan sekedar memenuhi segala keinginan dan menolak hal-hal yang tidak diinginkan. Ada hal yang sangat mendasar dalam hidup ini yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya, yakni tentang tujuan kehidupan.
Muthahhari (dalam Bastaman, 2007:246) mengemukakan tentang tujuan-tujuan hidup manusia, antara lain: menyempurnakan akhlak, sadar akan potensi dan mengaktualisasikannya sebagai perbaikan diri, menggapai kebahagiaan serta menjauhi penderitaan. Meski demikian, perlu diketahui bahwa puncak segala tujuan hidup ialah melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan begini tujuan-tujuan lain bisa teroptimalisasi. Sama halnya dengan sumber kebermaknaan hidup experiential values, dimana banyak orang yang mampu menemukan makna hidup dari keyakinan beragamanya. Seringkali experiential values/pengalaman beragama (dalam islam) mempengaruhi seseorang dalam mengambil creativitas values dan attitudinal values. Contoh, orang yang memiliki pengalaman beragama (experiential values) mengesankan tentang bershodaqoh, maka Ia akan menumbuhkan nilai-nilai kreatif dalam hidup dengan membangun lembaga-lembaga penyaluran infaq dan shodaqoh, atau ketika Ia sedang terhimpit kebutuhan ekonomi sedangkan pada sisi lain Ia menyaksikan banyak orang-orang yang lebih membutuhkan, boleh jadi sikap yang Ia ambil ialah tidak enggan membagi rizki kepada orang yang dinilai membutuhkan tersebut.
Bastaman (2007:246) menyebutkan bahwa kebermaknaan hidup yang diusung sebagai tujuan logoterapi telah sejalan dengan tujuan agama islam, yakni menghendaki terciptanya manusia yang sehat secara mental dan mantab dalam beragama (religiusitas). Integrasi antara kesehatan mental dan kesadaran beragama melahirkan manusia-manusia yang di dalam Al-Quran disebut dengan “ulul albab” (karakter terpuji yang memaksimalkan akal budi, iman, dan ketakwaan).
Lebih lanjut Bastaman (2007:247) menerangkan dalam islam makna hidup tertinggi/paripurna diperoleh seseorang dari iman, ketaqwaan kepada Tuhan, dan kecintaan terhadap Rasulullah. Hal ini dapat tercermin dari kisah sahabat-sahabat nabi dalam mempertahankan keimanannya. Salah satunya Bilal bin Rabbah, seorang budak Umayah bin Kholaf (pimpinan kaum kafir Quraisy) yang memeluk agama islam pada masa-masa awal dakwah Rasulullah. Banyak orang kafir yang menyiksa para budak dan kaum lemah yang memeluk agama islam, termasuk Bilal bin Rabbah. Setiap siang dengan terik matahari yang membakar ubun-ubun Bilal diperintahkan untuk membuka baju kemudian Umayah berkali-kali mencambuk punggungnya. Hal ini dimaksudkan agar Bilal menyerah dan kembali mengikuti agama kaum Quraisy (menyembah berhala). Namun nyatanya, siksaan tersebut tidak membuat Bilal goyah, setiap kali cambuk dipukulkan ke punggungnya justru secara lantang Bilal mengucapkan kalimat tauhid. Semakin bertambah siksaan yang diterima (lehernya diikat dengan tali, lalu ditarik oleh para algojo menyusuri padang pasir yang sangat panas) semakin bertambah pula kecintaannya dan keimananya kepada Allah.
Islam menempatkan “keimanan kepada Tuhan” sebagai puncak dari segala tujuan kehidupan, pun alasan dari segala perilaku yang dilakukan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56 sebagai berikut:
لااو نلجا تقلخ امو
.تياراذلا( نودبعيل لاا سن
56
)
Artinya: Aku tidak menciptakan jin manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Shihab (2002:356) menjelaskan tentang tafsiran ayat diatas bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk memerintahkan mereka beribadah kepada-Nya, bukan karena Allah butuh terhadap manusia. Ayat tersebut dengan jelas telah memberikan pemahaman bahwa penciptaan manusia di dunia ini bukan sekedar untuk menghabiskan jatah usia lalu mati. Allah SWT menghidupkan manusia dengan maksud agar mereka beribadah/menyembah-Nya, artinya yang butuh kepada “ibadah” adalah manusia itu sendiri, sebagai pemenuhan atas perintah sang khaliq (Allah) terhadap makhluk (manusia). Ibadah sendiri mencakup ibadah mahdhah (murni) dan ibadah ghairu mahdhah (tidak murni). Ibadah yang ketentuannya (baik syarat, rukun, kadar, waktu maupun bentuknya) telah diatur oleh Allah disebut ibadah mahdhah, misalnya syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji (rukun islam). Sedangkan ibadah ghairu mahdhah merupakan segala bentuk aktivitas (baik lahir maupun batin) yang dilakukan oleh manusia dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya pergi ke sekolah dengan niat ibadah, menolong orang dengan niat ibadah, membeli keperluan dengan niat ibadah, dan lain sebagainya.
Tendensi manusia untuk senantiasa mengabdi dan mendekatkan diri kepada Tuhan akan menjadikan kehidupannya penuh dengan ketenangan dan jauh dari kesedihan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yunus ayat 62 di bawah ini:
مه لاو مهيلع فوخلا الله ءايلوا نا لاا
.سنوي( نونزيح
62
)
Artinya: Ingatlah para wali-wali (kekasih Allah) itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Shihab (2002:64) dalam tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa yang dimaksud auliya’ ialah jamak dari kata “wali” yang dasar maknanya berarti dekat. Kemudian berkembang beberapa pemaknaan baru seperti pelindung, yang mencintai, pembela, pendukung, lebih utama, dan lain sebagainya. Intinya semua pemaknaan tersebut disandarkan pada pengertian dekat/kedekatan. Berdarkan keterangan ini, dapat diketahui secara gamblang keterkaitannya dengan cerita Bilal bin Rabbah pada paragraf terdahulu. Bilal memiliki kecintaanya kepada Allah dan hasrat membela agama-Nya yang begitu besar, sebab itulah Bilal tidak pernah merasa takut dan bersedih. Meski harus menerima siksaan yang teramat berat, kenyataannya iman dan rasa cintanya tidak berkurang sedikitpun.
Majid (dalam Bastaman, 2007:xxi) mengungkapkan manusia yang bersedia mengakui (melalui keyakinan) bahwa kenyataan hakiki terdiri atas hal-hal gaib di luar keberadaannya, mereka itulah orang-orang yang mampu merasakan makna keimanan yang menjadi dasar keberhasilan menemukan makna dalam kehidupan. Artinya, makna hidup hanya dapat diraih oleh mereka yang mampu memantabkan keimanan kepada Tuhan. Islam melalui kitab suci
(Al-Quran) menggambarkan segala hal yang sifatnya transidental, seperti kehidupan akhirat, hisab, mizan, pertanggungjawaban amal, dan perjumpaan dengan Tuhan, yang sejatinya menjadi tujuan dan makna hidup manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 115 sebagai berikut:
نونمؤلما( نوعجرت لا انيلا مكناو اثبع مكانقلخ انما متبسحفا
. 115
)
Artinya: maka apakah kamu (manusia) mengira bahwa kami (Tuhan) menciptakan kamu secara percuma/sia-sia/tanpa makna?, dan bahwa kamu semuanya tidak akan kembali kepada Tuhan?.
Ayat ini sebenarnya mengandung penegasan bahwa manusia hidup di dunia ini memiliki pemaknaan. Makna hidup tersebut ialah kembali kepada Tuhan. sehingga segala hal yang ia kerjakan semasa hidup di dunia akan dipertanggungjawabkan ketika Ia menghadap Tuhan. sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqoroh 156.
...
ةرقبلا( نوعجار هيلا نااو لله ناا ولاق
. 156
)
Artinya: …Katakanlah sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita semua kembali kepada-Nya.
Kesadaran bahwa kelak akan kembali kepada Tuhan membuat manusia bersikap senantiasa mengagungkan-Nya, berbakti dan beribadah. Pertalian hubungan antara hamba (manusia) dan Allah (pencipta) ini dikenal dengan istilah Hablumminallah, pertalian ini yang mendasari manusia dapat menjalin hubungan baik antar manusia (Hablumminannas). Hasrat untuk berbakti kepada Tuhan (ibadah) bersifat naluriah, sekaligus merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Sebab setiap nyawa dalam kandungan melontarkan perjanjian primodial terhadap
Tuhan (bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah). Penjelasan dalam Al-Quran surat Al-A’rof ayat 172 sebagai berikut:
ىلب ولاق .مكبرب تسلا .مهسفنا ىلع مدهشاو مهتيرذ مهروهظ نم مداا نىب نم كبر ذخا ذاو
.فارعلاا( .ينلفاغ اذه نع انك ناا ةمايقلا موي اولوقتنا نادهش
172
)
Artinya: dan ingtalah ketika tuhanmu mengeluarkan dari tulang belakang (sulbi) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) “bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab “betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi (kami lakukan yang demikian itu)” agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.
Tugas menghamba/beribadah inilah yang diemban manusia selama hidup di dunia. Oleh karenanya, manusia senantiasa memerlukan Tuhan untuk menuntun hidupnya, disinilah peran agama (Islam) sebagai fitrah yang diturunkan dari langit (fitrah manzulah) yang berfungsi menjaga fitrah dari lahir (fitrah al-majbulah). Kehidupan manusia menjadi terarah, bermakna, dan bertujuan ketika naluri “untuk mengbamba” tersebut dapat tersalurkan dengan benar, sebaliknya ketika naluri ini tersalurkan pada hal yang keliru, yang dialami tiada lain melainkan kesesatan dalam hidup.