• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.2 Kebertahanan Leksikon Kelautan Bahasa Kei dan Kelestarian Lingkungan Kelautan di Kepulauan Kei

6.2.1 Kebertahanan Leksikon Kelautan Bahasa Kei

Perubahan selalu terjadi, baik zaman, peradaban, maupun segalanya berubah. Tidak ada yang dapat menyalahkan perubahan, hanya tergantung individu yang mengalami perubahan itu, apakah ia dapat menyikapinya dengan bijak atau tidak. Perubahan harusnya tidak diterima sepenuhnya dan tidak berarti meninggalkan kebiasaan yang lama. Kebiasaan lama biasanya sudah berakar kuat dan selaras menyatu dengan lingkungan sekitar dan menjadi bagian dari adat budaya. Kondisi geografis Ohoi Warbal yang dikelilingi oleh laut menyebabkan sebagian besar masyarakat Ohoi Warbal berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Sehubungan dengan itu, masyarakat Ohoi Warbal pada umumnya menggantungkan hidup sepenuhnya pada alam sekitarnya, baik ikan dan hasil laut maupun tumbuhan dan hewan di sekitarnya yang bermanfaat sebagai bahan makanan, obat-obatan, bahan baku membuat rumah, dan sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat mengenal dan mengakrabi jenis-jenis ikan, hewan (baik di darat maupun di sekitar laut), tumbuhan dan alat tangkap ikan yang memberikan manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan mereka dan akhirnya leksikon-leksikon itu terkonsep ke dalam kognisi atau pikiran. Dengan demikian, tumbuh perilaku konservatif atau protektif terhadap lingkungan, khususnya lingkungan kelautan di Ohoi Warbal yang

memang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat secara turun temurun. Hal ini seperti yang dinyatakan Mbete (2010) bahwa perilaku konservatif sebagai

“perilaku atau tindakan yang menjaga, merawat, juga menggunakan secara terukur agar tidak punah dan tetap awet. Perilaku tersebut dapat dilihat pada cara penangkapan ikan di Ohoi Warbal, seperti yang dituturkan Bapak Pit Tawaerubun (hal. 171) berikut ini.

11. P : Semua ikan apa saja bisa tangkap kapan-kapan saja, cuma skarang karena ikan di dalam teluk ini su kurang dan masih kecil-kecil jadi dong su atur bagaimana pi tangkap ikan, supaya skarang pi tangkap atau pancing di luar teluk saja. Biar dapat ikan yang besar saja to..!

Apabila dikaitkan dengan penangkapan ikan, sebenarnya orang Kei dulu sudah memiliki satu petuah yang menjadi rambu-rambu bagi mereka sendiri. seperti yang dikatakan Bapak Pit Tawaerubun (hal. 171).

11. P : Begini…sekarang itu katong su jaga ketat orang pancing deng jaring ikan.

Jadi Raynold to, skarang dong bilang seng boleh pancing di sini, seng boleh pancing di sana , seng boleh pake alat ini, seng boleh pake alat itu, par tangkap ikan, karena katong pung anak cucu masih ada lai. Itu kan berhubungan dengan orang tatua dong punya fangnanan (nasihat) kaya begini. Teten rasib ne (orang tua berpesan) tabatang nuhu met if o did koko famur. Kita pelihara hasil darat dan laut ini untuk anak cucu kita.

Data seng boleh pancing di sini, seng boleh pancing di sana, seng boleh pake alat ini, seng boleh pake alat itu, (tidak boleh pancing di sini, tidak boleh pancing di sana, tidak boleh pakai alat ini, tidak boleh pakai alat itu), antara lain berkaitan dengan, larangan pemanfaatan sumber daya laut dengan memanfaatkan peralatan, semisal pukat harimau, atau bom, atau racun ikan (bore), atau ghost net yang berlebihan karena dapat merusak biota laut. Peribahasa atau ungkapan ta-batang nuhu met i fo did koko famur “Peliharalah alam ini untuk anak cucu kita”

mengandung makna menjaga keseimbangan lingkungan darat dan laut agar tetap lestari untuk generasi berikutnya. Perilaku konservatif guyub tutur terhadap lingkungan yang menyiratkan kedekatan dan keakraban dengan lingkungan alam sehingga tumbuh rasa hormat dan takut turun-temurun. Selain itu, dalam mengolah alam warga guyub tutur seharusnya juga memperhitungkan keseimbangan alam karena keseimbangan menjadi pendukung kelestarian alam dan isinya. Kadang-kadang persahabatan manusia dengan alam membuahkan keuntungan bagi manusia itu sendiri. Hal ini dibuktikan melalui kisah berikut (hal.

172).

12. P: Oh iya, jadi burung gereja itu seng perna terbang sampe di laut. Jadi, kalau dong ada pancing, lalu ada sekumpulan burung gereja ada terbang bermain di atas laut, maka pasti dong dapa ikan banyak. Pokoknya kuat tarik ikan saja. Itu dong pung rejeki sudah.

Berkaitan dengan perilaku konservatif, yang perlu dipertahankan adalah tidak boleh menyombongkan diri atau kerendahan hati. Contohnya ada hal-hal tertentu yang sebaiknya dihindari seperti penuturan Bapak Pit Tawaerubun (hal.

172).

13. R : Om, kalau mau pi pancing atau sementara pancing di laut, ada kata-kata yang tabu yang seng boleh katong bilang ka senga? Kalau ada, apa itu?

P : Kayaknya seng ada, yang penting jangan beribut saja. Kalau dalam katong pung bahasa itu tang bivir kawit haid (tidak boleh ribut).

R : Oh iya om, lalu kalau beta di tengah laut apa yang tidak boleh beta bilang? Mungkin seng boleh bilang nama ikan apa ka? Atau nama tumbuhan apakah begitu?

P : O… kalau itu seng ada, Cuma inga minta permisi untuk penguasa tempat itu. kalo di sini biasa di tiap tempat di laut sana ada dong punya penjaga.

Jadi katong minta permisi saja, itu pasti katong dapa ikan banyak. Ada satu lai ini, katong seng boleh berbangga diri, dengan seng bole berbahasa yang kasar atau bernada keras, dan menunjukkan kebolehan.

Jadi, dengan laut pun penutur bahasa Kei harus bertutur secara lembut dan ramah, tidak boleh dikasari, atau tidak boleh bising jikalau ada di laut itu.

Kebisingan berarti menyebabkan adanya pencemaran bunyi atau juga berarti mengusik ketenangan suasana, khususnya akan mengganggu penjaga tempat itu.

Perilaku tak boleh sombong juga menjadi tanda ihwal bersahabat dan sikap rendah hati dengan alam laut khususnya yang memberikan mereka hidup berupa protein ikan dan kehidupan rohaniah dalam arti luas. Selain itu, referen tumbuhan, hewan dan alat tangkap itu masih banyak ditemui dan hidup atau tumbuh di sekitar lingkungannya, bahkan leksikon-leksikon tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hingga saat ini masyarakat Ohoi Warbal masih sangat akrab dengan leksikon tumbuhan, hewan, dan alat tangkap, baik yang berhubungan dengan tumbuhan dan hewan maupun alat tangkap tradisional tersebut. Sikap setia dan bangga menggunakan bahasa daerah merupakan perilaku positif yang harus ditanamkan kepada penutur bahasa, dalam hal ini penutur bahasa Kei di Ohoi Warbal baik generasi muda maupun tua. Hal ini dapat dilihat dari sikap penutur bahasa Kei di Ohoi Warbal yang lebih menghargai orang yang menggunakan bahasa Kei dalam percakapan dibandingkan dengan yang menggunakan bahasa Indonesia, walaupun lawan bicaranya adalah masyarakat setempat.

Hal lainnya adalah nelayan di Ohoi Warbal juga memiliki rasa empati terhadap ikan tangkapannya. Untuk mendapatkan ikan (semua jenis) yang banyak, mereka bisa dikatakan menghindari apa yang dikatakan sebagai pantangan, yaitu

tidak boleh membawa bekal (makan dan minum) jika ingin melaut. Berikut penuturan Pit Tawaerubun (hal. 172).

15. P: …Kalau mau pi pancing ka atau biking jaring ka atau mau pi cari apa saja di laut sana seng boleh bawa bekal atau makanan (enbal, nasi, roti) dan minuman (air). Karena kalau bawa itu pasti katong seng dapa ikan atau hasil, karena ikan ini dong mangkali seng mau dapa dong gampang-gampang saja kaapa? Lalu, karena katong pi ini par mencari bukan pi peknik. Jadi katong betul-betul mau berusaha. Katong susah-susah dolo to baru dapa barang bai te.

P : Oh iya, satu lai ini, keadaan rumah harus tenang dan kalau ada orang datang jangan berikan.

6.2.2 Kebertahanan Ungkapan-Ungkapan Bahasa Kei dalam Menjaga