PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PENCURIAN HEWAN MELALU
A. Sejarah Kebudayaan Tapanuli Selatan (Padang Lawas Utara)
A.2. Kebiasaan Adat yang Tumbuh di Padang Lawas Utara
a. Macam-macam acara adat yang dibesarkan di Padang Lawas Utara
Oleh karena tujuan adat untuk mengakrabkan Ikatan-Kekeluargaan, maka berdasarkan kepada itu ada hal yang dibesarkan oleh adat. Yang temasuk dalam wilayah adat Tapanuli Selatan (Mandina, Padangsidimpuan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara) mempunyai empat kebiasaan adat yang wajib dipestakan atau adat yang dibesarkan, yaitu:166
a. Patandahon anak tubu (memperkenalkan anak yang lahir)
Adat Dalihan-Natolu dari masyarakat Padang Lawas Utara sifatnya kolektif kecuali istri dianggap kepunyaan bersama, walau ada batas-batas tentang hal pemilikan itu. Karena itu disebut Amangta = Bapak Kita, Inangta = Ibu kita, Bagasta = Rumah kita, anakta = anak kita dan sebagainya. Karena sudah disebut anakta yang berarti anak bersama, maka setiap orang mempunyai kewajiban menjadikan anak itu menjadi orang yang baik dan berguna kepada masyarakat. Sebab itulah maka anak perlu diberitahu akan kehadirannya, supaya mendapat pengawasan dari masyarakat tersebut.
b. Haroan boru (meresmikan perkawinan anak laki-laki)
Haroan boru atau dalam bahasa sehari-hari pabagas anak artinya mengawinkan anak laki-laki adalah satu dari empat acara-adat yang dibesarkan oleh masyarakat Padang Lawas Utara.
166
H. Anwar Harahap, Buku Pusaka Warisan Marga-Marga Tapanuli Selatan Turun Temurun 1 (Falsafah Adat), (Jakarta Pusat; PT Jayakarta Agung Offset; 1990), OpCit, Hal.55-67
c. Hamatean (upacara adat kepada orang yang meninggal)
Pada acara adat kepada orang yang meninggal ini mempunyai makna seseorang lahir diperkenalkan kepada masyarakat, dewasa menjadi anggota masyarakat (berumah tangga), dibesarkan menurut acara adat dan dia meninggal juga dilepas menurut acara-adat. Semua orang tahu secara resmi, semua perbuatannya yang baik-baik dipaparkan didepan orang banyak (anggota masyarakat) supaya dicontoh dan dikembangkan oleh anggota masyarakat yang masih hidup terutama keturunannya (anak cucu) yang masih tertingggal. Maka demikian akan berkembanglah kebaikan dimuka bumi ini.
d. Mangondot bagas naimbaru (memasuki rumah baru)
Bagas atau rumah juga mendapat perhatian dalam adat Padang Lawas Utara. Malahan memasuki rumah baru yang didirikan sendiri ataupun yang dibeli dengan hasil uang sendiri menurut adat harus dibesarkan, dan termsuk salah satu dari acara- adat yang empat dibesarkan itu. Banyak acara yang dialaksanakan dalam mangondot bagas naimbaru ini. Tetapi yang paling utama adalah acara Mora terhadap Anakborunya. Jadi kebalikan dari acara hamateam acara-adat Anakboru terhadap Moranya. Seseorang yang telah mampu mendirikan rumah ini berarti orang itu sudah menerima Tuah. Dalam adat yang memberi tuah adalah mora. Maka dari itu pihak Mora lah yang memberi peran utama dalam acara-adat mangondot bagas naimbaru ini.
Tiga hal yang berturut merupakan terminal-terminal dalam garis hidup yang dilalui setiap orang lahir, dewasa, dan meninggal. Sedangkan yang keempat
memasuki rumah baru. Rumah tempat berlindung dan titik tolak kegiatan setiap hari selama hidup, juga mendapat perhatian khusus dalam adat karena itu dibesarkan dalam adat Dalihan-Natolu, dari keempat hal yang dibesarkan dalam adat Dalihan- Natolu itu, hanya pada acara Hamatean (mengadati orang yang meninggal) tidak dibarengi dengan pangupa, pembacaan pesan dari nenek moyang kepada generasi berikutnya.167
b. Upacara Mangupa(Pengertian, Tujuan dan Sasaran Pangupa)
1. Pengertian:168
a. Mangupa adalah suatu acara adat dengan menyampaikan pesan-pesan dan petunjuk kepada orng yang diupa.
b. Pangupa adalah alat atau sarana yang dibaca pada waktu upacara mangupa. Dengan perkataan lain, pangupa adalah buku bacaan yang berisi petunjuk dan pesan agar selamat dalam menempuh kehidupan.
2. Tujuan:169
Tujuan dari mangupa adalah memperkuat tondi atau mengembalikan tondi kedalam tubuh agar yang diupa tegar dalam menghadapi tantangan apapun dapat hidup normal kembali seperti biasa apabila tondinya sudah hilang.
Dengan kata lain, tujuan acara mangupa itu ialah untuk memulihkan semangat yang tadinya seakan-akan melayang atau kelimbugan, ataupun menguatkan kembali
167
Ibid
168
Pandapotan Nasution, Adat Buadaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman, (Medan; FORKALA Prov. Sumut, 2005), OpCit. Hal.172-173
169
semangat (spirit) yang tadinya mengalami goncangan (shock of spirit) dengan harapan supanya utuh kembali.
3. Sasaran:170
Sasaran dari pangupa adalah tondi,171perkataan tondi tidak dapat dipisahkan dari kata pangupa. Orang yang gila atau orang yang ruasak akal dianggap tidak martondi. Badan sehat, jiwa (roh) nya ada, tetapi karna tondinya tidak ada sebagai penuntun badan kasar dan jiwa, maka ia menjadi manusia yang tidak normal. Itulah sebabnya tondi itu harus tetap bersatu dengan badan seseorang. Disinilah pangupa memengang peranan
4. Bahan-bahan, Tingkatan dan Isi Pangupa Ada macam-macam tingkatan pangupa, yaitu:172 a. Pangupa pira manuk (telur ayam)
Pangupa yang paling sederhana, pangupa ini terdiri dari: nasi putih dan air bening, diatasnya telur dan garam. Terletak diatas pinggan godang (piring besar). Yang hadi biasanya hanya yang satu rumah.
b. Pangupa manuk (ayam)
Sama seperti diatas, bedanya yang hadir anggota keluarga dan kaum kerabat
170
Ibid
171
Tondi adalah tenaga spritual yang memllihara jasmani dan rohani agar serasi, selaras, dan seimbang dalam kehidupan seseorang ditengah-tengah pergaulan bermasyrakat. Menurut Lompo Pangihutan Hasibuan: dalam pandangan adat, manusia seutuhnya terdiri dari tiga unsur, yaitu: Badan, Jiwa (roh)dan Tondi. Badan adalah jasad yang kasar , terlihat dan teraba. Jiwa (roh) adalah benda abstrak yang menggerakkan badan kasar tadi. Tondi adalah benda abstra yang mengisi dan menuntun badan kasar dan jiwa tadi dengan tuah sehingga seseorang kelihata berwibawa dan punya marwah. (L.P. Hasibuan, 1989:25)
172
H. Anwar Harahap, Buku Pusaka Warisan Marga-Marga Tapanuli Selatan Turun Temurun 1 (Falsafah Adat), (Jakarta Pusat; PT Jayakarta Agung Offset; 1990), OpCit, Hal. 84
lainnya, untuk isi meteri pangupa ditambah seekor ayam baik yang di panggang maupun digulai diatas nasi putih tersebut.
c. Pangupa hambeng (kambing)
Dengan pangupa hambeng, biasanya pangupa ini dilakukan pada acara yang benar-benar merupakan acara resmi. Pada acara resmi potongan kambing yang bagian-bagian tertentu yang dijadikan sebagai bahan pangupa, yang dijadikan pangupa adalah kepala kambing.untuk yang hadir sebagai undangan lebih lengkap ditambah namora natoras.
d. Pangupa horbo (kerbau)
Pangupa horbo adalah pangupa yang paling tinggi yang biasanya merupakan pangupa yang dilakukan pada acara-acara yang diadakan raja-raja dan turunannya. Pada acara tersebut khusus dipotong bagian-bagiannya yang tertentu dipergunakan untuk pangupa, sebagian lagi untuk diberikan kepada tamu-tamu raja-raja adat yang ikut pada acara makkobar (menyampaikan pesan) adat dalam keadaan mentah. Sisanya dimasak untuk disajikan pada tamu-tamu yang datang.