Indeks preponderan adalah gabungan metode frekuensi kejadian dan volumetrik. Makanan ikan adalah organisme hidup baik tumbuhan ataupun hewan yang dapat dikonsumsi ikan di habitatnya, dapat berupa tumbuhan (makrofita), algae, plankton, ikan, udang, cacing, benthos, dan serangga atau larva serangga. Menurut Nikolsky (1963) dalam Asyari (2011) urutan kebiasaan makanan ikan dikategorikan ke dalam tiga golongan yaitu pakan utama, pelengkap, dan tambahan. Sebagai batasan yang dimaksud dengan pakan utama adalah jenis pakan yang mempunyai index of preponderan lebih besar dari 25%, pakan pelengkap mempunyai index of preponderan antara 4- 25%, sedangkan pakan tambahan memiliki index of preponderan kurang dari 4%.
IPi= Vi x Oi
Keterangan:
Ipi = Indeks Preponderam
Vi = Presentase volume satu macam makanan
Oi = Presentase frekuensi kejadian satu macam makanan ∑(VixOi) = Jumlah Vi x Oi dari semua jenis makanan
Kelompok pakan utama : IP > 25% Kelompok pakan pelengkap : 5% ≤ IP ≤ 25% Kelompok pakan tambahan : IP < 5%
2.6.2 Indeks Pilihan
Effendi (1997) mengatakan populasi spesies mangsa yang padat pada satu habitat tidak selalu membentuk satu bagian penting di dalam diet ikan pemangsa. Dalam beberapa hal, ikan selektif terhadap sesuatu yang dimakannya, biasanya sekali ikan itu mulai makan terhadap makanan tertentu, ia cenderung meneruskan makanan itu. Pernyataan Rahardjo (1987), mengenai makanan ikan benteur di Rawa Bening membuktikan bahwa jenis makanan ikan akan berbeda pada tempat dan waktu yang berbeda (Larger 1972 dan Effendi 1997). Penilaian kesukaan ikan terhadap makanannya sangat relatif. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam hubungan ini ialah penyebaran organisme makanan ikan, ketersediaan makanan, pilihan ikan terhadap makanannya, serta faktor-faktor fisik yang mempengaruhi perairan (Effendi, 1997).
E=ri− pi ri+ pi Keterangan :
E = indeks pilihan
ri = jumlah relatif macam-macam organisme yang dimakan pi = jumlah relatif macam-macam organisme dalam perairan Nilai indeks pilihan ini berkisar antara +1 sampai -1,
0 < E < 1 : pakan digemari -1 < E < 0 : pakan tidak digemari
E = 0 : tidak ada seleksi oleh ikan thp pakannya 2.6.3 Tingkat Trofik
Tingkat trofik adalah urutan-urutan tingkat pemanfaatan makanan atau material dan energi seperti yang tergambarkan oleh rantai makanan. Untuk mengetahui tingkat trofik ikan, ditentukan berdasarkan pada hubungan antara 22 tingkat trofik organisme pakan dan kebiasaan makanan ikan sehingga dapat diketahui kedudukan ikan tersebut dalam ekosistem dirumuskan sebagai berikut
Tp=1+∑(Ttp x li 100 )
Tp = Tingkat Trofik Ikan
Ttp = Tingkat trofik kelompok pakan ke-p
Li = Indeks bagian terbesar untuk kelompok pakan ke-p Kategori tingkat trofik ikan, yaitu:
Tingkat trofik 2 : ikan herbivora Tingkat trofik 2,5 : ikan omnivora
Berdasarkan penelitian mengenai kajian ekologi ikan kapiat, diketahui bahwa yang menjadi makanan utama bagi ikan kapiat adalah fitoplankton dengan IP masing-masing 92.05, 80.30 dan 70.40%. Tingginya nilai IP jenis fitoplankton di dalam usus ikan ini juga ditunjang oleh ketersediaan jenis makanan tersebut di 7 alam. Menurut Nikolsky (1963) dalam Luvi (2000), urutan kebiasaan makanan ikan terdiri dari makanan utama, pelengkap dan pengganti.
2.6.4 Kebiasaan dan Cara Makan Ikan
Kebiasaan makanan (food habits) dan kebiasaan cara memakan (feeding habits) merupakan dua istilah yang seringkali disalah artikan dalam penggunaannya. Yang termasuk dalam food habits adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan, sedangkan yang termasuk dalam feeding habits adalah waktu, tempat dan cara makanan itu didapatkan oleh ikan (Yasidi,2009).
Umumnya makanan yang pertama kali datang dari luar untuk semua ikan dalam mengawali hidupnya ialah plankton yang bersel tunggal yang berukuran kecil. Jika untuk pertama kali ikan itu menemukan makanan berukuran tepat
dengan mulutnya diperlirakan akan dapat meneruskan hidupnya. Tetapi apabila dalam waktu relatif singkat ikan tidak dapat menemukan makanan yang cocok dengan ukuran mulutnya akan menjadi kelaparan dan kehabisan tenaga yang mengakibatkan kematian. Hal inilah yang antara lain menyebabkan ikan pada waktu masa larva mempunyai mortalitas besar. Ikan yang berhasil mendapatkan makanan sesuai dengan ukuran mulut, setelah bertambah besar ikan itu akan merubah makanan baik dalam ukuran dan kualitasnya (Effendie, 2002).
Secara garis besarnya ikan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai ikan a Herbivor
Ikan ini tidak memiliki gigi dan mempunyai tapis insang yang lembut dapat menyaring phytoplankton dari air. Ikan ini tak mempunyai lambung yang benar (yaitu bagian usus yang mempunyai jaringan otot kuat, mengekskresi asam, mudah mengembang, terdapat di bagian muka alat pencerna makananya). Ususnya panjang berliku-liku dindingnya tipis.
b Karnivor
Ikan ini memiliki gigi untuk menyergap, menahan, dan merobek mangsa dan jari-jari tapis insangnya menyesuaikan untuk penahan, memegang, memarut, dan menggilas mangsa. Punya lambung benar, palsu dan usus pendek, tebal dan elastis.
c Omnivora
Ikan omnivora adalah ikan yang memakan sembarang materi dengan ukuran tertentu yang bisa masuk kedalam mulutnya. Ikan ini memiliki penyesuaian yang baik dengan berbagai makanan yang diberikan.
Ikan Mas termasuk kedalam golongan omnivora dan sangat rakus. Ia gemar mengaduk-aduk dasar perairan untuk mencari makan. Makanan alaminya meliputi tumbuhan air, lumut, cacing, keong, udang, kerang, larva serangga dan organisme lainnya yang ada di perairan baik yang terdapat pada dasar perairan, pertengahan maupun permukaan air (Zonneveld dkk. 1991).
Feeding habits adalah waktu, tempat dan cara makanan didapatkan (Effendie 2002). Apabila melihat dari morfologi, ikan mas memiliki mata yang
besar yang menandakan ikan mas mengandalkan penglihatannya untuk mencari makan dan berarti ikan mas mencari makan pada waktu terang. Ikan mas juga mencari makan dengan menyapu bagian dasar perairan. Untuk mencari makan ditandai dengan adanya misai didekat mulutnya, untuk merasakan adanya makanan pada dasar perairan.
2.7 Parameter Penunjang Fisik dan Kimiawi Kualitas Air