A. DEFINISI
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan atau dimiliki oleh Kementerian Hukum dan HAM sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
Dalam pengertian aset ini tidak termasuk sumber daya alam (hutan, sungai, danau/rawa, kekayaan di dasar laut dan kandungan pertambangan), dan harta peninggalan sejarah (seperti tugu peringatan/prasasti, bangunan bersejarah, dan barang bersejarah lainnya tetapi harus diungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan).
Aset Kementerian Hukum dan HAM diklasifikasikan menjadi aset lancar, aset tetap, dan aset lainnya.
B. ASET LANCAR
Aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset nonlancar. Aset lancar ini terdiri dari kas dan setara kas, piutang dan persediaan.
1. Kas dan Setara Kas
adalah uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan Kementerian Hukum dan HAM. Kas juga meliputi seluruh Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan, Saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat ditarik atau digunakan untuk melakukan pembayaran. Dalam pengertian kas ini juga termasuk setara kas yaitu investasi jangka pendek yang sangat likuid yang siap dicairkan menjadi kas yang mempunyai masa jatuh tempo yang pendek, yaitu 3 (tiga) bulan atau kurang dari tanggal perolehannya.
Kas dan Setara Kas terdiri dari :
a. Kas di Bendahara Pengeluaran, yaitu kas yang masih dikuasai dan dikelola Bendahara Pengeluaran yang berasal dari sisa Uang muka kerja atau Uang Persediaan (UP) dan Tambahan Uang Persediaan (TUP) yang belum dipertanggungjawabkan atau belum disetor kembali ke Kas Negara per tanggal neraca. Kas di Bendahara Pengeluaran mencakup seluruh saldo rekening Bendahara Pengeluaran, uang logam, uang kertas, dan lain-lain kas yang benar-benar ada pada Bendahara Pengeluaran per tanggal neraca (termasuk bukti pengeluaran yang belum dipertanggung-jawabkan);
Beberapa kemungkinan adanya kas pada Bendahara Pengeluaran dapat terjadi karena :
1) Adanya pendapatan yang telah diterima sebelum tanggal neraca namun sampai dengan tanggal neraca belum disetorkan ke kas Negara, meliputi:
- Bunga dan jasa giro rekening bendahara yang belum disetor ke kas Negara pada tanggal neraca.
- Pungutan pajak yang belum disetor ke kas negara pada tanggal neraca.
- Pendapatan hibah langsung berupa uang yang ditampung pada rekening bendahara pengeluaran.
- Pengembalian belanja yang belum disetor ke kas negara
2) Adanya kewajiban satker kepada pihak lain yaitu: jika ada dana yang berasal dari SPM LS kepada Bendahara Pengeluaran seperti uang honor atau SPPD yang belum dibagikan kepada pihak lain.
b. Kas di Bendahara Penerimaan, mencakup seluruh kas, baik itu saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai, yang berada di bawah tanggung jawab Bendahara Penerimaan yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas fungsional Kemenkumham terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yang berlaku pada Kementerian Hukum dan HAM. Saldo kas ini mencerminkan saldo yang berasal dari pungutan yang sudah diterima oleh Bendahara Penerimaan namun belum disetorkan ke Kas Negara;
c. Kas Lainnya dan Setara Kas, yaitu kas yang berada dibawah tanggung jawab Bendahara Pengeluaran yang bukan berasal dari Uang Persediaan (UP), baik itu saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai.
2. Piutang
Piutang adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah dan/atau kewajiban pihak lain kepada pemerintah sebagai akibat penyerahan uang, barang, dan jasa oleh pemerintah atau akibat lainnya berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
Piutang dikelompokkan menjadi :
a. Piutang Bukan Pajak (Piutang PNBP), adalah piutang yang berasal dari penerimaan bukan pajak yang belum dilunasi (dibayar) oleh pihak yang menerima jasa sampai dengan tanggal neraca;
b. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran, adalah merupakan reklasifikasi tagihan penjualan angsuran jangka panjang (aset lainnya) kedalam Piutang Jangka Pendek sebagai Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran karena akan jatuh tempo dalam tahun anggaran berikutnya.
Misalnya, Penjualan aset tetap Kementerian Hukum dan HAM seperti kendaraan roda empat atau penjualan rumah dinas kepada pegawai dengan cara mengangsur lebih dari 12 (dua belas) bulan disebut sebagai tagihan penjualan angsuran. Dari jumlah tersebut yang diakui sebagai
Bagian Lancar adalah jumlah yang akan diterima selama 12 (dua belas) bulan mendatang;
c. Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR).
Tuntutan Perbendaharaan (TP) ditujukan kepada Bendahara yang karena perbuatannya melanggar aset atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan aset, wajib mengganti kerugian tersebut. Sejumlah Kewajiban untuk mengganti kerugian tersebut dikenal dengan istilah Tuntutan Perbendaharaan (TP).
TP ini biasanya diselesaikan pembayaran selambat-lambatnya 40 (empat puluh) hari setelah ditandatangani SKTJM sehingga dineraca dimasukan dalam aset lainnya. Bagian Lancar TP merupakan reklasifikasi aset lain-lain berupa TP ke dalam aset disebabkan adanya TP Jangka Panjang yang jatuh tempo tahun berikutnya.
Tuntutan Ganti Rugi (TGR) ditujukan kepada Pegawai Negeri bukan bendahara atau pejabat lain dan pihak ketiga lainnya yang karena perbuatanya melanggar aset atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan aset, wajib mengganti kerugian tersebut. Sejumlah kewajiban untuk mengganti kerugian tersebut dikenal dengan istilah Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR). TGR ini biasannya diselesaikan pembayaran selambat-lambatnya 24 ( dua puluh empat ) bulan sehingga di neraca dimasukkan dalam aset lainnya. Bagian Lancar TGR merupakan reklasifikasi lain-lain aset berupa piutang TGR Jangka Panjang yang jatuh tempo tahun berikutnya.
C. PENGAKUAN
- Kas diakui pada saat kas diterima oleh bendahara penerimaan dan pada saat dikeluarkan oleh bendahara pengeluaran. Kas dijurnal di sebelah debet jika bertambah dan dijurnal di sebelah kredit jika berkurang.
- Piutang diakui sebesar Surat Ketetapan tentang Piutang yang belum dilunasi, atau pada saat terjadinya pengakuan hak untuk menagih piutang pada saat terbitnya Surat Ketetapan tentang Piutang.
D. PENGUKURAN
- Kas dicatat sebesar nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai rupiahnya.
Apabila terdapat kas dalam valuta asing, dikonversi menjadi rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
- Piutang dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang belum dilunasi.
E. PENGUNGKAPAN
Saldo Kas dan Piutang diungkap dalam neraca pada tanggal pelaporan serta rincian jumlah kas dan piutang disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan semester I dan Tahunan.
Apabila terdapat saldo penerimaan pada akhir tanggal pelaporan yang belum disetorkan dalam rekening bendahara penerima maka harus dituangkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
BAB V