KOMUNITAS-MULTIKULTURAL PADA MASA DAULAH UMAYYAH
A. Kebijakan Arabisasi dan Kecenderungan Multikultural
Sebagai dinasti pertama dalam Islam, Daulah Umayyah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan fondasi-fondasi kekuasaan Islam, termasuk juga dalam konteks pembangunan kebudayaannya. Namun mengkaji lebih lanjut terhadap kebudayaannya itu dari perspektif multikulturalisme pada masa kekuasaan Daulah ini seakan bersebrangan dengan pengetahuan sejarah Islam selama ini. Sebab, telah umum diketahui bahwa Daulah Umayyah, khususnya yang berpusat di Damaskus terkenal dengan kebijakan Arabisasi. Yakni kebijakan Arabisasi—yang menekankan mono-kulturalisme—justru merupakan anti-tesa atas multikulturalisme. Akan tetapi, sebagaimana pembahasan dalam bab ini, kebijakan politik-administratif tersebut tidak serta-merta meniadakan co-eksistensi dan signifikansi peran komunitas-komunitas non-Arab dalam konteks pembangunan kebudayaan dan peradaban Islam pada masa kekuasaan Daulah Umayyah di Timur maupun di Barat.
Seperti dijelaskan Gerald Hawting dalam bukunya The First
Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661-750, bahwa
arus “Arabisasi” tidak lebih dari sekedar konstruksi dan ekspansi kebudayaan yang ditandai dengan penggunaan bahasa Arab
di seluruh wilayah kekuasaan Islam (Daulah Umayyah) saat itu. Meskipun Arabisasi seringkali diasosiasikan dengan arus
Islamisasi, tetapi dalam banyak hal antara keduanya berbeda.
Hal ini ditunjukan oleh fakta bahwa beberapa komunitas, seperti golongan Yahudi dan Kristen tetap menjadi bagian penting dari kota Damaskus sejak dikuasai Daulah Umayyah. Baik golongan Yahudi maupun Kristen tetap mempertahankan tradisi keagamaan mereka meskipun mereka telah meninggalkan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan sebelum kedatangan Islam, dan menggantinya dengan bahasa Arab.1
Kecenderungan masyarakat non Muslim terhadap gelombang Arabisasi itu ternyata berbeda dengan sikap akomodatif golongan Yahudi dan Kristen di wilayah Persia. Di sana mereka justru menampilkan sebuah wajah kultural yang berbeda, hal mana hampir seluruh wilayah Persia menerima Islam sebagai agama baru, mereka tetap mempertahankan penggunaan bahasa pra-Islam, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam dunia literatur. Akan tetapi, penggunaan bahasa di wilayah Persia mengalami berbagai perubahan signifikan pada awal periode Islam.2
Sejarah juga mencatat bahwa kebudayaan Arab sendiri
mengalami berbagai perubahan, adaptasi, dan akomodasi terhadap budaya lain ketika Islam semakin tersebar di wilayah-wilayah kebudayaan non-Arab. Oleh karena itu, masyarakat non-Arab yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-harinya juga ikut mempengaruhi dialek dan pengucapan
1 Gerald R. Hawting, The first Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate
AD 661-750. (Southern Illinois: Southern Illinois University Press, 1987), p. 8.
bahasa Arab itu sendiri secara siginifikan. Bahasa Arab yang telah dipengaruhi oleh dialek masyarakat non-Arab ini dikenal sebagai
Middle Arabic, untuk membedakannya dengan Classical Arabic,
yaitu bahasa Arab yang berasal dari bahasa Alquran dan bahasa yang digunakan dalam penulisan syair Arab pra-Islam. Kemunculan dan karakter Classical Arabic sendiri merupakan topik yang masih dalam perdebatan para sejarawan. Faktor-faktor yang mendorong penerimaan (adoption) dan penolakan (rejection) terhadap bahasa Arab oleh para penduduk non-Arab merupakan hal yang kompleks. Sebab melibatkan faktor-faktor sosio-politis; tidak sekedar persoalan kebahasaan semata.
Di samping hal yang telah dijelaskan di atas, para sejarawan juga mengakui bahwa kajian tentang Arabisasi memiliki banyak kendala, khususnya ditinjau dari sisi sumber sejarah. Misalnya tentang komunitas Yahudi, bahwa diketahui secara umum komunitas Yahudi telah berkomunikasi dengan bahasa Arab pada awal abad ke-7 M. Namun diduga bahwa proses penggunaan bahasa Arab oleh komunitas tersebut berlangsung secara gradual, tidak terjadi dalam waktu sekejap. Hal ini terindikasi dari penemuan naskah paling tua dengan bahasa Judaeo-Arabic, yang berasal dari abad ke-9 M., dua abad setelah komunitas Yahudi mulai mengadopsi bahasa Arab sebagai lingua franca mereka. Varian bahasa Judaeo-Arabic merupakan bagian dari Middle
Arabic yang digunakan oleh komunitas Yahudi. Juadaeo-Arabic
justru masih menggunakan huruf Ibrani (Hebrew) daripada Arab (Arabic). Sementara itu, naskah Kristen-Arab tertua—dengan huruf Yunani, bukan Arab—berasal dari abad ke-8 M. Hal yang secara siginifikan ditunjukan oleh penduduk non-Arab di Persia. Mayoritas penduduk Iran tetap menggunakan bahasa Persia pada masa kekuasaan Daulah Umayyah. Meskipun demikian, hampir
seluruh sumber sejarah tentang Persia pada masa kekuasaan Daulah Umayyah ditulis dalam bahasa Arab.
Bukti yang lebih konkret diperoleh dengan ditemukannya sebuah dokumen administratif berbahan papirus dari Mesir. Meskipun dokumen administratif tersebut terbatas pada beberapa persoalan saja. Namun dari dokumen tersebut dapat diperoleh fakta tentang proses yang terjadi secara gradual dari penggunaan bahasa Yunani menjadi bahasa Arab sebagai bahasa administratif. Sejak abad ketujuh hingga beberapa abad selanjutnya, administrasi pemerintahan telah menggunakan bahasa Arab daripada bahasa-bahasa yang digunakan sebelum proses penaklukan oleh umat Islam. Hal ini menunjukan bahwa ada suatu saat ketika komunitas non-Arab memiliki peran signifikan di tengah dominasi bangsa Arab, setidaknya dalam konteks aktifitas-aktifitas administratif. Peran demikian didorong oleh ketergantungan yang relatif tinggi terhadap komunitas non-Arab, khususnya dalam dunia birokrasi pemeritahan Daulah Umayyah. Pergantian penggunaan bahasa dalam birokrasi pemerintahan Daulah Umayyah tentu saja tidak berlangsung dalam waktu singkat. Sumber-sumber sejarah yang ditemukan bahkan berbeda pendapat tentang proses awal pergantian tersebut. Akan tetapi dapat ditarik kesimpulan bahwa proses Arabisasi tetap berlangsung pada masa Daulah Umayyah.
Adopsi budaya Arab dilakukan secara optimal oleh bangsa Syiria, Irak, dan Mesir. Sementara itu, meskipun bangsa Berber dan Persia sama-sama memeluk Islam dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sakral agama mereka, kedua bangsa tersebut tetap mempertahankan bahasa asli mereka dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kelangkaan dan ketidakjelasan sumber sejarah tentang proses Arabisasi ini, tetap dapat diambil asumsi historis bahwa gelombang Arabisasi bersama-sama dengan proses
Islamisasi merupakan proses budaya mainstream sepanjang kekuasaan Daulah Umayyah.3
Dengan demikian, meskipun Daulah Umayyah terkenal dengan kebijakan politik Arabisasi, heterogenitas sosial dan kultural telah terwujud di bawah kekuasaan Daulah ini. Bangsa Muslim-Arab mulai melakukan kontak budaya dengan berbagai peradaban dunia yang lebih tua, misalnya Persia, Mesir, bahkan Eropa di semenanjung Iberia. Kondisi ini mendorong adanya saling-pinjam dan saling pengaruh-mempengaruhi antar entitas budaya tersebut. Akulturasi tersebut tentu tidak terlepas dari peran para khalifah Daulah Umayyah yang juga mendorong terjadinya proses akulturasi budaya tersebut. Aspek-aspek budaya yang paling menonjol dalam merepresentasikan bentuk-bentuk kreatif sebagai hasil dari silang-budaya tersebut di antaranya dalam aspek ilmu pengetahuan dan seni bangunan-arsitektural.