PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kondis Objektif Kopertais
1. Kebijakan dan Program WASDALBIN dalam Mewujudkan Akuntabilitas PTAIS
Bagian ini secara kronologis akan dikemukakan tiga pokok kajian, berkaitan dengan perencanaan kebijan WASDALBIN dalam mewujudkan akuntabilats PTAIS, meliputi: (1) dasar-dasar pertimbangan perencanaan kebijakan, (2)
tujuan, sasaran dan program kebijakan, (3) landasan yuridis yang memeyungi perencanaan kebijakan.
a. Dasar-dasar Pertimbangan Perencanaan Kebijakan WASDALBIN.
Sejak tahun 2003 Indonesia memiliki sebuah sistem pendidikan dan telah dikokohkan dengan Unndang-undang Nomor 20 tahun 2003, tentang USPN. Pembangunan pendidikan di Indonesia sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar, yakni; pertama, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansi pendidikan, ketiga, peningkatan kualitas pendidikan,
keempat, efisiensi pendidikan. Secara umum strategi itu dapat dibagi menjadi dua
dimensi yakni peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Pembangunan peningkatan mutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktivitas pendidikan. Sedangkan kebijakan pemerataan pendidikan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua anak usia sekolah. Pendidikan dipandang sebagai
katalisator yang dapat menunjang faktor-faktor lain. Artinya, pendidikan sebagai
upaya pengembangan SDM menjadi semakin penting dalam pembangunan suatu bangsa.
Kesempatan memperoleh pendidikan yang merata disemua kelompok strata dan wilayah tanah air sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya pemetintah menetapkan strategi dan kebijakan pendidikan, yaitu; (1) menyelenggarakan pendidikan yang relevan dan bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan global, (2)menyelenggarakan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemilik sumberdaya dan dana serta pengguna hasil pendidikan, (3) menyelenggarakan proses pendidikan yang demokratis secara profesional sehingga tidak mengorbankan mutu pendidikan, (4) meningkatkan efisiensi internal dan eksternal pada semua jalur, jenjang, jenis pendidikan, (5) memberi peluang yang luas dan meningkatkan kemampuan masyarakat, sehingga terjadi diversifikasi program pendidikan sesuai dengan sifat multikultural bangsa Indonesia, (6) secara bertahap mengurangi peran pemerintah menuju ke peran fasilitator dalam implementasi sistem pendidikan, (7) merampingkan birokrasi
pendidikan sehingga lebih lentur (fleksibel) untuk melakukan penyesuaian terhadap dinamika perkembangan masyarakat dalam lingkungan global
Perkembangan PT menuntut adanya otonomi yang lebih luas, agar proses pendidikan dapat dilakukan lebih efektif dan efisien. Hal ini tidak terlepas dari idealisme dan tujuan pemerintah yang tertuang pada USPN yang mengisyaratkan bahwa: “Peningkatan mutu pada setiap satuan pendidikan diarahkan agar penyelengaraannya memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Peningkatan
kualitas layanan pendidikan dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan. Tujuannya untuk menjamin agar proses penyelenggaraan pendidikan sesuai cita-cita dan harapan masyarakat”.
Pengelolaan PTAI dituntut memenuhi akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini dilandasi oleh adanya permasalahan pembangunan pendidikan dewasa ini terutama masalah tuntutan terhadap perguruan tinggi dewasa ini bukan hanya sebatas kemampuan untuk menghasilkan lulusan yang diukur secara akademik, melainkan keseluruhan program dan lembaga perguruan tinggi harus mampu membuktikan mutu yang tinggi yang dapat didukung oleh akuntabilatas yang tinggi pula. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, perguruan tinggi melalui progan studinya perlu memperoleh kepercayaan masyarakat dengan pernyataan jaminan kualitas atau mutu (quality
assurence), pengendalian mutu (quality control), perbaikan mutu (quality improvement). Jaminan, pengendalian, pembinaan atau perbaikan mutu itu hanya
dapat diberikan kepada perguruan tinggi atau program studi setelah kepadanya dilakukan evaluasi yang cermat melalui proses akreditasi secara nasional dialkukan olah BAN-PT.
Hal ini menjadi titik tolak perumusan visi Pendidkan Islam yang dicanagkan oleh Dirjen Penis Kemenag "Terbentuknya Peserta Didik yang
Cerdas, Rukun, Muttafaqqih fi al-Din dalam Rangka Mewujudkan Masyarakat yang Bermutu, Mandiri, Islami”.
Guna mencapai visi pendidikan Islam yang diharapkan, dengan misi
pelaksanaan melalui masing-masing jenisnya, sebagai berikut: (1)
bertradisikan pengajian dan kajian, kearifan lokal, berwatak kewirausahaan, berwawasan kebangsaan dan lingkungan, agar mampu mengembangkan potensi peserta didik dalam berpikir, berkarya, proaktif dalam merespons perkembangan teknologi, (2) mengembangkan madrasah yang mampu menghasilkan lulusan yang Islami, unggul dalam ilmu pengetahuan, bersikap mandiri, berwawasan kebangsaan; dengan proses penyelenggaraan yang bertumpu pada prinsip good
governance dan pemberdayaan masyarakat agar sanggup menyediakan layanan
pendidikan bagi anak usia madrasah, (3) menyelenggarakan pendidikan agama Islam pada satuan pendidikan terhadap seluruh peserta didik beragama Islam dengan mengedepankan nilai keislaman, kualitas pendidikan, penanaman keimanan dan ketakwaan, pembentukan akhlak mulia dan sikap toleran, dengan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, (4) mengembangkan PTI yang memiliki basis budaya riset sehingga mampu menghasilkan lulusan yang unggul dalam mengintegrasikan keilmuan dengan nilai keislaman, dilandasi penyelenggaraan pendidikan yang selaras dengan prinsip good governance, terintegrasi dengan pembinaan kepribadian,
pengembangan jaringan akademis, (5) meningkatkan kualitas manajerial dan tata kelola pendidikan Islam yang Islami berdasarkan prinsip akuntabilitas, transparansi, efisiensi; serta memiliki rancangan pengembangan yang visioner, (6) meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan guna memberikan masukan kepada pengambil keputusan dalam merumuskan kebijakan peningkatan mutu Pendidikan Islam, dan (7) menumbuhkan budaya pengawasan dan upaya preventif dengan pendekatan nilai-nilai keagamaan untuk menjadi fondasi bagi pengawasan melekat.
Penjabaran visi misi di atas, menjadi pokok-pokok kebijakan strategis, program, sasaran, pelaksanaan pembangunan pendidikan Islam yang dirancang dalam rencana strategis Dirjen Pendis, yang merupakan turunan dari misi yang diemban Dirjen Pendis, selanjutnya menjadi arah kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan agama Islam.
Sasaran dari tiga tema kebijakan strategis ditujukan secara khusus untuk
kurang beruntung secara ekonomi dan lembaga-lebaga pendidikan penendidikan Islam yang diselengarakan oleh masyarakat (swasta); kedua, peningkatan mutu pendidikan berorientasi pada mutu lulusan dan mutu pelayanan pendidikan; dan
ketiga, peningkatan kinerja aparat birokrasi pendidikan Islam melalui paradigma
yang berorientasi melayani, bukan dilayani. Selanjutnya penjabaran dari tiga tema kebijakan sekaligus menjadi program dan kegiatan pembangunan pendidikan Islam perluasan dan pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu relevassi dan daya saing, peningkatan tata kelola pemerintahan akuntabel dan pencitraan.
Program kegiatannya adalah: (1) perluasan dan pemerataan akses pendidikan: (a) peningkatan kapasitas daya serap PTAI, (b) pengembangan bantuan pembiayaan pendidikan, (c) pengembangan metode pembelajaran. (2) peningkatan mutu relepansi, daya saing: (a) peningkatan kapasitas institusi, (b) peningkatan mutu relevansi kurikulum dan metode pembelajaran, (c) peningkatan kapasitas profesi tenaga pendidik, (d) peningkatan bantuan penelitian, dan (e) peningkatan pemanfatan ICT. (3) peningkatan tata kelola pemerintahan (Governace), akuntabilitas, pencitraan; (a) pelatihan manajemen pendidikan, (b) pelatihan monitoring dan evaluasi hasil pembelajaran, dan (c) peningkatan bantuan manajemen pendidikan.
Dengan tercerminkannya program dan kegiatan tersebut di atas, selanjutnya menjadi kebijakan program dan anggaran yang akan menjadi tolak ukur kinerja pembangunan pendidikan Islam pada berbagai jenis, jenjang pendidikan terukur dari kemudahan, masyarakat dalam mengakses pelayanan pendidikan, mutu pendidikan, efisiensi serta efektifitas dalam pengelolaan pendidikan pada level birokrasi hingga tingkat satuan pendidikan tidak terkecuali pada PTAIS.
b. Tujuan dan Sasaran Program Kebijakan WASDALBIN.
Tujuan diberlakukannya kebijakan WASDALBIN ini sebagaimana tertuang dalam KMA nomor 156 tahun 2004 pasal 1 diktum (1) bahwa : Dalam rangka penjaminan akuntabilitas pengelolaan PTAI Ditjen Bagais melaksanakan kegiatan WASDALBIN terhadap PTAI. Sedangkan sasaran dari program ini diarahkan pada aspek tridharma perguruan tingi yang dirinci sebagai berikut; (1)
rencana induk pengembangan (RIP), (2) rencana strategis, (3) kurikulum, (4) tenaga kependidikan, (5) calon mahasiswa, (6) sarana dan prasarana yang meliputi: (ruang kuliah, ruang dosen, ruang seminar, laboratorium, perpustakaan, fasilitas komputasi, fasilitas teknologi informasi, perlengkapan pendukung pembelajaran, perlengkapan pendukung kegiatan kemahasiswaan, peralatan laboratorium, buku-buku dan dokumen pendukung), (7) penyelenggaraan pendidikan yang meliputi: (kuliah, praktikum, kegiatan terencana, pembimbingan, penilaian hasil belajar), (8) penyelenggaraan penelitian, (9) penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat, (10) kerjasama, meliputi: (tukar menukar sumber daya, kemahasiswaan, penelitian, penggembangan, penyelenggaraan program akademik (11) administrasi dan pendanaan program, meliputi: (ketertiban administrasi, pendanaan), (12) pelaporan kegiatan proses penyelenggaraan program studi). Keduabelas item kegiatan pengawasan, pengendalian pengelolaan perguruan tinggi tersebut, merupakan komponen yang mendukung terhadap pelaksanaan perguruan tinggi untuk berjalan baik guna memenuhi tuntutan yang telah ditetapkan stakeholder.
c. Landasan Yuridis yang Memayungi Kebijakan WASDALBIN.
Pengembangan kebijakan pengawasan, pengendalian dan pembinaan (WASDALBIN, dalam pengembangannya beranjak dari :
1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi; 3) Keputusan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
Tugas Pokok dan Fungsi, Kewenangan. Susunan Organisasi, tata Kerja Departemen Agama;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tantang Standar Nasional Pendidikan;
5) Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan
Pembangunan dan Pemberdayaan Aparetur Negara. Nomor
38/KEP/MK.WASPAN/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen, Angka Kredit.
6) Keputusan Menteri Agama Nomor 394 Tahun 2003 tentang Pedoman Pendirian Perguruan Tinggi Agama.
7) Keputusan Menteri Agama Nomor Nomor 155 Tahun 2004 tentang Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta
8) Instruksi Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Keputusan Menteri Agama Nomor 21 Tahun 2006 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Satuan Organisasi/Kerja di Lingkungan Departemen Agama RI;
2. Implementasi Kebijakan dan Program WASDALBIN dalam