• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN DAN STRUKTUR TATA KELOLA PERUSAHAAN

14 hari sejak tanggal putusan aquo, membayar ganti seluruh biaya kerugian dan bunga yang telah dikeluarkan Pemohon

KEBIJAKAN DAN STRUKTUR TATA KELOLA PERUSAHAAN

Untuk mendukung penerapan prinsip-prinsip GCG, Perseroan memberlakukan Pedoman Tata Kelola Perusahaan (Corporate

Governance Policy/CGP), Code of Conduct (CoC), Charter Dewan Komisaris, Charter Direksi, Charter-charter Komite Penunjang

Dewan Komisaris, Charter Internal Audit, Pedoman Kebijakan Manajemen Risiko, serta kebijakan-kebijakan lainnya. Secara berkala, kebijakan-kebijakan tersebut ditinjau ulang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di dunia usaha.

ulai and emen

esai. arkan yang

n dan juga

Struktur Tata Kelola

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT), struktur tata kelola Perusahaan secara garis besar tergambarkan pada organ utama Perusahaan yaitu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi.

Organ Perseroan tersebut memainkan peran kunci dalam keberhasilan pelaksanaan GCG. Organ Perseroan menjalankan fungsinya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, Anggaran Dasar Perseroan dan ketentuan lainnya atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ mempunyai independensi dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya untuk kepentingan terbaik Perusahaan.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan organ tertinggi yang memiliki wewenang yang tidak dilimpahkan kepada Dewan Komisaris dan Direksi. Direksi bertanggung jawab penuh atas pengelolaan Perusahaan sesuai amanah yang diberikan, sedangkan Dewan Komisaris melakukan pengawasan yang memadai terhadap pengelolaan yang dilakukan oleh Direksi serta melakukan penasihatan agar kinerja Perusahaan lebih baik. Dewan Komisaris dan Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS.

7. TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Tanggung jawab sosial (corporate social responsibility (CSR) Perseroan dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pemangku kepentingan. Pelaksanaannya merujuk pada Undang-Undang No.40 Tahun 2007, Bab V, Pasal 74 ayat (1). Selain itu pelaksanaan CSR Perseroan selaku BUMN juga mengacu pada Peraturan Menteri BUMN No.PER-09/MBU/07/2015 tertanggal 3 Juli 2015 mengenai Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara.

Untuk melengkapi keberadaan Laporan Tahunan, Perseroan telah melaporkan kegiatan keberlanjutannya di dalam Laporan Keberlanjutan sesuai dengan prinsip akuntabilitas sejak tahun 2010. Kedua laporan ini, yaitu laporan tahunan dan laporan keberlanjutan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi untuk memberikan informasi yang komprehensif kepada semua pemangku kepentingan, atas kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan.

Laporan Keberlanjutan Perseroan merupakan catatan kegiatan, strategi, capaian dan tantangan CSR dalam membangun nilai sosial dan menjaga lingkungan. Pelaporan ini mengacu pada pedoman Global Reporting Initiative (GRI) versi ke-4 atau GRI 4 (G4), lengkap dengan rujukan khusus pada jenis industri construction and real estate.

Di tahun 2015, Laporan Keberlanjutan Perseroan periode tahun 2014, berhasil meraih anugerah penghargaan sebagai juara 1 pada ajang Sustainability Reporting Award di Jakarta. Lebih jauh, laporan ini juga menjadi finalis pada ajang Asia

Sustainability Reporting Award yang diselenggarakan di Singapura. Capaian ini menunjukkan bahwa kami terus berkomitmen

untuk meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan dan pada waktu yang sama juga meningkatkan implementasi kegiatan CSR di lapangan.

Inisiatif Perseroan untuk lebih meningkatkan kinerja CSR, salah satunya yaitu dengan menyusun blueprint CSR yang mengacu pada pedoman ISO26000. Saat ini blueprint CSR Perseroan sedang dalam proses persetujuan oleh jajaran manajemen. Dengan adanya blueprint CSR, WIKA berharap kegiatan CSR akan lebih terarah dan mampu memberikan kontribusi positif, baik kepada semua pemangku kepentingan maupun kepada Perusahaan.

8. KESELAMATAN KERJA

Kebijakan

UU RI No.13/2013 tentang ketenagakerjaan Kebijakan Safety, Health, Environment PT Wijaya Karya (Persero) Tbk tanggal 23 Desember 2010. Kebijakan SHE yang terdapat dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Bab XV Pasal 72 tentang peyelenggaraan K3L dan Pasal 73 tentang Alat serta Perlengkapan Keselamatan Kerja dan Lingkungan.

Sertifikasi

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001:2007, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004

Implementasi

Terkait dengan ketenagakerjaan, Perseroan selalu mempertimbangkan kesetaraan gender dan menghindari semua praktik diskriminasi. Namun demikian, sesuai dengan jenis perusahaan yang bergerak di bidang EPC, maka jumlah pegawai laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita.

Semua pekerja Perseroan mendukung implementasi aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di seluruh bagian kegiatan operasional pekerjaan. Di samping itu, WIKA juga menerapkan SMK3, MK3L dan OHSAS 18001:2007. Sistem

Manajemen Safety, Health and Environment (SHE) WIKA dibentuk berdasarkan standar SMK3, MK3L dan OHSAS

18001:2007. Perseroan juga telah menerapkan DuPont Safety System pada beberapa proyek untuk meningkatkan

kepatuhan pelaksanaan K3 dan membentuk Site Implementation Team (SIT) demi tercapainya kecelakaan nihil.

Investasi

Biaya Pengelolaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Perusahaan hingga Juni 2016 sebesar Rp5,4 miliar.

9. PERLINDUNGAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

Kebijakan

Kebijakan Safety, Health, Environment (SHE) PT Wijaya Karya (Persero) Tbk tanggal 29 Januari 2015.

Sertifikasi Di Bidang Lingkungan

Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004.

Implementasi

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang EPC, Perseroan telah melakukan investasi yang mendukung kelestarian lingkungan. Perseroan telah beberapa kali mengaplikasikan konstruksi hijau (green construction) dan secara bertahap

menangani proyek bangunan yang ramah lingkungan (green building). Pembangunan green building menggunakan

material-material yang ramah lingkungan.

Salah satunya, pada pembangunan proyek MRT, Perseroan menjalankan program penyiraman setiap hari. Penyiraman dilakukan untuk mengurangi debu sebagai dampak negatif dari setiap pembangunan konstruksi. Di seluruh proyek yang dikerjakan, Perseroan memiliki tim untuk melakukan identifikasi dan pengawasan untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Demikian pula pada setiap pelaksanaan pekerjaan, Perseroan menerapkan penggunaan teknologi dan sistem yang dapat meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar proyek.

Perseroan selalu melakukan pengukuran udara di lokasi proyek untuk mencegah pencemaran. Disamping itu, Perseroan memastikan bahwa emisi dan debu akibat proses konstruksi tidak melebihi ambang baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Demikian pula dengan pengambilan air tanah di lokasi proyek, Perseroan memastikan bahwa pengeboran air tanah tidak merusak lingkungan.

Untuk memitigasi pencemaran tanah, limbah air bekas konstruksi selalu dikelola terlebih dulu, sebelum dibuang. Air bekas konstruksi akan ditampung dan diendapkan. Setelah jernih dan tidak mengandung zat berbahaya, baru air tersebut disalurkan untuk menyiram tanah atau pemanfaatan lainnya.

Terkait pengurangan emisi, Perseroan melakukan pendampingan di beberapa kampung binaan. Salah satu kampung binaan di Kecamatan Pamijahan, Perseroan menanam pohon sengon yang telah tumbuh subur. Atas upaya ini, pada tahun 2015, Perseroan mencatat penyerapan emisi karbon dari pohon sengon sebesar 1545965.58 tCO2e. Selain membantu menyerap karbon, tujuan penanaman pohon juga untuk memperbaiki kualitas lingkungan, khususnya penghijauan lahan kritis di daerah Pamijahan.

Kegiatan pelestarian lingkungan yang lain adalah penggunaan pupuk organik untuk memupuk pohon sengon yang ada di Kampung Binaan Perseroan di Pamijahan – Bogor. Pupuk kandang ini berasal dari program budidaya kambing bergilir yang dilakukan oleh Perseroan dan petani – petani yang ada di kampung binaan dengan sistem bagi hasil. Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan - bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bisa optimal.

Investasi

Selama dengan Juni 2016, Perseroan mengeluarkan biaya untuk program lingkungan (pelestarian alam) sebesar Rp315 Juta.

10.PROSPEK USAHA

Sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang besar merupakan potensi dan peluang bagi Indonesia untuk terus berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hingga saat ini, Indonesia telah berhasil memanfaatkan sumber dayanya dalam menjaga kestabilan perekonomian nasional, dan dianggap sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling stabil di dunia.

Namun dalam usahanya untuk memajukan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah menghadapi beberapa tantangan besar, di antaranya adalah ketidakmerataan persebaran ekonomi dan rendahnya daya saing produk yang terutama disebabkan oleh ketimpangan infrastruktur salah satunya jalan tol yang saat ini terpusat di