• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN DAN TUJUAN MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN

Dalam dokumen PT Ciputra Surya Tbk dan Entitas Anak (Halaman 60-63)

TOTAL LABA KOMPREHENSIF TAHUN

37. KEBIJAKAN DAN TUJUAN MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN

Kewajiban keuangan utama Kelompok Usaha meliputi utang bank, utang usaha dan lain-lain, beban akrual dan utang biaya pembangunan. Tujuan utama dari kewajiban keuangan ini adalah untuk membiayai operasi Kelompok Usaha. Kelompok Usaha juga mempunyai berbagai aset keuangan seperti piutang usaha, deposito berjangka, dan kas dan setara kas, yang dihasilkan langsung dari kegiatan usahanya.

_

Risiko utama yang timbul dari instrumen keuangan Kelompok Usaha adalah risiko suku bunga, risiko mata uang, risiko kredit dan risiko likuiditas. Kepentingan untuk mengelola risiko ini telah meningkat secara signifikan dengan mempertimbangkan perubahan dan volatilitas pasar keuangan baik di Indonesia maupun internasional. Direksi Perusahaan menelaah dan menyetujui kebijakan untuk mengelola risiko-risiko yang dirangkum dibawah ini.

a. Risiko suku bunga

Risiko suku bunga adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas masa datang dari suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi akibat perubahan suku bunga pasar. Kelompok usaha dihadapkan dengan risiko perubahan suku bunga pasar terutama terkait dengan utang bank yang dikenakan suku bunga mengambang. Kelompok usaha mengelola risiko suku bunga dengan cara sangat berhati-hati dalam mengambil pinjaman bank dan membatasinya pada tingkat yang wajar sesuai dengan arus kas perusahaan.

Skedul berikut menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan yang mungkin terjadi pada suku bunga, dimana semua variabel lainnya dianggap tetap, terhadap laporan laba rugi komprehensif konsolidasian Kelompok Usaha untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012:

Kenaikan/penurunan basis poin 0,25%

Dampak terhadap laba konsolidasian

tahun berjalan (dibulatkan) 1.090.641.660

b. Risiko nilai tukar mata uang

Risiko nilai tukar mata uang adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas masa datang dari suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi akibat perubahan nilai tukar mata uang asing. Kelompok Usaha dihadapkan dengan fluktuasi nilai tukar terutama berasal dari kas dan setara kas dan utang pihak berelasi.

Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, Kelompok Usaha memiliki aset moneter dan tidak mempunyai kewajiban moneter dalam mata uang asing. Nilai ekuivalen rupiah dari aset berdenominasi dalam mata uang asing pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 disajikan dalam Catatan 34.

Pada tanggal 18 Maret 2013, nilai tukar mata uang asing adalah Rp9.718 untuk US$1. Jika aset moneter neto Kelompok Usaha pada tanggal 31 Desember 2012 dijabarkan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia tanggal 18 Maret 2013, maka aset moneter neto akan naik sekitar Rp205 juta.

Perusahaan mengelola saldo kas dan setara kas serta investasi jangka pendek dalam mata uang asing terutama digunakan untuk pengembangan proyek CiputraWorld di Surabaya.

Skedul berikut menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan yang mungkin terjadi dalam nilai tukar mata uang dolar A.S., dimana semua variabel lainnya dianggap tetap, terhadap laporan laba rugi komprehensif konsolidasian Kelompok Usaha untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012:

Perubahan dalam nilai tukar dollar A.S. 1%

Dampak terhadap laba konsolidasian

tahun berjalan (dibulatkan) 412.399.965

c. Risiko kredit

Risiko kredit adalah risiko dimana salah satu pihak atas instrumen keuangan akan gagal memenuhi kewajibannya dan menyebabkan pihak lain mengalami kerugian keuangan. Risiko kredit yang dihadapi Kelompok Usaha berasal dari kegiatan operasi (terutama kredit yang diberikan kepada pelanggan) dan dari kegiatan pendanaan, termasuk investasi pada bank dan lembaga keuangan.

_

Pelanggan yang membeli produk real estat dengan cara angsuran diikat dengan klausul legal didalam kontrak pembelian dan diminta untuk mengagunkan produk yang dibeli atas kewajiban yang tersisa dari harga pembelian. Sebagai tambahan, jumlah piutang dipantau secara terus menerus untuk mengurangi risiko piutang yang tidak tertagih. Nilai maksimal eksposur adalah sebesar nilai tercatat sebagaimana diungkapkan pada Catatan 6. Kelompok Usaha tidak memiliki risiko kredit yang terpusat secara signifikan karena piutang usaha berasal dari banyak pelanggan.

Risiko kredit berasal dari saldo pada bank dan lembaga keuangan dikelola dengan menempatkan kelebihan dana hanya pada bank dan lembaga keuangan dengan peringkat kredit yang tinggi.

Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, eksposur maksimum Kelompok Usaha terhadap resiko kredit adalah sebesar nilai tercatat masing-masing kategori dari aset keuangan yang disajikan pada laporan posisi keuangan konsolidasian.

Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, aset keuangan Kelompok Usaha seluruhnya diklasifikasikan sebagai lancar dan tidak mengalami penurunan nilai, kecuali piutang usaha yang diungkapkan pada Catatan 6.

d. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas didefinisikan sebagai risiko saat posisi arus kas Kelompok Usaha menunjukkan bahwa penerimaan jangka pendek tidak cukup menutupi pengeluaran jangka pendek.

Kebutuhan likuiditas Kelompok usaha secara historis timbul dari kebutuhan untuk membiayai investasi dan pengeluaran barang modal terkait dengan program perluasan usaha. Kelompok usaha membutuhkan modal kerja yang substansial untuk membangun proyek-proyek baru dan untuk mendanai operasional.

Dalam mengelola risiko likuiditas, Kelompok usaha memantau dan menjaga tingkat kas dan setara kas yang dianggap memadai untuk membiayai operasional Kelompok usaha dan untuk mengatasi dampak dari fluktuasi arus kas. Kelompok usaha juga secara rutin mengevaluasi proyeksi arus kas dan arus kas aktual, termasuk jadwal jatuh tempo utang bank panjang mereka, dan terus menelaah kondisi pasar keuangan untuk memelihara fleksibilitas pendanaan dengan cara menjaga ketersediaan komitmen fasilitas kredit. Kegiatan ini meliputi pinjaman bank.

Tabel dibawah ini merupakan jadwal jatuh tempo liabilitas keuangan Kelompok usaha pada tanggal 31 Desember 2012 berdasarkan pembayaran kontraktual yang tidak didiskontokan (tidak termasuk bunga).

Dibawah Lebih dari Nilai wajar

1 tahun/ 5 tahun/ 31 Des 2012/

Below 1-2 tahun/ 3-5 tahun/ Over Total/ Fair value

1 year 1-2 years 3-5 years 5 years Total Dec. 31. 2012

Liabilitas jangka pendek Current liabilities

Utang bank jangka pendek 46.457.780 - - - 46.457.780 46.457.780 Short-term bank loans

Utang usaha kepada pihak ketiga 3.781.948.943 - - - 3.781.948.943 3.781.948.943 Trade payables to third parties

Utang lain-lain 22.108.620.123 - - - 22.108.620.123 22.108.620.123 Other payables

Beban akrual 12.380.734.460 - - - 12.380.734.460 12.380.734.460 Accrued expenses

Utang biaya pembangunan 165.771.451.402 - - - 165.771.451.402 165.771.451.402 Construction cost payable

Utang bank jangka panjang

yang jatuh tempo dalam Current maturities

satu tahun 7.692.925.000 - - - 7.692.925.000 7.692.925.000 long-term bank loans

Liabilitas jangka panjang Non-current liabilities

Utang jaminan penyewa - 1.520.820.528 17.504.871.626 2.187.615.725 21.213.307.879 21.213.307.879 Tenants’ deposits

Utang bank jangka panjang

setelah dikurangi bagian Long-term bank loans -

yang jatuh tempo - 15.385.850.000 104.307.012.500 325.139.212.500 444.832.075.000 444.832.075.000 net of current maturities

211.782.137.708 16.906.670.528 121.811.884.126 327.326.828.225 677.827.520.587 677.827.520.587

_

Dalam dokumen PT Ciputra Surya Tbk dan Entitas Anak (Halaman 60-63)

Dokumen terkait