• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Kebijakan Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigras

Melindungi pekerja secara tidak langsung berarti telah melindungi perusahaan tempat kerjanya, agar perusahaan tidak mengalami kendala- kendala dalam usahanya, terutama dalam proses produksi apabila salah satu atau beberapa pekerjanya tidak masuk kerja karena sakit. Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul mempunyai kebijakan dan upaya-upaya dalam melakukan pembinaan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Diharapkan dengan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul, dapat menekan angka kecelakaan kerja.

Berdasarkan hasil pembahasan di muka dapat dilihat bahwa Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul mempunyai program- program mengenai pembinaan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)..

xxxi

Menurut penulis kebijakan-kebijakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul mengenai pembinaan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sudah cukup baik karena Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul telah membuat Kebijakan-kebijakan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja baik yang bersifat preventif, proaktif maupun represif.

Kebijakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul yang bersifat preventif antara lain :

a. Pemberian bimbingan-bimbingan, seperti : 1) Bimbingan pencegahan kecelakaan kerja 2) Bimbingan kesehatan kerja

3) Bimbingan pembentukan Panitia Pembinaan Keselamatan dan kesehatan Kerja (P2K3)

b. Pengawasan Norma keselamatan dan kesehatan kerja. Kegiatan ini antara lain :

1) Pembuatan dan penggunaan pesawat uap

2) Pembuatan dan penggunaan bejana tekan dan botol baja 3) Pemasangan dan penggunaan instalasi listrik

4) Pemasangan dan penggunaan pesawat lift untuk pengangkutan orang dan barang

5) Pemasangan dan penggunaan instalasi penyalur petir 6) Pemasangan instalasi penanggulangan kebakaran

7) Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dan lingkungan kerja

Kebijakan-kebijakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul yang bersifat proaktif antara lain :

a. Pemberdayaan pelaksanaan kegiatan ahli keselamatan dan kesehatan kerja ( Ahli K3 )

xxxii

b. Pemberdayaan pelaksanaan kegiatan Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3)

c. Pelaksanaan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK 3)

d. Pemberian izin, pengesahan, sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja Sedangkan kebijakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul yang bersifat represif antara lain :

a. Pemeriksaan kecelakaan kerja

b. Penyidikan pelanggaran norma keselamatan dan kesehatan kerja

Dengan adanya kebijakan yang bersifat preventif diharapkan dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Sedangkan dengan kebijakan- kebijakan yang bersifat pro aktif diharapkan dapat untuk mendukung jalannya usaha peningkatan keselamatan kerja di tempat kerja. Dan Dengan kebijakan-kebijakan yang bersifat represif dapat membuat para pengusaha dan pekerja dapat berhati-hati, sehingga lebih meningkatkan keselatan kerja.

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa hampir semua kebijakan tersebut telah dilaksanakan dengan baik dimana Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul melaksanakan Bimbingan pencegahan kecelakaan kerja dan Bimbingan kesehatan kerja secara optimal. Dinas juga telah melaksanakan Bimbingan pembentukan Panitia Pembinaan Keselamatan dan kesehatan Kerja (P2K3) terbukti dengan dipeloporinya pembentukan Panitia Pembinaan Keselamatan dan kesehatan Kerja (P2K3) di 15 perusahaan di kabupaten Bantul pada tahun 2007.

Dalam pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul telah melaksanakan pengawasan secara terpadu dan terprogram. Apabila dicermati dalam pelaksanaan pengawasan norma keselamatan dan kesehatan kerja tersebut

xxxiii

selalu diawali dengan berbagai sosialisasi dan diakhiri dengan pembuatan laporan pemeriksaan dan pengujian.Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul juga mengadakan kerja sama dengan kepolisian untuk mngeusut kasus pelanggaran norma keselamatan dan kesehatan kerja

Kebijakan-kebijakan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul mengenai keselamatan dan kesehatan kerja baik yang bersifat preventif, proaktif, maupun represif diharapkan dapat mengurangi atau mencegah menekan angka kecelakaan kerja dan dapat meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga perusahaan-perusahaan dapat beroperasi semaksimal mungkin.

2. Mekanisme Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul Dalam Melakukan Pembinaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Pengawasan ketenagakerjaan merupakan suatu sistem yang sangat penting dalam penegakan atau penerapan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Penegakan atau penerapan peraturan perundang- undangan merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi pengusaha dan pekerja/buruh. Keseimbangan tersebut diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan ketenangan kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan tenaga kerja. Agar peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan khususnya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dapat dilaksanakan dengan baik, maka diperlukan pengawasan ketenagakerjaan yang independen dan kebijakan yang sentralistik

Tujuan diadakan Pengawasan Ketenagakerjaan :

a. Mengawasi berlakunya undang-undang dan peraturanperaturan perburuhan pada khususnya;

xxxiv

b. Mengumpulkan bahan-bahan keterangan tentang soal-soal hubungan kerja dan keadaan perburuhan dalam arti yang seluas-luasnya guna membuat undang-undang dan peraturan-peraturan perburuhan;

c. Menjalankan pekerjaan lain-lainnya yang diserahkan kepadanya dengan undang-undang atau peraturanperaturan lainnya.

Pengawasan ketenagakerjaan itu sendiri diatur dalam Pasal 176 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. dimana dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa “Pengawasan Ketenagakerjaan dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai kompetensi dan independen guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan.”.

Pengawasan ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul dilaksanakan oleh pegawai pengawas baik pengawas umum maupun pengawas spesialis. hal ini telah sesuai dengan ketentuan.Pasal 176 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Seperti yang telah penulis kemukakan di muka bahwa pada dasarnya tugas maupun wewenang pengawas umum dan pengawas spesialis adalah sama, yaitu :

a. Melaksanakan pemeriksaan di perusahaan atau di tempat kerja;

b. Memberikan bimbingan, pembinaan dan penyuluhan kepadatenaga kerja dan pengusaha atau pengurus tentang peraturan perundang- undangan ketenagakerjaan;

c. Merahasiakan segala sesuatu yang diperoleh yang perlu dirahasiakan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya;

d. Melaporkan semua kegiatan yang berhubungan dengan tugas dan kewajibannya;

xxxv

e. Mencatat hasil pemeriksaan dalam buku Akte Pengawasan Ketenagakerjaan dan disimpan oleh pengusaha atau pengurus

Selain dari segi usia dan pengalaman, menurut penulis hal yang membedakan antara pengawas umum dan pengawas spesialis adalah bahwa pengawas umum melaksanakan pemeriksaan pertama dan kontrol (pemeriksaan berkala), sedangkan pengawas spesialis hanya melaksanakan control atau pemeriksaan berkala saja. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan lengkap yang dilakukan kepada perusahaan atau tempat kerja baru yang belum pernah diperiksa, jadi baru pertama kali diperiksa, sedangkan pemeriksaan Kontrol (pemeriksaan berkala) adalah pemeriksaan ulang yang dilakukan setelah pemeriksaan pertama baik secara lengkap maupun tidak. Jadi yang berhak melaksanakan pemeriksaan pertama adalah pengawas umum, sedangkan untuk pemeriksaan berkala baik pengawas umum maupun pengawas khusus berhak melaksanakannya.

Salah satu kewajiban dari pengawas baik pengawas umum maupun pengawas khusus adalah Merahasiakan segala sesuatu yang diperoleh yang perlu dirahasiakan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. hal ini telah sesuai dengan ketentuan Pasal 181 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam Pasal 181 tersebut dijelaskan bahwa “Pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 176 wajib :

1. Merahasiakan segala sesuatu yang menurut sifatnya patut

dirahasiakan;

2. Tidak menyalahgunakankewenangannya

Jadi menurut penulis berdasarkan hal tersebut ketentuan mengenai petugas pengawas ketenagakerjaan di Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul telah sesuai dengan ketentuan yang

xxxvi

berlaku, yaitu Pasal 176 dan Pasal 181 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Pengawasan dan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul adalah pengawasan ketenagakerjaan terpadu. Mekanisme pengawasan dan pemeriksaan ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul meliputi rangkaian kegiatan sebagai berikut :

a. Penyusunan rencana kerja

b. Pemeriksaan di perusahaan atau di tempat kerja

c. Penindakan korektif baik secara preventif maupun secara represif d. Pelaporan hasil pemeriksaan

Menurut penulis mekanisme atau rangkaian kegiatan pengawasan terpadu ini sudah terkonsep dengan cukup baik. Suatu kegiatan pengawasan dan pemeriksaan memang harus dimulai dengan rencana kerja. Tanpa adanya suatu rencana yang matang tentunya akan berdampak pada saat pemeriksaan nantinya. Seperti yang telah penulis bahas di muka bahwa untuk tahapan pemeriksaan di perusahaan atau tempat kerja ini dikelompokkan menjadi obyek-obyek tertentu seperti : Jenis usaha perusahaan, data umum perusahaan, Pelaksanaan waktu kerja dan waktu istirahat, hubungan kerja, pelaksanaan pengupahan, Jamsostek dan kesejahteraan serta Keselamatan dan Kesehatan kerja. Tujuan dari pengelompokkan obyek pengawasan dan pemeriksaan ini menurut penulis adalah untuk mempermudah dalam fokus pengawasan dan pemeriksaan.

Rangkaian kegiatan ketiga dalam pemeriksaan terpadu ini adalah Penindakan korektif baik secara preventif maupun secara represif. Menurut penulis pada tahap inilah pegawai pengawas harus benar-benar berperan aktif dalam penindakan apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran ketenagakerjaan. Secara preventif pengawas dapat melaksanakan

xxxvii

pembinaan-pembinaan khususnya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Sedangkan apabila terjadi penyimpangan terhadap norma kerja serta keselamatan dan kesehatan kerja secara berulang tanpa ada itikad untuk memperbaikinya. Pengawas dapat mengusulkan kepada kepala Dinas untuk diproses penyidikan dengan koordinasi dengan polisi untuk diajukan ke Pengadilan setempat melalui penuntutan. Jadi dalam tahap penindakan ini pegawai pengawas dituntut untuk bertindak secermat mungkin dan seobyektif mungkin dalam menindak pelanggaran ketenagakerjaan yang terjadi.

Tahap yang keempat yang merupakan tahap terakhir dari pengawasan dan pemeriksaan terpadu ini adalah Pelaporan hasil pemeriksaan ini nantinya bisa digunakan sebagai instropeksi diri baik bagi perusahaan yang bersangkutan maupun bagi Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul, dengan laporan tersebut akan dapat diketahui pelanggaran apa saja yang terjadi, serta tingkat kecelakaan kerja yang terjadi sehingga diharapkan dapat untuk memperbaiki kinerja Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul khususnya mengenai pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja.

3. Hasil Pembinaan Dan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul Dalam Melakukan Pembinaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Hasil pembinaan dan pengawasan di Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul untuk masalah kesehatan kerja cukup baik, terbukti tidak ada penyakit yang timbul akibat kerja. Perusahaan di Kabupaten Bantul rata-rata juga telah memasang peraturan dan gambar- gambar keselamatan dan kesehatan kerja.. Selain itu hanya lima perusahaan yang mendapat teguran dari Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul untuk melengkapi alat perlindungan diri.

xxxviii

Berdasarkan hasil pengawasan dan pemeriksaan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul ternyata masih terjadi beberapa kasus kecelakaan kerja di Kabupaten Bantul. Dari sekitar 26.030 (dua puluh enam ribu tiga puluh) pekerja,. korban kecelakaan kerja mencapai 137 (seratus tiga puluh tujuh) pekerja. Berarti korban kecelakaan kerja yang terjadi pada tahun 2007 di Kabupeten Bantul adalah sekitar 0.5%.

Korban kecelaan kerja yang terjadi di Kabupaten bantul sebagian besar berasal dari perusahaan sektor industri, yaitu sekitar 128 pekerja atau sekitar 0.4% dari jumlah pekerja di Kabupaten Bantul. Melihat angka ini tentunya Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Bantul harus lebih meningkatkan kinerja dalam pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja khususnya di perusahaan-perusahaan sektor industri, agar angka kecelakaan kerja dapat ditekan.

BAB IV

Dokumen terkait