BAB 4. PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA-PERU
4.3. Kebijakan Perdagangan
4.3.1. Kebijakan Indonesia yang Mempengaruhi Impor
Tabel 4. 5. Struktur Tarif Perdagangan Indonesia
Sumber : WTO (Indonesia Trade Policy Review)
Sebanyak 95 persen tarif perdagangan Indonesia telah terikat pada perjanjian negara anggota WTO ( tahun 2003 jadwal tarif di nomenklatur HS 02). Hampir 72 persen dari tarif tersebut terikat pada 40 persen atau diatasnya. Tarif yang belum terikat adalah untuk produk garam, beberapa
Puska KPI, BP2KP, Kementerian Perdagangan 24
bahan kimia, artikel plastik tertentu, platinum, artikel besi dan baja, peralatan transportasi, dan senjata dan amunisi. Tabel 4.5 menunjukkan tarif terikat (bound) dan tarif MFN untuk tahun 2006 dan 2012.
ii) Tarif Most Favoured Nation (MFN)
Pada tahun 2012, pemerintah Indonesia merubah Indonesia Entry
Custom Tariff Book (BTBMI) dengan the Indonesia Custom Tariff Book
(BTKI), yang dirumuskan sesuai dengan The World Custom Organization menggunakan nomenklatur HS 2012 dan The Asean Harmonized Tariff
Nomenclatur (AHTN). Perubahan Nomenklatur telah menghasilkan
pengurangan 10 persen dalam jumlah total MFN applied tariff dibandingkan schedule tarif Indonesia sebelumnya. Indonesia telah merubah tarif numenklatur sebanyak dua kali yaitu dari HS2002 ke HS2007 dan dari HS 2007 ke HS 2012. Bea Cukai memperkirakan setruktur tarif ini akan menyumbang 2,4 % dari total pendapatan pajak pada tahun 2012 (kondisi ini turun dibadingkan tahun 2007 yaitu sebesar 3,4 persen).
Tarif rata-rata MFN applied Indonesia tahun 2012 sebesar 7,8 persen, termasuk advalorem equivalent duties. Jumlah tarif yang dikenakan tarif spesifik meningkat selama periode review, dari 27 pada 2006 menjadi 65 di tahun 2012. Pada schedule tarif sebelumnya hanya beras dan gula yang dikenakan tarif spesifik. Namun, sejak tahun 2010 tarif spesifik juga telah diterapkan untuk minuman beralkohol, serta film sinematografi dan media terkait. Indonesia tidak menerapkan kuota tarif .
Selama tahun 2010, terdapat 10 perubahan tarif dalam rangka mencapai harmonisasi tarif harmonisas antara produk hulu, menengah dan hilir, dan untuk menyederhanakan dan menyeragamkan struktur tarif yang ada. Perubahan nomenklatur juga mengurangi rata-rata tarif MFN applied dari 9,5 persen pada tahun 2006 menjadi 7,8 persen pada tahun 2012; menaikkan tarif sampai 5% yang sebelumnya bebas pajak; dan melakukan liberalisasi pada beberapa tarif yang dinilai masih tinggi.
Puska KPI, BP2KP, Kementerian Perdagangan 25
Gambar 4. 3. Distribusi Tariff MFN Indonesia 2006 dan 2012
Sumber : Indonesia Trade Policy Review (WTO)
Gambar 4. 4. Tarif rata-rata MFN Indonesia (HS section, 2006 dan 2012)
Puska KPI, BP2KP, Kementerian Perdagangan 26
iii) Pembebasan Bea Masuk
Pembebasan bea masuk ditujukan antara lain untuk produk mesin yang digunakan dalam pengembangan industri, barang dan bahan untuk pembentukan dan pengembangan industri untuk jangka waktu tertentu, benih dan stock untuk pengembangan pertanian, peternakan atau perikanan; hasil laut yang diambil secara legal, dan barang yang dibeli oleh pemerintah untuk kepentingan publik.
Pada bulan November 2009, diperkenalkan skema untuk memfasilitasi investasi dengan menawarkan pembebasan bea masuk untuk impor mesin, barang, dan bahan untuk pembentukan dan pengembangan industri dalam rangka penanaman modal. Amandemen di tahun 2012 untuk industri perakitan kendaraan. Aplikasi untuk pembebasan bea masuk ditujukan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM), dan pembebasan diberikan hanya jika produk adalah: (a) belum diproduksi di dalam negeri; (b) diproduksi di dalam negeri tetapi tidak memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan, atau (c) yang diproduksi di dalam negeri tetapi tidak cukup untuk kebutuhan industri.
Dalam rangka meningkatkan daya saing industri tertentu di sektor-sektor strategis, pemerintah dapat memberlakukan pembebasan bea masuk sementara pada input yang diimpor untuk produksi. Selama tahun fiskal 2012 , keringanan (sampai plafon anggaran khusus) yang tersedia untuk industri yang menggunakan barang dan bahan impor untuk memproduksi barang dan jasa yang dijual di pasar domestik sesuai dengan kriteria sebagai berikut : (a) harus disediakan untuk kepentingan umum, konsumsi publik atau untuk melindungi masyarakat, (b) meningkatkan daya saing industri, (c) meningkatkan tingkat kerja , dan (d) meningkatkan pendapatan negara. Impor harus : belum dapat diproduksi di dalam negeri , akan diproduksi di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan, atau diproduksi di dalam negeri tetapi tidak dalam jumlah yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri.
Puska KPI, BP2KP, Kementerian Perdagangan 27
iv) Tariff Preference
Tarif Preferensi yang ditawarkan oleh Indonesia di bawah FTA bilateral dengan Jepang, ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), dan melalui FTA ASEAN dengan Korea, China, Australia dan Selandia Baru, dan India. Hal Ini telah mengakibatkan penurunan tarif yang signifikan, khususnya yang berkaitan dengan perjanjian ATIGA, dimana rata-rata tarif preferensial yang diterapkan adalah 0,8%, dibandingkan dengan rata-rata tingkat tarif MFN yang diterapkan sebesar 7,8%. Untuk FTA lainnya, rata-rata tarif preferensial yang diterapkan berkisar dari 1,9% menjadi 5,9%.
v) Non Tariff Barrier
Hambatan perdagangan non tarif yang dikenakan di Indonesia adalah larangan impor, pembatasan kuantitas impor, pemberlakuan ijin mengimpor bagi importer, dan peraturan produk standar Indonesia. Larangan impor mulai tahun 2007 dikenakan pada spesies udang tertentu sedangkan pembatasan kuantitas produk impor terhadap produk : beras, gula, hewan dan produk hewan, garam, minuman beralkohol dan bahan perusak ozon tertentu. Penentuan volume impor tiap tahunnya ditentukan pada pertemuan koordinasi tingkat menteri yang memperhitungkan pada produksi dan konsumsi dalam negeri. Pembatasan kuantitatif diimplementasikan melalui sistem perizinan impor Indonesia.
Tujuan pengenaan izin untuk melakukan impor karena beberapa alasan yaitu keamanan, kesehatan, keselamatan, lingkungan, menghindari penyelundupan, implementasi terhadap peraturan proteksi produksi domestik, implementasi terhadap perjanjian internasional. Terkait proteksi produksi domestik, produk-produk yang terkena izin impor adalah beras, gula, hewan dan produk hewan, garam, serta tekstil tertentu dan produk tekstil; LPG dan LPG kontainer gas; barang modal yang digunakan; minyak dan gas; cengkeh; sodium fosfat tripolpy; produk hortikultura, dan pupuk. Proses perijinan (aplikasi dan persetujuan) dapat dilakukan melalui Indonesia’s National Single Window System (INSW) sementara Kementrian Perdagangan dan Direktorat Umum Perdagangan Internasional
Puska KPI, BP2KP, Kementerian Perdagangan 28
merupakan pihak yang berwenang dalam mengeluarkan izin bagi perusahaan importer produk-produk spesifik.
Pemerintah Indonesia menetapkan Badan Standarisasi Nasional (BSN) sebagai pihak yang bertanggungjawab melakukan koordinasi dan memfasilitasi pengaturan standar. Proses-proses dalam mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah programming, drafting, consensus nasional dan finalisasi, pembentukan SNI dan pemeliharaan SNI. Gambar dibawah ini, menggambarkan komposisi SNI yang berlaku saat ini.
Gambar 4. 5. Komposisi SNI Sumber : websisni.sni.go.id
Tahun 2012 terdapat 7394 SNI yang telah disetujui: 97 persen dilakukan secara involuntary sedangkan 3 persen (sebanyak 254) merupakan wajib berdasarkan peraturan teknik. SNI yang diterapkan dapat dilihat di Sistem Informasi SNI (websisni.sni.go.id).
4.3.2. Kebijakan Peru yang Mempengaruhi Impor