A. Teori Terkait Variabel Penelitian
5. Kebijakan Makroprudensial
a. Pengertian Kebijakan Makroprudensial
Kebijakan makroprudensial merupakan kebijakan yang digunakan untuk menghadapi permasalahan ekonomi secara makro, khususnya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, dan juga diharapkan dapat mencegah terjadinya risiko sistemik. Peran kebijakan makroprudensial melengkapi kebijakan yang telah ada seperti kebijakan moneter dan kebijakan fiskal sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang, sehingga nantinya kebijakan makroprudensial diharapkan dapat membantu memperkuat ketahanan sistem keuangan ketika ekonomi sedang krisis, dapat mengurangi peningkatan kerentanan terhadap risiko, serta diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan
20
intermediasi keuangan dan inklusi keuangan yang berkelanjutan. (Zhang dkk, 2018).
Kebijakan makroprudensial ini muncul sebagai bentuk respon terhadap adanya krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997-1998, dan mulai terkenal pascakrisis keuangan global pada tahun 2008. Di Indonesia sendiri, istilah makroprudensial telah digunakan pada tahun 2000, hal ini ditandai dengan adanya penyusunan sebuah kerangka stabilitas sistem keuangan Indonesia dan terbentuknya Biro Stabilitas Sistem Keuangan (BSSK) di Bank Indonesia. Terdapat beberapa versi pengertian kebijakan makroprudensial yang dirangkum dari Bank Indonesia, diantaranya:
1) Versi International Monetary Fund (IMF): Kebijakan makroprudensial adalah kebijakan yang memiliki tujuan utama untuk memelihara stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan melalui pembatasan peningkatan risiko sistemik. 2) Versi Bank for International Settlements (BIS): Kebijakan
makroprudensial adalah kebijakan yang ditujukan untuk membatasi risiko dan biaya krisis sistemik.
3) Versi Bank of England: Kebijakan makroprudensial adalah kebijakan yang ditujukan untuk memelihara kestabilan intermediasi keuangan (misalnya jasa-jasa untuk memelihara kestabilan intermediasi keuangan (misalnya jasa-jasa
21
pembayaran, intermediasi kredit dan penjaminan atas risiko) terhadap perekonomian.
4) Versi Working Group G-30: Kebijakan makroprudensial adalah kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan ketahanan sistem keuangan dan untuk memitigasi risiko sistemik yang timbul akibat keterkaitan antar institusi dan kecenderungan institusi keuangan untuk mengikuti siklus ekonomi (procyclical) sehingga memperbesar risiko sistemik. Merujuk pada beberapa definisi di atas, dapat kita ambil tiga kata kunci yang menggambarkan kebijakan makroprudensial, diantaranya adalah bertujuan untuk menjaga stabilitas dari sistem keuangan, orientasi utamanya adalah sistem keuangan secara menyeluruh (system-wide
perspectives), dan juga diterapkan untuk mencegah terciptanya
risiko-risiko sistemik. Secara sederhana kebijakan makroprudensial merupakan penerapan prinsip kehati-hatian pada sistem keuangan guna menjaga keseimbangan antara tujuan makroekonomi dan mikroekonomi. (BI, 2016).
Kebijakan makroprudensial mempunyai dua dimensi penting yang harus diperhatikan. Pertama, dimensi waktu yang artinya kebijakan makroprudensial ini ditujukan untuk dapat menekan timbulnya risiko yang bersifat proksiklikalitas berlebih pada sistem keuangan. Prinsipnya adalah bagaimana mendorong institusi keuangan menggunakan buffer dalam menghadapi kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Kedua, dimensi
22
antarsektor yang mana mendorong fokus penerapan regulasi makroprudensial yang diimplementasikan pada individual lembaga keuangan menuju pada penerapan regulasi secara keseluruhan pada sistem keuangan (Warjiyo & Juhro, 2016).
Pelaksanaan dan pengawasan terhadap kebijakan makroprudensial ini menjadi kewenangan dan akan dilakukan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral. Penerapan kebijakan makroprudensial oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mencegah dan mengurangi risiko sistemik, mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas serta meningkatkan efisiensi sistem dan akses keuangan (BI, 2020). Diharapkan juga, penerapan kebijakan makroprudensial oleh Bank Sentral dapat memperlambat prosiklikalitas secara efektif, menurunkan kemungkinan dan keparahan krisis yang berasal dari akumulasi risiko bank (Zhang dkk, 2018). Dalam mendukung terlaksananya fungsi tersebut, BI menerapkan beberapa langkah starategi operasional kebijakan makroprudensial diantaranya:
1) Identifikasi sumber risiko sistemik. Tidak hanya didasarkan pada asesmen internal, BI juga harus melaksanakan survei dan FGD kepada para stakeholders untuk bisa menangkap potensi risiko-risiko sistemik berdasarkan sudut pandang para stakeholders, seperti dari industri perbankan, ahli ekonomi, media, akademisi dan pelaku pasar lainnya.
23
2) Pengawasan makroprudensial. BI mempunyai wewenang untuk melaksanakan pengawasan baik secara langsung ataupun secara tidak langsung pada setiap institusi keuangan terkait, dan berkoordinasi dengan OJK. Pengawasan terhadap makroprudensial ini dilakukan melalui kegiatan monitoring, stress identification serta risk assessment terhadap adanya potensi risiko yang telah
teridentifikasi sebelumnya.
3) Respons kebijakan melalui desain dan implementasi instrumen kebijakan makroprudensial. Instrumen dari kebijakan makroprudensial ini diterapkan dengan tujuan untuk mencegah terciptanya risiko sistemik. Berdasarkan cakupannya, instrumen dapat diterapkan secara umum (misalnya Countercyclical Buffer) maupun targeted ke sektor tertentu (Loan/Financing to Value Ratio). Sedangkan dari sisi objek, instrumen makroprudensial ini dapat ditujukan untuk mengatur permodalan, kredit, likuiditas maupun intermediasi. 4) Protokol Manajemen Krisis (PMK). PMK akan diaktifkan BI apabila hasil dari asesmen menunjukan adanya peningkatan potensi risiko menuju ke arah krisis. (www.bi.go.id, 2020) Penerapan kebijakan makroprudensial oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mencegah dan mengurangi risiko sistemik, mendorong fungsi intermediasi yang seimbang dan berkualitas serta meningkatkan
24
efisiensi sistem dan akses keuangan, memperkuat sistem permodalan, mencegah terjadinya leverage yang berlebih, membatasi terjadinya konsentrasi atau eksposur yang berlebih, serta pada dasarnya untuk meningkatkan kekuatan serta ketahanan infrastruktur sektor keuangan (OJK, 2020).
b. Instrumen Kebijakan Makroprudensial pada Bank Syariah 1) Financing to Value (FTV)
Financing To Value atau FTV merupakan persentase atau nilai
pembiayaan maksimal yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan berupa properti pada saat pemberian pembiayaan. Dalam pengertian lain, FTV ini erat kaitannya dengan berbagai hal yang berhubungan dengan properti. FTV ini menggambarkan perbandingan dari kemampuan bank dalam menjalankan fungsinya untuk memberikan pembiayaan kepada nasabah yang berencana memiliki properti.
Pertumbuhan pembiyaan sektor kendaraan bermotor dan properti yang cukup tinggi melatarbelakangi lahirnya perumusan kebijakan Financing To Value (FTV) atas Down Payment (DP) dan FTV atas KPR. Peningkatan pembiayaan tersebut akan berpotensi mengakibatkan adanya pembentukan risiko sistemik karena perilaku pengambilan risiko yang berlebihan (excessive risk taking
behaviour). Adapun besaran nilai minimum FTV dan DP yang saat
25
17/10/PBI/2015 tanggal 18 Juni 2015 tentang Rasio Loan-to-Value atau Rasio Financing-to-Value untuk Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor.
Tujuan dari diberlakukannya kebijakan FTV adalah untuk memitigasi risiko sistemik yang berasal dari peningkatan harga properti dan juga menjaga stabilitas sistem keuangan. Lebih luas lagi, FTV ini berperan sebagai instrumen makroprudensial yang dapat mendorong dan meningkatkan fungsi intermediasi perbankan secara seimbang serta berkualitas yang nantinya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dengan tetap menjaga dan memperhatikan nilai stabilitas sistem keuangan. Kebijakan FTV ini bersifat countercyclical dan dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi ekonomi dan keuangan. Adapun nilai FTV yang telah ditetapkan Bank Indonesia, yaitu:
Tabel 2.2 Besaran Nilai FTV
Besaran Tanggal Berlaku Ketentuan a. Penetapan rasio LTV/FTV sebesar 60% s.d. 90%. b. Penetapan DP min sebesar 30% (roda 4), 20% (roda 4 produktif), 25% (roda 2). 24/09/2013 SE No.15/40/DKMP a. Penetapan rasio LTV/FTV sebesar 60% s.d. 90%. b. Penetapan DP min sebesar 25% (roda 4), 20% 18/06/2015 PBI No.17/10/PBI/2015
26 (roda 4 produktif), 20% (roda 2). a. Penetapan rasio LTV/FTV sebesar 60% s.d. 90% (tiering 5%). b. Penetapan DP min sebesar 25% (roda 4), 20% (roda 4 produktif), 20% (roda 2). 29/08/2016 PBI No.18/16/PBI/2016 a. FK 1 diserahkan kpd kebijakan masing-masing bank; FK 2 dst LTV dikisaran 80% s.d 90%. b. Penetapan DP min sebesar 25% (roda 4), 20% (roda 4 produktif), 20% (roda 2). 01/08/2018 PBI No.20/8/PBI/2018
a. Rasio Loan to Value /
Financing to Value
(LTV/FTV) untuk
kredit/pembiayaan Properti sebesar 5%.
b. Uang Muka untuk
Kendaraan Bermotor pada kisaran 5 sampai 10%, serta c. Tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit atau pembiayaan properti dan Uang Muka untuk
Kendaraan Bermotor yang berwawasan lingkungan masing-masing sebesar 5%.
02/12/2019 PBI No.
21/13/PBI/2019
Sumber: Bank Indonesia, 2020 (www.bi.go.id)
2) Rasio Intermediasi Makroprudensial Syariah (RIM Syariah) Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) Syariah merupakan salah satu instrumen makroprudensial yang berperan dalam pengelolaan fungsi Bank Syariah sebagai Lembaga
27
intermediasi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan dijalankan sesuai dengan proporsi atau kapasitas dan target pertumbuhan ekonomi (Kristiyanto & Widodo, 2020). RIM Syariah ini merupakan perbandingan antara pembiayaan yang disalurkan Bank Syariah termasuk didalamnya kepemilikan surat berharga Syariah dengan pendanaan.
RIM Syariah merupakan penyempurnaan dari instrumen Giro Wajib Minimum Financing to Deposit Ratio (GWM FDR) dan mulai diimplementasikan bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) mulai tanggal 1 Oktober 2018. Instrumen RIM syariah bersifat countercylical terhadap siklus perekonomian sehingga dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi ekonomi dan keuangan. Evaluasi terhadap penerapan kebijakan RIM Syariah ini dilakukan secara berkala minimal 1 (satu) kali setiap 6 (enam) bulan sekali. Hasil evaluasi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia ini nantinya akan diinformasikan kepada setiap Bank Syariah.
Bank Indonesia juga telah menetapkan nilai RIM Syariah melalui peraturan yang ditetapkan, diantaranya:
Tabel 2.3 Besaran Nilai RIM Syariah
Tgl Berlaku Bata s Atas Batas Bawah Parameter Disintensif Atas Parameter Disintensif Bawah KPMM Ketentuan 1 Okt 92% 80% 0,2 0,1 14% PBI No.20/4/PB I2018
28 15 Nov 92% 80% 0,2 0,1 14% PBI No.20/4/PB I2018 1 Jul 94% 84% 0,2 0,1 14% PADG No. 21/5/PAD G/2019 2 Des 94% 84% 0,2 0,1 14% PBI No. 21/12/PBI/ 2019 Sumber: Bank Indonesia, 2020 (www.bi.go.id)
3) Penyangga Likuiditas Makroprudensial Syariah (PLM Syariah) Penyangga Likuiditas Makroprudensial Syariah (PLM Syariah) merupakan cadangan likuiditas minimum dalam rupiah yang wajib dipelihara oleh BUS dalam bentuk surat berharga dalam rupiah yang dapat digunakan dalam operasi moneter, yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK BUS dalam rupiah (BI, 2020). PLM Syariah ini dalam implementasunya memiliki fiktur fleksibilitas, dimana pada kondisi tertentu surat berharga yang dimiliki tersebut dapat digunakan dalam transaksi repo kepada Bank Indonesia dalam Operasi Pasar Terbuka, yang besarnya disesuaikan sebesar persentase tertentu dari DPK yang dimiliki BUS dalam rupiah.
PLM syariah ditujukan untuk mencegah amplifikasi risiko likuiditas yang bersifat cepat dan meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas bank. Oleh karena itu, PLM Syariah tak hanya sebagai instrumen pengelolaan likuiditas untuk menjaga ketahanan likuiditas Bank Syariah, namun juga menjadi instrumen kebijakan
29
makroprudensial yang bersifat countercyclical dengan tujuan mencegah build-up risiko likuiditas dan materialisasi risiko sistemik yang bersumber dari permasalahan likuiditas.(Bank Indonesia, 2020). PLM syariah diterapkan hanya kepada BUS. BUS wajib memiliki buffer likuiditas dalam bentuk surat berharga syariah (SBIS, SBSN, dan/ atau SukBI) sebesar 4-4,5% dari DPK rupiah. Berikut ini merupakan perkembangan nilai PLM Syariah yang berlaku:
Tabel 2.4 Besaran Nilai PLM Syariah Tgl.
Berlaku Ketentuan Besaran Fleksibilitas 16 Jul 2018 PBI No.20/4/PBI/2018 4% 4% 30 Nov 2018 PADG No.20/31/PADG/2018 4% 4% 30 Sep 2020 PBI No.22/17/PBI/2020 4,5% 4,5% Sumber: Bank Indonesia, 2020 (www.bi.go.id)
4) Countercyclical Capital Buffer Syariah (CCBs)
Countercyclical Capital Buffer (CCB) merupakan tambahan
modal yang berfungsi sebagai penyangga untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan pembiayaan perbankan yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan (BI, 2020). Adanya CCB ini bertujuan untuk mencegah pertumbuhan atau peningkatan risiko sistemik yang diakibatkan oleh penyaluran yang berlebihan dalam kegiatan pembiayaan. Hal ini
30
terkait dengan perilaku prosiklikalitas penyaluran pembiayaan perbankan yakni meningkat saat periode ekonomi ekspansi dan melambat pada periode ekonomi kontraksi.
Melalui peraturan Bank Indonesia No. 17/22/PBI/2015 tentang Kewajiban Pembentukan Countercyclical Buffer ditetapkan bahwa CCB ini mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2016, dan berlaku bagi semua Bank Syariah maupun bank konvensional di Indonesia. Mekanismenya, ketika kondisi siklus ekonomi sedang naik, bank menyiapkan tambahan modal yang akan digunakan ketika siklus ekonomi menurun. Hal ini membuat bank dapat meminimalisasi kerugian apabila kredit macetnya meningkat saat ekonomi memburuk, yang kemudian diikuti dengan pembayaran pembiayaan kepada bank tersendat. Selain itu, bank dapat memakai cadangan modal tersebut untuk tetap menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat sehingga fungsi intermediasi bank tetap stabil.
Besaran CCB bersifat dinamis dengan kisaran antara 0% sampai dengan 2,5% dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bank (Bank Indonesia, 2020). Dalam waktu berkala, paling kurang satu kali dalam enam bulan, Bank Indonesia harus melakukan evaluasi terhadap nilai atau besarnya CCBs yang berlaku. Pada pelaksanannya, Ketika keadaan ekonomi sedang mengalami ekspansi, maka secara otomatis Bank Indonesia akan menambah atau meningkatkan nilai CCBs. Begitupun sebaliknya, ketika kondisi
31
perekonomian mengalami kontraksi, nilai CCB akan diturunkan oleh Bank Indonesia. Sampai dengan saat ini penetapan CCB masih belum berubah dari sejak pertama kali instrumen ini digunakan sebagai instrumen makroprudensial oleh Bank Indonesia.
Berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, berikut ini nilai atau besaran CCB yang berlaku:
Tabel 2.5 Besaran Nilai CCBs Besaran Tanggal Berlaku
0% 1 Jan 2016 0% 23 Mei 2016 0% 21 Nov 2016 0% 19 Mei 2017 0% 16 Nov 2017 0% 17 Mei 2018 0% 15 Nov 2018 0% 16 Mei 2019 0% 21 Nov 2019 0% 19 Mei 2020 0% 19 Nov 2020
Sumber: Bank Indonesia, 2020 (www.bi.go.id) Mengukur Capital Buffer dengan menggunakan rasio CAR
Capital Buffer merupakan selisih rasio kecukupan modal (CAR)
suatu bank dengan regulasi modal minimum yang telah ditetapkan yaitu sekitar 8% dari ATMR. Secara umum, Capital Buffer ini dikatakan sebagai modal penyangga yang diperoleh dari adanya kelebihan modal yang dimiliki bank dengan ketentuan modal minimal yang telah ditentukan sesuai dengan profil risiko bank.
32
ratio (CAR) yang dimiliki bank. Fungsi dari Capital Buffer dan CCB
ini sama, yaitu untuk menghadapi risiko sistemik yang mungkin timbul.
5) Giro Wajib Minimum Syariah
Giro Wajib Minimum (GWM) merupakan simpanan minimum harus dipelihara oleh bank, yang mana simpanan tersebut disimpan dalam bentuk saldo rekening giro yang ditempatkan pada Bank Indonesia, dan besarnya ditetapkan sebesar persentasi tertentu dari Dana Pihak Ketiga yang dimiliki bank. Kewajiban pemeliharaan atas GWM ini bertujuan untuk segera memenuhi kebutuhan dan kewajiban likuiditas, untuk menghadapi setiap penarikan dana, dan kewajiban lainnya baik untuk kepentingan internal maupun eksternal bank.
GWM dalam rupiah wajib dipenuhi oleh setiap bank umum. Sedangkan GWM rupiah dan GWM valuta asing wajib dipenuhi oleh bank devisa. Masing-masing besaran dari GWM ini dapat berubah sesuai dengan keadaan dan situasi perekonomian yang terjadi.
Persentase nilai GWM yang harus dipenuhi oleh bank Syariah adalah sebesar 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam rupiah. Untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam rangka untuk menjaga nilai stabilitas bidang makroekonomi dan sistem keuangan, maka Bank Indonesia melakukan penyempurnaan
33
pada kebijakan pengaturan GWM. Pada tahun 2019, penyempurnaan kebijakan GWM ini dilakukan dengan cara menurunkan besaran persentase GWM yang harus dipenuhi oleh Bank. Untuk besaran GWM Bank Syariah sendiri mendapatkan penurunan sebesar 50bps menjadi 4,50%. Penurunan besaran GWM ini berlanjut pada tanggal 2 Januari 2020 menjadi 4% dari DPK dalam rupiah (Bank Indonesia, 2020).